• Tidak ada hasil yang ditemukan

URAIAN PROGRAM/KEGIATAN Peraturan Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman

6.4.3 Sub Sektor Persampahan

6.4.3.1 Kondisi Eksisting dan Permasalahan Kondisi Eksisting

Sampah sebagai hasil buangan dari kegiatan produksi dan konsumsi manusia baik dalam bentuk padat, cair maupun gas merupakan sumber pencemaran lingkungan hidup yang dapat menyebabkan disekonomi kawasan perkotaan. Permasalahan dalam penanganan sampah terjadi karena ketidakseimbangan antara produksi dengan kemampuan dalam pengelolaannya, volume sampah terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk, perubahan kualitas hidup dan dinamika kegiatan masyarakat. Sampah yang tidak dikelola inilah penyebab terjadinya gangguan kesehatan karena menjadi sarang penyakit, menjijikkan dan menimbulkan bau yang tidak sedap, banjir, pencemaran tanah dan air dan berkurangnya nilai kebersihan dan keindahan lingkungan.

Sampah yang ada di Kab. Aceh Tamiang bersumber dari masyarakat yaitu limbah rumah tangga dan juga dari pasar dengan jumlah timbulan sampah Tahun 2009 sebanyak 627 m3/hari dan jumlah sampah yang terangkut sebesar 451 m3/hari. Sampah-sampah ini kemudian dibawa ke TPA yang berlokasi di Kampung Durian Kecamatan Rantau dengan luas 4 Ha. TPA ini diresmikan akhir Tahun 2009 dan baru mulai dioperasikan pada Tahun 2010 ini.

Khusus sampah rumah tangga atau limbah padat rumah tangga, peningkatan jumlah sampah yang dihasilkan di Indonesia diperkirakan bertambah 5 kali lipat pada tahun 2020. Rata-rata produksi sampah tersebut diperkirakan meningkat dari 800 gram per hari per kapita pada tahun 1995 menjadi 910 gram per hari per kapita pada tahun 2003 dan tahun 2020 mencapai 2,1 kg per hari per kapita. Peningkatan jumlah sampah bukan saja karena pertambahan penduduk tetapi juga karena meningkatnya timbunan sampah per kapita yang disebabkan oleh perbaikan tingkat ekonomi dan kesejahteraan.

Produksi sampah di Kabupaten Aceh Tamiang diasumsikan sama dengan volume pembentukan sampah di kota lainnya, yaitu 1 kg/perkapita per hari tahun 2007 meningkat menjadi 1,5 kg/kapita/hari pada 2012 dan meningkat lagi menjadi 2,0 kg/kapita/hari tahun 2017 dan akhirnya mencapai 2,1 kg/kapita/hari pada tahun 2020. Berdasarkan kondisi demikian, maka pada tahun 2007 produksi sampah harian di Kabupaten Aceh Tamiang mencapai 235 ton/hari, pada tahun 2012 mencapai 300 ton/hari, meningkat lagi pada tahun 2017 menjadi 602 ton/hari dan pada tahun 2020 produksi sampah harian mencapai 716 ton/hari. Komposisi sampah di Kabupaten Aceh Tamiang diasumsikan sama dengan komposisi sampah kota lainnya, yaitu sekitar 63,56% berupa sampah organik, 22,58%

sampah yang dapat didaur ulang, 17% berasal dari sampah kain dan sisanya berupa sampah campuran sebesar 12,16%.

Pembuangan sampah di tempat sampah yang tanpa penyortiran menimbulkan masalah utama pengolahan sampah selanjutnya. Sampah yang terkategori organik tentu tidak terlalu masalah karena adanya proses penguraian alami. Tetapi sampah anorganik akan menimbulkan berbagai masalah, mulai dari pencemaran tanah dan air, bau yang tidak sedap, sampai gangguan keindahan kota. Salah satu upaya untuk mengurangi sampah melalui kegiatan 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle).

Program 3R sampai sekarang masih menjadi cara terbaik dalam mengelola dan menangani sampah dengan berbagai permasalahannya. Penerapan sistem 3R menjadi salah satu solusi pengelolaan sampah disamping mengolah sampah menjadi kompos. Justru pengelolaan sampah dengan sistem 3R dapat dilaksanakan oleh setiap orang dalam kegiatan sehari-hari.

Komposisi sampah yang diasumsikan disajikan pada tabel berikut ini :

Tabel 6.11

Asumsi Komposisi Sampah di Kabupaten Aceh Tamiang

No Klasifikasi Persentase (%) 1 Daur Ulang Kertas Kaca Plastik Karet Logam 10,42 1,45 5,64 4,12 0,95 2 Non Daur Ulang

Organik Kain Lain-lain 63,56 1,70 12,16 Jumlah/Total 100

Sumber : Laporan Akhir Inventarisasi Potensi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Kab. Aceh Tamiang (2007)

Sedangkan proyeksi produksi sampah Harian, Bulanan dan Tahunan di Kabupaten Aceh Tamiang disajikan padaTabel 6.12.

Tabel 6.12

Proyeksi Produksi Sampah di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2010-2014

No Tahun

Proyeksi Produksi Sampah

Harian (Ton/Hari) Bulanan (Ton/Bulan) Tahunan (Ton/Tahun) 1 2010 333.4 10.012 121.814 2 2011 366.2 10.996 133.789 3 2012 399 11.981 145.764 4 2013 439.2 13.199 160.589 5 2014 480.2 16.854 175.415 Total 2018 63.042 737.371

Sumber : Laporan Akhir Inventarisasi Potensi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Kab. Aceh Tamiang (2007) (Diolah)

Tabel 6.13

Proyeksi Komposisi Sampah Harian di Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2010-2014 No Proyeksi Komposisi Sampah Tahun Total 2010 2011 2012 2013 2014 1 Re- Use 75.354 82.762 90.17 99.342 108.514 456.14 2 Organik 212.126 232.978 253.83 279.646 305.462 1,284.04 3 Tekstil 5.674 6.232 6.79 7.48 8.17 34.35 4 Lainnya 40.58 44.57 48.56 53.5 58.44 245.65 Total 333.73 366.54 399.35 439.97 480.59 2,020.18 Sumber : Laporan Akhir Inventarisasi Potensi Sumberdaya Alam dan

Gambar 6.10

TPA Kp. Durian Kec. Rantau Kab. Aceh Tamiang

Permasalahan

Pola penanganan persampahan pada umumnya masih bersifat konvensional, yaitu bagi masyarakat di pedesaan dengan memasukkan sampah ke dalam lubang yang dibuat di pekarangan rumah, kemudian sampah dibakar sedangkan masyarakat di perkotaan mengisi sendiri sampahnya kedalam kantongan plastik tanpa melalui pemilahan lalu meletakkannya dipinggiran jalan. Selanjutnya sampah-sampah tersebut diangkut oleh truk sampah dan dibawa ke TPA. Hingga saat ini, penanganan dan pengolahan sampah di Kabupaten Aceh Tamiang belum memadai, sehingga kedepan diperlukan perencanaan kegiatan pengelolaan sampah secara benar dan memenuhi syarat kesehatan.

Secara umum umur TPA sangat dipengaruhi oleh jumlah dan komposisi sampah yang diolah, besarnya reduce, reuse dan recycle pada proses awal, luas areal TPA dan sistem pengolahan sampah yang diterapkan. Berdasarkan besarnya volume dan komposisi sampah di Kabupaten Aceh Tamiang, maka luas lahan sistem pengolahan sampah dengan sanitary landfill yang diperlukan dapat dihitung.

Permasalahan pesampahan di Kabupaten Aceh Tamiang antara lain :

• Kurangnya sarana pengangkutan sampah seperti truk dan gerobak pengangkut sampah dan kurangnya tong-tong sampah umum.

• Masih buruknya prasarana jalan menuju TPA sehingga sampah yang telah diangkut oleh truk sampah tidak bisa masuk ke TPA bila sudah turun hujan. Sehingga sampah yang telah dikumpulkan dibuang ke TPA lama yang masih open dumping dan kapasitasnya yang sudah berlebih.

• Kurangnya pemanfaatan 3R yang telah dibangun. Hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi/pelatihan pemanfaatan gedung 3R sehingga sampah yang diangkut melalui truk sampah dibuang begitu saja ke TPA tanpa melalui pemilahan.

• Kurangnya peralatan pendukung 3R seperti alat pencacah sampah untuk pembuatan kompos dan alat pengolah plastik sehingga sampah yang ada tidak dapat diolah dan hanya diletakkan begitu saja dan akhirnya sampah-sampah tersebut dibuang ke TPA tanpa melalui pemilahan.

• Belum dilaksanakannya sosialisasi/pelatihan pemanfaatan TPA sehingga TPA yang ada merupakan TPA sanitary landfill namun dimanfaatkan secara open

dumping tanpa adanya proses 3R dan tidak adanya proses menimbunan dengan

tanah. Jika hal ini dibiarkan maka umur TPA akan berkurang yang seharusnya 10 tahun menjadi berkurang.

• Kurangnya sarana pendukung operasional TPA seperti excavator, Bull Dozer, Dump Truck, Truck Tanki Air dll.

• Kurangnya tenaga kerja yang ahli dalam pengoperasian alat-alat berat.

• Kurangnya tenaga ahli dalam mengelola TPA seperti operator tenaga administrasi dsb.

• Kurangnya bangunan pendukung TPa seperti kantor TPA, toilet, ruangan bagi pekerja, musholla, ruangan satpam, ruang inap pekerja dsb.

• Kurangnya pemahaman masyarakat dalam pemanfaatan dan pemilahan sampah.

6.4.3.2 Target dan Sasaran

Target yang ingin dicapai adalah terpenuhinya sarana dan prasarana persampahan di Kabupaten Aceh Tamiang sehingga tercapai masyarakat Aceh Tamiang yang sehat.

Sasaran yang hendak dicapai yaitu : (1) pencapaian sasaran cakupan pelayanan 60% penduduk; (2) pencapaian pengurangan kualitas sampah sebesar 20%; (3) tercapainya peningkatan kualitas pengelolaan TPA menjadi sanitary landfill dan tidak dioperasikannya TPA secaraopen dumping.

6.4.3.3 Program Yang Diusulkan

Tabel 6.14

Program dan Kegiatan Penyehatan Lingkungan Permukiman Sub Sektor Persampahan

URAIAN PROGRAM/KEGIATAN

Dokumen terkait