• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI. PENUTUP

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas maka dapat diusulkan beberapa saran sebagai

1. Sehubungan dengan semangat pelayanan Sr. M. Mathilda Leenders sebagai

dasar pelayanan para suster FSE bagi orang sakit, maka sebaiknya para suster

FSE perlu mengadakan pendalaman tentang semangat pelayanan Sr. M.

Mathilda Leenders dalam iman, kesetiaan, pengorbanan, dan semangat lepas

bebasnya untuk diterapkan dalam hidup sehari-hari.

2. Kemampuan untuk mendengarkan bisikan Tuhan akan semakin memampukan

para suster untuk merasakan kehadirannya dalam setiap pelayanan bagi orang

sakit, sebagaimana yang telah diteladankan Sr. M. Mathilda Leenders. Maka

bertekun dalam doa akan membuat kita semakin peka akan bisikan Tuhan

melalui sesame yang dilayani.

3. Agar para suster FSE menggali semangat para pendahulu sehingga dapat

memberikan semangat baru bagi pelayanan para suster FSE bagi orang sakit

zaman sekarang.

4. Agar karya perutusan dan pelayanan Kongregasi FSE berkembang dengan baik

maka dari pihak kongregasi perlu mengevaluasi karya-karya yang sudah ada,

dan seorang suster FSE diharapkan mampu memancarkan kasih persaudaraan

dalam pelayanan tanpa memandang orang dari latar belakang, menerima orang

yang dilayani dengan segala kondisi dan situasi, dan melihat mereka sebagai

saudara dan saudari.

5. Program katekese yang sudah dijabarkan, hendaknya dapat dilaksanakan sesuai

dengan waktu yang sudah direncanakan, agar para susuter FSE secara khusus

semangat pelayanan Sr. M. Mathilda Leenders dalam penyerahan diri serta

DAFTAR PUSTAKA

Adelberta, Sr. KSFL. (2009). Masa Depan Biara Breda. Dalam Antonius Eddy K. (Ed.). Gerakan Awal Kongregasi Peniten Rekolek. Yogyakarta: Kanisius.

Agus Hardjana, M. (2005). Religiositas, Agama dan Spiritualitas. Yogyakarta: Kanisius.

Ahira, Anne. http://www.aneahira.com/sejarah-revolusi-industri.htm. accessed on March 20, 2014.

Andry Hartono, SpGK. (2006). Sembuh karena Iman, Harapan dan Kasih. Yogyakarta: Kanisius.

Anggaran Dasar dan Cara Hidup Saudara-saudari Ordo III Regular Santo Fransiskus. (1984). (Augustinus Card, Casaroli, Prefek urusan umum Gereja, diberikan di Roma, pada takhta Santo Petrus, dengan meterai Cincin Nelayan, pada tanggal 8 Desember 1982). Jakarta: SEKAFI Banawiratma, SJ. (1986). Wahyu, Iman, dan Kebatinan. Yogyakarta: Kanisius. ___________. (1990). Spiritualitas Transformatif. Yogyakarta: Kanisius.

Coppens, Hay. (2009). Mengikuti Jejak Kristus Bersama para Leluhur. (Nico Syukur Dister, Penterjemah dan Pembimbing Retret). Manuskrip yang merupakan bahan retret para Suster Fransiskanes Santa Elisabeth Medan pada 12 Juni - 4 Juli 2009.

Darmaputera. (2005). Sepuluh Perintah Allah: Museumkan Saja? Yogyakarta: Gloria Graffa.

Darminta, J. (1983a). Hidup Bersama Allah. Yogyakarta : Kanisius. _________. (1983b). Teologi Hidup Religius. Yogyakarta: Kanisius. _________. (1997). Religius dan Evangelisasi. Yogyakarta: Kanisius.

Eddy Kristianto. (2005). Sinar Sabda dalam Prisma: Hermeneutika Kontekstual. Yogyakarta: Kanisius.

_________. (2009). Pengantar Gerakan Awal Peniten Rekolek. Yogyakarta: Kanisius.

Esser, K. (2001). Karya-Karya Fransiskus dari Assisi. (Leo Laba Lajar, Penerjemah). Jakarta: SEKAFI. (Buku asli diterbitkan tahun 1976, pada peringatan 750 tahun wafatnya Fransiskus Asisi).

Fadly Kurniawan. (1996). PeningkatanMutuPelayanan Petugas Pastoral Khusus

Pendampingan Iman Orang Sakit melalui Katekese. Skripsi Mahasiswa

Fakultas Ilmu Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Fioretti. (1997). Fioretti dan Lima Renungan tentang Stigmata Suci. Jakarta: SEKAFI.

FSE. (2000). Mengayun Langkah 75 Thn FSE & 70 RSE. Manuskrip yang berisi perjalanan kongregasi FSE dan karya-karya kongregasi FSE di Medan. Diterbitkan dalam rangka pesta 75 tahun kongregasi FSE berkarya di Medan dan 70 tahun berdirinya Rumah Sakit Santa Elisabeth di Medan. _________. (2005). Mengenang 75 Tahun RSE Medan 80 Tahun Kongregasi FSE

Menabur Kasih. Manuskrip yang berisi perjalanan kongregasi FSE dan rumah sakit Santa Elisabeth di Medan. Diterbitkan dalam rangka mengenang 75 tahun berdirinya Rumah Sakit Santa Elisabeth di Medan dan 80 tahun berdirinya kongregasi FSE di Medan.

_________. (2010). Konstitusi Suster Fransiskanes Santa Elisabeth. Manuskrip yang berisi konstitusi dan statuta yang disahkan oleh Uskup Keuskupan Agung Medan pada 20 November 2010.

Groome, Thomas H. (1997). Shared Christian Praxis: Suatu Model Berkatekese. (F.X. Heryatno Wono Wulung, Penyadur). Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat. (Buku asli diterbitkan 1991).

Hartono Budi (2004). Salib Kristus: Tambatan Kerahiman Allah. Dalam Hartono Budi & Purwatma. (Ed.). Di Jalan Terjal: Mewartakan Kristus yang Tersalib di Tengah Masyarakat Resiko. Yogyakarta: Kanisius.

Jacobs, T. (1979a). Dinamika Gereja. Yogyakarta: Kanisius.

________. (1979b). Teologi dan Spiritualitas. Yogyakarta: Kanisius.

________. (1997). Berbagai Macam Kharisma dalam Satu Roh. Yogyakarta: Kanisius.

Kieser, B. (1984). Ikut Menderita Ikut Percaya: Pastoral Orang Sakit. Yogyakarta: Kanisius.

Kitab Hukum Kanonik. (2006).(V. Kartosiswono. Pr. dkk, Penerjemah). Jakarta: Penerbit Obor & Sekretariat KWI. (Buku asli diterjemahkan tahun 1983).

Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II. (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1965). Kusmaryanto, CB. (2005). Tolak Aborsi. Yogyakarta: Kanisius.

Laksmiasanti, L. Dr. (1984). Sakit Kita Maksudkan….. Pandangan Seorang

Dokter. Dalam B. Kiesser, S.J. (Ed.). Ikut Menderita Ikut Percaya. Yogyakarta: Kanisius.

Leks, Stefan. (2003). Tafsir Injil Markus. Yogyakarta: Kanisius.

Mangunhardjana, A. (1986). Pembinaan: Arti dan Metodenya. Yogyakarta: Kanisius.

O‟Collins, Gerald & Faruggia, Edward G. (1996). Kamus Teologi. Yogyakarta: Kanisius.

Oudejans, F.-F. van der Plas. (2007a). Diutus kepada Orang Sakit 1880-1980. (Nico Syukur Dister, Penterjemah). Manuskrip yang diterbitkan dalam rangka peringatan 100 tahun Kongregasi Fransiskanes Santa Elisabeth yang dirayakan di Belanda yang berisi tentang perjalanan hidup para suster dari awal sampai usia 100 tahun Breda, 1Agustus 1980.

________. (2007b). Peringatan Seratus Tahun Kongregasi Santa Elisabeth. (Nico Syukur Dister , Penerjemah). Manuskrip yang berisi tentang sejarah kongregasi Fransiskanes Santa Elisabeth di Breda dan di Indonesia).

Pengantar Ajaran Sosial Gereja. (1963). (Marcel Beding, Pengumpul). Ende: Nusa Indah

Petra, Sr. FSE. dkk. (2010). Statuta RSE. Medan: FSE.

Quirinus, Quirinus van. (2008). Peringatan Seratus Tahun Biara Alles voor Allen.

(Mauritius, Penerjemah). Manuskrip yang berisi tentang sejarah biara Alles voor Allen Breda.

Sumarno Ds., M. (2008). Praktek Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik. Diktat Mata Kuliah Praktek Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik untuk Mahasiswa Semester VII. Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Syukur, Paskalis, OFM. (2006). Identitas Fransiskan. Jakarta: SEKAFI.

Wikimedia Foundation. http://id.wikipedia.org/wiki/Nijmegen. accessed on March 20, 2014.

Wilfrida, Sr. FSE. (2009). Sejarah Awal Kongregasi FSE dari Breda ke Breda. Dalam Antonius Eddy K. (Ed.). Gerakan Awal Kongregasi Peniten Rekolek. Yogyakarta: Kanisius.

Lampiran:Teks Cerita Santa Elisabeth Hongaria Pelayan Orang Sakit, Miskin, danMenderita

Elisabeth ialah puteri raja Hungaria.Ia dilahirkan pada tahun 1207. Elisabeth dinikahkan dengan Louis, penguasa Thuringia, ketika ia masih amat muda. Tuhan mengaruniakan kepada mereka tiga anak dan mereka hidup berbahagia selama enam tahun. Santa Elisabeth sangat solider kepada sesamanya. Hal ini bermula ketika ia melihat situasi orang di luar istana yang begitu menderita, miskin, sakit dan tersingkir. Hatinya tergerak untuk membantu dan memperhatiakan mereka. Tetapi keluarga istana tidak mendukung dan tidak menyukai pelayanan karitatif Elisabeth bagi orang sakit dan menderita yang berada di luar istana. Pada suatu hari Elisabet sedang bergegas untuk melaksanakan karya karitatifnya. Ludwig mendekati dia dan menanyakan apa yang disembunyikan di balik rok kerjanya. Elisabet membuka rok kerjanya, maka terlihatalah bunga-bung amawar yang indah, padahal yang dibawanya tadi adalah roti.Sungguh sebuah keajaiban.

Pada suatu saat Louis wafat karena suatu wabah penyakit. Sanak-saudara Louis tidak pernah menyukai Elisabeth karena ia biasa membagikan banyak makanan kepada kaum miskin. Santa Elisabeth, beserta ketiga anaknya diusir dari kastil. Mereka menderita kelaparan serta kedinginan. Namun, Elisabeth tidaklah mengeluhakan penderitaannya yang berat itu. Elisabeth menerima penderitaannya sama seperti ia menerima kabahagiaannya. Santa Elisabeth bertekad untuk mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. Ia ingin meneladani semangat kemiskinan St. Fransiskus. Elisabeth kemudian tinggal di sebuah desa miskin dan menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya dengan melayani mereka yang sakit serta miskin. Ia bahkan pergi memancing sebagai usaha untuk memperoleh tambahan uang bagi kaum miskin yang dikasihinya. Santa Elisabeth mempunyai cintakasih yang amat besar bagi kaum miskin. Sebagai pengikut Kristus, kita pun dipanggil untuk tergerak oleh belaskasihan melihat penderitaan sesama.

Di kastil Wartburg di kaki bukit karang yang terjal Santa Elisabet mendirikan sebuah rumah sakit. Disanalah dia sering memberimakan orang miskin dengan tangannya sendiri; membersihkan serta merapihkan tempat tidur mereka dan menemani mereka di musim panas yang tidak nyaman. Santa Elisabet mendirikan sebuah rumah sakit lagi yang dapat menampung 28 orang. Dia juga memberimakan 900 orang di pintu gerbang istananya, di samping tak terhitung jumlahnya yang tersebar di berbagai tempat lain di negerinya. Karya amal-kasih Santa Elisabet juga tidak sembarangan dapat dikatakan penghamburan atau pemborosan, karena Santa Elisabet tidak akan mentolerir terjadinya pengangguran di kalangan orang miskin yang masih dapat bekerja. Dia akan memperkerjakan mereka pada tugas-tugas yang cocok dengan kekuatan mereka masing-masing. Sebagai seorang bangsawan pada zamannya, Santa Elisabet dapat dengan mudah memperbudak para warganya. Akan tetapi dia melayani mereka dengan hati yang sedemikian penuh cintakasih, sehingga hidupnya di dunia yang begitu singkat membuat dia memperoleh tempat di hati banyak orang.(sumber: Mgr. Nicolas Martinus, CICM. Orang Kudus SepanjangTahun, Jakarta: Obor, hal. 576)