Abstrak
Keefektifan setiap jenis FMA tergantung pada jenis FMA, jenis tanaman, dan jenis tanah serta interaksi ketiganya. Efektif bermakna kemampuan menghasilkan efek atau pengaruh menguntungkan tertentu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyeleksi/memilih FMA yang efektif meningkatkan pertumbuhan cabai di tanah Ultisol. Seleksi dilakukan terhadap isolat-isolat hasil kultur spora tunggal dan FMA Mycofer dari laboratorium Bioteknologi Hutan dan Lingkungan, Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB, Bogor.
Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pertanian (PPPPTK P), Cianjur. Rancangan percobaan yang digunakan adalah percobaan faktorial dengan dua perlakuan dan disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok, dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis FMA yaitu: tanpa FMA, dengan inokulasi FMA indigenous dari rizosfer cabai, Glomus sp 1, Gigaspora sp 1, Acaulospora sp 3, dan FMA Mycofer. Faktor kedua adalah kultivar cabai yaitu Laris dan Tegar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa FMA indigenous tunggal Glomus sp 1, Gigaspora sp 1 dan Acaulospora sp 3 maupun Mycofer berperan positif dalam pertumbuhan bibit cabai. Pada parameter jumlah cabang, panjang akar, bobot kering tajuk dan nisbah tajuk/akar FMA indigenous tunggal dan FMA Mycofer tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, sedangkan pada parameter derajat kolonisasi dan bobot kering akar, FMA Mycofer menunjukkan hasil yang lebih baik. Hal ini diduga disebabkan terjadi kolonisasi akar tanaman yang tinggi oleh inokulum campuran dengan keragaman spesies FMA yang lebih banyak.
Kata kunci: FMA indigenous, keefektifan, kolonisasi, Mycofer
Abtract
The effectiveness of each type of AMF depends on the type of AMF itself, the crop variety and the type of soil, and the interaction among those three things. Effectiveness means the ability to produce a particular benefit effect or influence. The objective of this research was to select effective AMF for increasing the growth of hot pepper on the Ultisol soil. Selection was done on to the isolates resulted from a single spore culture and AMF Mycofer from Laboratory of Biotech Forest and Environment, Research Centre for Biological Resources and Biotechnology IPB, Bogor. The experiment was conducted in green house and
Seed Technology Laboratory, Centre for Development and Empowerment of Teachers and Education Personnel (PPPPTK Pertanian) Cianjur. Experiment was arranged in Randomized Block Design with two factors and three replications. The first factor was the provision of AMF inoculation: without inoculation, AMF inoculation Glomus sp1, Gigaspora sp 1, Acaulospora sp 3, and Mycofer. The second factor was hot peppers cultivars: Laris dan Tegar.
The result showed that indigenous single AMF or Mycofer provided positive impact on seedling growth, and the Mycofer (the combination of Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Glomus etunicatum and Acaulospora tuberculata) provided higher result on colonization level and root dry weight.
Keywords: AMF indigenous, colonization, effectiveness, Mycofer
Pendahuluan
Mikoriza adalah hubungan simbiotik antara akar tanaman dan fungi tanah tertentu. Simbiosis terjadi pada 83% dikotil dan 79% monokotil spesies tanaman (Swift 2004). Kompatibilitas antara jenis FMA dan tanaman inang adalah kemampuan kedua simbion menggunakan fungsi simbiosis secara maksimal. Bagi FMA, fungsi tersebut dapat dilihat dari adanya pembentukan dan perkembangan struktur arbuskula dan vesikel di dalam sel-sel akar. Sementara bagi tanaman inang, fungsi tersebut berupa peningkatan pertumbuhan dan hasil (Smith dan Read 1997). Kehidupan dan asosiasi fungi mikoriza bergantung kepada aliran pasif karbon (C) dari tanaman inang ke fungi. Sebaliknya, melalui hifanya fungi mikoriza aktif mengalirkan unsur hara khususnya P dan atau nitrogen (N) dari dalam tanah untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Selain itu, pada kondisi tertentu mikoriza memberikan perlindungan terhadap cekaman abiotik (lengas, suhu, dan bahan beracun) dan biotik (serangan penyakit) serta pembenahan srtuktur tanah. Hal itu menjadikan tanaman lebih bugar dan sehat sehingga produktivitas meningkat.
Inokulasi FMA pada tanaman dapat menggunakan spora atau propagul campuran. Spora adalah tipe inokulum yang memiliki beberapa kelebihan karena ketahanan yang tinggi terhadap pengaruh fisika dan kimia, dapat disterilisasi untuk keperluan inokulasi aseptik, dan kemudahan standarisasi. Spora mempunyai dinding yang tebal dan resisten serta mengandung ribuan nuklei, lipid
dan karbohidrat sehingga dapat menyesuaikan diri (Smith dan Read 1997). Namun spora juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu diperlukan waktu yang lebih lama untuk menginfeksi karena adanya dorminasi spora. Spora Gigaspora berkecambah dalam 4-6 hari, sedangkan beberapa spesies yang tergolong Acaulospora memerlukan waktu tiga bulan untuk menjadi matang (Smith dan Read, 1997).
Penetrasi FMA dalam akar dan pertumbuhannya di akar melibatkan serangkaian perubahan morfologi dan fisiologi pada tanaman dan fungi. Menurut Marschner (1995), infeksi akar oleh mikoriza dimulai dari propagul atau dari akar yang berdekatan dengan tanaman yang sama atau berbeda species tanaman. Propagul mampu menginfeksi akar tanaman inang karena adanya sinyal berupa eksudat flavanoid dari akar (Smith dan Read 1997). Ada tiga faktor yang mempengaruhi infeksi FMA yaitu kepekaan inang terhadap infeksi, faktor iklim dan faktor tanah (Setiadi 1990). Beberapa species tanaman asosiasi dengan mikoriza sangat dibutuhkan. Tingkat ketergantungan bervariasi dengan species tanaman, morfologi akar, kondisi tanah dan kondisi iklim. Tanaman dengan akar tipis, percabangan yang sedikit, bulu-bulu akar sedikit, biasanya lebih tergantung dengan mikoriza untuk tumbuh dan berkembang dengan normal (Muchovej 2002).
Keefektivan setiap jenis FMA tergantung pada jenis FMA, jenis tanaman, dan jenis tanah serta interaksi ketiganya (Brundrett 1996). Setiap jenis tanaman memberikan tanggap yang berbeda terhadap FMA, demikian juga dengan jenis tanah, berkaitan erat dengan pH dan tingkat kesuburan tanah. Karakteristik fungi yang menentukan keefektivannya adalah kemampuan untuk menginfeksi akar secara cepat agar mikoriza sudah terbentuk ketika umur tanaman masih relatif muda.
Efektif bermakna kemampuan menghasilkan efek atau pengaruh menguntungkan tertentu (Abbot et al. 1992). Efektivitas simbiosis FMA dapat dinilai berdasarkan kemampuan FMA dalam meningkatkan bobot kering tanaman dan serapan hara khususnya P (Cavagnaro et al. 2003), bertahan hidup pada kondisi lengas rendah (Davies et al., 2002), kemampuan tanaman menangkal
patogen (Barea et al. 1998) ataupun mengubah sifat-sifat tanah, khususnya agregat mantap air (Rillig et al. 2002).
Tujuan penelitian ini adalah untuk memilih FMA yang efektif meningkatkan pertumbuhan cabai di tanah Ultisol. Selanjutnya jenis FMA yang memiliki efektivitas yang tinggi akan digunakan untuk percobaan 3.
Bahan dan Metode Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pertanian (PPPPTK P) Cianjur, Waktu penelitian bulan Oktober - Desember 2008.
Rancangan Percobaan
Rancangan yang digunakan adalah percobaan faktorial dengan dua perlakuan dan disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis FMA yaitu: tanpa FMA (M0), dengan inokulasi FMA indigenous dari rizosfer cabai, Glomus sp-1 (M1), Gigaspora sp-1 (M2), Acaulospora sp-3 (M3), dan FMA Mycofer terdiri atas campuran Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Glomus etunicatum dan Acaulospora tuberculata diperoleh dari laboratorium Bioteknologi Hutan dan Lingkungan, Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB, Bogor (M4). Faktor kedua adalah kultivar cabai, yaitu cabai keriting Laris dari Panah Merah (K1) dan cabai keriting Tegar dari Surabumi (K2). Percobaan ini terdiri atas 2 x 5 x 3 = 30 satuan percobaan.
Data yang diperoleh diuji dengan statistik dengan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji BNT. Model rancangan yang digunakan adalah:
Yijk = µ + α1 + β1 + (αβ)ij + ε ijkk
Yijk = nilai pengamatan untuk faktor A level ke-i, factor B level ke-j dan pada ulangan ke-k
µ = nilai tengah umum
α1 = pengaruh factor A pada level ke-i β1 = pengaruh factor B pada level ke-j (α
β)ij = interaksi AB pada level A ke-I, level B ke-j
i = 1,2 j = 0,1,2,3,4 k = 1,2,3 Pelaksanaan
Penyiapan Media Tanam
Tanah dari lapang dibersihkan dari kotoran, dikering-anginkan, digemburkan dan diayak dengan ukuran 2 mm. Tanah tersebut kemudian disterilkan dengan metode basah yang mengacu pada Anas dan Tampubolon (2004). Tanah dimasukkan dalam plastik tahan panas, kemudian dikukus dalam outoklaf pada suhu 120 C selama 2 jam. Strerilisasi dilakukan sebanyak dua kali dengan selang waktu 1 hari. Tanah dimasukkan dalam polybag ± 1 kg.
Pembibitan
Benih cabai disemai pada nampan plastik yang dilapisi dengan kertas merang. Setelah benih berkecambah, ditanam ke pot plastik ukuran tinggi 8 cm, diameter bagian atas 6,5 cm. Media pembibitan adalah campuran tanah dan pupuk kascing organik dengan perbandingan 2:1 dan telah disterilkan dengan metode basah. Inokulum FMA diberikan kedalam media pembibitan disekitar perakaran bibit dengan takaran 100 spora per bibit (10 gram inokulum).
Penanaman dan Pemeliharaan
Bibit yang berumur 4 minggu, dipindahkan dalam polybag ukuran tinggi 20 cm dan lebar 15 cm masing-masing polibag 1 bibit, kemudian dipelihara dalam rumah kaca selama dua bulan. Pemeliharaan meliputi penyiraman, pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit. Pemupukan hanya menggunakan pupuk N dan K tanpa pupuk P. Dosis yang digunakan dosis optimal kebutuhan pupuk pada budidaya cabai (Alviana 2005) dengan sedikit modifikasi untuk budidaya dalam polybag yaitu 250 kg N/ha, dan 200 kg K20/ha atau setara dengan 1.70 g urea/polibag; dan 1.26g Kcl/polibag. Aplikasi pupuk dilakukan sebanyak dua kali, diberikan melingkar tanaman. Pemupukan pertama diaplikasikan sehari sebelum bibit ditanam dengan ratio N (1/2)) K(1/2), sedangkan pemupukan kedua diaplikasikan tiga minggu setelah bibit ditanam dengan ratio N(1/2) K(1/2).
Penyiraman dilakukan setiap pagi sesuai kapasitas lapang. Untuk melindungi tanaman cabai dari serangan hama penyakit dilakukan penyemprotan pestisida setiap satu minggu sekali dengan dosis 2 g/1 air.
Pengamatan
Pengamatan tanaman dilakukan untuk parameter derajat kolonisasi dan pertumbuhan yaitu tinggi tanaman, jumlah cabang, panjang akar, berat kering akar, berat kering tajuk, dan nisbah tajuk/akar. Waktu pengamatan adalah umur enam minggu setelah bibit ditanam yaitu:
1. Derajat kolonisasi (FMA). Pengamatan kolonisasi akar dilakukan di bawah mikroskop stereo terhadap preparat akar yang telah dipersiapkan menggunakan metode pewarnaan dengan Trypan blue (Brundrett et al. 1996). Akar terkolonisasi ditandai dengan adanya minimal salah satu dari struktur internal FMA, yaitu hifa internal, arbuskula atau vesikula. Kuantifikasi derajat kolonisasi FMA menggunakan metode gridline (Kormanik dan McGraw 1982) dan dihitung dengan rumus :
Yn Derajat kolonisasi FMA (%) =
Xn Dimana:
Yn = akar yang terinfeksi pada kisi ke-n Xn = akar yang diamati pada sisi ke-n N = banyaknya kisi-kisi
2. Pengamatan tinggi tanaman dilakukan dari pangkal batang sampai ujung batang. 3. Pengamatan jumlah cabang dilakukan dari cabang primer/utama dan cabang
sekunder.
4. Pengamatan terhadap panjang akar dilakukan dengan cara mencabut tanaman , kemudian akar diukur dari pangkal hingga ujung akar.
5. Pengamatan terhadap bobot kering akar dilakukan dengan cara mencabut tanaman dan akarnya dibersihkan dari tanah, kemudian dipotong pada bagian pangkal akar. Bagian akar dikeringkan anginkan terlebih dahulu, kemudian dimasukan dalam oven pada suhu 700 C selama 2 hari
6. Pengamatan terhadap bobot kering tajuk dilakukan dengan cara memotong bagian pangkal akar tanaman. Bagian atas tanaman dikering - anginkan terlebih dahulu, kemudian dimasukan dalam oven pada suhu 70oC selama 2 hari.
7. Nisbah tajuk/ akar. Dihitung berdasarkan perbandingan bobot kering tajuk dan bobot kering akar.
Hasil
Hasil analisis ragam menunjukkan tidak ada interaksi antara kedua faktor perlakuan terhadap derajat kolonisasi, tinggi tanaman, jumlah cabang, panjang akar dan berat kering tajuk, pengaruh bersifat tunggal. Interaksi kedua faktor perlakuan terjadi hanya pada parameter bobot kering tajuk dan nisbah tajuk/akar (Lampiran 5). Nilai kuadrat tengah derajat kolonisasi, tinggi tanaman, jumlah cabang dan panjang akar ditunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Nilai kuadrat tengah tinggi tanaman, jumlah cabang dan panjang akar Sumber
keragamaan
Nilai kuadrat tengah pada variabel pengamatan Derajat kolonisasi (%) Tinggi tanaman (cm) Jumlah cabang Panjang akar (cm) Kultivar (K) 0.00 tn 86.56 * 0.13 tn 3.14 ** Jenis FMA (M) 7807.39** 36.55 tn 22.78 ** 15.53 ** Interaksi KxM 0.94 tn 18.49 tn 0.22 tn 0.31 tn
Keterangan : * = berpengaruh nyata; ** = berpengaruh sangat nyata; tn = tidak nyata.
Derajat kolonisasi. Kemampuan menginfeksi akar oleh FMA dilihat dari derajat kolonisasi akar tanaman inang, secara umum semua jenis FMA yang diuji berpengaruh sangat nyata yaitu mampu menginfeksi akar tanaman cabai, sedangkan perlakuan kultivar dan interaksi FMA dan kultivar tidak berpengaruh nyata. Fungi mikoriza arbuskula Mycofer menunjukkan kemampuan mengkolonisasi tertinggi yaitu 87.4 (Tabel 4).
Tinggi tanaman. Hasil analisis statistik menunjukkan perlakuan kultivar memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman (Tabel 3). Kedua kultivar cabai Laris dan Tegar responsif terhadap inokulasi FMA, sedangkan interaksi FMA – kultivar dan perlakuan FMA tidak berpengaruh secara nyata.
Namun demikian secara fisik terlihat perbedaan tinggi tanaman yang diberi FMA dan tanpa FMA (kontrol), perlakuan FMA dapat meningkatkan tinggi 29% (Tabel 4).
Jumlah cabang. Perlakuan kultivar dan interaksi antara kultivar dengan FMA tidak berpengaruh secara nyata, sedangkan perlakuan FMA berpengaruh secara nyata (Tabel 3). Pemberian FMA meningkatan jumlah cabang hal ini terlihat tanaman yang tanpa FMA jumlah cabangnya lebih sedikit dibanding tanaman yang diberi perlakuan FMA, peningkatan sebesar 23% sampai 41%. Antara perlakuan FMA Gigaspora (M2), Acaulospora (M3), dan Mycofer (M4) tidak terdapat perbedaan, sedangkan dengan Glomus (M1) ada perbedaan (Tabel 4). Panjang akar. Perlakuan kultivar dan FMA secara tunggal berpengaruh sangat nyata terhadap panjang akar, sedangkan interaksi kedua perlakuan tidak berpengaruh nyata (Tabel 3). Kultivar Tegar (K2) memperlihatkan panjang akar yang lebih baik, sedangkan pada perlakuan FMA menunjukkan Gigaspora sp-1 dan FMA Mycofer menghasilkan panjang akar yang terpanjang yaitu 15.1 cm (Tabel 4).
Bobot kering akar. Perlakuan FMA secara tunggal berpengaruh sangat nyata terhadap berat kering akar, sedang perlakuan kultivar dan interaksi FMA dengan kultivar tidak berpengaruh nyata (Tabel 5). Diantara FMA, Mycofer menunjukkan hasil yang terbaik yaitu dapat meningkatkan bobot kering akar 229% dari tanpa FMA (Tabel 6).
Tabel 4. Pengaruh kultivar dan inokulasi FMA terhadap derajat kolonisasi, tinggi tanaman, jumlah cabang dan panjang akar.
Perlakuan Derajat kolonisasi (%) Tinggi Tanaman (cm) Jumlah cabang Panjang akar (cm) Kultivar Laris 64.0 23.8 a 14 14.0 a Tegar 64.0 29.4 b 14 14.7 b FMA Tanpa FMA 0 22.2 11 a 11.5 a Glomus sp 75.5 b 28.0 14 b 14.5 bc Gigaspora sp 79.9 c 26.7 15 c 15.1 c Acaulospora sp 77.2 bc 26.8 15 c 12.3 b Mycofer 87.4 d 28.8 15 c 15.1 c
Keterangan: angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom dan perlakuan yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata menurut uji BNT pada taraf 5%.
Tabel 5. Nilai kuadrat tengah pengaruh kultivar cabai dan jenis FMA pada bobot kering akar, bobot kering tajuk dan nisbah tajuk akar
Sumber keragaman Nilai kuadrat tengah pada variabel pengamatan Bobot kering akar Bobot kering
tajuk Nisbah tajuk/akar Kultivar cabai (K) 0.09 tn 4.52** 0.82 tn Jenis FMA (M) 0.17** 2.31** 0.80 tn Interaksi KxM 0.02 tn 0.51** 1.20*
Keterangan : * = berpengaruh nyata; ** = berpengaruh sangat nyata; tn = tidak nyata
Perlakuan Bobot kering akar (g) Persentase Peningkatan (%) Tanpa FMA 0.24 a FMA Glomus sp 0.37 b 54 FMA Gigaspora sp 0.75 d 200 FMA Acaulospora sp 0.57 c 137 FMA Mycofer 0.79 e 229
Keterangan: Angka yang diikuti huruf berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata menurut uji BNT pada taraf 5%.
Bobot kering tajuk. Perbedaan kultivare cabai mempengaruhi kemampuan jenis FMA dalam meningkatkan pertumbuhan cabai pada media tanah Ultisol. Hal ini ditunjukkan adanya pengaruh interaksi antara kultivar cabai dan jenis FMA terhadap bobot kering tajuk (Tabel 5).
Inokulasi dengan semua FMA (Glomus sp, Gigaspora sp, Acaulospora sp dan Mycofer) mampu meningkatkan bobot kering tajuk secara sangat nyata dibandingkan tanpa FMA. Pada kultivar Laris, bobot tajuk tertinggi adalah tanaman yang diinokulasi dengan Gigaspora sp yaitu mampu meningkatkan bobot 107.9% walaupun secara statistik tidak berbeda nyata dengan Glomus sp, Acaulospora sp dan Mycofer, sedangkan pada kultivar Tegar (K2), bobot kering tertinggi adalah tanaman yang diinokulasi Mycofer dan Gigaspora sp yaitu mampu meningkatkan bobot 357.4% (Tabel 6).
Nisbah tajuk/akar. Nilai nisbah tajuk-akar ditentukan oleh pertumbuhan akar dan tajuk tanaman, apabila akar tumbuh dengan baik umumnya akan diikuti dengan perubahan tajuk yang baik. Nisbah tajuk/akar menunjukkan keseimbangan pertumbuhan kedua bagian tanaman tersebut. Interaksi perlakuan FMA dengan kultivar memberikan pengaruh nyata terhadap nisbah tajuk/akar. Interaksi kultivar Laris (K1) dan kultivar Tegar (K2) dengan FMA Mycofer menghasilkan nisbah yang terkecil yaitu 2.38 dan 2.89 (Tabel 7).
Tabel 7. Pengaruh interaksi kultivar-FMA terhadap bobot kering akar, bobot kering tajuk dan nisbah tajuk-akar.
Kultivar cabai
Jenis FMA Bobot kering tajuk (g)
Nisbah tajuk/akar
Laris Tanpa FMA 0.76 a 3.59 bc
Glomus sp 1.12 ab 3.04 b
Gigaspora sp 1.58 ab 2.61 ab
Acaulospora sp 1.55 ab 2.91 a Mycofer 1.47 ab 2.38 a Tegar Tanpa FMA 0.61 a 3.81bc
Glomus sp 1.84 ab 4.03 c
Gigaspora sp 2.79 b 3.11 abc
Acaulospora sp 2.33 ab 3.80 bc Mycofer 2.79 b 2.89 ab
Keterangan: angka yang diikuti huruf berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata menurut uji BNT pada taraf 5%
K1M0 K1M1 K1M2
K1M3 K1M4
Gambar 17. Pengaruh inokulasi FMA pada pertumbuhan kultivar Laris Keterangan : K1 : Kultivar Laris
M0 : tanpa FMA M1 : FMA Glomus sp M2 : FMA Gigaspora sp M3 : FMA Acaulosspora sp M4 : FMA Mycofer
K2M0 K2M1 K2M2
K2M3 K2M4
Gambar 18. Pengaruh inokulasi FMA pada pertumbuhan kultivar Tegar
Keterangan: K2 : Kultivar Tegar, M0 : tanpa FMA, M1 : FMA Glomus sp
M2 : FMA Gigaspora sp, M3 : FMA Acaulosspora sp, M4 : FMA Mycofer
Pembahasan
Semua jenis FMA baik FMA indigenous (Glomus sp, Gigaspora sp Acaulospora sp) maupun Mycofer yang diuji dapat menginfeksi perakaran cabai, dan jenis FMA Mycofer menunjukkan kemampuan menginfeksi tertinggi pada kedua kultivar cabai yaitu sebesar 87.4% dan terendah adalah Glomus sp sebesar 75.5%. Hal ini menunjukkan kesesuaian antara kedua simbion tersebut, tetapi berbeda dengan hasil penelitian Purnomo, (2008) bahwa jenis spora yang tertinggi menginfeksi cabai adalah Gigaspora margarita, Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi infeksi FMA antara lain perkecambahan spora, pertumbuhan hifa dan kemampuan infeksi hifa ke dalam akar.
Pada parameter jumlah cabang, panjang akar, berat kering tajuk, dan nisbah tajuk/akar, inokulasi FMA indigenous tunggal dan FMA Mycofer tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Hal ini mmenunjukkan bahwa FMA indigenous tunggal mempunyai potensi yang baik. Agar menjadi inokulum yang potensial, perlu dilakukan sreening pada beberapa tanaman inangdan waktu inokulasi yang berbeda. Pada parameter kering bobot akar dan derajad kolonisasi
inokulasi FMA Mycofer menunjukkan perbedaan yang nyata dengan FMA indigenous tunggal, FMA Mycofer menunjukkan hasil yang lebih baik. Fungi mikoriza Mycofer pada parameter derajad kolonisasi menunjukkan hasil tertinggi hal ini diduga disebabkan terjadi kolonisasi akar tanaman yang tinggi oleh inokulum campuran dengan keragaman spesies FMA yang lebih banyak. Seperti di habitat aslinya di Cianjur bahwa tanah di sekitar rizosfer mengandung tiga jenis mikoriza yaitu Glomus sp, Acaulospora sp dan Gigaspora sp. Disamping itu keefektifan dari tiap spesies FMA dalam inokulum campuran diduga turut menentukan keefektifannya. Smith et al., (2003) mengemukakan bahwa pada interaksi yang optimum, maka simbiosis FMA dapat menyediakan jalur dominan untuk penyediaan P tanaman. Selain itu, kondisi optimum bagi FMA yang diintroduksi dapat meningkatkan keefektifannya termasuk kemampuannya bersaing dengan FMA alami. Hasil penelitian Rainiyati (2007) pada inokulasi gabungan 5 isolat (Glomus sp-1, Glomus sp-2, Glomus sp-4, Glomus sp-7, Glomus sp-9) pada bibit pisang asal kultur jaringan menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan isolat tunggal. Hal ini juga sejalan dengan hasil penelitian Delvian (2003) bahwa inokulum campuran dua isolat (Glomus sp-2 dan Acaulospora sp sp-1; Glomus sp-2 dan Gigaspora sp; Acaulospora sp-2 dan Gigaspora sp) dan inokulum tiga campuran isolat (Glomus sp-2, Acaulospora sp- 1 dan Gigaspora sp) cenderung lebih efektif dibandingkan isolat tunggal dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman lamtorogung (Leucaena leucocephata). Selanjutnya hasil penelitian Kartika (2006) menunjukkan bahwa inokulum campuran tiga isolat (Glomus sp-3a, Acaulospora sp-3a dan Acaulospora sp-5a di media bekas kebun; Glomus sp-1c, Glomus sp-5c, Acaulospora sp-5c di media tanah gambut bekas hutan) lebih efektif dibanding isolat tunggal dalam meningkatkan bibit sawit. Aplikasi inokulum campuran menguntungkan yaitu dapat meningkatkan hasil berbagai tanaman (jagung, kedele, kacang tanah, tomat, padi dan tanaman lainnya) dan ketersediaan hara bagi tanaman antara 20% hingga 100% (Simarmata dan Herdiani 2004) dengan signifikan. Hal ini diduga disebabkan dalam isolat campuran, masing-masing isolat bekerja secara sinergi dalam membantu pertumbuhan tanaman. Inokulasi lebih dari satu jenis mikoriza
(Jonh 2000; Jansa et al. 2004).
Perbedaan keefektifan isolat FMA sangat dipengaruhi oleh oleh umur saat pemberian FMA, semakin cepat inokulasi diberikan maka akan semakin cepat akar tanaman berinteraksi dengan FMA. Keefektifan isolat juga sangat dipengaruhi oleh jenis FMA yang diberikan. Setiadi (2007) menyatakan bahwa tidak semua jenis FMA efektif dalam meningkatan pertumbuhan tanaman. Penggunaan jenis FMA yang belum teruji, seringkali memberikan hasil yang kurang memuaskan. Penggunaan isolat-isolat yang teruji efektif mutlak diperlukan. Untuk memperoleh isolat-isolat unggul, biasanya perlu dilakukan dengan cara screening. Beberapa kriteria yang dipakai dalam pemilihan isolat unggul (Dodd dan Thompson 1994), adalah selain efektif juga isolat dapat beradaptasi dengan lingkungan setempat dimana progam inokulasi akan dilakukan, dapat berkompetisi dengan mikroba tanah, mudah diproduksi secara masal dan dapat tinggal di lingkungan perakaran tanaman inang.
Infektivitas merupakan ukuran seberapa cepat dan seberapa banyak propagul FMA menginfeksi akar tanaman inang tertentu pada kondisi tertentu. Infektivitas merupakan indikator yang paling mudah dinilai dan dapat dilakukan sedini mungkin. Berbagai teknik telah dikembangkan untuk mengevaluasi infektivitas inokulum FMA. Evaluasi infektivitas FMA pada umumnya berdasarkan kepada proses infeksi FMA pada akar tanaman inang. Abbot et al., (1992), menyatakan bahwa efektivitas bermakna kemampuan menghasilkan efek atau pengaruh menguntungkan tertentu. Efektivitas simbiosis FMA dapat dinilai berdasarkan kemampuan FMA dalam meningkatkan bobot kering tanaman dan