• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Analisis Data

1. Semen

2. 1,30 Fly Ash : 1 Semen Portland : 8 Pasir

3. 1,40 Fly Ash : 1 Semen Portland : 8 Pasir

4. 1,50 Fly Ash : 1 Semen Portland : 8 Pasir

5. 1,60 Fly Ash : 1 Semen Portland : 8 Pasir

6. 1,80 Fly Ash : 1 Semen Portland : 8 Pasir

C. TUJUAN PENELITIAN

1. Mengetahui karakteristik bahan susun bata beton berlubang meliputi:

pengujian gradasi pasir, berat janis pasir, kandungan lumpur pasir,

kekekalan butir pasir, dan gradasi abu terbang

2. Mengetahui kuat tekan mortar penyususn bata beton berlubang

3. Mengetahui dan nilai serapan air bata beton berlubang dengan bahan ikat

tambahan abu terbang pada variasi komposisi yang telah direncanakan.

D. MANFAAT PENELITIAN

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang

bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat diantaranya

adalah :

1. Dapat diketahui pengaruh dari penggunaan bahan ikat tambahan abu

terbang dalam pembutan bata beton berlubang

2. Secara akademis dapat memberikan wawasan pengembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi khususnya dalam pembuatan bata beton

berlubang

3. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi bagi industri bahan

bangunan atau dunia usaha bata beton berlubang yang memakai bahan

susun semen dan pasir.

E. BATASAN MASALAH

Data yang diharapkan dari penelitian ini yaitu tentang uji kuat tekan dan

terbang. Macam dan jenis penelitian akan dibatasi pada permasalahan sebagai

berikut:

1. Konsentrasi variasi komposisi campuran bahan susun bata beton berlubang

:

0 Fly Ash : 1 Semen Portland : 8 Pasir

1,30 Fly Ash : 1 Semen Portland : 8 Pasir

1,40 Fly Ash : 1 Semen Portland : 8 Pasir

1,50 Fly Ash : 1 Semen Portland : 8 Pasir

1,60 Fly Ash : 1 Semen Portland : 8 Pasir

1,80 Fly Ash : 1 Semen Portland : 8 Pasir

2. Benda uji berupa bata beton berlubang

3. Pengujian kuat tekan bata beton berlubang berumur 30 hari, 60 hari, dan

90 hari

4. Setiap pengujian satu variasi dibuat 3 benda uji

5. Semen portland yang dipakai adalah Semen Nusantara Jenis I

6. Abu terbang yang dipakai adalah abu layang dari PLTU Paiton

7. Pemeriksaan terhadap pasir meliputi pemeriksaan agregat, berat jenis

8 A. Tinjauan Pustaka

1. Pengertian Bata beton

Bata beton adalah suatu bahan bangunan yang dibuat dari campuran semen

portland (PC), agregat halus, air dan atau bahan tambah lainnya. Bata beton dapat

dibagi atas 2 (SK SNI S – 04 –1989 – F) jenis, yaitu :

a. Bata beton berlubang adalah bata yang dibuat dari campuran bahan

perekat hidrolis atau sejenisnya ditambah dengan agregat dan air dengan

atau tanpa bahan pembantu lainnya dan mempunyai luas penampang

lubang lebih dari 25 % luas penampang batanya dan volume lubang lebih

besar dari 25 % volume batanya.

b. Bata beton pejal adalah bata beton yang mempunyai luas penampang pejal

75% atau lebih dari luas penampang seluruhnya, dan mempunyai volume

pejal lebih dari 75% volume seluruhnya.

Menurut SK SNI S – 04 –1989 – F Bata beton berlubang diklasifikasikan

sesuai dengan pemakaian sebagai berikut :

a. Bata beton berlubang mutu B2, adalah bata beton berlubang yang

digunakan untuk konstruksi yang memikul beban dan bisa digunakan pula

untuk konstruksi yang tidak terlindung (di luar atap)

b. Bata beton berlubang mutu B1, adalah bata beton berlubang yang

hanya untuk konstruksi yang terlindung dari cuaca luar (Untuk konstruksi

di bawah atap)

c. Bata beton berlubang mutu A2, adalah bata beton berlubang yang

digunakan untuk konstruksi seperti yang tersebut dalam mutu IV, tetapi

permukaan dinding / konstruksi dari bata tersebut boleh tidak diplester.

d. Bata beton berlubang mutu A1, adalah bata beton berlubang yang

digunakan untuk konstruksi yang tidak memikul beban, dinding penyekat

serta konstruksi lainnya yang selalu terlindung dari hujan dan terik

Matahari (di bawah atap).

Menurut SK SNI S – 04 –1989 – F (dalam Budi., 2004) Bahan Bangunan

Bukan Logam dalam persyaratan mutu batu beton adalah sebagai berikut:

a. Sifat tampak , bata beton harus mempunyai bentuk yang sempurna tidak

terdapat retak-retak dan cacat bagian sudut dan rusuknya tidak mudah

dirapihkan dengan jari tangan. Rusuk-rusuknya siku satu terhadap lainnya.

b. Bentuk dan ukuran, berbagai bentuk dan ukuran bata beton yang terdapat

dipasaran tergantung dari produsennya. Biasanya setiap produsen

memberikan penjelasan tertulis dalam leaflet mengenai bentuk, ukuran,

dan daya dukung serta konstruksi pemasangan.

Bata beton berlubang telah banyak dipergunakan diberbagai negara, seperti

Amerika, Inggris, Canada, Australia, Selandia Baru, dan negara – negara

Skandinavia, dimana bata beton berlubang telanjang dapat mendukung beban dan

dinding; dan sebagai penyelesaian tanpa plesteran (Spesifikasi teknik Desain Dan

Pelaksanaan SIB F12 UDC 691.431, 1988:1).

Suatu hasil survey pada tahun 1972 menunjukkan bahwa 50% dari seluruh

tembok di Inggris dan 75% di Amerika Serikat terdiri dari block – block beton.

Hal tersebut disebabkan karena bata beton berlubang adalah bahan konstruksi

yang ekonomis dan serba guna (Spesifikasi teknik Desain Dan Pelaksanaan SIB

F12 UDC 691.431, 1988:1).

2. Persyaratan Mutu Bata beton berlubang

Persyaratan bata beton berlubang (bata beton berlubang) menurut PUBI -

1982 seperti tercantum pada Tabel 2.1 dan 2.2 berikut.

Tabel 2.1 Persyaratan fisik Bata beton berlubang Tingkat Mutu No Syarat Fisis Satuan

A1 A2 B1 B2 1 Kuat tekat bruto rata – rata MPa 2 3.5 5 7

minimum *) (kg/cm2) 20 35 50 70

2 Kuat tekat bruto masing–

masing MPa 1.7 3 4.5 6.5 benda uji minimum *) (kg/cm2) 17 30 45 65

3 Peyerapan air % 35 25

rata – rata maks

*)Kuat tekan bruto adalah beban tekan keseluruhan pada waktu benda uji hancur, dibagi dengan luas bidang tekan nyata dari benda uji termasuk luas lubang serta cekungan tepi.

Tabel 2.2 Persyaratan Ukuran Standard dan Toleransi Bata Beton Berlubang

Tebal dinding sekatan Ukuran + Toleransi Lubang Minimum

(mm) Jenis

Panjang Lebar Tebal Luar Dalam Kecil 400 +3 200 +3 100 ±2 20 15

Sedang 400 +3 200 +3 150 ±2 20 15

Besar 400 +3 200 +3 200 ±2 25 20

3. Keunggulan Bata Beton Berlubang

Bata beton berlubang merupakan bahan bangunan yang digunakan sebagai

pasangan dinding. Dalam pemakaiannya bata beton berlubang mempunyai

beberapa keuntungan, diantaranya adalah :

a. Plesteran

Dinding bata beton berlubang umumnya tidak diplester. Dengan

perencanaan dan pemasangan yang baik dan mengikuti ketentuan – ketentuan

pemasangan bata beton berlubang yang benar, maka akan diperoleh penyelesaian

arsitektonis yang menarik.

b. Adukan

Penghematan adukan sekitar 40% - 50%.

c. Waktu pemasangan

Pemasangan bata beton berlubang umumnya memberikan penghematan

d. Berat sendiri

Bata beton berlubang menyebabkan berat sendiri konstruksi berkurang

hingga 30% - 40% dibandingkan dengan bata merah.

e. Konstruksi mendukung beban.

Bata beton berlubang dapat digunakan baik dalam sistem konstruksi

mendukung beban maupun sebagai dinding pengisi atau partisi.

f. Rongga saluran.

Rongga – rongga bata beton berlubang dapat dimanfaatkan untuk

penempatan pipa air dan kabel listrik untuk segala arah menurut rencana dinding.

Saluran – saluran dapat dipindahkan dan diperbaiki tanpa merusak dinding.

g. Daya tahan terhadap api.

Sesuai dengan peraturan DKI Jakarta ( dalam Spesifikasi teknik Desain Dan

Pelaksanaan SIB F12 UDC 691.431,1988 : 2).tentang Ketentuan Penulangan

Bahaya Kebakaran setiap bangunan memerlukan daya tahan terhadap api yang

cukup demi keselamatan penghuninya. Untuk hal ini, bangunan harus

menggunakan bahan yang cukup mempunyai daya tahan terhadap api.

Bata beton berlubang sudah terkenal dengan sifatnya sebagai bahan

bangunan tahan api (fire resistant) yang efektif dan ekonomis. Daya tahan bata

beton berlubang terhadap api telah dibuktikan oleh laboratorium riset bangunan di

berbagai Negara menurut fungsi dari agregat yang dipakai dan “ketebalan padat

ekivalen” bata beton berlubang (Spesifikasi teknik Desain Dan Pelaksanaan SIB

h. Penyekatan rambatan suara.

Keperluan akan kamar – kamar yang tenang di hotel – hotel, apartemen,

rumah sakit, sekolah dan kantor dimana suara – suara dari jalan raya atau kamar

tetangga sangat tidak diingini memerlukan pengguna bahan konstruksi yang dapat

menyekat perambatan suara. Dinding bata beton berlubang dapat menyekat

dengan baik.

i. Konstruksi modular.

Untuk konstruksi yang ekonomis, bata beton berlubang harus dipasang

dengan kombinasi blok – blok penuh, ¼, ¾ dan ukuran ukuran khusus lainya,

untuk mengurangi / meniadakan pemotongan dan penyusunan memperlambat

waktu konstruksi, semua dimensi harus direncanakan secara modular (Spesifikasi

teknik Desain Dan Pelaksanaan SIB F12 UDC 691.431,1988 : 2).

j. Penyarapan air

Absorbsi lengas yang rendah dikarenakan permukaan bata beton berlubang

padat dan adanya bahan tahan air yang dicampurkan pada waktu pembuatanya

(Spesifikasi teknik Desain Dan Pelaksanaan SIB F12 UDC 691.431,1988 : 2).

4. Bahan Baku Pembuatan Bata Beton Berlubang

Kualitas dan mutu bata beton berlubang ditentukan oleh bahan dasar, bahan

tambahan, proses pembuatan, dan alat yang digunakan. Semakin baik mutu bahan

proses pencetakan dan pembuatan yang dilakukan dengan baik akan menghasilkan

bata beton berlubang yang berkualitas baik pula.

Hubungan antara komposisi campuran pasir semen dengan kuat tekan bata

beton berlubang pada umur 28 hari menurut Puslitbang DPU Semarang (1985)

ditunjukkan pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3 Hubungan Antara Komposisi Campuran dengan Kuat Tekan No Komposisi Campuran

Pc : Ps

Kuat Tekan rata – rata umur 28 hari (kg/cm2) 1 2 3 4 1 : 6 1 : 7 1 : 8 1 : 10 70 57 36 26 (Puslitbang DPU Semarang , 1985)

Dalam perkembangannya bahan susun bata beton berlubang tidak hanya

terdiri dari pasir dan semen, namun berbagai variasi telah banyak dilakukan dalam

penelitian.

Bahan – bahan yang digunakan dalam pembuatan bata beton berlubang

adalah sebagai berikut :

a. Semen

Semen portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara

menghaluskan klinker, yang terutama terdiri dari silikat – silikat kalsium yang

bersifat hidrolis dengan gips sebagai bahan tambahan (SK SNIS – 04 – 1989 - F).

Semen portland merupakan bahan ikat untuk merekatkan butir-butir agregat agar

tejadi suatu masa yang padat.

Persentasi dari oksida – oksida yang terkandung didalam semen portland

adalah sebagai berikut :

2) Silika (SiO2) : 16 – 25 %

3) Alumina (Al203) : 3 – 8 %

4) Besi : 1 - 5 %

Beberapa jenis dari semen portland dibuat dengan mengadakan variasi baik

dalam perbandingan unsur – unsur utamanya maupun dalam derajat kehalusannya.

Senyawa – senyawa tersebut diatas saling bereaksi di dalam tungku dan

membentuk senyawa – senyawa kompleks dan biasanya masih terdapat kapur sisa

karena tidak cukup bereaksi sampai keseimbangan reaksi tercapai. Pada waktu

pendinginan terjadi proses pengkristalan dan yang tidak terkristal berbentuk

amorf.

Adapun komponen – komponen tersebut berbentuk sebagai berikut :

1) Trikalsium Silikat CaOSiO2 (C3S)

2) Dikalsium Silikat CaOSiO2 (C2S)

3) Trikalsiun Aluminat CaOAi203 (C3A)

4) Tetra Kalsium Alumino Ferit CaOA203Fe203 (C4AF)

5) Air

Hubungan antara umur pada struktur kandungan komponen – komponen

semen dengan kuat tekan terlihat pada Gambar 2.1

Gambar 2.1 Hubungan antara umur dengan kuat tekan pada komponen – komponen

yang terkandung dalam semen portland (Tjokrodimuljo,1996)

Kekuatan semen ditentukan oleh komponen C3S dan C2S. Kedua bahan ini

merupakan 70 % dari seluruh bahan semen.( Husin,1998)

Faktor yang berpengaruh dalam pembuatan mortar adalah faktor air semen

(fas). Semakin banyak jumlah air yang digunakan dalam mortar maka akan

memperkecil prosentase diameter rata-rata uji sebar mortar. Sebaliknya semakin

sedikit air yang digunakan dalam mortar maka besarnya prosentase diameter

rata-rata uji sebar akan semakin besar (karena tidak terjadi ikatan yang sempurna

karena jumlah air yang terlalu sedikit).

Nilai faktor air semen juga berpengaruh terhadap kelecakan dan workability

mortar. Nilai faktor air semen yang cukup maka akan mempermudah pengerjaan

mortar, memiliki kelecakan yang baik dan didapatkan nilai uji sebar yang

memenuhi syarat.

Menurut SK SNIS – 04 – 1989 - F semen portland standar harus memenuhi

persyaratan kimia seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2.4 dan fisik seperti yang

Tabel 2.4 Persyaratan Kimia Semen portland Standar JENIS SEMEN PORTLAND

URAIAN I II III IV V

- Magnesium Oksida, MgO maks. % berat

- Belerang Trioksida, SO3 maks. % berat

Bila C3 A 8 % Bila C3 A 8 %

- Hilang Pijar maks. % berat

- Bagian tidak larut maks. % berat - Alkall sebagai Na2O maks. % berat - Trikalsium Silikat, C3S maks. % berat - Dikalisum Silikat, C2S maks. % berat - Tetrakalsium Aluminat, C3A maks. % berat

- Tetrakalsium Aluminoferit ditambah 2 x Trikalsium Aluminat (C4AF + 2C3A)

atau

Kadar larut padat (C4AF + C2AF) maks. % berat

- Jumlah Trikalsium Silikat dan Trikalsium Aluminat (C3S + C3A) maks. % berat 5,0 3,0 3,5 3,0 1,5 0,6 - - - - - 5,0 3,0 - 3,0 1,5 0,6 - - 8 - 58 5,0 3,5 4,5 3,0 1,5 0,6 - - 15 - - 5,0 2,3 - 2,5 1,5 0,6 35 40 7 - - 5,0 2,3 - 3,0 1,5 0,6 - - 5 20 -

Tabel 2.5 Persyaratan Fisis Semen Portland Standar JENIS SEMEN PORTLAND

URAIAN

I II III IV V

- Kehalusan

Sisa diatas ayakan 0,09 mm Maks. % berat

Dengan alat Blaine, luas permukaan tiap Satuan berta smen. Min m2 / kg

- Waktu pengikatan dengan alat vicat*) Awal, min. Menit

Akhir, maks. Jam

- Waktu pengikatan dengan alat Gilimore*) Awal, min. menit

Akhir, maks. Jam

- Kekekalanm bentuk pemuatan dalam otoklaf maks. %

- Kekuatan tekan min kgf /cm2 untuk umur 1 hari

1 + 2 hari 1 + 6 hari 1 + 27 hari

- Pengikatan semen (falseset) penetrasi akhir

- Panas hidrasi, maks. Kal /gr 7 hari

28 hari

- Pemuaian karena sulfat**) 14 hari, maks % 10 280 45 8 60 10 0,8 - 125 200 - 50 - - - 10 280 45 8 60 10 0,8 - 100 175 - 50 70 80 - 10 280 45 8 60 10 0,8 125 250 - - 50 - - - 10 280 45 8 60 10 0,8 - - 70 125 50 60 70 - 10 280 45 8 60 10 0,8 - 85 150 210 50 - - 0,045 Keterangan :

* ) Bila tidak ditentukan, maka yang berlaku adalah penentuan memakai pesawat vicat

**) Bila syarat ini diminta, maka syarat C4AF + C2F tidak perlu dilakukan

Semen portland yang digunakan dalam penelitian ini adalah Semen

Nusantara Jenis I dengan berat 40 kg. Pemeriksaan terhadap semen dilakukan

secara visual dalam keadaan tertutup rapat, setelah dibuka dan diperiksa

butirannya halus dan tidak terjadi gumpalan.

b. Pasir

Pasir merupakan agregat alami yang berasal dari letusan gunung berapi,

sungai, dalam tanah dan pantai oleh karena itu pasir dapat digolongkan dalam tiga

macam yaitu pasir galian, pasir laut dan pasir sungai.

Menurut (SK SNI – S – 04 – 1989 - F) disebutkan mengenai persyaratan

agregat halus yang baik adalah sebagai berikut :

1) Agregat halus harus terdiri dari butiran yang tajam dan keras dengan

indeks kekerasan < 2,2.

2) Sifat kekal apabila diuji dengan larutan jenuh garam sulfat sebagai berikut:

a) Jika dipakai natriun sufat bagian hancur maksimal 12%.

b) Jika dipakai magnesium sulfat bagian halus maksimal 10%.

3) Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dan apabila pasir

mengandung lumpur lebih dari 5% maka pasir harus dicuci.

4) Pasir tidak boleh mengadung bahan-bahan organik terlalu banyak, yang

harus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abrans–Harder dengan

larutan jenuh NaOH 3%.

5) Susunan besar butir pasir mempunyai modulus kehalusan antara 1,5

6) Untuk beton dengan tingkat keawetan yang tinggi reaksi pasir terhadap

alkali harus negatif.

7) Pasir laut tidak boleh digunakan sebagai agregat halus untuk semua mutu

beton kecuali dengan petunjuk dari lembaga pemerintahan bahan

bangunan yang diakui.

8) Agreagat halus yang digunakan untuk plesteran dan spesi terapan harus

memenuhi persyaratan pasir pasangan.

Dilihat dari syarat batas gradasinya, agregat halus (pasir) di bagi menjadi 4

zone seperti yang di tunjukkan pada Tabel 2.6 di bawah ini.

Tabel 2.6 Syarat Batas Gradasi Pasir Lubang Berat Tembus Komulatif (%)

Ayakan Zone 1 Zone 2 Zone 3 Zone 4 (mm) Bawah Atas Bawah Atas Bawah Atas Bawah Atas

10 100 100 100 100 100 100 100 100 4.8 90 100 90 100 90 100 95 100 2.4 60 95 75 100 85 100 95 100 1.2 30 70 55 100 75 100 90 100 0.6 15 34 35 59 60 79 80 100 0.3 5 20 8 30 12 40 15 50 0.15 0 10 0 10 0 10 0 15 Keterangan :

Zone 1 = Pasir Kasar Zone 2 = Pasir Agak Kasar Zone 3 = Pasir Halus Zone 4 = Pasir Agak Halus

c. Air

Air merupakan bahan dasar yang sangat penting dalam pembuatan bata

beton berlubang. Air diperlukan untuk bereaksi dengan semen, serta untuk

dan dipadatkan. Tetapi perlu dicatat bahwa tambahan air untuk pelumas ini tidak

boleh terlalu banyak karena kekuatan bata beton berlubang akan rendah.

Air untuk campuran mortar / beton sebaiknya harus memenuhi syarat (

SK-SNI - S – 04 - 1989 – F) sebagai berikut :

1) Air harus bersih

2) Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 2 gram /liter.

3) Tidak mengandung lumpur minyak dan benda terapan lain yang bisa

dilihat secara visual.

4) Tidak mengandung garam yang dapat merusak beton (asam organik) lebih

dari 15 gram / liter.

5) Tidak mengadung senyawa sulfat lebih dari 1 gram / liter.

6) Tidak mengandung chlorida (cl) lebih dari 0,5 gram / liter.

Air yang digunakan dalam penelitian ini adalah air dari laboratorium jurusan

Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.

d. Abu Terbang

Abu terbang adalah bagian dari abu bakar yang berupa bubuk halus dan

ringan yang diambil dari campuran gas tungku pembakaran yang menggunakan

bahan batubara. Abu terbang diambil secara mekanik dengan sistem pengendapan

electrostatik. (Hidayat,1986)

Abu terbang termasuk bahan pozolan buatan (lea. FM 1971 (dalam Hidayat,

1986)). Karena sifatnya yang pozolanic, sehingga abu terbang dapat dimanfaatkan

sebagai bahan pengganti sebagian pemakaian semen, baik untuk adukan maupun

dapat meningkatkan ketahanan / keawetan beton terhadap ion sulfat dan juga

dapat menurunkan panas hidrasi semen.

Dalam pemanfaatannya abu terbang mempunyai keuntungan dan

kelemahan. Keuntungan pemakaian abu terbang pada beton adalah :

1) Beton akan lebih kedap air karena kapur bebas yang dilepas pada proses

hidrasi semen akan terikat oleh silikat dan aluminat aktif yang terkandung

di dalam abu terbang dan menambah pembentukan silikat gel, yang

berubah menjadi calsium silikat hidrat yang akan menutupi pori – pori

yang terbentuk sebagai akibat dibebaskannya Ca(OH)2 pada beton

normal.

2) Mempermudah pengerjaan beton karena beton lebih plastis.

3) Mengurangi jumlah air yang digunakan , sehingga kekuatan beton akan

meningkat.

4) Dapat menurunkan panas hidrasi yang terjadi, sehingga dapat mencegah

terjadinya keratakan.

5) Relatif dapat menghemat biaya karena akan mengurangi pemakaian

semen. (Hidayat, 1993)

Kelemahan pemakaian abu terbang pada beton adalah :

1) Pemakaian abu terbang kurang baik untuk pengerjaan beton yang

proses pengerasan dan penambahan kekuatan betonnya agak lambat yang

disebabkan karena terjadinya reaksi pozzolon.

2) Pengendalian mutu harus sering dilakukan karena mutu abu terbang

sangat tergantung pada proses (suhu pembakaran) serta jenis batu baranya.

(Husin,1998)

Berdasarkan jenis batu bara yang digunakan bahan bakar, abu terbang

dibagi dalam 2 kelas (ASTM C 618 – 94a (dalam Husin, 1998)), yakni :

1) Kelas F, yakni abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran batu bara

jenis anthrasit atau bituminous.

2) Kelas C, yakni abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran batu bara

jenis lignit atau sub bituminous.

Adapun susunan kimia dan sifat fisik abu terbang menurut ASTM C 618 –

91 (dalam Husin,1998), ditunjukkkan pada Tabel 2.7 dan komposisi kimia abu

terbang PLTU Paiton ditunjukkan pada Tabel 2.8.

Tabel 2.7 Susunan Kimia dan Sifat Fisik Abu Layang

Uraian Kelas F (%) Kelas C (%) A. Susunan Kimia

1. Silikon dioksida, min

2. Silikon dioksida + Aluminium oksida + Besi oksida min

3. Sulfur Trioksida, maks 4. Kadar Air, maks 5. Hilang Pijar, maks 6. Na2O, maks B. Sifat Fisik

1. Kehalusan sisa diatas ayakan 45 um, maks

2. Indeks keaktifan pozolon dengan PC I, pada umur 28 hari, min

3. Air, maks

4. Pengembangan dengan Autoclave, maks 54,90 70,00 5,0 3,0 6,0 1,5 34,0 75,0 105,0 0,8 39,90 50,00 5,0 3,0 6,0 1,5 34,0 75,0 105,0 0,8

[ASTM C 618 – 91 (dalam Husin,1998)]

Tabel 2.8 Komposisi Kimia Abu Terbang PLTU Paiton No Parameter Satuan Hasil Uji Fly Ash

PLTU Paiton 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Berat Jenis Kadar air Hilang Pijar SiO2 Al2O3 Fe2O3 CaO MgO S(SO4) g/cm3 % Berat % Berat % Berat % Berat % Berat % Berat % Berat % Berat 1,43 0,20 0,43 62,49 6,36 16,71 5,69 0,79 7,93 (Rahmi, 2005)

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa abu terbang dari PLTU Paiton

termasuk abu terbang kelas F, karena kandungan oksida silica yang dihasilkan

lebih dari 54,90% (62,49), serta jumlah gabungan oksida silica; alumunium; dan

besi dari abu terbang yang dihasilkan lebih dari 70% (85,56%).

e. Semen + Abu terbang

Abu terbang apabila digabungkan dengan semen diharapkan dalam jangka

waktu yang lebih lama akan menghasilkan kuat tekan beton yang lebih tinggi

dibandingkan beton normal. Penambahan kuat tekan beton disebabkan karena abu

mempunyai sifat hidrolik seperti pozzolon. Dengan sifat pozzolon, maka dapat

mengubah kapur bebas

[

Ca(OH)2

]

sebagai mortar udara menjadi mortar hidrolik.

PROSES HIDRASI

PC + Air (H2O) Calsium Silicate Hydrate (CHS)

CaO + H2O = Ca (OH)2

Mortar Udara Air (H2O) masuk

PROSES HIDRASI

PC + Fly Ash + Air (H2O) Calsium Silicate

Hydarte (CHS)

Ca (OH)2 + Fly Ash (Mortar Hidrolik)

(H2O tidak dapat masuk lagi)

Gambar 2.2 Proses Reaksi Semen dengan Abu terbang (Ravina, D., 1981)

Dari Gambar 2.2 dapat dijelaskan bahwa pada saat proses hidrasi semen

akan dilepas kapur bebas, dimana kapur bebas tersebut akan terikat oleh silikat

dan aluminat aktif yang terkandung didalam abu terbang dan menambah

pembentukan silicat gel, yang berubah menjadi Calsium silicat hidrat (CSH) yang

akan memasuki pori – pori yang terbentuk, sebagai akibat di bebaskannya

Ca(OH)2 pada beton normal (Hidayat, 1993)

Namun karena abu terbang merupakan pozzolan, dimana bahan yang

mengandung pozzolan bila dipakai sebagai pengganti semen portland yang

umumnya berkisar antara 20 – 35% dari berat semen, laju kenaikan kekuatannya

lebih lambat dari pada beton normal. Pada umur 28 hari kekuatan tekan lebih

rendah daripada beton normal, namun sesudah umur 90 hari kekuatannya dapat

sedikit lebih tinggi. (Tjokrodimuljo,1996)

Hubungan antara kuat tekan dengan umur beton pada semen dan semen +

Gambar 2.3 Hubungan Kuat Tekan dengan Umur beton Pada Semen dan Semen + Fly ash (Tjokrodimuljo,1996)

Gambar 2.4 Laju kenaikkan kekuatan beton dengan semen biasa (kontrol) dan beton dengan pozzolan abu terbang (Neville,1987 (dalam Suroso(2001)) 5. Mortar Penyusun Bata Beton Berlubang

Mortar adalah adukan yanng terdiri dari pasir, bahan perekat, dan air. Bahan

perekat dapat berupa tanah liat, kapur maupun semen portland.

Mortar dapat dibedakan menjadi 4 macam (Tjokrodimuljo,1996), yakni:

a. Mortar lumpur dibuat dari campuran pasir, tanah liat/lumpur dan air.

b. Mortar kapur dibuat dari campuran pasir, kapur dan air

c. Mortar semen dibuat dari campuran pasir, semen portland dan air dalam

perbandingan yang tepat.

d. Mortar khusus dibuat dengan menambahkan bahan khusus pada mortar (b)

dan (c) diatas dengan tujuan tertentu.

Menurut ASTM C 270 (dalam Ibnu, 2006) standar mortar berdasarkan

kekuatannya dibedakan sebagai berikut :

a. Mortar tipe M

Mortar tipe M adalah adukan dengan kuat tekan yang tinggi, dipakai untuk

dinding bata bertulang, dinding dekat tanah, pasangan pondasi, adukan pasangan

pipa air kotor, adukan dinidng penahan dan adukan untuk jalan. Kuat tekan

minimumnya adalah 175 kg/cm2.

Mortar tipe N adalah adukan kuat tekan sedang, dipakai bila tidak

disyaratkan menggunakan tipe M, tetapi diperlukan daya rekat tinggi serta adanya

Dokumen terkait