• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sektor Potensial Daerah 1. Profil Sektor Potensial Daerah

Analisis Sektor Unggulan dan Potensial Regional

4.3. Sektor Potensial Daerah 1. Profil Sektor Potensial Daerah

Berdasarkan Lapangan Usaha

Wilayah Sulawesi Tenggara memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Didukung letak geografisnya yang terdiri dari pantai dan pegunungan, provinsi ini menyimpan potensi ekonomi yang besar. Potensi tersebut, jika dikelola secara optimal, akan memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat Sulawesi Tenggara.

Salah satu cara untuk dapat mengelola potensi ekonomi daerah adalah melakukan analisis untuk mengidentifikasi sektor-sektor ekonomi yang memiliki potensi besar. Berdasarkan banyaknya lapangan usaha; sektor potensial di Sulawesi Tenggara adalah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Menurut data yang dirilis Badan Pusat Statistik, sektor ini menyumbang 33,33% porsi lapangan usaha di Sulawesi Tenggara atau sebanyak 442.397 tenaga kerja.

Selain berdasarkan lapangan usaha, penulis juga menggunakan teknik analisis Tipologi Klassen untuk menentukan sektor potensial. Pada teknik analisis ini, sektor ekonomi yang berada pada kuadran I adalah sektor unggulan daerah, yaitu sektor yang memiliki keunggulan kompetitif sekaligus komparatif.

Pada kuadran II (dengan nilai DS positif dan LQ<1) merupakan sektor dengan keunggulan kompetitif wilayah, yang memiliki potensi untuk dapat menjadi unggulan daerah. Berdasarkan data dari BPS yang sudah diolah kembali (Gambar 4.2), sektor yang berada pada kuadran tersebut adalah 1) industri pengolahan, 2) akomodasi dan makan minum, 3) listrik & gas, 4) perdagangan & reparasi, dan 5) keuangan dan asuransi. Sektor-sektor tersebut; sesuai dengan karakteristik kuadran II;

cenderung terhambat tetapi memiliki potensi besar, daya saing tinggi, dan masih bisa berkembang dengan cepat.

Industri pengolahan merupakan mesin pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Tenggara.

Pertumbuhan industri ini didorong dengan meningkatnya produksi industri logam dasar feronikel (bahan nikel). Selain pertambangan, pemerintah daerah juga mendorong perkembangan industri pengolahan pangan lokal yang diharapkan menjadi penggerak dalam pengembangan diversifikasi pangan. Adanya nilai tambah pada barang/jasa yang diproduksi akan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya lapangan kerja.

4.3.2. Kontribusi Sektor Potensial Daerah Terhadap Ketenagakerjaan

Tabel 4. 10 Tenaga Kerja Sektor Ekonomi Potensial Sulawesi Tenggara Pengadaan Listrik dan

Gas dan Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang

8.228

11.685 11.653

Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor Keuangan dan Asuransi, Real Estat, dan Jasa Perusahaan

31.497

26.392 28.804

Melihat dari jumlah tenaga kerja, sektor-sektor potensial tersebut memiliki kontribusi yang sangat bervariasi. Sektor perdagangan dan reparasi misalnya, merupakan sektor yang menyumbang lapangan kerja terbanyak kedua di Sulawesi Tenggara, yaitu sebesar 259 ribu. Sektor pengadaan listrik dan gas dan pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang justru merupakan sektor dengan jumlah tenaga kerja paling sedikit di Sulawesi Tenggara, yaitu hanya sebanyak 11 ribu jiwa atau 0,88% dari total tenaga kerja. Tenaga kerja industri pengolahan mengalami tren kenaikan dari tahun 2019.

Sumber: BPS.

52

4.3.3. Kontribusi Sektor Potensial Daerah Terhadap Pendapatan Negara dan Daerah

Kemajuan sektor potensial tentu akan berpengaruh positif terhadap penerimaan negara, salah satunya terhadap penerimaan pajak. Dari 5 sektor potensial di atas, pemerintah menerima Rp2,7 triliun atau 30,5% dari total penerimaan perpajakan Sulawesi Tenggara.

Jumlah yang cukup masif ini tentu masih dapat bertambah seiring dengan perkembangan sektor-sektor potensial. Dibanding tahun 2020, penerimaan perpajakan dari kelima sektor potensial ini tumbuh sekitar 27%, dengan kenaikan terbesar pada sektor perdagangan besar dan eceran serta industri pengolahan.

4.3.4. Dukungan Alokasi Anggaran APBN dan APBD

4.3.4.1. Industri Pengolahan

Dukungan fiskal pemerintah terhadap sektor industri pengolahan adalah melalui penyaluran APBN Kementerian Perindustrian dan DAK Fisik bidang industri kecil dan menengah. Dari tahun 2019—2021, penyaluran anggaran mengalami sedikit penurunan, terutama pada tahun 2020 yang turun lebih dari 50%

akibat pandemi yang mengharuskan pemerintah melakukan refocusing anggaran untuk penanganan COVID-19.

4.3.4.2. Pengadaan Listrik dan Gas

Penyediaan energi listrik dan gas kepada masyarakat dilakukan oleh BUMN. Listrik disediakan oleh PLN dan gas disediakan oleh Pertamina berupa gas dalam tabung. Pada sektor ini, peran serta pemerintah adalah dengan memberikan subsidi kepada masyarakat golongan bawah, yaitu semua yang menggunakan listrik 450 VA dan sebagian masyarakat yang menggunakan kapasitas 900 VA.

4.3.4.3. Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Motor

Sektor perdagangan besar dan eceran;

reparasi mobil dan motor mendapat dukungan fiskal dari pemerintah berupa penyaluran APBN Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi &

Usaha Kecil & Menengah, serta DAK Fisik bidang industri kecil dan menengah. Tahun 2020, realisasi anggaran untuk sektor ini mencapai Rp123 miliar.

Angka ini kemudian merosot menjadi Rp29 miliar pada tahun 2020. Penurunan signifikan tersebut, sama seperti yang terjadi pada sektor lain, diakibatkan oleh pandemi yang mengharuskan pemerintah melakukan realokasi anggaran.

4.3.4.4. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

Tabel 4. 12 Realisasi Anggaran Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

Tahun DAK Fisik 2021 56.325.962.700 0,47%

2020 31.302.137.898 0,30%

2019 59.159.421.057 0,54%

Sektor ini memiliki hubungan cukup erat dengan pariwisata. Pemerintah telah memberikan dukungan fiskal berupa DAK Fisik bidang pariwisata sebesar Rp56 miliar pada tahun 2021. Kemajuan pariwisata akan memberi efek positif terhadap akomodasi seperti perhotelan, jasa transportasi, dan restoran. Mengingat potensi wisata alam di Sulawesi Tenggara yang masih bisa jauh berkembang, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum ini berpeluang besar untuk ikut mengalami peningkatan.

Tabel 4. 11 Penerimaan Pajak per Sektor Ekonomi Potensial

Sektor Penerimaan Pajak (Rp)

2020 2021

Industri Pengolahan 283.594.288.111 13,0% 367.360.397.165 13,3%

Pengadaan Listrik dan Gas 159.369.143.595 7,3% 183.098.775.029 6,6%

Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi

Mobil dan Motor 169.981.564.784 7,8% 221.006.410.008 8,0%

Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 41.367.747.942 1,9% 30.669.632.316 1,1%

Jasa Keuangan dan Asuransi 52.573.729.139 2,4% 41.735.217.800 1,5%

Total 2.180.520.921.225 2.771.775.954.894

Sumber: Direktorat Jenderal Perpajakan.

Sumber: Aplikasi OM-SPAN Kemenkeu.

53

4.3.4.5. Jasa Keuangan dan Asuransi

Jasa keuangan dan asuransi merupakan sektor dengan kontribusi terkecil terhadap PDRB Sulawesi Tenggara, yaitu sebesar 2,36%.

Pengembangan sektor ini menitikberatkan otoritas moneter dan jasa keuangan. Pemerintah berperan dalam memfasilitasi dan mendukung ekosistem keuangan yang sehat. Pada sisi lain, pemerintah juga mendorong inklusi keuangan yang memungkinkan pelaku usaha mendapatkan akses perbankan dan lembaga keuangan lainnya melalui program KUR dan Pembiayaan UMi.

4.3.5. Tantangan Fiskal pada Sektor Potensial Daerah

Sektor-sektor ekonomi potensial Sulawesi Tenggara adalah industri pengolahan; pengadaan listrik dan gas; perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil; penyediaan akomodasi dan makan minum; serta jasa keuangan dan asuransi.

Menurut Kuznets (1955), dalam studinya mengatakan perkembangan struktur ekonomi berawal dari sektor pertanian yang memberikanh kontribusi besar bagi PDB. Namun, kemudian perannya digantikan oleh sektor industri karena perkembangan produksi pertanian cenderung lebih lambat daripada sektor industri.

Sektor industri pengolahan di Sulawesi Tenggara, meskipun memiliki potensi yang besar (berdasarkan hasil analisis LQ), masih menghadapi berbagai tantangan yang harus diselesaikan. Salah satunya adalah pembangunan kawasan industri berbasis smelter feronikel di Kabupaten Konawe.

Investasi senilai Rp47 triliun ini mampu menyerap 16 ribu pegawai (per Juni 2021). Meskipun demikian, ketersediaan infrastruktur (jalan dan air) serta percepatan perizinan masih menjadi hal yang harus dibenahi oleh pemerintah daerah. Kendala infrastruktur dan perizinan ini juga berpengaruh terhadap sektor potensial lainnya; yaitu perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan motor. Perdagangan adalah sektor yang sangat terkait dengan distribusi dan logistik, sehingga peningkatan kualitas infrastruktur juga akan meningkatkan lalu lintas perdagangan.

Sektor potensial selanjutnya adalah pengadaan listrik dan gas. Sektor ini berhubungan erat dengan ketersediaan energi. Pemerintah provinsi Sulawesi Tenggara sedang mendorong implementasi Rencana Umum Energi Daerah (RUED) yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat, industri, sektor ekonomi lain, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap energi (BBM, LPG, gas bumi, dan listrik) dengan harga yang wajar. Salah satu yang menjadi tantangan adalah Tabel 4. 13 Realisasi Anggaran Sektor Industri Pengolahan

Tahun APBN Kementerian Perindustrian (Sultra)

DAK Fisik Industri

Kecil dan Menengah Total Realisasi Proporsi terhadap Total APBN Sultra

2021 901.465.000 20.810.405.800 21.711.870.800 0,18%

2020 1.520.780.000 7.656.840.000 9.177.620.000 0,09%

2019 1.895.611.000 22.056.370.283 23.951.981.283 0,20%

Tabel 4. 14 Realisasi Anggaran Sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Motor

Tahun

Usaha Kecil &

Menengah

DAK Fisik Industri Kecil dan

2021 49.276.886.777 1.680.404.000 18.921.299.650 69.878.590.427 0,59%

2020 19.763.922.290 1.718.141.000 7.656.840.000 29.138.903.290 0,25%

2019 118.417.507.903 4.994.403.097 — 123.411.911.000 1,04%

Sumber: Aplikasi MEBE & OM-SPAN Kemenkeu.

53

54

sebagian wilayah Sulawesi Tenggara yang berupa pulau-pulau, sehingga pembangunan infrastruktur energi perlu memperhatikan dan memaksimalkan potensi energi setempat.

Sektor potensial lainnya adalah penyediaan akomodasi dan makan minum. Sektor ini memiliki hubungan cukup erat dengan pariwisata. Pemerintah telah memberikan dukungan fiskal berupa DAK Fisik bidang pariwisata sebesar Rp56 miliar pada tahun 2021. Kemajuan pariwisata akan secara langsung memberi efek positif terhadap akomodasi seperti perhotelan, jasa transportasi, dan restoran. Salah satu destinasi pariwisata yang dimiliki Sulawesi Tenggara adalah Wakatobi. Daerah ini terkenal dengan keindahan lautnya yang sangat memesona.

Namun, masih banyak masyarakat yang memilih untuk berkunjung ke luar negeri dibanding menjelajahi negeri sendiri. Hal ini dipengaruhi oleh akses dan publikasi yang kurang masif. Sebagai contoh, penerbangan dari Kendari menuju Wakatobi terbilang minim, sehingga para calon wisatawan diharuskan menggunakan transportasi lain (kapal) atau memilih untuk mengubah destinasinya.

Berkurangnya calon wisatawan potensial ini tentu merupakan keruguan bagi Sulawesi Tenggara, mengingat multiplier effect yang seharusnya bisa diperoleh dengan adanya wisatawan tersebut.

4.3.6. Dukungan Kebijakan dan Stimulus Fiskal yang Diperlukan

Kebijakan-kebijakan pemerintah sudah semestinya dirancang dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu langkahnya adalah dengan menambah jumlah lapangan pekerjaan maupun memajukan perekonomian daerah, terutama difokuskan pada sektor-sektor yang merupakan unggulan dan potensial di daerah.

Pertanian yang merupakan sektor unggulan di Sulawesi Tenggara memang menyumbang nilai PDRB dan lapangan pekerjaan yang besar, tetapi angka ini semakin menurun dari tahun ke tahun.

Selain minat generasi muda terhadap pertanian semakin kecil dan lahan pertanian juga semakin terbatas, penggunaan teknologi juga masih terbilang minim. Kondisi ini mengakibatkan nilai jual produk pertanian rendah, sehingga masih banyak masyarakat yang bekerja pada sektor pertanian masih hidup dalam garis kemiskinan. Pemerintah perlu turun tangan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan ini, tidak hanya berupa penyaluran bantuan keuangan, tetapi juga mendorong petani untuk memanfaatkan teknologi, sehingga nilai jual produk pertanian dapat memberikan kesejahteraan bagi pekerjanya.

Infrastruktur juga masih menjadi masalah bagi sektor-sektor unggulan maupun potensial lainnya. Infrastruktur jalan, misalnya, dipandang

masih harus ditingkatkan untuk menunjang sektor pertanian, pertambangan, transportasi, akomodasi, dan industri pengolahan. Sedangkan untuk sektor jasa pendidikan, infrastruktur sekolah masih belum mencukupi, terutama di wilayah-wilayah yang cukup jauh dari pusat kota.

Selain infrastruktur, hal pemerintah dirasa perlu mengubah kebijakan terkait perizinan (usaha) yang selama ini dinilai kurang efisien. Dalam kunjungannya ke pabrik PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Kawasan Industri Konawe pada tahun 2021, Direktur Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian, Ignatius Warsito, mengatakan bahwa peningkatan akses jalan dan percepatan perizinan masih menjadi tantangan yang harus segera dibenahi.

Pemerintah terus mengkaji sektor-sektor ekonomi mana yang mampu memberikan manfaat paling besar bagi kesejahteraan masyarakat. Fokus pemerintah harus tidak terbatas pada sektor yang memberikan kontribusi terhadap PDRB (perekonomian) paling besar, melainkan juga pada sektor yang secara angka tidak berkontribusi besar terhadap perekonomian, tetapi memiliki multiplier effect yang besar terhadap sektor-sektor lain, seperti sektor pendidikan.

Bab 5

foto oleh: Firdan Fahmi

BAB 5

Kajian Fiskal Regional 2021 Kanwil DJPb Sulawesi Tenggara

Analisis Harmonisasi