• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Sistem Rekrutmen

4. Seleksi

Seleksi merupakan sebuah proses yang ditujukan untuk memutuskan

pelamar/calon karyawan mana yang seharus diterima/dipekerjakan. Seleksi

bertujuan untuk memilih orang yang cocok dengan pekerjaan dan perusahaan

(Panggabean, 2004:33).

Seleksi lebih dari sekedar pemilihan orang yang tersedia. Menyeleksi

sekumpulan pengetahuan, keahlian, dan kemampuan yang sesuai merupakan suatu

paket yang terdapat pada manusia untuk memperoleh “kecocokan” antara apa

Prosedur seleksi yang lazim dipergunakan oleh perusahaan meliputi:

a. Wawancara awal

b. Pengisian formulir

c. Pemeriksaan referensi

d. Test psikologi

e. Wawancara atau interview

f. Persetujuan atasan langsung

g. Pemeriksaan kesehatan

h. Indeks atau orientasi

C. Pengembangan Karyawan

Pengembangan karyawan dapat dilakukan melalui orientasi, pelatihan, dan

pendidikan. Pada hakikatnya yang ditujukan untuk menyesuaikan persyaratan

atau kualifikasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaannya (sekarang

atau pada masa mendatang) dengan kualifikasi yang dimiliki karyawan sekarang

(Panggabean, 2004:16).

1. Orientasi

Orientasi dapat diartikan sebagai proses yang ditujukan untuk

memperkenalkan dengan rekan-rekan kerja atau proses pengenalan dengan

karyawan lama, dan dapat didefinisikan sebagai kegiatan untuk memperkenalkan

karyawan baru dengan rekan kerjanya dan dengan organisasi, yaitu informasi

mengenai tujuan, sejarah, philosophy, prosedur, dan aturan-aturan,

prosedur penggajian, persyaratan kerja lembur, fasilitas dan tunjangan perusahaan,

meninjau ulang tugas-tugas dan tanggung jawab karyawan, menyediakan tour

kunjungan fisik di dalam organisasi, dan memperkenalkan karyawan itu kepada

pimpinan dan rekan kerjanya (Panggabean, 2004:39-40).

Seseorang disebut sebagai karyawan baru karena ia baru diterima, ia

dipromosikan atau ia dipindahkan dari unit yang lain. Bagi karyawan baru

orientasi dilakukan untuk :

1. Membantu karyawan dalam memahami lingkungan tempat kerjanya.

2. Mempercepat karyawan untuk dapat diterima dalam kelompok kerjanya.

3. Memahami sikap, standar, nilai, dan pola perilaku yang berlaku dalam

perusahaan bagi karyawan baru.

4. Mengurangi perasaan terasing, cemas dan khawatir para karyawan.

5. Membantu agar mereka merasa sebagai bagian organisasi dan merasa lebih

terjamin atau aman dan merasa lebih diperhatikan.

6. Memperbaiki pengetahuan dan ketrampilan kerja pada semua tingkatan dalam

organisasi.

7. Membantu dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas pekerjaan.

8. Memperbaiki semangat kerja.

9. Membantu karyawan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan.

10.Membantu karyawan dalam membuat keputusan yang lebih baik dan efektif

11.Membantu dalam mengembangkan keterampilan kepemimpinan, kesetiaan

sikap yang lebih baik dan aspek-aspek lain yang biasa ditunjukkan oleh

karyawan dan manajer yang berhasil.

Proses orientasi terdiri atas beberapa tahapan, terdiri atas :

a. Memberi informasi kepada karyawan.

b. Melaksanakan pekerjaan secara memuaskan.

c. Menjelaskan secara pasti dari jabatan.

d. Esistensi tujuan karyawan dan perusahaan.

2. Pelatihan

Pelatihan dapat didefinisikan sebagai suatu cara yang digunakan untuk

memberikan atau meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan untuk

melaksanakan pekerjaannya sekarang. Pelatihan merupakan suatu peningkatan

pengetahuan dan keterampilan seseorang untuk mengerjakan suatu pekerjaan

tertentu. Sebagai contoh, pelatihan dapat digunakan untuk menunjukkan cara

untuk mengoperasikan mesin baru kepada mekanis baru, atau tentang cara

menjual produk kepada tenaga penjual baru dan tentang cara bagaimana

melaksanakan interview dan menilai karyawan kepada penyelia baru

(Panggabean,2004:41).

a. Tujuan Pelatihan 1. Bagi Karyawan

a. Memberikan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan

karyawan.

c. Memperbaiki kinerja.

d. Membantu karyawan dalam menghadapi perubahan-perubahan, baik

perubahan struktur organisasi, teknologi, maupun sumber daya

manusianya.

e. Meningkatkan jumlah balas jasa yang dapat diterima karyawan.

2. Bagi Perusahaan

a. Memenuhi kebutuhan-kebutuhan perencanaan sumber daya manusia.

b. Penghematan.

c. Mengurangi tingkat kerusakan dan kecelakaan.

d. Memperkuat komitmen karyawan.

3. Bagi Konsumen

a. Konsumen akan memperoleh produk yang lebih baik dalam hal

kualitas dan kuantitas.

b. Meningkatkan pelayanan karena pemberian pelayanan yang baik

merupakan daya tarik yang sangat penting bagi rekanan perusahaan

yang bersangkutan. Ini berarti bahwa dengan adanya pelatihan dan

pengembangan akan memberi manfaat yang lebih baik bagi konsumen.

b. Langkah-langkah Pelatihan

Pelatihan perlu dikelola dengan baik agar dapat mencapai tujuan. Pada

dasarnya, pengelolaan pelatihan terdiri atas tiga tahapan kegiatan yaitu

Tahapan kegiatan yang berkaitan dengan pelatihan terdiri atas (Panggabean, 2004:42-43) : a. Analisi kebutuhan b. Rancangan instruksional c. Validasi d. Implementasi e. Evaluasi c. Metode Pelatihan

Metode yang dapat digunakan untuk pelatihan dan pengembangan dan

pada dasarnya dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok yaitu on the job

training dan off the job training.

a. On the job training (latihan sambil kerja)

On the job training meliputi semua upaya melatih karyawan untuk

mempelajari suatu pekerjaan sambil mengerjakannya di tempat kerja yang

sesungguhnya. On the job training meliputi program magang, rotasi

pekerjaan, dan understudy atau coaching (praktek langsung dengan orang

yang sudah berpengalaman atau atasan yang dilatih).

b. Off the job training

Pelatihan dan pengembangan dilaksanakan pada lokasi terpisah dengan tempat

kerja. Program ini memberikan individu dengan keahlian dan pengetahuan

yang mereka butuhkan untuk melaksanakan pekerjaan pada waktu terpisah

dari waktu kerja reguler mereka. Contohnya: training instruksi pekerjaan,

dalam suatu ruangan khusus), studi kasus, management games, seminar,

permainan peran atau role playing, dan pengajaran melalui komputer.

(Panggabean,2004:47-49)

3. Pendidikan

Pendidikan yang dilakukan dalam proses pengembangan karyawan adalah

merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan seseorang untuk

mengintepretasikan pengetahuan bukan kepada keterampilan teknisnya,

melainkan kepribadian karyawannya (Panggabean, 2004:51). Oleh karena itu

setiap karyawan dapat lebih meningkatkan lagi pengetahuan atau pemahaman

mereka terhadap suatu jenis pekerjaan yang akan mereka lakukan sehingga para

karyawan dapat melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya

Metode-metode yang digunakan oleh organisasi untuk menilai kebutuhan

pengembangan meliputi:

1. Pusat-pusat Penilaian (assessment centers)

Pusat-pusat Penilaian (assessment centers) adalah kumpulan instrumen dan

latihan yang dirancang untuk mendiagnosis kebutuhan pengembangan

seseorang. Kepemimpinan organisasional menggunakan pusat-pusat penilaian

untuk mengembangkan dan menyeleksi para manajer.

2. Tes Psikologi

Tes psikologi dengan menggunakan pensil dan kertas telah digunakan selama

beberapa tahun untuk menentukan potensial dan kebutuhan pengembangan

para karyawan. Tes kecerdasan, tes pemikiran matematis dan verbal, serta tes

yang berguna atas individu-individu tersebut tentang faktor-faktor seperti

motivasi, kemampuan berfikir, gaya kepemimpinan, ciri-ciri respons antar

personal, dan pilihan pekerjaan.

3. Penilaian Kinerja

Penilaian kinerja yang dilakukan dengan baik bisa menjadi sumber informasi

pengembangan. Data kinerja tentang produktivitas, hubungan karyawan,

pengetahuan pekerjaan, dan dimensi-dimensi lain yang relevan dapat

dikumpulkan melalui cara ini. Penilaian yang dirancang untuk tujuan-tujuan

pengembangan lebih berguna dalam membantu pengembangan karyawan

individual daripada penilaian yang dirancang dengan seksama untuk tujuan-

tujuan administratif. (Malthis, 2006:35)

Teknik-teknik dalam pelatihan dan pengembangan karyawan ada dua

macam, yaitu:

1. Metode Praktis (on the job training), merupakan metode latihan sambil

bekerja, dalam hal ini calon pegawai diberikan pengetahuan tentang:

a. Bagian-bagian organisasi dan praktik dengan berbagai macam

keterampilan.

b. Melatih karyawan tentang cara pelaksanaan pekerjaan.

c. Magang, yaitu proses belajar dari seseorang atau beberapa orang yang

lebih berpengalaman.

2. Teknik Presentasi dan Metode Simulasi.

Teknik Presentasi dapat dilakukan dengan model:

a. Kuliah

b. Presentasi video

c. Konferensi

Metode Simulasi dapat dilakukan dengan cara:

a. Studi kasus dengan cara mengidentifikasikan masalah-masalah, memilih

alternatif penyelesaian dan pengambilan keputusan.

b. Role playing.

c. Business games.

d. Vestibule training, yaitu latihan yang dilakukan bukan dengan atasan

langsung tetapi dengan pelatih khusus.

e. Latihan di laboratorium untuk pekerjaan tertentu.

(Kasmir, 2002:144)

D. Prestasi Kerja

Menurut Hasibuan (2005):94), prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yang

dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya

yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, kesungguhan serta waktu. Prestasi

kerja merupakan gabungan dari tiga faktor penting, yaitu kemampuan dan minat

seorang pekerja, kemampuan dan penerimaan atas penjelasan delegasi tugas, serta

Penilaian prestasi adalah suatu alat dari fungsi manajemen untuk

mengontrol prestasi kerja pada setiap tenaga kerja, serta sebagai tambahan

informasi dan pertimbangan untuk merumuskan dan memutuskan berbagai

kebijaksanaan personalia. (Simamora:2004)

Menurut Rivai (2004:563), prestasi kerja dapat dinilai berdasarkan tiga (3)

aspek-aspek penting, yaitu:

1. Kemampuan teknis, yaitu kemampuan menggunakan pengetahuan, metode,

teknik, dan peralatan yang dipergunakan untuk melaksanakan tugas serta

pengalaman dan pelatihan yang diperolehnya

2. Kemampuan konseptual, yaitu kemampuan untuk memahami kompleksitas

perusahaan dan penyesuaian bidang gerak dari unit masing-masing ke dalam

bidang operasional perusahaan secara menyeluruh, yang pada intinya

individual tersebut memahami tugas, fungsi serta tanggung jawabnya sebagai

seorang karyawan.

3. Kemampuan hubungan interpersonal, yaitu kemampuan untuk bekerja sama

dengan orang lain, memotivasi karyawan, melakuk an negosiasi, dan lain-lain.

Penilaian prestasi merupakan sebuah proses formal untuk melakukan

peninjauan ulang dan evaluasi prestasi kerja seseorang secara periodik. Proses

penilaian prestasi ditujukan untuk memahami prestasi kerja seseorang. Tujuan ini

memerlukan sebuah proses, yaitu serangkaian kegiatan yang saling berkaitan.

Kegiatan-kegiatan itu terdiri dari identifikasi, observasi, pengukuran, dan

pengembangan hasil kerja karyawan dalam sebuah organisasi. (Panggabean,

1. Tujuan Penilaian Prestasi Kerja

Menurut Panggabean (2004:67), penilaian prestasi dilakukan untuk

memperoleh informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan yang

berkaitan dengan kegiatan manajer sumber daya manusia yang lain, seperti

perencanaan SDM, penarikan dan seleksi, pengembangan SDM, perencanaan dan

pengembangan karir, program-program kompensasi, promosi, demosi, pensiun,

dan pemecatan.

Penilaian prestasi karyawan diakui banyak manfaatnya, namun masih

banyak pimpinan yang tidak bersedia melakukannya. Adapun yang menyebabkan

antara lain:

a. Pihak penilai tidak merasa memiliki. Perasaan ini muncul karena mereka

tidak dilibatkan dalam menetukan sistem penilaian, tidak dilatih untuk dapat

menggunakan sistem yang ada, dan usulan mereka terhadap sistem yang ada

tidak diperhitungkan.

b. Pimpinan enggan untuk memberikan nilai yang buruk kepada karyawan

mereka, khususnya kepada orang yang mereka sukai secara pribadi.

c. Jika hasil penilaiannya buruk, pihak karyawan tidak mau menerimanya.

Penilaian yang buruk cenderung menimbulkan reaksi untuk bertahan atau

bermusuhan daripada untuk mendorong meningkatkan kinerja karyawan.

d. Pimpinan maupun bawahan menyadari bahwa penilaian yang buruk

mempengaruhi karir seseorang.

e. Dalam kenyataannya proses penilaian prestasi tidak dimanfaatkan untuk

f. Pimpinan ragu-ragu untuk memberikan penilaian yang buruk karena takut

dinilai tidak mampu untuk memilih dan mengembangkan karyawan.

2. Tip-tip Dalam Melaksanakan Penilaian Prestasi

Hambatan atau penolakan untuk melaksanakan penilaian prestasi dapat

diatasi jika (Panggabean,2004:68) :

a. Sistem penilaian prestasi sesuai dengan kebutuhan organisasi.

b. Faktor-faktor yang dinilai objektif dan konkrit.

c. Penilaiannya bebas dari bias.

d. Prosedur dan administrasinya seragam.

e. Sistemnya mudah digunakan.

f. Hasil penilaian digunakan dalam mengambil keputusan.

g. Sistemnya memungkinkan dilakukannya proses peninjauan ulang.

h. Yang menggunakan dapat menggunakannya sebagai input.

i. Dapat dilaksanakan dengan ekonomis.

j. Hasil penilaiannya didokumentasikan.

k. Penilai terlatih dan berkualitas.

l. Sistemnya mencakup monitoring dan evaluasi.

m. Manajer puncak dengan jelas memberikan dukungannya terhadapsistem.

3. Metode Penilaian Prestasi Kerja

Penilaian prestasi dapat dilakukan dengan berbagai cara atau metode.

Cara mana yang dipilih tergantung kepada kegunaannya. Jika hasilnya akan

digunakan untuk keperluan seleksi, promosi, pelatihan, dan pengajian berdasarkan

metode rating scale. Sedangkan untuk membantu karyawan berkembang

digunakan metode collaburative, seperti manajemen berdasarkan objektif (MBO).

Metode-metode yang dapat dipilih terdiri atas hal-hal berikut

(Panggabean,2004:68-70):

a. Rating Scale (Skala Rating)

Metode Rating Scale merupakan metode yang mencatat hasil penilaian kerja

karyawan dalam suatu skala. Skala di bagi dalam tujuh atau lima kategori dan

karena konsep yang akan dinilai bersifat kualitatif, maka kategori yang

digunakan bersifat kualitatif, yaitu dari sangat memuaskan sampai dengan

sangat tidak memuaskan. Cara ini banyak digunakan karena sangat sederhana

dan dapat digunakan untuk menilai lebih banyak orang dalam waktu yang

relatif singkat.

b. Critical Incidents (Insiden-insiden Kritis)

Metode Critical Incidents merupakan metode dimana penilai melakukan

penilaian pada saat-saat kritis saja, yaitu waktu dimana perilaku karyawan

dapat membuat bagiannya sangat berhasil atau bahkan sebaliknya. Pada

hakikatnya, metode penilaian ini tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus

digabungkan dengan metode yang lain.

c. Essay

Metode Essay merupakan metode dimana penilai menulis cerita ringkas yang

menggambarkan prestasi kerja karyawan. Metode ini cenderung

menggambarkan prestasi kerja karyawan yang luar biasa ketimbang

menulis penilai. Setelah kinerja ditinjau ulang, evaluasi yang positif bisa

menjadi negatif apabila penilai tidak dapat menuliskannya dengan baik.

d. Work Standards (Standar Kerja)

Metode ini membandingkan kinerja karyawannya dengan standar yang telah

ditetapkan terlebih dahulu. Standar mencerminkan hasil yang normal dari

rata-rata pekerjaan dalam usaha yang normal.

e. Rangking

Metode Rangking merupakan metode dimana penilai menempatkan semua

karyawan yang dinilai kedalam urut-urutan rangking. Penilai membandingkan

karyawan yang satu dengan karyawan yang lainnya untuk menetukan siapa

yang lebih baik daripada siapa kemudian menempatkan karyawan dalam

urutan yang terbaik sampai yang terburuk. Kesulitan dihadapi apabila terdapat

dua orang atau lebih yang memiliki prestasi yang hampir tidak dapat

dibedakan.

f. Forced Distribution (Distribusi yang Dipaksakan)

Metode Forced Distribution merupakan metode dimana karyawan

diasumsikan dapat dikelompokkan kedalam lima kategori, yaitu dari kategori

yang paling baik (10%), kemudian yang baik (20%), yang cukup (40%), yang

buruk (20%) dan sisanya (10%). Kelemahan dari metode ini adalah apabila

hampir semua karyawan dalam bagiannya mempunyai kinerja yang sangat

memuaskan, maka akan sangat sulit untuk membaginya kedalam lima

g. Forced-Choice and Weighted Checklist Performance Report (Pemilihan yang

dipaksakan dan Laporan Pemeriksaan Kinerja Tertimbang)

Laporan ini memerlukan penilai untuk memilih karyawan mana yang dapat

mewakili kelompoknya. Faktor yang dinilai adalah perilaku karyawan dan

penilai memberikan nilai positif atau negatif. Namun, penilai tidak perduli

dengan bobot penilaiannya sebagaimana halnya dengan metode forced

distribution, dalam metode ini sulit untuk mengetahui faktor apa yang

mengakibatkan mereka masuk kedalam kategori sangat tidak berprestasi.

h. Behaviorally Anchored Scales

Metode Behaviorally Anchored Scales merupakan metode dimana penilaian

yang diberikan berdasarkan catatan penilai yang menggambarkan perilaku

karyawan yang sangat baik atau sangat jelek dalam kaitannya dengan

pelaksanaan kerja.

i. Metode Pendekatan Management By Objective (MBO)

Metode Pendekatan Management By Objective merupakan metode dimana

setiap karyawan dan penyelia secara bersama-sama menentukan sasaran

organisasi, tujuan individu dan saran-saran untuk meningkatkan produktivitas

Dokumen terkait