• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Model

Pemodelan merupakan suatu aktivitas pembuatan model. Secara umum model memiliki pengertian sebagai suatu perwakilan atau abstraksi dari sebuah objek atau situasi aktual. Model memperhatikan hubungan langsung ataupun tidak langsung serta kaitan timbal balik yang dikenal dalam istilah sebab-akibat. Model merupakan gambaran dari realita sehingga perwujudannya menjadi kurang komplek dibandingkan realita itu sendiri. Model dianggap baik apabila dapat mewakili segenap aspek dari pada realitas yang sedang dikaji (Eriyatno 2003).

Menurut Manetsch and Park (1977) model merupakan penggambaran dari sistem dunia nyata(riil), yang bertindak seperti dunia nyata untuk aspek-aspek tertentu. Model dikelompokkan menjadi 3 jenis yaitu model kuantitatif, kualitatif, dan ikonik (Muhammadi et al. 2001). Model yang baik akan memberikan gambaran perilaku dunia nyata sesuai dengan permasalahan dan akan meminimalkan perilaku yang tidak signifikan dari sistem yang dimodelkan.

Menurut Pusat Penelitian Energi Lembaga Penelitian Institut Teknologi Bandung (1996), pengenalan terhadap model dilakukan melalui penyelidikan perilaku historis (historical behavior) dan penetapan skenario referensi, sebagai titik tolak usaha simulasi selanjutnya. Bila kesesuaian perilaku antara model mental, model eksplisit dan kenyataan empiris telah didapat, model dapat digunakan untuk melakukan analisis kebijakan.

Langkah pertama dalam menyusun model adalah menentukan struktur model. Struktur model akan memberikan bentuk kepada sistem dan sekaligus memberi ciri yang mempengaruhi perilaku sistem. Perilaku tersebut dibentuk oleh kombinasi perilaku simpal kausal (causal loop) yang menyusun struktur model. Semua perilaku model, bagaimanapun rumitnya dapat disederhanakan menjadi struktur dasar yaitu mekanisme dari masukan, proses, keluaran, dan umpan balik. Menurut Muhammadi et al. (2001) mekanisme tersebut akan bekerja menurut perubahan waktu atau bersifat dinamis yang dapat diamati perilakunya dalam bentuk unjuk kerja (level) dari suatu model dinamis.

Menurut Muhammadi et al. (2001) untuk memahami struktur dan perilaku sistem yang akan membantu dalam pembentukan model dinamika kuantitatif formal digunakan diagram simpal kausal (causal loop) dan diagram alir

(flow chart). Diagram simpal kausal dibuat dengan cara menentukan variabel penyebab yang signifikan dalam sistem dan menghubungkannya dengan menggunakan garis panah ke variabel akibat, dan garis panah tersebut dapat berlaku dua arah jika kedua variabel saling mempengaruhi.

Pada sistem dinamis, diagram simpal kausal ini akan dipergunakan sebagai dasar untuk membuat diagram alir yang akan disimulasikan dengan menggunakan program model sistem dinamis, misalnya program powersim. Program powersim dapat memberikan gambaran tentang perilaku sistem dan dengan simulasi dapat ditentukan alternatif terbaik dari sistem yang kita bangun, setelah itu dilakukan analisis untuk mendapatkan kesimpulan, dan kebijakan apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi/mengubah perilaku sistem yang terjadi.

Perilaku model sistem dinamis ditentukan oleh keunikan dari struktur model, yang dapat dipahami dari hasil simulasi model. Dengan simulasi akan didapat perilaku dari suatu gejala atau proses yang terjadi dalam sistem, sehingga dapat dilakukan analisis dan peramalan perilaku gejala atau proses tersebut di masa depan. Menurut Muhammadi et al. (2001) tahapan-tahapan untuk melakukan simulasi model adalah sebagai berikut:

1. Penyusunan konsep. Pada tahap ini dilakukan identifikasi variabel-variabel yang berperan dalam menimbulkan gejala atau proses. Variabel-variabel tersebut saling berinteraksi, saling berhubungan, dan saling berketergantungan. Kondisi ini dijadikan dasar untuk menyusun gagasan atau konsep mengenai gejala atau proses yang akan disimulasikan.

2. Pembuatan model. Gagasan atau konsep yang dihasilkan pada tahap pertama selanjutnya dirumuskan sebagai model berbentuk uraian, gambar, atau rumus.

3. Simulasi. Simulasi dilakukan dengan menggunakan model yang telah dibuat. Pada model kuantitatif, simulasi dilakukan dengan memasukkan data ke dalam model, sedang pada model kualitatif, simulasi dilakukan dengan menelusuri dan melakukan analisis hubungan sebab akibat antar variabel dengan mamasukkan data atau informasi yang dikumpulkan untuk memahami perilaku gejala atau proses model.

4. Validasi hasil simulasi. Validasi bertujuan untuk mengetahui kesesuaian antara hasil simulasi dengan gejala atau proses yang ditirukan. Model dapat dinyatakan baik jika kesalahan atau simpangan hasil simulasi terhadap gejala

8

atau proses yang terjadi di dunia nyata relatif kecil. Hasil simulasi yang sudah divalidasi tersebut digunakan untuk memahami perilaku gejala atau proses serta kecenderungan di masa depan, yang dapat dijadikan sebagai dasar bagi pengambil keputusan untuk merumuskan kebijakan di masa mendatang.

Pengertian Sampah

Pengertian sampah yang umum adalah limbah padat atau setengah padat yang berasal dari kegiatan manusia dalam suatu lingkungan, terdiri atas bahan organik dan anorganik dapat dibakar dan tidak dapat dibakar yang tidak termasuk kotoran manusia (Dirjen Cipta Karya 1991). Menurut Azwar (1996) sampah adalah sebagian dari sesuatu yang tidak terpakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan manusia dan bersifat padat. Menurut Sa’id (1987) sampah adalah limbah padat atau bahan buangan yang dapat terdiri dari tiga bentuk keadaan, yakni limbah padat, limbah cair, dan limbah gas. Definisi lain dikemukakan oleh Hadiwiyoto (1983), sampah adalah sisa-sisa bahan yang telah mengalami perlakuan baik yang telah diambil bagian utamanya, telah mengalami pengolahan, dan sudah tidak bermanfaat, dari segi ekonomis sudah tidak ada harganya serta dari segi lingkungan dapat menyebabkan pencemaran atau gangguan kelestarian alam. Pengertian sampah dalam ilmu kesehatan lingkungan adalah sebagian dari benda atau hal-hal yang dipandang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau harus dibuang sedemikian rupa sehingga tidak sampai mengganggu kelangsungan hidup (Azwar 1996).

Kategori sumber penghasil sampah yang sering digunakan: (1) sampah domestik, yaitu sampah yang berasal dari permukiman, (2) sampah komersial, yaitu sampah yang berasal dari lingkungan perdagangan atau jasa komersial berupa toko, pasar, rumah makan, dan kantor, (3) sampah industri, yaitu sampah yang berasal dari suatu proses produksi, dan (4) sampah yang berasal selain dari yang telah disebutkan di atas misalnya sampah dari pepohonan, sapuan jalan, dan bencana alam (Hadiwiyoto 1983).

Pengelolaan Sampah

Hadiwiyoto (1983) mengemukakan bahwa pengelolaan sampah adalah perlakuan terhadap sampah untuk memperkecil atau menghilangkan

masalah-masalah yang berkaitan dengan lingkungan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan sampah antara lain: (1) pengumpulan sampah, (2) tahap pemisahan, (3) tahap pembakaran, dan (4) tahap penimbunan sampah. Hal ini sangat memerlukan penanganan karena masalah sampah berkaitan dengan masalah lingkungan hidup dalam wujud nyata dan mengganggu kehidupan manusia.

Pengelolaan sampah adalah pengendalian dan pemanfaatan semua faktor dan sumberdaya, yang menurut suatu perencanaan diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu tujuan kerja tertentu. Dengan demikian pengelolaan merupakan suatu masalah yang besar setelah faktor dan sumberdaya yang sukar untuk dikendalikan dan didayagunakan masuk ke dalam suatu sistem, yaitu manusia (Prajudi 1980).

Azwar (1996) menyatakan bahwa ditinjau dari ilmu kesehatan lingkungan, suatu pengelolaan sampah dianggap baik jika sampah tersebut tidak menjadi tempat berkembang biak bibit penyakit serta sampah tersebut tidak menjadi medium perantara penyebarluasan suatu penyakit. Syarat lainnya yang harus terpenuhi dalam pengelolaan sampah ialah tidak mencemari udara, air, atau tanah serta tidak menimbulkan bau dan kebakaran.

Haeruman (1979) menyatakan bahwa perencanaan pengelolaan sampah yang komprehensif perlu memperhatikan sumber sampah, lokasi, pergerakan atau peredaran, dan interaksi dari peredaran sampah dalam suatu lingkungan urban. Untuk mencapai hal diatas perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) penyimpanan sampah, (2) pengumpulan sampah, (3) pembuangan sampah, dan (4) pemusnahan sampah.

Teknik Operasional Pengelolaan Sampah

Pengumpulan sampah merupakan kegiatan operasi pengumpul sampah dari sumber sampah, sebelum sampah tersebut diangkut ke tempat pengolahan atau pembuangan akhir. Dalam teknis operasional pewadahan memegang peranan yang sangat penting, oleh sebab itu tempat sampah menjadi tanggung jawab individu yang menghasilkan sampah (sumber sampah) tersebut, sedangkan volume tempat penampungan sampah tergantung dari jumlah sampah yang dihasilkan per hari oleh setiap sumber tergantung dari frekuensi dan pola pengumpulan. Tempat sampah perlu didesain sedemikian rupa dan ditempatkan pada tempat yang mudah dijangkau oleh petugas, sehingga akan

10

memudahkan petugas kebersihan untuk mengambil atau memindahkan sampahnya ke dalam peralatan pengumpulan (Dirjen Cipta Karya 1991).

Teknis operasional pengelolaan sampah dipengaruhi oleh karakteristik wilayah pelayanan, besarnya timbunan sampah, keserasian pola operasi antara sub-sistem penanganan sampah, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat. Secara umum teknis operasional pengelolaan sampah meliputi pewadahan, pengumpulan, pemindahan, pengolahan, pengangkutan, pembuangan akhir, serta operasi dan pemeliharaan (Rahmadi 1995).

Pengelolaan Sampah dengan Pendekatan Reduce, Reuse, dan Recycle.

Konsep pengelolaan sampah yang mengintegrasikan prinsip 3R (reduce,

reuse, recycle) adalah pengelolaan sampah dimulai dari sumbernya

(Bebassari 2000). Reduce adalah mengurangi timbulan sampah pada sumbernya. Reuse adalah sampah yang ada dimanfaatkan sesuai fungsi awal, baik dengan merubah bentuknya atau tetap seperti semula, sedang recycle

adalah proses pengolahan sampah yang dapat menghasilkan produk yang bermanfaat kembali. Pendekatan reduce, reuse, recycle memiliki tiga manfaat, yaitu: (1) mengurangi ketergantungan terhadap TPA sampah yang semakin sulit didapatkan, (2) meningkatkan efisiensi pengolahan sampah perkotaan, dan (3) menciptakan peluang usaha bagi masyarakat. Penerapan reduce, reuse,

recycle pada pengelolaan sampah akan berhasil dengan baik bila dilakukan

dengan melibatkan seluruh aktor (stake holders) terkait, seperti pemerintah, pengusaha, LSM, dan masyarakat.

Penerapan reduce, reuse, recycle dilakukan dengan mendirikan tempat pembuatan kompos dan industri kecil daur ulang (recycle) sampah di daerah (kawasan) sumber sampah atau di TPA dengan memberdayakan masyarakat untuk berperan aktif. Konsep dasar pengelolaan sampah dengan reduce, reuse,

recycle ini adalah oleh masyarakat, dari masyarakat, dan untuk masyarakat,

dengan menerapkan beberapa jenis pengelolaan secara simultan untuk menghasilkan produk dari hasil daur ulang. Pemerintah dalam konsep ini dapat berperan sebagai fasilitator dan penyedia prasarana dan sarana.

Daur ulang sampah termasuk pengomposan sampah rumah tangga menjadi tujuan utama kebijakan lingkungan di berbagai negara. Pembangunan fasilitas daur ulang dan pengomposan tersebut diarahkan untuk dapat diakses oleh rumah tangga (Tucker et al. 1998).

Pengelolaan sampah secara terpadu yang melibatkan pengomposan, proses daur ulangan, dan pembakaran (Inceneration) dapat mereduksi sampah sampai 96%. Sisa pembakaran berupa residu hanya tinggal 4%, dan residu yang berbentuk abu ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan (Bebassari 2000). Keberhasilan pengelolaan sampah secara terpadu ini tergantung dari partisipasi masyarakat, sebagai penghasil utama sampah. Partisipasi masyarakat ini dapat berupa pemilahan antara sampah organik dan sampah anorganik dalam proses pewadahan, atau melalui pembuatan kompos dalam skala keluarga dan mengurangi penggunaan barang yang tidak mudah terurai.

Partisipasi masyarakat

Partisipasi masyarakat pada hakekatnya adalah keterlibatan masyarakat dalam menentukan arah dan strategi kebijaksanaan kegiatan, memikul beban dalam pelaksanaan kegiatan, dan ikut memanfaatkan hasil-hasilnya secara adil. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan dikelompokkan menjadi 4 tahap, yaitu: (1) partisipasi dalam tahap perencanaan, (2) partisipasi dalam tahap pelaksanaan, (3) partisipasi dalam tahap pemanfaatan hasil pembangunan, dan (4) partisipasi dalam tahap pengawasan.

Ada tiga faktor utama yang mendorong masyarakat berpartisipasi dalam pembangunan: (1) kemauan (2) kemampuan, dan (3) kesempatan. Kemauan berpartisipasi bersumber pada faktor psikologis individu yang menyangkut emosional dan perasaan. Tingkat kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi dipenguruhi oleh latar belakang pendidikan, keterampilan, pengalaman, ketersediaan per modalan. Proses pendidikan (formal dan informal) dapat mempengaruhi sikap mental dan perilaku. Sedangkan kesempatan berpartisipasi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berinteraksi, seperti ketersediaan prasarana dan sarana, kelembagaan, regulasi dan birokrasi.

Chan (1998) menyatakan bahwa tingkah laku merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap intensitas perilaku, diikuti oleh kontrol perilaku dan norma sosial. Akar masalah lingkungan adalah perilaku manusia, maka melalui kampanye pendidikan dan komunikasi massa untuk perilaku lingkungan yang bertanggungjawab dapat menjadi solusi.

Dalam teknik pengambilan sampel, menurut Marimin (2004), dalam

12

(1) praktisi, orang yang bekerja dan berpengalaman dalam bidang tertentu secara otodidak maupun terdidik secara akademis, (2) ilmuan, orang yang mempelajari dan mendalami pengetahuan bidang tertentu lewat jalur formal melalui pendidikan tinggi dan memperdalam karirnya di bidang akademis (perguruan tinggi/lembaga penelitian).

Menurut Udin dan Desianti (1994), pakar dipilih diantara praktisi dan memiliki latar belakang pendidikan formal dari Perguruan Tinggi. Akuisisi pengetahuan pakar adalah penyerapan pengetahuan sebanyak mungkin, baik berupa informasi, fakta, ataupun data-data akurat yang luas dan mendalam di bidang tersebut yang dilakukan terhadap pakar.

Lokasi penelitian mencakup 10 ke camatan di Wilayah Kota Palembang. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan atas pertimbangan dari 14 kecamatan yang ada di Kota Palembang hanya 10 kecamatan yang wilayahnya berada di aliran Sungai Musi, seperti diperlihatkan Gambar 2. Penelitian dilakukan pada Bulan April 2004 sampai dengan Bulan Desember 2004.

S u k a m a j u A la n g A la ng L e b a r G a n d u s K e r a m a s a n 1 1 U lu B uk it L a m a 1 0 I lir K O D Y A P AL E M B A N G M U S I B A N Y U A S I N O G A N K O M E R I N G IL I R M U S I B A N Y U A S IN M U S I B A N Y U AS IN 3 ° 2 '50 " 2 '50 " 2 ° 58 '45 " 2 °58 '45 " 2 ° 54 '4 0" 2 ° 54 '40 " 2 °50 '35 " 2° 50 '35 " 2 ° 46 '30 " 2 °46 '30 " 1 0 4 °3 2 '4 0 " 1 0 4 °3 2 '4 0 " 1 0 4 °3 6 '4 5 " 1 0 4 °3 6 '4 5 " 1 0 4 °4 0 '5 0 " 1 0 4 °4 0 '5 0 " 1 0 4 °4 4 '5 5 " 1 0 4 °4 4 '5 5 " 1 0 4 °4 9 '0 0 " 1 0 4 °4 9 '0 0 " 1 0 4 °5 3 '0 5 " 1 0 4 °5 3 '0 5 " L O K A S I P E N E L I T I A N 4 °49 '40 " 4 °49 '40 " 3 ° 39 '20 " 3° 39 '20 " 2 °29 '00 " 2 °29 '00 " 1 0 4 °1 0 ' 2 0 " 1 0 4 °1 0 ' 2 0 " 1 0 5 °2 0 '4 0 " 1 0 5 °2 0 '4 0 " 1 0 6 °3 1 '0 0 " 1 0 6 °3 1 '0 0 " 1 0 7 ° 4 1 ' 2 0 " 1 0 7 ° 4 1 ' 2 0 " PE T A L O K A SI P E N E L IT I A N 0 5 1 0 K i lo m et er N

Gambar 2. Peta lokasi daerah penelitian

Lokasi Penelitian

14

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survai. Pendekatan sistem digunakan untuk merumuskan model pengelolaan sampah domestik permukiman penduduk di pinggir Sungai Musi Kota Palembang dengan pendekatan reduce, reuse, recycle dan partisipasi (3R+P) dengan melibatkan berbagai stake holders yang terkait.

Penelitian dimulai dengan melakukan analisis kondisi saat ini (existing

condition), yaitu dengan mengidentifikasi pengelolaan sampah domestik

permukiman penduduk di pinggir Sungai Musi Kota Palembang. Hasil analisis ini dapat menggambarkan sistem pengelolaan sampah yang dilakukan penduduk pada saat ini. Tahap selanjutnya adalah identifikasi terhadap faktor-faktor yang mencemari lingkungan dan analisis statistik terhadap perilaku pengelolaan sampah domestik masyarakat. Faktor-faktor yang teridentifikasi mencemari lingkungan dan variabel-variabel yang signifikan mempengaruhi perilaku pengelolaan sampah selanjutnya dijadikan sebagai variabel input dalam merumuskan model pengelolaan sampah domestik permukiman penduduk di pinggir Sungai Musi Kota Palembang dengan pendekatan 3R+P.

Analisis kebutuhan yang merupakan langkah awal dari pendekatan sistem dilakukan kepada semua pihak yang berkepentingan, sehingga diperoleh apa yang dibutuhkan/penting bagi stake holders dalam pengelolaan sampah domestik permukiman penduduk di pingggir Sungai Musi Kota Palembang dengan pendekatan 3R+P. Faktor-faktor penting hasil analisis kebutuhan digabung dengan faktor-faktor penting hasil akuisisi pendapat pakar dan hasil analisis existing condition pengelolaan sampah domestik permukiman penduduk di pinggir Sungai Musi Kota Palembang untuk mendapatkan hasil yang lebih mencerminkan faktor-faktor yang berpengaruh pada sistem yang dikaji. Faktor-faktor penting hasil gabungan dari ketiga sumber tersebut dijadikan sebagai variabel input pada sistem yang dikaji, selanjutnya dilakukan analisis tingkat pengaruh dan kepentingannya dengan menggunakan analisis prospektif. Masing-masing faktor penting didefinisikan kemungkinan keadaannya (state) di masa depan dan dirumuskan berbagai skenario strategi masa depan dalam pengembangan sistem yang dikaji. Berdasarkan keadaan (state) dari setiap skenario yang telah dirumuskan, selanjutnya dilakukan perumusan dan simulasi model dengan menggunakan program aplikasi powersim 2.5. Pada tahap akhir,

dapat dirumuskan rekomendasi/perbaikan sistem pengelolaan sampah domestik permukiman penduduk di pinggir Sungai Musi Kota Palembang.

Metode Pengumpulan Data dan Pengambilan Sampel

Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara diskusi, wawancara, pengisian kuesioner, dan pengamatan langsung terhadap kegiatan pengelolaan sampah di lokasi penelitian untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Data sekunder diperoleh dengan cara mencari dari berbagai sumber, seperti hasil penelitian terdahulu, hasil studi pustaka, dan laporan serta dokumen dari berbagai instansi yang berhubungan dengan bidang penelitian.

Metode pengambilan sampel untuk menentukan jumlah pakar dalam rangka menggali informasi dan pengetahuan pakar (akuisisi pendapat pakar) ditentukan/dipilih secara sengaja (purposive sampling). Dasar pertimbangan dalam penentuan atau pemilihan pakar untuk dijadikan sebagai responden menggunakan kriteria sebagai berikut.

1. Keberadaan responden dan kesediaannya untuk dijadikan responden.

2. Memiliki reputasi, kedudukan/jabatan dan telah menunjukkan kredibilitasnnya sebagai ahli atau pakar pada bidang yang diteliti.

3. Telah memiliki pengalaman dalam bidang yang diteliti.

Pakar yang akan menjadi alternatif pilihan untuk dijadikan responden sebanyak 4 orang dan 8 orang yang mewakili stake holders seperti diperlihatkan pada Tabel 1, sehingga pakar dan stake holders yang terpilih diharapkan dapat mewakili unsur birokrasi, akademisi (perguruan tinggi), pelaku usaha, pemulung, dan lembaga swadaya masyarakat yang peduli dengan pengelolaan sampah di Indonesia.

Responden masyarakat untuk analsisis perilaku ditentukan secara

Proportional Random Sampling. Data tersebut dipergunakan sebagai

masukan/pertimbangan dalam merumuskan model pengelolaan sampah domestik permukiman penduduk di pinggir Sungai Musi Kota Palembang. Jumlah responden (n) ditentukan dengan menggunakan rumus Walpole (1996) :

2

1 Ne

N

n

+

=

Dimana n adalah besarnya sampel, N adalah besarnya populasi (kepala keluarga) di perkampungan pinggiran Sungai Musi Kota Palembang, dan e

16

Dari perhi tungan dengan galat 10% maka berdasarkan rumus tersebut diperlukan sebanyak 100 responden kepala keluarga (KK). Dari 14 kecamatan yang ada di Kota Palembang, diketahui hanya 10 kecamatan yang wilayah administrasinya berada di pinggir Sungai Musi. Pada 10 kecamatan ini selanjutnya dipilih lagi lima kecamatan secara acak (random), yaitu dengan cara menuliskan nama 10 kecamatan pada kertas kecil, digulung dan dimasukkan ke dalam botol, lalu dikeluarkan satu-satu sampai berjumlah lima. Setelah diketahui jumlah kepala keluarga (KK) pada masing-masing kecamatan, responden diambil dari 5 kecamatan, dari perhitungan secara proporsional berdasarkan jumlah penduduk masing-masing kecamatan, maka ditentukan: (1) Kecamatan Gandus 17 KK, (2) Kecamatan Ilir Barat II 16 KK, (3) Kecamatan Seberang ULU I 30 KK, (4) Kecamatan Kertapati 15 KK, dan (5) Kecamatan Ilir Timur II 22 KK. Secara keseluruhan, perincian jumlah responden penelitian disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Perincian Jumlah Responden Penelitian

Responden Teknik Pengambilan Contoh

Jumlah Contoh

Unit Contoh Daerah/Wilayah Kecamatan

Unit Contoh Responden: A. Pakar(expert)

1. Kepala DKK Kota Palembang. 2. Kepala Bapedalda Kota

Palembang.

3. Kepala PPLH UNSRI 4. Kepala Bapedalda Provinsi

Sumatera Selatan.

B. Stake holders 1. Pemulung

2. Pengusaha pengumpul

3. Kepala Bapeda Kota Palembang. 4. Direktur Walhi Sumatera selatan. 5. Kepala DKK Kota Palembang.

C. Masyarakat

Masyarakat (analisis perilaku pengelolaan sampah) Purposive Random sampling Purposive Purposive Purposive Purposive Random Random Purposive Purposive Purposive Proportional Random sampling 5 kecamatan 1 orang 1 orang 1 orang 1 orang 3 orang 3 orang 1 orang 1 orang 1 orang 100 orang Jumlah 113 orang

Jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer dan sekunder, yang bersumber dari responden dan semua stake holders dalam

bidang lingkungan dan pengelolaan sampah. Pada Tabel 2 disajikan secara rinci jenis dan sumber data yang diperlukan dalam penelitian.

Tabel 2. Jenis, sumber data, dan cara mendapatkannya dalam penelitian.

Jenis Data Sumber Data Cara

Mendapatkan I. Data Primer:

1. Sosial ekonomi masyarakat 2. Identifikasi kebutuhan stake

holders.

3. Identifikasi faktor -faktor penting. 4. Tingkat kepentingan faktor-faktor

penting terhadap sistem. 5. Perumusan skenario sistem. 6. Identifikasi pengelolaan sampah

domestik.

7. Identifikasi faktor-faktor yang mencemari lingkungan.

II. Data Sekunder:

1. Volume sampah Kota Palembang.

2. Volume sampah permukiman penduduk di pinggir Sungai Musi Kota Palembang.

3. Jenis sampah.

4. Cara pengangkutan sampah. 5. Jumlah kecamatan di pinggir Sungai Musi Kota Palembang. 6. Jumlah kelurahan di pinggir

Sungai Musi Kota Palembang. 7. Jumlah Kepala Keluarga di

permukiman di pinggir Sungai Musi Kota Palembang. 8. Jumlah penduduk

perkampungan di pinggir Sungai Musi Kota Palembang.

9. Tingkat pendidikan Kepala Keluarga.

10. Pekerjaan Kepala Keluarga. 11. Tingkat pendapatan Keluarga. 12. Besarnya retribusi sampah per

KK.

13. Jumlah KK yang membayar retribusi.

14. Biaya operasional pengelolaan sampah per meter kubik, per tahun.

15. Kualitas air Sungai Musi di Kota Palembang.

Responden (masyarakat) Responden (Stake holders)

Responden (Expert/Pakar) Responden (Expert/Pakar) Responden (Expert/Pakar) Responden (masyarakat) Responden (masyarakat) 1 – 4 [DKK] Kota Palembang. 5 – 8 [BPS] Kota Palembang. 9 – 11 Responden (masyarakat). 12 – 14 [DKK] Kota Palembang. BAPEDALDA Provinsi Sumatera Selatan. 1 – 5 kuisioner dan wawancara 6– 7 kuisioner, wawancara,dan pengamatan langsung. 1 – 4 dokumen, laporan. 5 – 8 dokumen, laporan. 9 – 11 kuisioner, wawancara. 12 – 14 dokumen, laporan. 15 dokumen, laporan.

18

Metode Pengolahan Data.

Analisis existing condition. Analisis existing condition bertujuan untuk mengetahui kondisi pengelolaan sampah yang dilakukan penduduk permukiman di pinggir Sungai Musi saat ini. Dalam analisis ini dilakukan identifikasi pengelolaan sampah domestik permukiman penduduk di pinggir Sungai Musi Kota Palembang, identifikasi faktor-faktor yang mencemari lingkungan, dan analisis perilaku masyarakat yang bertujuan untuk mengetahui hubungan karakteristik personal (umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, tingkat penghasilan, ukuran keluarga, etnis; penduduk lokal dan penduduk pendatang) dengan perilaku pengelolaan sampah. Data yang diperoleh dianalisa secara kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan statistika non parametrik (bebas sebaran) karena tidak ada asumsi pengetahuan apapun mengenai sebaran populasi (Walpole 1996). Uji kuantitatif terhadap perilaku penduduk menggunakan Mann-Whitney dan korelasi Rank Spearmans, sedangkan uji kualitatif melalui penjelasan sosio-kultural yang malatar-belakangi kinerja penduduk dalam pengelolaan sampah.

Statistik korelasi Rank Spearmans dipakai untuk mengukur asosiasi antara dua variabel yang keduanya setidak-tidaknya mempunyai ukuran skala ordinal yang memungkinkan agar individu obyek yang diteliti itu dapat diberi jenjang (ranking) (Slamet 1993). Analisis statistik ini dibutuhkan untuk mengetahui hubungan karakteriktik personal masyarakat dengan perilaku pengolaan sampah. Karakteristik personal masyarakat yang mempengaruhi perilaku pengelolaan sampah dapat menjadi masukan dan pertimbangan dalam penyusunan model pengeloaan sampah domestik permukiman penduduk di pinggir Sungai Musi Kota Palembang yang sesuai dengan karakteristik masyarakat

Analisis Kebutuhan. Analisis kebutuhan merupakan permulaan pengkajian dari suatu sistem. Dalam tahap ini dicari secara selektif apa saja yang dibutuhkan dari masing-masing pelaku yang terlibat dalam sistem. Berdasarkan kajian pustaka dan hasil penelitian di lapangan, stake holders yang terlibat dalam sistem pengelolaan sampah domestik permukiman penduduk di pinggir Sungai Musi Kota Palembang, seperti diperlihatkan pada Tabel 3.

Dokumen terkait