BAB II Kajian Pustaka
2.11. Semiotika Dalam Video Klip
Tayangan video klip di televisi memiliki kelebihan unik jika dibandingkan dengan publikasi lain di radio yang juga sering memperdengarkan lagu-lagu dalam program siaranya. Kelebihan tayangan televisi juga memungkinkan diterimanya tiga kekuatan generator makna sekaligus, yakni narasi, suara dan visual.
Ketiganya membentuk sebuah sistem pertandaan yang bekerja untuk mempengaruhi penontonya. Dari ketiganya, video klip bekerja efektif karena menghadirkan pesan dalam bentuk verbal dan non verbal sekaligus.
Sebagai sistem pertandaan, maka video klip televisi sekaligus menjadi sebuah bangunan representasi yang tidak semata-mata menrefreleksikan lagu yang mengiringinya, namun seringkali menjadi representasi gagasan yang terpendam di balik penciptanya. Persoalan representasi ini yang kemudian menarik, karena di dalam sebuah video klip terdapat sebuah makna sosiokultural yang dikonstruksikan.
Tampilan video klip di televisi senantiasa melibatkan tanda dan kode. Setiap bagian atau scene dalam video klip pun dapat menjadi tanda atau sign, yang secara mendasar berarti sesuatu yang memproduksi makna (Thwaites, 2002:9). Tanda berfungsi mengartikan atau merepresentasikan serangkaian konsep, gagasan atau perasaan sedemikian rupa yang memungkinkan seseorang penonton untuk men-decode atau menginterpetasikan makananya.
Jika tanda adalah material atau tindakan yang menunjuk sesuatu, kode adalah sistem dimana tanda-tanda diorganisasikan dan menentukan bagaimana tanda dihubungkan dengan yang lain. Dalam video klip kode-kode secara jelas dapat dibaca adalah bahasa berupa audio dan audiovisual.
Semiotika tidak pernah mengandaikan terjadinya salah pemaknaan, karena setiap ’komunikan’ mempunyai pegalaman budaya yang berbeda, sehingga pemaknaan diserahkan kepada komunikan. Dengan demikian istilah kegagalan komunikasi tidak pernah berlaku dalam tradisi ini, karena setiap orang berhak memaknai teks dengan cara yang berbeda. Maka makna menjadi sebuah pengertian yang cair, tergantung pada frame budaya komunikanya.
Pada saat sebuah video klip telah tersaji di ruang publik, maka video klip akan memproduksi makana, dan pencipta tanda-tanda dalam video klip tidak lagi memiliki otoritas untuk memaksa makna-makna yang mereka kehendaki. Peran pemaknaan pun berpindah ke tangan komunikan.
Terobosan penting pada semiotika adalah diterimanya penerapan konsep-konsep linguistik ke dalam fenomena lain yang bukan hanya tertulis, yang dalam pendekatan ini lantas diandaikan sebagai teks pula. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan produk media, seluruh tampilan media baik dalam bentuk tulisan, visual, audio, bahkan audio visual sekalipun akan dianggap sebagai teks. Pusat perhatian semiotika pada kajian komunikasi massa, salah satunya adalah tayangan video klip adalah menggalia apa yang tersembunyi di balik praktik pertandaan. Saussure mendefenisikan semiotika sebagai ilmu yang mengkaji tentang tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial (Piliang:2003:256). Oleh Saussure, semiotika kemudian dielaborasi sebagai hubungan tripartit yakni tanda (sign) yang merupakan gabungan dari penanda (signifer) dan petanda (signified).(Fiske&Hartley, 1996:23).
Penanda mewakili elemen bentuk atau isi, sementara petanda mewakili elemen konsep atau makna. Keduanya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan sebagaimana layaknya dua bidang pada sekeping mata uang. Kesatuan antara penanda dan petanda itulah yang disebut sebagai tanda. Pengaturan makana atas sebuah tanda dimungkinkan. ’Tanda’ dan ’hubungan’ kemudian menjadi kata-kata kunci dalam analisis semiotika. (http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php)
Dalam tayangan pembuatan video klip, diasumsikan sama dengan pembuatan film cerita. Analisis semiotik yang dilakukan pada cinema atau film menurut Fieske disertakan dengan analisis film (video klip) yang ditayangkan di televisi. Sehingga analisis yang dilakukan pada video klip Cinta Satu Malam dibagi menjadi dua level seperti yang dikemukakan oleh Fiske:
1. Level Realitas
Pada level ini, realitas dapat berupa penampilan, pakaian dan make up yang digunakan pemain, lingkungan, perilaku, ucapan, gesture, ekspresi, suara, dan sebagainnya yang dipahami sebagai kode budaya yang ditangkap secara elektronik melalui kode-kode teknis, kode-kode sosial yang merupakan realitas yang akan diteliti dalam penelitian ini, dapat berupa :
a. Penampilan, kostum, make up yang digunakan model pada video klip Cinta
Satu Malam oleh Melinda. Pakaian dan tata rias yang digunakan serta kostum dan make up yang ditampilakan tersebut memberikan signifikasi tertentu menurut kode sosial dan kultural.
b. Lingkungan atau setting yang ditampilkan dari cerita dan tokoh tersebut, bagaimana simbol-simbol yang ditonjolkan serta fungsi dan makna di dalamnya. c. Dialog, berupa makna dari kalimat-kalimat yang diucapkan dalam dialog. 2. Level Representasi
Level Representasi meliputi kerja kamera, pencahayaan, editing, musik, dan suara yang ditransmisikan sebagai kode-kode representasi yang bersifat konvensional. Bentuk-bentuk representasi dapat berupa cerita, konflik, karakter,
action, dialog, setting, casting dan sebagainya. Level representasi meliputi: teknik kamera, pencahayaan, penataan suara, penataan musik.
Penggunaan semiotika dalam video klip telah menjadi bagian penting dalam masyarakat modern. Analisis Video klip dengan pendekatan semiotika dapat dilakukan, mengingat video klip merupakan fenomena semiotika. Masyarakat sekarang lebih berorientasi pada apa yang dilihatnya dan telah banyak menggunakan sistem tanda lain di luar sistem tanda verbal. (Panut, 1992:56). 2.12. Respon Psikologi Warna
Warna merupakan simbol yang menjadi penandaan dalam suatu hal. Warna juga boleh dinggap sebagai suatu fenomena psikologi. Respon psikologi dari masing-masing warna:
a. Merah
Power, kehangatan, cinta, nafsu, agresif, bahaya. Merah jika dikombinasikan dengan putih, akan mempunyai arti bahagia di budaya oriental.
b. Biru
Kepercayaan, konservatif, keamanan, teknologi, kebersihan dan keteraturan.
c. Hijau
Alami, sehat, keberuntungan, pembaruhuan. d. Kuning
Optimis, harapan, filosofi, ketidakjujuran, pengecut(budaya barat), dan pengkhiyanat.
e. Ungu/ Jingga
Spiritual, misteri, kebangsawanan, transformasi, kekerasan, keangkuhan. f. Orange
Energy, keseimbangan, dan kehangatan. g. Coklat
Tanah/ bumi, reability, comfort, daya tahan. h. Abu-abu
Intelek, masa depan, kesederhanaan, kesedihan. i. Putih
Kesucian, kebersihan., ketidakbersalahan, kematian. j. Hitam
Power, seksualitas, kecanggihan, kematian, misteri, ketakuatan, kesedihan,keanggunan.
Warna dan artinya mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap sesuatu yang dilekatinya. Warna juga memberi arti terhadap suatu objek, hampir semua bangsa di dunia memiliki arti tersendiri pada warna. Hal ini dapat dilihat pada bendera nasional masing-masing, serta upacara-upacara ritual lainya yang sering dilambangkan dengan warna warni (Cangara, 2005:109).
2.13. Kerangka Berfikir
Berkembangnya industri pertelevisian (berbasis audio visual) mulai menggeser posisi radio (berbasis audio), sehingga sebuah tayangan audio visual mulain menjadi pilihan utama masyarakat selama ini. Tayangan televisi yang tersebut salah satunya adalah video klip, yaitu gambar bergerak yang dimainkan
bersaman dengan sebuah lagu. Video klip ini dapat menjadi alat promosi grup band atau penyanyi yang bersangkutan.
Pembuatan video klip biasanya disesuaikan dengan lagu yang dibawakan oleh penyanyinya, sehingga video klip tersebut dibangun dengan suatu konsep tertentu. Ada kalanya, video klip tersebut memiliki tujuan memberikan informasi serta menggangkat isu yang berkembang di masyarakat dengan tujuan tertentu.
Peneliti tertarik untuk memeliti video klip Cinta Satu Malam yang dipopulerkan Melinda karena menganut analisis peneliti terdapat berberapa isis sensualitas dalam video tersebut.
Dalam video klip Cinta Satu Malam yang dipopulerkan Melinda, terdapat sisi sensualitas yang bisa memberikan dampak kurang baik bagi masyarakat yang melihatnya. Misalnya dengan menampilkan sisi sensual dengan memperlihatkan gambar perempuan yang sedang berendam dan tubuhnya hanya ditutupi busa sabun di dalam bathtub.
Penelitian representasi sensualitas dalam video klip Cinta Satu Malam yang dipopulerkan Melinda, menggunakan kategori tersebut yang ditentukan oleh penulis berdasarkan isi sensualitas dalam video klip Cinta Satu Malam .
Sesuai dengan jenis media yang digunakan, video klip juga sarat akan tanda-tanda yang dapat dimaknai sehingga terbentuk suatu ideologi tertentu. Video klip tersebut harus lebih dulu dipisahkan dalam scene-scene dengan mengacu pada teori Fiske.