• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DASAR TEORI

A. Self-Esteem

paroki-paroki Kota Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian mengumpulkan data dari dua skala, yaitu Self-Esteem (α=0,913) dan Resiliensi (α=0,947). Uji korelasi dengan regresi linear sederhana menunjukkan bahwa Self-Esteem berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap Resiliensi (p=0,000). Dengan demikian, hipotesis dalam penelitian ini diterima.

viii

THE EFFECT OF SELF-ESTEEM TO RESILIENCE IN ADOLESCENT

Pricillia Risca Pah ABSTRACT

This research aimed to discover the effect of Self - Esteem and Resilience in adolescent. The participants of which are 357 Catholics Youth Organization (OMK) and Adolescent Faith Guidance (PIR) members aged 12-23 years old in several Yogyakarta parishes. This research is a quantitative research. The research collected data from two scales, which are Self - Esteem (α = 0.913) and Resilience (α = 0.947). Correlation with the simple linear regression showed that the Self - Esteem affect positively and significantly to the resilience ( p = 0.000 ) . Thus, the hypothesis in this research is acceptable.

PENGARUH SELF-ESTEEM TERHADAP RESILIENSI PADA REMAJA

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Pricillia Risca Pah 129114071

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

i

PENGARUH SELF-ESTEEM TERHADAP RESILIENSI PADA REMAJA

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Pricillia Risca Pah 129114071

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

ii

iv

HALAMAN MOTTO

Kesuksesan Hanya Dapat Diraih Dengan Segala UPAYA dan USAHA yang Disertai dengan DOA karena nasib seseorang manusia tidak akan berubah dengan

sendirinya tanpa BERUSAHA!

Selalu BERPIKIR BESAR dan BERTINDAK mulai SEKARANG!

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan kepada:

Tuhan Yesus Kristus

yang senantiasa membimbing dan melindungiku Keluargaku tercinta

(Mama Lily, alm. Papa Chris, Ricco, Oma, alm. Opa Surono, Om Reno, dan alm. Om Ery)

yang selalu mendukung dan mendoakanku disetiap waktu Sahabat, teman-teman, dan orang-orang

yang hadir dalam hidupku

Terima kasih atas semua doa, dukungan, bantuan, dan nasihat yang diberikan selama aku mengerjakan skripsi ini

vi

vii

PENGARUH SELF ESTEEM TERHADAP RESILIENSI PADA REMAJA

Pricillia Risca Pah

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Self-Esteem dan Resiliensi pada remaja. Partisipan adalah 357 anggota kelompok OMK dan PIR yang berusia 12-23 tahun di paroki-paroki Kota Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian mengumpulkan data dari dua skala, yaitu Self-Esteem (α=0,913) dan Resiliensi (α=0,947). Uji korelasi dengan regresi linear sederhana menunjukkan bahwa Self-Esteem berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap Resiliensi (p=0,000). Dengan demikian, hipotesis dalam penelitian ini diterima.

viii

THE EFFECT OF SELF-ESTEEM TO RESILIENCE IN ADOLESCENT

Pricillia Risca Pah ABSTRACT

This research aimed to discover the effect of Self - Esteem and Resilience in adolescent. The participants of which are 357 Catholics Youth Organization (OMK) and Adolescent Faith Guidance (PIR) members aged 12-23 years old in several Yogyakarta parishes. This research is a quantitative research. The research collected data from two scales, which are Self - Esteem (α = 0.913) and Resilience (α = 0.947). Correlation with the simple linear regression showed that the Self - Esteem affect positively and significantly to the resilience ( p = 0.000 ) . Thus, the hypothesis in this research is acceptable.

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas bimbingan, kasih setia, dan perlindungan-Mu, sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul Hubungan Self-Esteem dan Resiliensi Pada Remaja dengan baik dan lancar.

Penulis mengucapkan terima kasih pula kepada pihak-pihak yang telah mendoakan, membantu, dan mendukung penulis selama proses pengerjaan skripsi ini sebab penulis menyadari bahwa proses ini tidak akan berhasil tanpa doa, bantuan, dan dukungan dari pihak-pihak di bawah ini:

1. Bapak Dr. Tarsisius Priyo Widiyanto, M.Si, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

2. Bapak Paulus Eddy Suhartanto, M.Si, Kepala Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

3. Romo Dr. A. Priyono Marwan, SJ, Dosen Pembimbing Skripsi. Terima kasih atas bimbingan romo selama proses penulisan skripsi ini.

4. Suster Lidwina TA., FCJ., MA, Dosen Pembimbing Akademik penulis. Terima kasih atas doa dan nasihat suster.

5. Segenap Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Terima kasih atas ilmu, dinamika, dan pengalaman yang diberikan kepada penulis. 6. Seluruh staf Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma (Mas Gandung, Mbak Nanik, Mas Muji, Mas Doni, dan Pak Gi). Terima kasih atas bantuan dan pelayanan yang diberikan kepada penulis.

xi

7. Mama Lidia Lily dan Alm. Papa Christian Pah yang senantiasa mendoakan dan mendukung penulis, baik secara materi maupun moril. 8. Oma Titien, Alm. Opa Surono, Om Reno, Tante Ita, dan Alm. Om Ery

yang senantiasa mendoakan, membantu, dan mendukung penulis, baik secara materi maupun moril.

9. Adekku Ricco yang sudah menjadi adek yang pengertian dan perhatian.

10.Sahabat “Menunggu Besok” : Kak Gue, Karin, Elga, Ajeng, Igan, Novia,

Bli GM, dan Moka. Terima kasih sudah menjadi sahabat yang ada di kala senang maupun susah.

11. Teman-teman PKM-M “Sareng Dakocan”: Berto, Tika, Bertha, dan Valen. Terima kasih buat semangat dan doanya.

12.Teman-teman PSM Cantus Firmus USD angkatan 2012. Terima kasih buat suara dan pengalaman yang sudah dibagi bersama selama ini.

13.Teman-teman Kos Putri Pojok: Ina, Mega, Bella, dan Vira. Terima kasih buat semangat dan bantuannya.

14.Teman-teman OMK dan PIR semua paroki di Kota Yogyakarta. Terima kassih atas kesediaannya membantu penulis memperoleh data penelitian. 15.Kepada semua pihak yang telah membantu penulis selama proses

penyusunan skripsi ini dan tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. God Bless you all!

16. The Last but not least, Ignatius Gun Satya Atmaja. Terima kasih atas cinta, pengorbanan, perhatian, dukungan, kesabaran, kesetiaan, dan kebersamaan yang diberikan.

xiii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……… i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING……….. ii

HALAMAN PENGESAHAN………... iii

HALAMAN MOTTO……… iv

HALAMAN PERSEMBAHAN……….. v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………... vi

ABSTRAK……….... vii

ABSTRACT………,,,……… viii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH……….. ix

KATA PENGANTAR……… x

DAFTAR ISI……… xiii

DAFTAR TABEL………... xvii

DAFTAR GAMBAR ……….. xix

DAFTAR LAMPIRAN………... xx

BAB I PENDAHULUAN………... 1

A. Latar Belakang Masalah………..… 1

xiv

C. Tujuan Penelitian……….. 10

D. Manfaat Penelitian……… 10

1. Manfaat teoritis………. 10

2. Manfaat praktis……….. 11

BAB II DASAR TEORI……… 12

A. Self-Esteem……… 12

1. Pengertian Self-Esteem……….. 12

2. Aspek Self-Esteem………. 13

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Self-Esteem………... 14

4. Tingkatan Self-Esteem………... 15

B. Resiliensi………... 16

1. Pengertian Resiliensi………. 16

2. Fungsi Resiliensi………... 17

3. Aspek-aspek Pembentukan Resiliensi………... 18

4. Faktor-faktor Pendukung Resiliensi……….. 20

5. Karakteristik Individu yang Memiliki Kemampuan Resiliensi… 20 C. Remaja………..……. 22

1. Pengertian Remaja……… 22

2. Periode Masa Remaja……… 22

3. Ciri-ciri Masa Remaja………... 23

4. Tugas-tugas Perkembangan Remaja………... 26

5. Perubahan Pada Masa Remaja……….. 26

xv

E. Hipotesis………... 31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN……….. 32

A. Subjek Penelitian……….. 32

B. Prosedur Pengumpulan Data……… 32

C. Instrumen Penelitian……….……. 33

1. Skala Self-Esteem ……… 36

2. Skala Resiliensi………. 39

D. Metode Analisis Data……….... 43

BAB IV PERSIAPAN DAN HASIL PENELITIAN……….... 44

A. Persiapan Penelitian……….. 44

1. Uji Coba Skala Penelitian……….……… 44

a. Subjek Uji Coba ………... 44

b. Uji Validitas dan Reliabilitas Alat Penelitian ……….… 45

2. Deskripsi Konteks Penelitian……… 53

a. Usia dan Jenis Kelamin Subjek ……….……….. 55

b. Pendidikan dan Asal Institusi Pendidikan Subjek……… 56

B. Hasil Penelitian………. 58

1. Deskripsi Statistik Data Penelitian……… 58

2. Analisis Data Penelitian……… 61

a. Uji Asumsi ……….. 61

b. Uji Hipotesis...……….…. 63

3. Pembahasan…………..………. 65

xvi

A. Kesimpulan………... 72

B. Saran………. 72

DAFTAR PUSTAKA………... 74

xvii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Skor Berdasarkan Sifat Item ……… 36 Tabel 3.2 Blueprint dan Distribusi Item Skala Self-Esteem (Sebelum Uji Coba). 38 Tabel 3.3 Blueprint dan Distribusi Item Skala Resiliensi (Sebelum Uji Coba)… 41

Tabel 4.1 Deskripsi Jumlah dan Asal Institusi Subjek Uji Coba ……….… 44

Tabel 4.2 Blueprint dan Distribusi Item Skala Self-Esteem (Setelah Uji Coba) .. 47

Tabel 4.3 Blueprint dan Distribusi Item Skala Resuliensi (Setelah Uji Coba)…. 49 Tabel 4.4 Hasil Uji Reliabilitas Alpha Cronbach Skala Self-Esteem …………... 52

Tabel 4.5 Hasil Uji Reliabilitas Alpha Cronbach Skala Resiliensi ……….. 53

Tabel 4.6 Waktu dan Tempat Pengambilan Data Subjek... 54

Tabel 4.7 Deskripsi Jumlah Anggota OMK dan PIR ………... 55

Tabel 4.8 Deskripsi Usia dan Jenis Kelamin Subjek Penelitian ………..… 56

Tabel 4.9 Deskripsi Pendidikan Subjek Penelitian ……….. 57 Tabel 4.10 Hasil Pengukuran Deskriptif Variabel ………..…………. 58 Tabel 4.11 Norma Kategorisasi ……… 59 Tabel 4.12 Kategorisasi Data Skor Self-Esteem ……….……….. 60

xviii

Tabel 4.13 Kategorisasi Data Skor Resiliensi ……….. 60

Tabel 4.14 Hasil Uji Normalitas ……….. 61

Tabel 4.15 Hasil Uji Linearitas ……….... 62

xix

DAFTAR GAMBAR

xx

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Reliabilitas Self-Esteem ………80 Lampiran 2. Reliabilitas Resiliensi………...….82 Lampiran 3. Pengukuran Deskriptif Variabel………....84 Lampiran 4. Uji Normalitas………. 85 Lampiran 5. Uji Linearitas………...…. 86 Lampiran 7. Skala Penelitian……….... 87

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Populasi remaja di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Jumlah penduduk Indonesia tahun 2015 sebanyak 255 juta jiwa dan 27% di antaranya adalah remaja usia 10-24 tahun (Badan Pusat Statistik Nasional, 2015). Remaja di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sebagai fokus subjek peneliti, pada tahun 2016 pula telah mencapai lebih dari 650 ribu jiwa. Jumlah ini terus meningkat sebanyak 1-5% setiap tahunnya atau sekitar 1000-3000 jiwa (Badan Pusat Statistik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016).

Peningkatan populasi ini disertai peningkatan kasus permasalahan remaja, terutama di Kota Yogyakarta. Pihak Panti Sosial Bina Remaja (PSBR) Kota Yogyakarta menerangkan bahwa jumlah anak berhadapan dengan hukum (ABH) terus meningkat. Salah satunya adalah kasus pencurian yang dilakukan oleh 20 anak di tahun 2011. Jumlah ini meningkat pada tahun berikutnya menjadi 105 anak dan bertambah menjadi 174 anak di tahun 2013. Kasus pencurian ini menjadi sebanyak 216 kasus di tahun 2014 (KRjogja.com, 2015). Hurlock (2006) mengatakan bahwa masa remaja merupakan masa yang menimbulkan ketakutan karena remaja menjadi sulit untuk diatur dan cenderung berperilaku yang tidak baik.

Masa remaja adalah periode transisi perkembangan masa kanak-kanak menuju masa dewasa, yang melibatkan perubahan-perubahan dalam aspek biologis, kognitif, dan sosio-emosional (Larson dkk, dalam Santrock, 2007). Masa remaja disebut pula masa peralihan karena individu meninggalkan tingkah laku kanak-kanak dan belajar menyesuaikan diri pada tata cara hidup orang dewasa (Ali & Ansori, 2009).

Santrock (2011) menyatakan bahwa perubahan biologis yang terjadi pada masa remaja adalah percepatan pertumbuhan, perubahan hormonal, dan kematangan seksual yang ditandai dengan pubertas. Dari segi kognitif, remaja mengalami peningkatan dalam berpikir abstrak dan logis. Pada segi sosio-emosional, seorang remaja mencari kebebasan, mengalami konflik dengan orang tua, dan keinginan untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman sebaya.

Cole (dalam Khan, 2012) menjelaskan bahwa perubahan dari anak-anak yang tergantung menjadi individu bebas dan mandiri menyebabkan remaja harus menyesuaikan diri dengan banyak hal demi menuju kedewasaan. Remaja harus lebih mampu mengendalikan emosi, mengembangkan ketertarikan terhadap lawan jenis, membangun hubungan sosial dengan orang lain, mampu mandiri secara finansial, dan memandang kehidupan secara lebih luas.

Penyesuaian diri ini diperoleh melalui proses belajar memahami, mengerti, dan berusaha melakukan apa yang diinginkan individu maupun lingkungannya. Individu yang mampu menyesuaikan diri dengan baik

menjadi lebih matang dalam berpikir dan bertindak. Individu mampu mencari sisi positif dan kreatif dalam mengelola kondisi serta mampu mengendalikan diri, sikap, dan perilakunya. Kemampuan tersebut membuat individu lebih mudah diterima dalam lingkungannya (Sandha, Hartati, & Fauziah, 2012).

Namun, Wong et al. (2008, dalam Asnita, Arneliwati, & Jumaini, 2015) mengatakan bahwa status kematangan emosional remaja masih belum terlihat jelas atau remaja masih belum mampu mengendalikan emosinya sendiri. Akibatnya emosi remaja masih mudah dan sering berubah- ubah. Hal ini menyebabkan remaja dijuluki sebagai orang yang tidak stabil, tidak konsisten, dan tidak mampu diprediksi. Masalah yang kecil dapat diinterpretasikan remaja menjadi sesuatu yang besar.

Hall (dalam Santrock, 2003) menambahkan bahwa emosi remaja usia 12-23 tahun mengalami badai dan stres (storm and stress). Remaja sesekali sangat bergairah dalam bekerja dan tiba-tiba berganti lesu, kegembiraan yang meledak bertukar rasa sedih yang sangat, rasa percaya diri berganti rasa ragu-ragu yang berlebihan, serta kebimbangan dalam menentukan cita-cita dan menentukan hal-hal yang lain.

Perubahan emosi yang cepat pada remaja membuat remaja rentan terhadap stress, depresi, kemarahan, kesulitan akademis, penyalahgunaan obat, kenakalan remaja, dan gangguan makan (Widuri, 2012). Stress timbul karena transisi berlangsung pada suatu masa ketika banyak perubahan yang terjadi pada individu, salah satunya adalah masa remaja

(Sandha, Hartanti, & Fauziah, 2012). Berbagai perubahan dan tuntutan sosial pada masa remaja menimbulkan tekanan-tekanan bagi remaja. Hal-hal tersebut menambah beban psikologis pada diri remaja sehingga remaja menjadi sangat sering merasa kecewa, tidak menghargai diri sendiri, dan menganggap dirinya sebagai orang yang gagal (Khan, 2012). Tidak mudah bagi remaja untuk beradaptasi sehingga mendorong terjadinya kenakalan remaja.

Mengenai kenakalan remaja, Tribun Jogja 16 Juli 2015 memberitakan peristiwa terjadinya tawuran pelajar antar dua Sekolah Menengah Pertama (SMP) swasta di Yogyakarta setelah memperoleh berita kelulusan. Kejadian ini dipicu oleh salah satu kelompok pelajar SMP swasta yang terlebih dahulu menyerang para pelajar SMP swasta lain.

Lonjakan emosi remaja juga memicu tindakan berlebihan dan membahayakan bagi diri remaja sendiri dan orang lain. Miler (dalam Pradhana, 2015) mengatakan bahwa para remaja kurang memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah. Remaja yang mengalami tekanan cenderung kesulitan dalam menyelesaikan masalah, mudah memiliki emosi negatif, tidak mampu berpikir dengan jernih, dan cenderung berpikir pendek dalam bertindak (Widuri, 2012). Sehingga, remaja sering memilih untuk menghindari masalah, salah satunya adalah dengan mengonsumsi obat-obatan terlarang atau narkotika.

Mengenai penggunaan narkoba di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Tribun Jogja 25 Januari 2013 mengutip pernyataan Badan Narkotika Nasional (BNN) bahwa jumlah pengguna narkoba di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2012, jumlah pengguna narkoba usia remaja berjumlah 69.700 orang. Jumlah ini meningkat pada tahun 2013 menjadi sebanyak 87.432 orang. Badan Narkotika Nasional (BNN) memperkirakan jumlah ini terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya.

Dari peristiwa kenakalan remaja di atas diketahui bahwa proses perkembangan remaja sangat sulit untuk dilewati dan membuat remaja merasa tertekan. Remaja menjadi sulit untuk diatur dan cenderung berperilaku yang tidak baik bahkan berani melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri, seperti mengonsumsi narkoba. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan remaja untuk mampu menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan dan tuntutan sosial sepanjang masa perkembangannya. Tidak sedikit yang mampu menjalani hidup dengan baik dan memaknai masa remaja secara sungguh-sungguh.

Dalam upaya untuk melewati proses perkembangan remaja dengan baik dibutuhkanlah suatu kemampuan penyesuaian diri terhadap berbagai perubahan dalam diri, baik fisik maupun psikis (emosi) dan tuntutan lingkungan, yang berupa harapan-harapan sosial terhadap diri remaja, disebut resiliensi. Boyce Rodgers dan Rose serta Kumpfer (dalam Veselska, Geckova, Orosova, Gajdosova, van Dijk & Reijneveld, 2012)

merumuskan resiliensi sebagai sebuah proses dari kapasitas atau hasil kesuksesan dalam beradaptasi dengan membangun kekuatan emosional atau psikologis yang positif. Desmita (2012) mengatakan bahwa individu yang memiliki kemampuan resiliensi, memiliki kehidupan yang lebih kuat dengan mampu menyesuaikan diri pada perubahan diri dan sosial serta tekanan lain dalam kehidupan.

Oleh karena itu, resiliensi menjadi faktor penting bagi remaja karena pada masa remaja tidak hanya terjadi perubahan fisik, psikis, dan sosial, namun perubahan-perubahan tersebut menuntut atau menekan remaja untuk menjadi dewasa seperti yang diharapkan lingkungan (Santrock, 2007). Remaja yang mampu bertahan dan beradaptasi pada situasi tersebut adalah remaja yang resilien. Remaja resilien memiliki tujuan, harapan, dan perencanaan terhadap masa depan, yang didukung oleh ketekunan dan ambisi dalam mencapai hasil yang diperoleh (Evarall, Altrows, & Paulson, dalam Hidayati, 2014). Kemampuan resiliensi yang optimal juga membantu remaja terhindar dari berbagai perilaku meladaptif, seperti perilaku bunuh diri, depresi, menyerang orang lain, dan mengalami ketergantungan obat-obatan terlarang (Santrock, 2007).

Proses menuju kemampuan resiliensi yang optimal dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu diantaranya adalah faktor individu yang berupa harga diri (self-esteem). Self-esteem dipilih sebagai faktor yang mempengaruhi resiliensi remaja dalam penelitian ini karena remaja yang menerima dirinya sendiri dan menilai diri serta kehidupannya secara

positif, mampu beradaptasi secara positif dan mampu melewati proses perkembangan remaja dengan baik. Schwarz (2010) mendefinisikan

self-esteem sebagai suatu penilaian pribadi atas keberhargaan (worthiness)

yang diekspresikan melalui sikap implisit maupun eksplisit seseorang terhadap dirinya sendiri. Sorensen (dalam Aunillah & Adiyanti, 2015) merumuskan self-esteem sebagai pandangan yang mendasar atas diri atau bersifat personal tentang bagaimana merasa, menilai, dan menghargai diri sendiri.

Santrock (2007) mengatakan bahwa harga diri yang rendah disebabkan oleh penilaian negatif remaja terhadap diri maupun hidupnya. Hal ini menyebabkan remaja merasa tidak nyaman secara emosional dan menunnjukkan berbagai perilaku yang negatif serta menghindari resiko. Remaja dengan harga diri rendah cenderung merasa tidak berdaya, tidak bersemangat, dan kurang percaya diri terhadap kemampuannya dalam mengatasi masalah. Namun, remaja dengan harga diri tinggi, cenderung merasa bahagia, aman, mampu menahan diri, tenang, dan memiliki pikiran yang jernih dalam mengatasi masalah yang terjadi (Yusuf, 2008 dalam Fadillah, 2014). Hal-hal tersebut dikarenakan remaja memandang diri dan hidupnya secara lebih positif sehingga mendukung remaja untuk mencapai resiliensi.

Kemampuan penilaian atas diri individu ini berdampak pada tingkat motivasi, usaha dan ketekunan, kemampuan untuk bangkit dari kegagalan, dan mendapatkan kesuksesan dalam hidup (Lupo, dalam

Aunillah & Adiyanti, 2015). Dengan kata lain, self-esteem membantu remaja untuk beradaptasi terhadap berbagai perubahan dan tekanan yang terjadi dalam hidup (Branden, 1992, dalam Aunillah & Adiyanti, 2015). Individu dengan self-esteem yang tinggi lebih mampu mengenali diri sekaligus menerima setiap perubahan dalam dirinya, dan memiliki motivasi untuk mengembangkan perubahan ke arah positif. Remaja yang menilai dirinya secara positif cenderung memandang perubahan dan harapan masyarakat terhadap dirinya sebagai suatu tantangan. Remaja pun menjadi merasa lebih bahagia dan lebih efektif dalam mengatasi perubahan dan memenuhi tuntutan lingkungan (Coopersmith, 1967).

Sebaliknya, individu yang memiliki self-esteem rendah cenderung memandang perubahan dan harapan lingkungan sebagai suatu tuntutan yang menyebabkan remaja kesulitan dalam menampilkan perilaku sosialnya. Individu juga memberi pandangan negatif terhadap diri sendiri dan membiarkan pikiran tentang kelemahan-kelemahan diri mendominasi perasaannya (Sorensen, 2006, dalam Aunillah & Adiyanti, 2015). Hal ini menghambat individu untuk berkembang ke arah yang lebih positif. Individu menjadi cenderung memilih untuk melakukan sesuatu yang berbahaya dan merugikan karena merasa terasing, tidak dicintai, dan kurangnya pemahaman individu tersebut terhadap dirinya (Sandha, Hartanti, & Fauziah, 2012). Individu pula menjadi mudah stres ketika tidak mampu mencapai sesuatu yang diinginkan dan sulit mengembangkan potensi diri bahkan mencapai resiliensi.

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa self-esteem memiliki pengaruh pada resiliensi. Di antaranya penelitian Smestha (2015) mengenai pengaruh self esteem dan dukungan sosial terhadap resiliensi pada mantan pecandu narkoba menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari self esteem dan dukungan sosial terhadap resiliensi. Penelitian yang dilakukan oleh Ekasari dan Andriyani (2013) juga menunjukkan pengaruh yang signifikan pula dari self-esteem dan peer

group support terhadap resiliensi.

Kedua penelitian di atas (Smestha, 2015 & Ekasari dan Andriyani, 2013) memiliki kesamaan, yakni dari segi variabel yang diteliti, penelitian mengaitkan pengaruh variabel self-esteem dan resiliensi dengan variabel atau aspek lain. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini secara khusus mengeksplorasi bagaimana pengaruh self-esteem terhadap resiliensi karena peneliti menilai self-esteem memiliki pengaruh yang penting terhadap pembentukan resiliensi remaja.

Hal di atas didukung oleh Amalia (2014) yang mengatakan bahwa dalam proses membangun identitas diri, remaja membutuhkan penghargaan, baik yang datang dari dirinya sendiri maupun penghargaan yang didapatkan dari orang lain atau self-esteem need, istilah menurut Harold Maslow. Maslow menegaskan bahwa kebutuhan terhadap

Berdasarkan fenomena dan alasan penelitian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Pengaruh Harga Diri

(Self-Esteem) terhadap Resiliensi pada Remaja.

B. Rumusan Masalah

Peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: “Apakah terdapat Pengaruh Self-Esteem terhadap Resiliensi pada Remaja?”

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Penelitian bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Self-Esteem terhadap Resiliensi pada Remaja.

2. Tujuan Khusus

Penelitian bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Self-Esteem terhadap Resiliensi pada Remaja di Kota Yogyakarta.

D. Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis

Hasil penelitian ini untuk pengembangan keilmuan dalam bidang Psikologi Perkembangan serta menambah khasanah kajian ilmiah tentang pengaruh antar aspek psikologis.

2. Secara Praktis

a. Bagi Subjek Penelitan

Penelitian ini memberikan informasi mengenai Pengaruh

Self-Esteem terhadap Resiliensi dalam diri subjek.

b. Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini memberikan informasi terhadap penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan Self-Esteem dan Resiliensi pada remaja.

12 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Self-Esteem

1. Pengertian Self-Esteem

Self-esteem adalah penilaian pribadi atas keberhargaan (worthiness)

yang diekspresikan melalui sikap implisit maupun eksplisit seseorang

Dokumen terkait