Bab IV: JAMAAH DAN ESENSI PERSATUAN UMAT
D. Semangat Persaudaraan
Ketika gerakan dabbah Dajal yang muncul dari bawah bumi mengibarkan panji-panji fitnah di seluruh dunia Islam, seharusnya kita segera merapatkan diri dan melawannya dengan panji-panji persaudaraan yang nyata. Mereka akan segera melangkahkan derap "sepatu laars"-nya atas nama "polisi internasional" (Amerika) untuk memporak-porandakan umat beragama dengan cara mengadu-domba satu dengan lainnya. Mereka menjadi provokator yang paiing profesional agar umat Islam dan umat beragama lain bertarung, sehingga lelah dan tidak lagi mempunyai suatu kekutaan untuk menghadapi tipu daya kaum Dajal zionis tersebut.
Betapa mungkin kita akan memenangkan sebuah pertempuran, bila diantara kita sendiri saling memfitnah, bahkan yang paling gigih memfitnah sesama seiman dan seagama. Alangkah pedihnya jiwa,
seandainya ada seorang pemimpin dengan penuh semangat menuduh sesama saudaranya. Pemimpin yang menuduh sesamanya yang nyata-nyata telah bersyahadat; yang telah pula menunjukkan kecenderungannya kepada kebenaran (al-hanif), dan telah menunjukkan amal-amalnya untuk Islam, difitnah dan dihujat sebagai orang yang seagama, tetapi tidak seiman. Bila memang ada peristiwa seperti itu, maka "bahasa" orang yang mengaku pemimpin itu tidak lain adalah "bahasa kaum zionis" yang memutar-mutarkan lidahnya bagaikan para Ahli Kitab yang menyisipkan kalimat kebohongan dan diakuinya datang dari Allah.
Pemimpin itu pun dengan tidak merasa berdosa sedikit pun menepuk dada sambil merangkul kaum kafir dan menginjak martabat sesama saudaranya seagama. Akhlak karimahnya telah tercerabut dari jiwa dan mereka menggantinya dengan akhlak dabbah. Mereka merasa sangat bahagia bila dapat menertawakan penderitaan orang tertindas yang merintihkan doa, seraya bercucuran air mata. Di manakah lagi kata maaf? Di manakah keluhuran budi umat yang telah dicontohkan Rasulullah saw. ketika memperlakuan musuh-musuhnya pada saat penaklukan Mekah?
Padahal, tidak ada yang paling indah dalam kehidupan manusia kecuali mempunyai sahabat seagama dan seiman. Betapa kentalnya nilai persaudaraan yang disambung oleh tali iman telah dibuktikan oleh para anggota jamaah Rasulullah, yang sekaligus sebagai bingkai kaca untuk bercermin dan menata kehidupan masyarakat Islam yang Qur'ani. Persaudaraan iman inilah yang menyatukan rasa, karsa, dan cinta dalam jamaah, yang mampu membongkar segala kebanggaan golongan (ta'asub), keturunan, ras, dan kebanggaan kelompok lainnya.
Akan tetapi, cobalah raba hati dan keadaan kita sekarang ini, betapa umat Islam yang terkena penyakit "mencintai dunia dan takut akhirat" (wahan), tercabik-cabik menjadi santapan orang-orang kafir dikarenakan hilangnya nilai persaudaraan diantara sesama muslim sendiri. Bila ukhuwah Islamiyah telah redup cahayanya, apakah mungkin menyambung tali ukhuwah bashariyah dan wathaniyah. Pelita hikmah tentang seruan Allah, "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara...." (al-Hujurat:10) telah lenyap ditelan gemuruhnya pidato dengan gaya retorika yang hanya sebatas mencari pendukung golongannya, padahal janji-janji yang dikemas dengan bahasa retorika itu hanyalah manis dalam pernyataan, tetapi pahit dalam kenyataan. Jelaga hitam di hati kita, bertambah tebal dengan masuknya paham dan budaya kaum Dajal yang secara halus menyelusup bagaikan virus yang merusak cara berpikir umat, sehingga seluruh sikap dan keputusannya sudah sangat jauh dengan Al-Qur'an.
Prinsip demokrasi yang diagungkan dunia Barat, ternyata diterima di kalangan umat Islam dengan sangat mentah, sehingga telah menyebabkan tumbuhnya berbagai kepentingan (vested interest) berbagai pengkotakan, perbedaan paham, dan perbedaan cita yang dikonfrontasikan secara tajam, bagaikan lawan dengan rnusuh dalam arti yang sebenarnya. Organisasi atau partai yang semula secara ideal dianggap sebagai alat untuk menampung aspirasi program dan rencana pembangunan umat, justru menjadi "alat pembunuh" persaudaraan. Hanya karena berbeda partai atau organisasi, kadang-kadang kita menjadi berpikir hitam-putih (black and white). Sikap kebersamaan telah lenyap digasak kebanggaan kelompok dan yang mencuat secara dominan adalah sikap keegoisannya (keindividuannya) . Bahkan, bisa jadi kelihatannya mereka bersatu, padahal hatinya tidak pernah jumpa dan tidak ada kecocokan ide; kelihatannya berjamaah, padahal hatinya telah lama berpisah.
Kejayaan umat akan tampil kembali di panggung dunia, apabila kita mau melebur diri dalam satu jamaah yang di dalamnya berkumpul kaum mukmin yang maju menundukkan dunia secara bersaf, dan berkepribadian luhur sesuai dengan Al-Qur an, yaitu barisan yang tangguh bagaikan benteng yang kokoh. Masing-masing muslim, saat ini, telah sama-sama bekerja untuk berbagai keperluan terrmasuk sama-sama bekerja dalam siar dakwah. Akan tetapi disayangkan; hal itu belum mewujudkan suatu saling kerja sama yang total. Padahal, inti menuju bekerja sama, hanyalah dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber berpijak dan tindakan, serta Sunnah Rasul sebagai rujukan sikap hidup kita. Semangat merujuk dan melaksanakan dua sumber hukum utama Islam tersebut tidak boleh pudar, betapa pun
hebatnya otak kita. Karena apalah artinya isi otak kita yang hanya beberapa sentimeter kubik, dibandingkan dengan kebesaran alam semesta hasil ciptaan Sang Mahaperkasa itu.
Kebersamaan sebagai salah satu buah persaudaraan itu mutlak berada di lubuk hati masing-masing. Setiap anggota jamaah merasa larut dan merasa satu wujud, karena nilai iman telah melebur dan sekaligus meruntuhkan segala perbedaan artifisial (palsu). Mereka yang mendambakan bunga dan buah persaudaraan, serta mau duduk sebagai anggota jamaah, maka tidak ada satu pun sekat atau tabir yang akan menyebabkan tumbuhnya prasangka serta sikap egois (ananiyah). Hati dan sikap mereka satu dan transparan, sehingga tidak ada satu kebenaran pun yang dia sembunyikan di hadapan saudaranya.
Sikap seperti ini menyebabkan para anggota jamaah merasa aman dan damai. Ibarat ikan dalam air, mereka tidak mau lagi keluar dari kolam jamaah. Cinta kasih, kelembutan, sopan santun, serta rasa tanggung jawab diantara sesama anggota muslim, merupakan ciri khas yang paling menonjol dalam pribadi para anggota jamaah. Demikian pula, dalam cara pernyataan keyakinan yang mencakup iman, syariat, dan prinsip-prinsip beragama dan berkehidupan, dinyatakannya dengan sangat banyak sekali. Keterangan maupun berbagai nash Islam ternyata memberikan satu pesan agar dalam menegakkan siar Islam, selalu menyeru kepada satu sikap iktidal (dipertengahan). Hal itu karena akan melarang sikap-sikap yang membuat rumit perilaku serta penalaran alami, seperti: berlebih-lebihan (ghuluw), merasa diri paling pintar (tanatthu), dan mempersulit atau membuat bertambah berat (tasydid).
Sebenarnya, banyak sekali ayat Al-Qur'an maupun hadits Nabi yang menyatakan agar dalam beragama, kita berada di pertengahan. Hal itu banyak disampaikan oleh Rasulullah, misalnya hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dengan Musnad-nya, an-Nasa'i dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya, dan al-Hakim dalam Mustadrak-nya. Dari Abdullah bin Abbas r a. bahwa Nabi saw bersabda: "Hindarkanlah daripadamu sikap melampaui batas dalam agama (ghuluw), karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu telah binasa karenanya."
Tentang peringatan agar suatu kaum, bahkan Ahli Kitab sekalipun untuk bersikap tidak melampaui batas dalam agama, telah dinyatakan di dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi. Oleh dua sumber utama umat tersebut telah diberikan contoh beribadah yang ringan. Misalnya saja, dalam pelaksanaan rukun haji, yaitu dalam hal memilih batu untuk melempar (jumrah), hendaknya mengambil batu sebesar biji kacang, dan diperintahkannya agar tidak melampaui batas (kualitas lemparannya).
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya, dari Abdullah bin Mas'ud. Ia berkata bahwa Rasullullah saw. bersabda "Binasalah kaum Mutanatthi'un" dan beliau mengulanginya tiga kali. Imam Nawawi berkata, "Al-Mutanatthi'un ialah orang-orang yang merasa dirinya benar dan merasa paling pintar, serta merasa paling menguasai ketika membahas sebuah perkara. Ucapan mereka penuh bara angkara yang membakar, sehingga kadang-kadang keluar dari sifatnya seorang panutan yang seharusnya tetap berpegang pada tata nilai qaulan ma'rufan (kata-kata yang indah menyejukkan).
Nabi pernah menegur Mu'adz dengan keras karena Mu'adz memanjangkan bacaannya ketika shalat berjamaah, sehingga banyak orang yang mengadu kepada Nabi. Kemudian Nabi bersabda, "Apakah engkau ingin menimbulkan fitnah, hai Mu'adz?" Beliau mengulanginya tiga kali. Dalam peristiwa yang sama beliau bersabda pula:
"Sesungguhnya diantara kalian ada orang-orang yang menimbulkan antipati. Barangsiapa mengimami shalat bersama orang banyak (jamaah), maka ringankanlah (bacaannya) karena di belakangnya ada orang tua, orang lemah, dan orang yang mempunyai keperluan." (HR Bukhari).
Bila kita membuat analogi antara seorang imam shalat dan imam pada sebuah masyarakat, tentunya prinsip-prinsip imamah itu harus melekat pada para pemimpin Islam. Dia rasakan denyutan kepedihan umat. Dia ringankan beban hidupnya. Dia sejukkan pula kegelisahan jiwanya, dan dia berikan pelita keteduhan kepada mereka yang berjalan menatap hari esok dengan ketidakpastian.
Ketika Nabi akan melepas Mu'adz dan Abu Musa ke Yaman, beliau bersabda, "Permudahlah olehmu berdua dan jangan mempersulit. Gembirakanlah dan jangan menyusahkan. Bersepakatlah dan jangan berselisih. " (HR Bukhari dan Muslim)
Demikian pula dengan firman Allah, "...Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu...." (al-Baqarah: 185).
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r a. bahwa Rasulullah saw. Bersabda, "Sesungguhnya agama ini adalah kemudahan. Dan tidaklah seseorang mempersulit agama, melainkan ia pasti akan dikalahkan. Maka dari itu bersahajalah, dekatlah, dan gembiralah." (HR Bukhari dan Nasa'i).
Maka dalam tatanan pergaulan dengan siapa pun, hendaknya selalu menampakkan wajah dakwah. Sebuah refleksi tata etika kesopanan Islami yang sangat tinggi nilai luhurnya. Menyejukkan dan senantiasa memberikan kesan yang mendalam bagi pihak lain karena keteladanan akhlaknya.