5.3 Proses Politik PRD
5.3.2. Sekuensi kedua: Partai Front Oposisi 2004
Sekuensi kedua pada pemilu 2004, PRD menghadapi atmosfer politik yang baru. Kekuasaan elit sudah kembali menguat, meskipun tidak ada lagi sentral kekuasaan yang dominan elit mampu melakukan konsolidasi politik. pemilu 2004 merupakan proses reorganisasi elit setelah pertentangan perebutan kekuasaan antara kubu reformis dan kubu konservatif (sisa Orde Baru). Sementara itu, bagi gerakan popular, periode ini ditandai dengan surutnya kemampuan mobilisasi.
Pada sekuensi ini, struktur peluang politik dimulai sejak kegagalan konsolidasi elit setelah pemilu 1999. Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden namun partainya, PKB bukan partai dominan35. Konfigurasi koalisi elit kubu reformis yang tidak stabil ini dimanfaatkan oleh kubu konservatif yang sedang melakukan konsolidasi ulang.
Selama kepemimpinannya, Abdurrahman Wahid berupaya untuk menggusur kubu Orde Baru dalam pemerintahan. Ia mencoba untuk merealisasikan pencabutan dwifungsi ABRI dan yang paling kontroversial adalah menganjurkan pencabutan perlarangan terhadap komunisme dan rekonsiliasi dengan korban 65. Tindakan ini menimbulkan reaksi penolakan dari kubu Militer dan sebagian kelompok muslim. Oposisi terhadap Wahid mulai mengkristal pada tahun 2001. Kubu reformis yang dipimpin oleh Megawati dan Amin Rais (PAN dan PDIP) yang beraliansi dengan kubu konservatif yang mewakili kekuatan lama (Golkar-TNI-PPP) mengajukan impeachment terhadap Gus Dur atas tuduhan kasus korupsi sumbangan Sultan.
35
Ketidakstabilan koalisi politik melahirkan struktur peluang politik bagi gerakan popular yang mulai meredup. PRD berhasil melakukan kerjasama politik dengan kubu Gus Dur yang diwakili oleh NU. Kerjasama politik ini tidak berjalan lancar karena framing rezim terhadap PRD yang dituduh komunis masih memiliki dampak politik terutama di kalangan massa NU36. Puncaknya pada tanggal 22 juli 2001, Gus Dur mengeluarkan dekrit Presiden mengenai pembekuan MPR, Percepatan pemilu dan pembubaran Golkar. Dekrit ini ditentang oleh Militer dan Parlemen, sementara mobilisasi protes menurun. Keesokan harinya, MPR mempercepat Sidang Istimewa dan mengangkat Megawati sebagai Presiden. Upaya PRD untuk berkoalisi dengan pemerintah pun kandas pada saat itu.
Setelah penggulingan Gus Dur, elit politik baru yang terdiri dari kekuatan lama dan kubu reformis mulai melakukan konsolidasi kekuasaan dan terbelah kembali. Megawati mengaktifkan kembali status Daerah Operasi Militer di Aceh dan Papua, aksi-aksi protes terhadap pemerintah ditekan melalui UU subversif. Kebijakan penting pada masa Megawati adalah privatisasi perusahaan negara.
Perpecahan elit dimulai dari keluarnya dua tokoh oposisi dari lingkaran Megawati yaitu Eros Djarot dan Rachmawati Soekarnoputri. Gerakan popular disisi lain juga melakukan konsolidasi ulang dengan membentuk Koalisi Nasional. Koalisi Nasional melibatkan organisasi-organiasi gerakan popular dan partai oposisi. Namun menjelang pemilu 2004 Koalisi Nasional terbelah, partai-partai yang bergabung di dalamnya memutuskan untuk bergerak sendiri.
36
Tempo. 2001. Indonesia harus Waspadai Ancaman Neo-komunis.
http://www.tempo.co/read/news/2001/02/12/05522144/8220Indonesia-Harus-Waspadai-Ancaman-Neo-komunis
Bagi PRD, perpecahan Koalisi Nasional (KN) berdampak buruk karena memecah integrasi gerakan popular. Namun, perpecahan ini juga menyediakan peluang sekutu antara gerakan popular yang sudah tergabung dalam KN. Pada bulan Juli 2003, sebuah koalisi gerakan kembali dibentuk tanpa tokoh oposisi nasional. Koalisi yang terdiri dari 60 organisasi ini mendeklarasikan pembentukan Partai Persatuan Oposisi Rakyat untuk mengikuti pentas pemilu. POPOR sendiri dalam persepsi PRD adalah sebuah front politik yang digunakan untuk mengintegrasikan kelas popular di tingkat nasional. Meski diarahkan pada partai elektoral, motif pembentukan POPOR berada pada ruang ekstra parlemen bedasarkan keanggotaan organisasi di dalamnya.
Struktur mobilisasi PRD pada sekuensi ini megalami kemunduran setelah puncak mobilisasinya pada tahun 2001. Pada tahun 2002, PRD mengalami perpecahan internal yang melahirkan PDS dan meluas di daerah-daerah. Perpecahan itu melemahkan konsolidasi organisasi PRD sehingga koalisi gerakan popular menjadi penting bagi perluasan propaganda juga perluasan struktur organisasi PRD. Secara konseptual, pandangan PRD terhadap negara mulai mengarah pada bentuk pemerintahan yang lebih stabil dengan mengajukan bentuk pmerintahan demokrasi rakyat yang terdiri dari koalisi gerakan oposisi.
Tema politik yang diusung memperhatikan kondisi organisasional dan perluasan front yang dapat mempersatukan gerakan popular. Konsentrasi kekuasaan yang diajukan adalah pembangunan demokrasi dari bawah melalui organisasi-organisasi rakyat yang lebih permanen. Front politik dikonsentrasikan untuk merebut ruang politik legal melalui proses pemilu. Sayangnya POPOR
gagal memenuhi verifikasi administratif. Meskipun begitu, eksprimen POPOR menunjukkan bahwa elemen-elemen termaju pada gerakan popular telah mampu mengintegrasikan isu politiknya dan membentuk alat politik sendiri. Kegagalan konsolidasi POPOR sendiri dapat diperhatikan pada konfigurasi kelas popular yang menjadi aktor politik POPOR.
Pada periode ini, proses framing dimulai ketika pembangunan koalisi antara PRD dan NU. PRD kembali menghadapi tudingan komunis yang dimobilisasi oleh lawan politiknya. Perbedaannya pada periode ini, isu anti komunis bukan lagi dilakukan melalui represi militer melainkan melalui bentuk organisasi para-militer yang dimobilisasi untuk meluaskan propaganda anti komunis. Salah satunya adalah MAKI (Masyarakat Anti Komunis Indonesia) yang sering memunculkan tuduhan ganjil. MAKI menuduh Gusdur, Rizal Ramli (Menteri Koordinator Ekonomi dan Keuangan), Winar Witoelar (Juru Bicara Presiden), Marsilam Simanjuntak, Bondan Gunawan, dan Letnan Jenderal Agus Wirahadikusuma sebagai persekongkolan komunis. Mereka juga menuduh PRD sebagai representasi komunis baru37. Propaganda ini mulai surut seiring jatuhnya Gus Dur dan tidak menguat pada pemilu 2004.
Sejak periode ini, framing komunis terhadap PRD dan gerakan kiri lainnya tidak lagi dilakukan melalui represi militer melainkan dengan represi organisasi masyarakat. Media pada proses ini tidak lagi berpihak penuh terhadap rezim melainkan secara moderat menggunakan kontroversi politik sebagai komoditas
37 Tuduhan MAKI dijelaskan oleh Lane (2007;245) dengan mengutip terbitan MAKI, Awas PKI Bangkit lagi!!! Dibalik gerakan Radikalisme, anarkhisme dan barbarianisme PRD, Jakarta, Maret, 2001, hal 7-8.
Keterangan: Interaksi langsung Respon Interaksi Interaksi tidak langsung
mereka. Meskipun begitu tindakan politik seperti aksi massa tetap berada pada frame disfungsi sosial untuk menegasikan tuntutan politiknya.
Gambar 5.2 Proses Politik PRD pada Pemilu 2004
Persatuan Demokrasi Rakyat
Integrasi Oposisi, menghapus Sisa Orde
Baru, Anti Neoliberalisme, Demokrasi Dari bawah
Integrasi Oposisi Intervensi Pemilu 2004 PartaiFront Oposisi Front Politik Partai Elektoral Perluasan Oposisi Pemilu 2004 Represi Fasilitasi