Semiotik pertama kali muncul pada awal abad ke-20, setelah munculnya strukturalisme. Dalam literature sastra, Handbook OF semiOtich (Noth, 1990:307, 346), menyebutkan bahwa semiotik merupakan akibat formalism dan
strukturalisme. Kelahiran semiotik dan strukturalisme berakar dalam kondisi yang berbeda sesuai dangan latar belakang yang menghasilkanya. Menurut Noth (ibid.,,11) ada empat tradisi yang melatarbelakangi kelahiran semiotik, yaitu:
semantik , logika, retorika, hermeneutika.
Secara definitif, menurut Paul Cabley dan Litza Janz (2002: 4) semiotik berasal dari kata seme, bahasa yunani, yang berarti penafsiran tanda. Literature lain menjelaskan bahwa semiotik berasal dari kata semeion, yang berarti tanda.
Dalam pengertian yang lebih luas, sebagai teori, semiotik berarti studi sistematis mengenai produksi dan interpretasi tanda, bagaimana cara kerjanya, apa manfaatnya terhadap kehidupn manusia. Kehidupan manusia dipenuhi oleh tanda, dengan perantaraan tanda-tanda proses kehidupan menjaadi lebih efisien, dengan perantara tanda-tanda manusia dapat berkomunikasi dengan sesamanya, sekaligus mengadakan pemahaman yang lebih baik terhadap dunia, dengan demikian manusis adalah homo semiotikus.
Semiotika dalam kamus besar bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai suatu ilmu (teiri) tentang lambang dan tanda (dalam bahasa, lalu lintas, kode, morse, dan sebagainya). Dikemukakan oleh junus (Nyoman Kutha, 2012:93) bahwa semiotik merupakan lanjutan atau perkembangan strukturalismet tidak dapat dipisahkan dengan semiotik. Alasannya adalah karya sastra sastra itu merupakan strutur tanda-tanda dan maknanya, dan konvensi tanda, struktur karya sastra tidak dapat dimengerti maknanya secara optimal.
Semiotika dalam pengertian pertama terbatas sebagai semiotik struktural, sama dengan strukturalisme semiotik. Oleh karna itulah, dua took terpenting yang
dibicarakan adalah Suassure dan Peirce. Dengan adanya tanda sebagai konsep sebagai konsep kunci dalam memehami kebudayaan, maka semiotik struktural berkembang terus, diperbaharui oleh para tokoh berikutnya sebagai berikut:
Barthes, Eco, Kristeva, Culler, Foucaulit, dan sebagainya.
Pendektan semiotik bertolak dari asumsi bahw karya sastra memiliki suatu sistem sendiri yang memiliki dunianya sendiri, sebagai suatu realitas yang hadir atau dihadirkan pembaca didalamnya terkandung potensi komonikatif yang ditandai adanya lambang-lambang kebahasaan yang khas.
Karya sastra itu merupakan struktur yang bermakna. Halini mengigat bahwa karya sastra itu merupakan sistem tanda yang mempunyai makna dengan bahasa sebagai mediumnya. Dijelaskan oleh prdobo (1994:47), bahwa bahasa sebgai media karya sastra merupakan sistem semiotik atau ketandaan, yaitu sistem ketandaan yang mempunyai arti, medium karya sastra bukanlah bahan yang bebas seperti bunyi pada alat music atupun warna pada lukisan. Warna cat sebelum dipergunakan dalam lukisan bersifat netral belum mempunyai arti apa-apa, sedangkan kata-kata (bahasa) sebelum dipergunakan dalam karya sasstra sudah merupakan suatu lambang yang sudah mempunyai arti yang ditentukn perjanjian masyarakat. Lambang atau tanda-tanda bahsa meerupakan satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti konvensi mansyarakat. Bahasa itu merupkan sistem ketandaan yang berdasarkan atau ditentukn oleh konvensi masyarakat, sistem ketndaan itu disebut semiotik.
Dari pembahasan para ahli tentang semiotik, dapat ditarik kesimpulan bahwa semiotik merupkan cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda
atau segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda yang berlaku bagi kegunaan tanda.
b. Bidang Bidang Penerapan
Sebagai ilmu, semiotik berfungsi untuk mengungkapkan secara ilmiah keseluruhan tanda dalam kehidupan manusia, baik tanda verbal maupun nonverbal. Sebagai pengetahuan praktis, pemahaman terhadap keberadaan tanda-tanda, khususnya yang dialami dalm kehidupan sehari-hari. Memahami sistem tanda, bagaimana cara kerjanya, berarti menikmati kehidupan yang lebih baik.
Konflik, salah paham, dan berbagai perbedaan pendapat diakibatkan oleh adanya perbedaan penafsiran terhadap tanda-tanda kehidupan. Di satu pihak, ilmuan sosial mencoba memecahkan perbedaan yang terjadi dengan cara menemukan latar belakangnya, sekaligus memecahkannya secara teoritis, misalnya, dengan teori konflik.
Semiotik kontemporer yang cukup berwibwa adalah Umberto Eco, lahir di Italia tahun 1932. Menurut Eco (1976:7), semiotik berhubungan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda. Sebuah tanda adalah segala sesuatu yang secara siknifikan dapat menggantikan sesuatu yang lain. jadi, semiotik adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan. Batu, sebagai semata-mata bukanah tanda, melainkan benda, material, apabila batu tersebut dimanfaatkan untu mewakili sesutu yang lain, misalnya, sebagai jimat maka batu tersebut sudah berubah jadi tanda.
Dengan adanya tanda-tanda sebagai ciri yang meliputi seluruh kehidupan manusia, dari komunikasi yang paling alamiah hingga sistem budaya yang paling kompleks, maka bidang penerapan semiotik pada dasarnya tidak terbatas.
Penerapan semiotik dalam ilmu sastra jelas merupakan masalah tersendiri, dengan pertimbangan bahwa bahasa dianggap sebagai salah satu sistem tanda yang yang sangat kompleks.
c. Penanda dan Petanda
Pierce (Endraswara, 2011:286) membagi hubungan penanda dan petanda atas tiga konsep. (1) ikon, yakni hubungan antara tanda dan acuanya yang memiliki hubungan kemiripan. Kemiripan yang dimaksudkan adalah kemiripan secara alamiah. Misalanya, kesamaan potret dengan orang yang di ambil fotonya, kesamaan peta dengan wilanyah geogrfi yang digambrkanya, dan gambaran kuda mendai kuda yang nyata; (2) indeks yakni hubungan antara tanda dengan acuannya yang timbul karna ada kedekatan eksistensi. Dapatak dikatakan terdapat hubungan kausalitas (sebap-akibat) yang bersifat alamiah. Misalnya, asap menandakan adanya api, dan arah angin menunjukan cuaca; (3) symbol yakni hubungan yang sudah terbentuk secara konfensional. Maksudnya, tanda itu mengacu pada suatu yang telah mendapat kesepakatan masyarakat. Misalnaya lampu merah menandakan berhenti, dan menganggk menandakan menyetujui atau membenarkan.
Pradopo (1993:79) mengungkapkan bahwa ada beberapa macam, tanda berdasarkan hubungan antara penanda dan petandanya, yaitu ikon, indeks,dan simbol.
a) Ikon (Ikonitas)
Ikonitas adalah tanda yang menunjukan hubungan alamiah antara penanda dan petandanya. Misalnya gambran kuda sebagai penanda menandai kuda (petanda) sebagai artinya, gambar pohon menandi pohon, tanda-tanda ikonitas ini amat penting dijelaskan lebih jauh sebap tanda tanda seperti ini merupakan tanda-tanda yang memikat, dan karna teks-teks sastra memiliki daya pikat yang lebih dibandingkan dengan non sastra.
Ikon merupakan hubungan antara tanda dan acuanya yang memiliki hubungan kemiripan. Kemiripan yang dimaksud adalah kemiripan secara alamiah. Misalanya, keamaan potret yang diambil potonya, kesamaan peta dengan wilaya yang digambarkan.
b) Indeks (Indeksitas)
Indeks adalah tanda yang menunjukan klausal (sebap akibat) antar penanda dengan petandanya, misalanya asapa menendai api. Dalam kaitan ini, dapat dikatakan bahwa semua teks secara keseluruhan merupakan tanda-tanda indeksitas sebap teks memiliki hubungan perbatasan dengan hal-hal yang dipresentasikannya yakni dunia yang diciptakanya.
Jika dibandingkan dengan teks lain, teks sastra berperan lebih halus dan sering secara tidak langsung. Indeks merupakan hubungan antara tanda dengan
acuanya yang timbul karna ada kedekatan eksistensi. Misalanya, asap menandakan adanya api, dan arah angin menunjukan cuaca.
c) Simbol (Simboilitas)
Simbol merupakan bagian dari tanda namun, menunjukkan tidak ada hubungan antara petanda dan petandanya sebap hubungan yang ada diantara keduanya bersifat arbitren (semena-mena), artiny tanda tersebut ditentukan oleh konvensi masyarakat setempat.
Hubungan antara syimbol dan yang disimbolkan bersifat banyak arah.
Contoh kata bunga tidak hanya memiliki hubungan timbal balik antara gambaran yang disebut bunga, kata ini secara asosiatif juga dihubungkan dengan keindahan, kelembutan, kasisah saying, dan sebagainya.
Simbol dibedakan menjadi dua, yaitu (1) symbol yang bersifat binier (berpasangan). Yaitu hubungan yang tetapa antara unsur-unsur dengan lainnya, dan (2) symbol yang bersifat uniter (kesatuan). Yaitu simbol yang memiliki sifat otomatis, mandiri, dan final.
d. Langkah Analisis Data
Sesuai dengan teori strukturalisme semiotik, kajian sastra, memerlukan metode analisis itu dengan pemaknaan sebagai berikut:
1. Teks dianalisis ke dalam unsure unsurnya dengan memperhatikan saling hubungan antara unssur-unsurnya dengan keseluruhannya.
2. Tiap unsur dan keseluruhannya diberi makna sesuai dengan konveksi.
3. Setelah teks dianalisis kedalam unsure-unsurnya dilakukan pemaknaan, sejak dikembalikan makna toralitasnya dalam kerangka semiotik.
Untuk pemaknaan itu diperlukan pembacaan secara heuristik dan hermeneutik atau pembacaan retroaktif.
a) Pembacaan Heuristik
Pembacaan Heuristik ialah pembacan yang berdasarkan pada konvensi bahasa yang bersifat memetik (tiruan alam) dan membangun serangkaian arti yang heterogen, berserak-serakan atau takramatikal. Hal ini dapat terjadi karna kajian didasarkan pada pemahaman arti kebahasaan yang bersifat lugas atau berdasarkan arti denotative dari suatu bahasa. Untuk untuk memperjelas arti dalam pembahasaan ini, perlu diberi sisipan atau sinonim kata-katanya dalam tanda kurung. Begitu struktur kalimatnya disesuaikan dengan kalimat baku (berdasarkan bahasa normatif); bilamana perlu susunannya dibalik untuk member arti.
Secara semiotik, pembacaan semacam ini baru tingkat pertama. Yang dilakukan dalam heuristik, antara lain menerjemahkan atau memperjelas arti kata-kata dan sinonim- sinonim. Pemaknaan dilakukan secar semantis, lalu dihubungkan antara baris dan bait. Pembacaan heuristik pada semiotik sastra sering digunakan dalam penelitian puisi.
b) Pembacaan Hermeneutik
Pembacaan hermeneutik merupakan pembacaan yang bermuara pada ditemuknya suatu makna teks secara utuh dan terpadu. Teks harus dipahami
sebagai sebuah satuan yang bersifat struktural atau bangunan yang tersusun dari berbagai unsur kebahasaan. Oleh karna itu pembacaan hermeneutik pun dilakukan secara struktural, artinya pembacaan itu bergerak secar bolak-balik dari suatu bagian ke seluruhan bagian yang lain dan seterusnya. Pembacaan ini dilakukan pada interpretasi hipogram potensial.
pembacaan hermeneutik menghendaki penafsiran, sehingga makna karya astra sudah barang tentu dipengaruhi persepsi pengetahuan dan pengalaman pembaca per pembaca, input lingkungan pembaca, perspektif atau bia dimensi kepentingn pembaca, dan hal-hal lain yang berasal dari faktor ekstrinsik karya sastra. Pencarian arti secara heuristik tersebut baru menjelaskan arti kebahasan karya sastrra objek kajian. Makna karya sastra harus dicari dengan pembacaan hermeneutik, pembacaan yang diberi tafsiran sesuai dengan tata aturan sastra sebagai sistem semiotik. Pembacaan secar hermeneutik banyak digunakan dalam penelitian karya sastra khususnya pada novel, hal ini bertujuan untuk mempermudah memperoleh pemaknaan pada karya sastra.