• Tidak ada hasil yang ditemukan

SELEKSI IN VITRO UNTUK MENDAPATKAN PLANTLET

PISANG cv. AMPYANG HASIL IRADIASI GAMMA

INSENSITIF FILTRAT KULTUR

F. oxysporum f.sp. cubense

Abstrak

Kultur filtrat cendawan patogen Fusarium oxysporum f.sp. cubense isolat Banyuwangi digunakan sebagai agen penyeleksi pada tunas varian pisang cv. Ampyang hasil iradiasi gamma. Tujuan percobaan untuk mendapatkan (1) konsentrasi filtrat kultur (FK) Foc isolat Banyuwangi yang efektif untuk digunakan sebagai agen penyeleksi pengujian seleksi in vitro pisang cv. Ampyang, (2) mendapatkan varian plantlet pisang insensitif filtrat kultur Foc, (3) klon varian tanaman pisang insensitif FK Foc yang mampu beradaptasi dan bertahan hidup di rumah kaca sebagai kandidat tanaman resisten penyakit layu Fusarium. Pendekatan percobaan dilakukan dengan menyeleksi plantlet varian pisang hasil mutasi induksi yang telah diproliferasi selama 10 bulan dalam media selektif mengandung FK Foc

secara bertingkat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efek penghambatan filtrat kultur Foc pada tunas pisang cv. Ampyang berada pada konsentrasi 40-60% (v/v). Pada konsentrasi tersebut 65.8 - 82.5% tunas mengalami kematian. Seleksi in vitro secara bertingkat plantlet varian pisang menunjukkan bahwa penambahan FK Foc konsentrasi 30% secara nyata belum mampu menghambat pertumbuhan plantlet yang diseleksi. Peningkatan konsentrasi sampai 50% hanya mempu menghambat beberapa plantlet varian. Penghambatan pertumbuhan tunas secara nyata terlihat pada media selektif mengandung filtrat kultur Foc 60% dan hasil regenerasi plantlet dalam media pertunasan diperoleh 1695 plantlet (57.7%) insensitif terhadap FK Foc. Aklimatisasi plantlet di rumah kaca, diperoleh 118 tanaman (23.7%) mampu bertahan hidup dan diidentifikasi sebagai klon tanaman pisang cv. Ampyang insensitif FK Foc.

.

IN VITRO SELECTION FOR IDENTIFYING INSENSITIVE

BANANA cv. AMPYANG PLANTLET AGAINST

CULTURE FILTRATE OF F. oxysporum f.sp. cubense AMONG

GAMMA IRRADIATED SHOOTS VARIANT

Abstract

Culture filtrate of the fungal pathogen Fusarium oxysporum f.sp. cubense (Foc) isolate from Banyuwangi has been used extensively for selection of banana variant derived from gamma irradiated explants. The objective of this study were to obtain (1) the effective concentration of Foc culture filtrate to use as a selective agent to examined in vitro selection of banana cv. Ampyang, (2) shoots variant of banana cv. Ampyang insensitive to culture filtrate of Foc, (3) variant of banana plant insensitive to culture filtrate of Foc as a candidat clones resistant to Fusarium wilt. In this approach, plantlets variant regenerated from induced mutation followed by in vitro proliferation for 10 months were selected in culture filtrate of Foc. This study show that inhibory effect of culture fitrate of Foc isolate from Bonyuwangi on banana shoots were on 40-60% (v/v), which are 65.8-82.5% of banana shoots were lethal. In vitro selection of banana variant indicated that addition 30% Foc culture filtrat (CF) into selective media did not significantly inhibit growth of selected plantlet. Increasing concentration of Foc culture filtrat up to 50% only inhibit some of plantlet variant. However plantlet growth inhibition were observed at addition 60% of Foc CF into selective media and 2 months after shoots were on regeneration media found that 1695 plantlet (57.7%) were insensitif to CF Foc. In vitro regeneration of insensitive shoots variant and aclimatization process of plantlets found that 118 plantlet (23.7%) were survived and identified as banana clones resistance to culture fíltrate of Foc.

Key Word: Foc isolate from Banyuwangi, selective agent, aclimatization.

Pendahuluan

Fusarium oxysporum Schlecht. f.sp. cubense (E. F. Smith) Snyd and Hans (Foc) merupakan cendawan patogen penyebab penyakit layu Fusarium atau

panama disease yang menyerang akar tanaman pisang dan plantain (Musa spp). Di Indonesia penyakit ini berkembang pada tahun 1916 dari perkebunan pisang di pulau Jawa, sangat destruktif dan merupakan penyakit tanaman yang sangat merugikan yang menyerang berbagai perkebunan pisang di Indonesia (Nasir et al.

1999; Moore et al. 2001; Masdek et al. 2003). Pengendalian penyakit secara kimiawi saat ini bukanlah suatu metode pengendalian yang efektif dan ekonomis,

sehingga program-program pemuliaan tanaman pisang sangat diperlukan untuk meningkatkan resistensi tanaman terhadap penyakit layu Fusarium.

Pada saat ini pengembangan tanaman pisang resisten layu Fusarium

melalalui prosedur umum bioteknologi seperti perbanyakan mikro dan seleksi in vitro dapat digunakan dalam peningkatan efisiensi proses pemuliaan untuk perbaikan ketersediaan plasma nutfah, dan pengembangan galur yang resisten terhadap penyakit (Matsumoto et al. 1999; Hwang & Ko 2004; Chandra et al.

2010). Strategi pengembangan tanaman untuk pemuliaan ketahanan terhadap penyakit melalui metode yang sederhana dan mudah dilakukan, adalah berdasarkan teknik in vitro untuk seleksi varian-varian hasil mutasi induksi, yaitu dengan menggunakan spesifik patogen, filtrat kultur patogen atau fitotoksin. Seleksi plantlet varian dan regenerasi secara in vitro dalam media kultur yang ditambahkan berbagai konsentrasi filtrat kultur patogen sebagai agen penyeleksi merupakan teknik yang efisien karena proses skrining yang lebih mudah untuk mendapatkan variabilitas tanaman-tanaman yang resisten atau rentan (Matsumoto et al. 1999; Jayasankar, 2005; Chandra et al. 2010). Sistem seleksi secara in vitro untuk resistensi terhadap F. oxysporum f.sp. cubense (Foc) telah dideskripsikan untuk tanaman pisang dan plantain (Morpugo et al. 1994; Matsumoto et al.1999; Hwang & Ko 2004; Jumjunidang et al. 2005; Smith et al. 2006), dan teknik kultivasi

Fusarium untuk memproduksi filtrat kultur cendawan yang efektif telah dikembangkan untuk seleksi in vitro mutan mutan pisang dan plantain.

Seleksi in vitro untuk mendapatkan tanaman resisten terhadap penyakit dapat dilakukan melalui seleksi langsung atau seleksi secara bertingkat (Collin & Edwards 1999). Seleksi secara bertingkat merupakan suatu seleksi yang dilakukan dengan melakukan subkultur bahan tanaman yang akan diseleksi ke media selektif dengan konsentrasi yang lebih tinggi. Plantlet pisang hasil mutasi induksi yang dapat bertahan hidup pada media selektif mengandung filtrat kultur patogen yang paling tinggi diharapkan memiliki sifat ketahanan terhadap penyakit. Pengujian resistensi varian dengan media selektif mengandung filtrat kultur Foc sebagai komponen seleksi, lebih umum digunakan untuk menghasilkan varian baru yang lebih tahan terhadap penyakit layu Fusarium. Penggunaan filtrat kultur Foc telah digunakan untuk pengujian ketahanan pada jenis pisang meja lainnya antara lain pada pisang Mas (Musa acuminata, AA, subgrup Sucrier) (Morpurgo et al. 1994),

pisang Rastali (Raja Sereh) (Musa x paradisiaca, AAB, subgrup Silk) dan pisang Barangan (M. acumonata, AAA, subgrup Lakatan) (Mak et al. 2004), dan pisang Cavendish (M. acuminata, AAA, subgrup Cavendish) (Hwang & Ko 2004; Jumjunidang et al. 2005).

Tujuan percobaan (1) mendapatkan konsentrasi filtrat kultur (FK) Foc isolat Banyuwangi yang efektif untuk digunakan sebagai agen penyeleksi pengujian seleksi in vitro pisang cv. Ampyang, (2) mendapatkan varian plantlet pisang cv. Ampyang insensitif terhadap filtrat kultur Foc melalui seleksi in vitro secara bertingkat, (3) mendapatkan tanaman pisang cv. Ampyang hasil seleksi in vitro

insensitif FK Foc yang mampu beradaptasi dan bertahan hidup di rumah kaca sebagai kandidat tanaman yang resisten terhadap layu Fusarium.

Bahan dan Metode

Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi Molekuler Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Faperta IPB dan Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, Jurusan Biologi, FMIPA UNJ pada bulan Mei 2009 – Juli 2010. Bahan tanaman berupa plantlet pisang aseptis usia 2 bulan, dan varian plantlet pisang cv. Ampyang (Musa acuminata, AAA) yang berasal dari hasil iradiasi gamma dan regenerasi secara in vitro usia 10 bulan. Penelitian terdiri dari tiga tahapan kegiatan: (1) Efektivitas filtrat kultur (FK) Foc isolat Banyuwangi sebagai agen penyeleksi; (2) Seleksi in vitro secara bertingkat tunas pisang cv. Ampyang dalam media selektif mengandung filtrat kultur Foc (3) Regenerasi dan aklimatisasi plantlet pisang cv. Ampyang hasil seleksi in vitro.

Efektivitas filtrat kultur (FK) Foc isolat Banyuwangi sebagai agen penyeleksi.

Fusarium oxysporum f.sp. cubense (Foc) isolat Banyuwangi (Bw) yang diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (Balittas) - Malang diperbanyak dengan cara mengambil 1 potongan agar berisi mycelia Foc dan dibiakan dalam media potato dextrosa agar (PDA) selama 7-14 hari pada suhu kamar (28-30oC). Ekstrak kasar filtrat kultur (FK) Foc dibuat dengan mengambil tiga potong agar (diameter 0.5 cm) mengandung mycelia Foc, selanjutnya diinokulasi dan ditumbuhkan dalam botol kultur berukuran 250 ml berisi 100 ml

Gambar 21 Fusarium oxysporum f.sp. cubense (Foc) isolat Banyuwangi: (a) Pertumbuhan cendawan dalam media PDA. (b) filtrat kultur (FK)

Foc dalam media PDB dan (c) mikrokonidia Foc secara mikroskopis dengan perbesaran 400x.

Filtrat kultur diinkubasi selama 21-30 hari dalam shaker dengan kecepatan 60 rpm, setelah diinkubasi filtrat kultur disterilisasikan dengan menggunakan otoklaf (suhu 121oC-20´), kemudian disaring untuk memisahkan miselia cendawan

F. oxysporum f.sp. cubense yang tumbuh. Filtrat kultur Foc selanjutnya digunakan sebagai media selektif. Pengujian efektivitas filtrat kultur (FK) Foc isolat Banyuwangi sebagai agen penyeleksi dilakukan dengan menanam plantlet pisang cv. Ampyang aseptis usia 2 bulan. Plantlet di tanam pada media selektif mengandung FK Foc konsentrasi 20, 30, 40, 50 dan 60% (v/v) dalam media dasar (MS) dengan penambahan 6-benzyl amino purine (BAP) 2.25 mg L-1, Indole-3- acetic acid (IAA) 0.175 mg L-1, thidiazuron (TDZ) 0.22 mg L-1, dan asam askorbat 100 mg L-1. Plantlet pisang aseptis yang ditumbuhkan dalam media dasar Murashige dan Skoog tanpa filtrat kultur digunakan sebagai kontrol.

Pengamatan dilakukan terhadap tingkat kerusakan tunas dan persentase kematian. Skoring tingkat kerusakan tunas dilakukan setelah 2 bulan, dan ditentukan berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh Epp (1987), yaitu: skor 0 – tunas sehat dan hijau, serta tidak mengalami gejala penguningan daun; skor 1 – daun bagian bawah menguning tetapi tunas tumbuh normal, atau tunas tetap hijau tetapi pertumbuhannya terhambat; skor 2 – pangkal batang bawah mulai membusuk dan pertumbuhan tunas terhambat, daun yang menguning semakin meluas, dan daun yang baru membuka berwarna kuning pucat; skor 3 – pangkal batang membusuk dan pertumbuhan tunas terhambat, seluruh daun telah menguning; skor 4 – tunas membusuk dan mati.

c

b

Seleksi in vitro secara bertingkat tunas pisang cv. Ampyang dengan filtrat kultur (FK) F. oxysporum f.sp. cubense.

Seleksi in vitro untuk mendapatkan tunas insensitif Foc dilakukan dengan menanam plantlet varian hasil iradiasi gamma pada media selektif mengandung filtrat kultur (FK) Foc melalui seleksi secara bertingkat. Tunas disubkultur setiap 5-6 minggu ke media selektif dengan konsentrasi lebih tinggi (30%  40%  50%  60%) dan ditumbuhkan dalam ruang kultur pada suhu 250C ± 20C. Peubah yang diukur adalah jumlah kematian tunas setiap subkultur dan skoring tingkat kerusakan tunas (Epp 1987).

Regenerasi dan aklimatisasi plantlet pisang cv. Ampyang hasil seleksi in vitro Plantlet-plantlet yang dikategorikan insensitif terhadap FK Foc 60% hasil seleksi in vitro diregenerasikan dalam media dasar Murashige dan Skoog (MS) mengandung BAP 2.25 mg L-1, IAA 1.75 mg L-1 dan TDZ 0.22 mg L-1, serta asam askorbat 100 mg L-1 selama 2 bulan. Tunas yang mampu beregenerasi membentuk akar diaklimatisasi di rumah kaca dan diamati karakter agronomis plantlet (jumlah dan panjang akar, bobot segar plantlet dan rasio panjang : lebar daun). Plantlet yang mampu beradaptasi dan bertahan hidup selama 2 bulan periode aklimatisasi dikategorikan sebagai klon tanaman insensitif filtrat kultur (FK) Foc.

Hasil dan Pembahasan

Efektivitas filtrat kultur (FK) Foc isolat Banyuwangi sebagai agen penyeleksi. Efektivitas filtrat kultur Foc isolat Banyuwangi terhadap gejala kerusakan tunas pisang cv. Ampyang dilihat berdasarkan skoring tingkat kerusakan tunas. Gejala kelayuan dan kerusakan tunas pisang yang ditumbuhkan pada berbagai media selektif umumnya sudah terlihat 1 bulan setelah tanam. Tunas pisang yang ditanam pada media selektif mengandung FK Foc 20% memiliki rataan skoring tingkat kerusakan sebesar 1.02, dengan persentase kematian 25.5% (Tabel 19). Skoring tingkat kerusakan tunas pada media selektif mengandung FK Foc 60% memiliki rataan 3.29, dengan persentase kematian 82.5%, pada kondisi tersebut sebagian besar pangkal batang membusuk dan pertumbuhan tunas terhambat, seluruh daun telah menguning (Epp 1987). Pada Gambar 17 disajikan representatif gambar skoring kerusakan tunas pisang pada media selektif mengandung FK Foc.

Tabel 19 Skoring tingkat kerusakan dan persentase kematian tunas pisang cv. Ampyang pada media selektif mengandung filrat kultur Foc isolat Banyuwangi 2 bulan setelah inokulasi.

Konsentrasi Filtrat

Kultur (FK) Foc N

Rataan skoring tingkat kerusakan tunas Persentasae (%) kematian tunas 20% 27 1.02 c 25.5* 30% 30 2.19 b 54.8 40% 24 2.63 ab 65.8 50% 23 2.88 ab 72.0 60% 24 3.29 a 82.3

Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama, tidak berbeda nyata pada taraf 5% berdasarkan uji DMRT. * Persentase (%) kematian = rataan skor tingkat kerusakan tunas / skor kerusakan tertinggi (4) x 100%. N = Jumlah plantlet yang diamati

Gambar 22 Representasi tingkat kerusakan tunas pisang pada media selektif mengandung berbagai konsentrasi filtrat kultur Foc pada usia 2 bulan setelah tanam.

Pengujian efektivitas filtrat kultur (FK) Foc isolat Banyuwangi sebagai agen penyeleksi, didapatkan bahwa media selektif mengandung filtrat kultur konsentrasi 40-60% (v/v) secara nyata menghasilkan tingkat kerusakan tunas yang lebih besar dari konsentrasi yang lebih rendah. Secara teoritis FK Foc 40% sudah mampu menyeleksi plantlet yang insensitif Foc, namun konsentrasi subletal yang menimbulkan kematian tunas sebesar 82.3% dijumpai pada media selektif mengandung FK Foc 60%. sehingga konsentrasi ini merupakan konsentrasi FK

Skor - 0 Skor - 1 Skor - 2

Foc isolat Banyuwangi yang paling efektif untuk seleksi in vitro untuk mendapatkan tunas-tunas pisang cv. Ampyang yang insensitif FK Foc.

Cendawan F. oxysporum f.sp. cubense isolat Banyuwangi merupakan patogen virulen yang menginfeksi abaka (Musa textilis Nee), dari hasil penelitian Purwati et al. (2007) filtrat kultur Foc konsentrasi 40% mampu menghambat pertumbuhan tunas majemuk abaka (Musa textilis Nee) sebesar 90%. Hasil percobaan ini tidak berbeda jauh dengan penelitian yang dilakukan terhadap pisang cv. Macã (Musa spp, AAB) yang menyatakan bahwa FK Foc 15% menyebabkan kematian tunas majemuk sebesar 25% (Matsumoto et al. 1999), dan pada pisang cv. Cavendish (Musa acuminata, AAA), FK Foc konsentrasi 40 dan 60% menimbulkan gejala kelayuan 97.5 - 100% (Jumjunidang et al. 2005). Pada pisang cv. Gros Michel (Pisang Ambon Kuning) (Musa acuminata, AAA) FK Foc mampu menimbulkan gejala kerusakan daun pisang sebesar 50% (Companioni et al. 2006). Seleksi in vitro secara bertingkat tunas pisang dalam media selektif

Seleksi in vitro tunas pisang dalam media selektif mengandung FK Foc

dilakukan secara bertingkat untuk mendapatkan varian pisang cv. Ampyang yang insensitif terhadap FK Foc. Pada percobaan ini tunas varian hasil iradiasi gamma dan proliferasi selama 10 bulan di subkultur dalam media selektif mengandung FK

Foc 30%, setelah 6 minggu di subkultur kembali dalam media dengan konsentrasi FK Foc yang lebih tinggi 40%, 50%, sampai konsentrasi FK Foc 60% (v/v).

Seleksi in vitro tunas pisang pada media selektif dengan FK Foc 30%

Hasil percobaan ini diperoleh gambaran umum bahwa tunas-tunas varian pisang cv. Ampyang hasil iradiasi gamma yang ditanam pada media selektif mengandung FK Foc 30% (v/v) sebagian besar mampu bertahan hidup, bahkan berproliferasi membentuk nodul dan tunas baru. Perbedaan pertumbuhan rataan jumlah tunas setelah 6 minggu ditumbuhkan pada media selektif FK Foc 30% berkisar 5.00 – 10.13 tunas (Tabel 20). Pada seleksi tahap awal ini belum banyak tunas pisang yang memperlihatkan gejala kerusakan atau kematian tunas, namun diduga tunas sudah mengalami kondisi cekaman yang disebabkan oleh toksin yang terdapat dalam filtrat kultur. Hal ini terlihat dengan banyaknya akar-akar adventif yang tumbuh seperti yang disajikan pada Gambar 23.

Gambar 23 Respon pertumbuhan tunas pisang cv. Ampyang hasil iradiasi gamma dalam media selektif mengandung filtrat kultur (FK) Foc 30% usia 6 minggu setelah subkultur.

Tabel 20 Rataan jumlah tunas pisang cv. Ampyang pada media tanpa FK Foc (0%) dan media selektif dengan FK Foc 30% usia 6 minggu setelah subkultur.

Dosis iradiasi

(Gy) N

Tanpa FK Foc FK Foc 30 % Perbedaan rataan

jumlah tunas 0% → 30% P Koef. Korelasi Rataan Rataan 20 269 11.70 17.87 6.17 * 0.01 0.48 25 256 7.74 12.74 5.00 * 0.01 0.46 30 300 9.10 10.03 0.93 tn 0.32 0.41 35 173 6.65 7.92 1.27 tn 0.33 0.31 40 307 9.30 16.61 7.30 * 0.00 0.56 45 270 11.25 16.96 5.71 * 0.02 0.56 50 304 9.50 19.63 10.13 * 0.00 0.45

Keterangan: N = Ʃ tunas awal tanpa FK Foc yang disubkultur ke media selektif FK Foc 30% . * = pada baris yang sama berbeda nyata pada taraf 5% (p<0.05) melalui uji-t sampel berpasangan.

Hasil analisis melalui uji-t sampel berpasangan terhadap rataan jumlah tunas memperlihatkan bahwa tunas varian yang berasal dari hasil iradiasi 20, 25, 40, 45 dan 50 Gy yang disubkultur ke media selektif mengandung FK Foc 30% secara nyata meningkatkan rataan jumlah tunas. Tunas varian hasil iradiasi 30 dan 35 Gy tidak menunjukkan perbedaaan nyata, tunas varian yang ditumbuhkan dalam media selektif mengandung FK Foc 30% atau tanpa FK Foc secara statistik menghasilkan jumlah tunas yang sama (Tabel 20).

50 Gy 40 Gy 30 Gy 25 Gy 20 Gy 35 Gy 45 Gy a. Akar adventif b. Nodul sensitif FK Foc 30% c. Nodul insensitif FK Foc 30%

Pada seleksi in vitro tahap ini diketahui bahwa FK Foc konsentrasi 30% belum mampu menyeleksi tunas-tunas yang insensitif FK Foc, sehingga subkultur ke media selektif dengan konsentrasi yang lebih tinggi perlu dilakukan, namun sebaliknya dari percobaan tahap awal ini dapat diketahui bahwa FK Foc 30% ternyata mampu menginduksi proliferasi tunas dan nodul baru. Hasil percobaan tahap ini memberi dugaan bahwa agen penyeleksi berupa FK Foc dengan konsentrasi 30% dapat menjadi suatu alternatif untuk meningkatkan proliferasi tunas dan akar tanaman pada plantlet pisang yang secara in vitro sulit tumbuh.

Kemampuan sel-sel untuk berproliferasi membentuk tunas dan nodul ini diduga karena faktor sitokinin yang diberikan dalam media dasar. Rasio sitokinin yang lebih besar dari hormon pertumbuhan (PGRs) IAA (indole-3-acetic acid)

yang diproduksi oleh cendawan Fusarium (Moore et al. 2001; Jayasankar 2005) ini kemungkinan yang menyebabkan pertumbuhan tunas dan nodul yang cukup besar pada tahapan ini. IAA ini berperan dalam peningkatan permiabilitas dinding sel, yang menyebabkan longgarnya ikaran hidrogen dengan mematahkan ikatan rhamnogalakturon yang ada pada dinding sel, sehingga dinding sel yang tersusun atas polisakarida-polisakarida ini menjadi longgar (Moore 1979). Longgarnya dinding sel ini menyebabkan air, garam-garam mineral dan toksin bersama-sama mudah masuk ke dalam sel. Selain berperan dalam meningkatkan permiabilitas sel, IAA juga berperan dalam pembentukan akar lateral (Moore 1979; Aloni 2004). Pertumbuhan akar adventif diduga terjadi karena adanya cekaman pada plantlet karena berada dalam media selektif mengandung toksin asam fusarat yang diproduksi oleh patogen. Menurut Taiz & Zeiger (2002) salah satu mekanisme tanaman untuk menghindari adanya cekaman biotik maupun abiotik adalah terbentuknya akar adventif dan percepatan pembungaan.

Seleksi in vitro tunas pisang dalam media selektif dengan FK Foc 40%

Seleksi pada tahapan ini diperoleh gambaran bahwa subkultur tunas pisang ke media selektif dengan konsentrasi FK Foc 40% (v/v) masih belum mampu menghambat pertumbuhan tunas, walaupun nodul dan tunas mulai mengalami pencoklatan namun sebagian besar plantlet masih membentuk akar adventif (Gambar 24). Pertumbuhan rataan jumlah tunas cukup besar berkisar 3.90 - 8.12 tunas. Jumlah tunas terbesar dihasilkan dari plantlet hasil iradiasi 20 Gy (Tabel 21)

Gambar 24 Respon pertumbuhan tunas pisang cv. Ampyang hasil iradiasi gamma dalam media selektif mengandung filtrat kultur (FK) Foc 40%, usia 6 minggu setelah subkultur.

Tabel 21 Rataan jumlah tunas pisang cv. Ampyang pada media selektif dengan FK Foc 30% dan FK Foc 40% , usia 6 minggu setelah subkultur.

Dosis iradiasi

(Gy) N

FK Foc 30% FK Foc 40% Perbedaan rataan

jumlah tunas 30% → 40% P Korelasi Koef. Rataan Rataan 20 220 13.75 21.87 8.12 * 0.01 0.51 25 306 13.91 17.23 3.32 tn 0.15 0.48 30 193 10.72 15.11 4.39 * 0.02 0.54 35 155 6.20 8.76 2.56 tn 0.07 0.54 40 227 11.95 16.84 4.89 tn 0.09 0.46 45 275 12.50 14.36 1.86 tn 0.23 0.52 50 347 11.19 15.10 3.90 * 0.02 0.56

Keterangan: N = Ʃ tunas awal pada media FK Foc 30% yang disubkulutr pada media FK Foc 40% * = pada baris yang sama berbeda nyata pada taraf 5% ( p<0.05) melalui uji-t sampel berpasangan

Hasil uji-t pada Tabel 21 memperlihatkan bahwa tunas varian hasil iradiasi 20, 30, dan 50 Gy yang disubkultur dari medium selektif mengandung FK Foc 30% ke media selektif dengan FK Foc 40% masih mengalami pertumbuhan tunas masing-masing 8.12, 4.39, 3.90, dan secara statistik menunjukkan perbedaan yang nyata, sehingga diketahui bahwa peningkatan konsentrasi FK Foc 40% masih belum dapat menyeleksi tunas-tunas yang insensitif Foc. Rataan jumlah tunas hasil iradiasi 25, 35, 40 dan 45 Gy yang ditumbuhkan dalam media selektif FK Foc 30% dengan FK Foc 40%, secara statistik menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata.

20 Gy

25 Gy

30 Gy

35 Gy

40 Gy

45 Gy

50 Gy

a. Akar adventif b. Tunas sensitif FK Foc 40% c. Tunas insensitif FK Foc 40%

Seleksi in vitro plantlet varian pisang dalam media selektif mengandung FK

Foc 30% ke media selektif yang lebih tinggi (FK Foc 40%) ternyata belum mampu menyeleksi tunas yang insensitif filtrat kultur (FK) Foc, walaupun terlihat adanya kerusakan tunas, namun plantlet masih mampu berproliferasi membentuk tunas- tunas baru. Kemungkinan disini konsentrasi senyawa toksin asam fusarat yang terdapat dalam media selektif dengan konsentrasi FK Foc 40% masih terlalu rendah, sehingga subkultur ke media selektif dengan konsentrasi lebih tinggi diperlukan agar diperoleh tunas tunas pisang cv. Ampyang yang insensitif FK Foc. Seleksi in vitro tunas pisang dalam media dengan FK Foc 50%

Pada tahapan ini plantlet yang ditumbuhkan pada media selektif dengan konsentrasi FK Foc 50% banyak yang mengalami pencoklatan dan kematian, beberapa plantlet tidak mampu membentuk akar adventif sebagai respon tanaman terhadap cekaman, namun sel-sel yang bertahan hidup masih mampu berproliferasi membentuk nodul dan tunas (Gambar 25). Hal ini memberi dugaan bahwa tunas varian hasil iradiasi yang tumbuh pada media selektif tersebut, diduga mampu mendetoksifikasi asam fusarat yang diproduksikan oleh cendawan Foc.

Gambar 25 Respon pertumbuhan tunas pisang cv. Ampyang hasil iradiasi gamma dalam media selektif mengandung filtrat kultur (FK) Foc 50%, usia 6 minggu setelah subkultur.

35 Gy 30 Gy 25 Gy 20 Gy 40 Gy 45 Gy 50 Gy a. Akar adventif c. Tunas insensitif FK Foc 40% b. Nodul sensitif FK Foc 40%

Tabel 22 Rataan jumlah tunas pisang cv. Ampyang pada media selektif dengan FK

Foc 40% dan FK Foc 50%, usia 6 minggu setelah subkultur.

Dosis iradiasi

(Gy)

Ʃ tunas awal

FK Foc 40% FK Foc 50% Perbedaan rataan

jumlah tunas 40%→50% P Koef. Korelasi Rataan Rataan 20 331 13.79 16.29 2.50 tn 0.14 0.82 25 378 13.03 16.06 3.03 * 0.01 0.90 30 251 10.91 10.78 -0.13 tn 0.09 0.80 35 124 7.29 7.41 0.12 tn 0.46 0.87 40 430 13.87 15.71 1.84 tn 0.22 0.55 45 296 13.45 15.50 2.05 tn 0.07 0.85 50 393 11.91 14.39 2.48 tn 0.05 0.81

Keterangan: N = Ʃ tunas awal pada media FK Foc 40% yang disubkulutr pada media FK Foc 50% * = pada baris yang sama berbeda nyata pada taraf 5% ( p<0.05) melalui uji-t sampel

berpasangan.

Hasil analisis dengan uji-t sampel berpasangan terhadap plantlet varian yang disubkultur dalam media selektif FK Foc 50% (v/v) (Tabel 22) menunjukkan

Dokumen terkait