GAMBARAN UMUM SOSIAL BUDAYA
MASYARAKAT LAMPUNG
2.5. Aspek Kultural
2.5.1. Agama dan Kepercayaan
2.5.3.1. Seni Kriya
Pada masyarakat Lampung seni kriya yang dikenal adalah pembuatan tembikar atau porselen, seni ukir, dan tenun. Tembikar dikenal sebagai shung Lampung, kendi Lampung, serta piring Blambangan. Seni ukir tidak berkembang pesat, meskipun masih ada juga bentuk-bentuk ukiran pada zaman dahulu yang meng-gam barkan kodok, ular naga, ataupun bentuk kaki manusia. Mo tif tersebut sampai sekarang masih dapat ditemui pada sarung pedang, sarung keris maupun pada daun pintu atau jendela. Tidak ber-kembangnya seni ukir, dimungkinkan karena pengaruh Islam yang melarang menggambarkan benda hidup (manusia dan binatang)
dan menyimpan patung di dalam rumah. Seni kriya yang paling berkembang di Lampung adalah kriya kain, yang dikenal sebagai kain kapal dan tapis. Beberapa seni kriya yang menonjol lainnya adalah sulam usus ayam. Tapis bahkan dapat dikatakan identik sebagai seni kriya kain orang Lampung. Hampir semua masyarakat suku peladang di Indonesia mengenal tenun sebagai bagian dari kehidupan spiritualnya. Masyarakat peladang umumnya membagi pola dua dalam pola pikir mereka. Banyak benda-benda yang di-anggap menjadi dunia laki-laki atau dunia perempuan saja. Tenun adalah dunia perempuan sebagaimana artefak lain dari kain, seperti tenun, batik, gerabah, tarian, serta seni memasak, sedangkan pem-buat logam, menatah wayang, mendirikan bangunan, mempem-buat pe-rahu, menulis karya sastra, merupakan dunia laki-laki (Sumardjo, 2006:213).
Orang Lampung telah mengenal kegiatan menenun sejak abad ke 1 Masehi sebagaimana dikatakan oleh van der Hoop pada masa itu orang Lampung telah menenun kain brokat yang disebut kain nampan26 dan kain sutra yang disebut kain pelepai dengan teknik kunci dan kait (key and rhomboid shape) dengan motif pohon hayat dan bangunan berbentuk kapal berisi roh orang yang meninggal. Pola ini berkait dengan budaya kaum peladang dan peramu. Pada masyarakat peladang, pohon hayat menjadi fenomena penting. Pohon hayat –sebagaimana pucuk rebung, tumpal-- adalah axis mundi, medium, perantara dunia atas dan dunia bawah, langit dan bumi. Pohon hayat adalah dunia tengah, pucuknya ada di langit dan akarnya di dalam bumi (Soemardjo, 2006:213). Dalam masyarakat peladang yang kena imbas masyarakat peramu, pohon hayat diruntuhkan. Pohon hayat menjadi pohon kematian. Pada masyarakat berpola pikir peramu, kematian membawa kehidupan. Penghubung antara manusia dan Dewa pun melalui korban kematian. Dengan kematian
26 Kain nampan adalah kain berbentuk segi empat yang biasanya dipakai untuk menutup
Rina Martiara
97
kesuburan akan datang. Pohon kematian ini merupakan pasangan oposisi dengan pohon kehidupan atau pohon hayat (Soemardjo, 2006:213). Kain pelepai adalah kain sutra yang disulam dengan motif perahu, sehingga sering juga disebut sebagai kain kapal (Razi Arifin, 1986/1987: 14-15). Fungsinya pada upacara perkawinan adalah sebagai penutup nampan tempat untuk mengantarkan barang-barang lamaran sehingga disebut juga sebagai kain nampan. Tenunan dengan motif kain kapal ini ditemukan di daerah Krui, yang masuk ke dalam stelsel (tatanan) masyarakat Lampung beradat saibaitin. Pada setiap upacara adat, kain selalu memiliki peran penting. Selain memberikan perlambang ritual, juga menandakan tingkat sosial pemilik kain.Gambar 20
Beberapa contoh motif kain nampan atau kain kapal
Pada masyarakat adat pepadun, kerajinan tenun yang terkenal adalah kain tapis. Tapis adalah tenun yang berbentuk sarung dengan 92
92
Gambar 20
Beberapa contoh motif kain nampan atau kain kapal
Pada masyarakat adat pepadun, kerajinan tenun yang terkenal adalah kain
tapis. Tapis adalah tenun yang berbentuk sarung dengan sulaman benang emas
dan benang sutera. Sebagaimana kain kapal, tapis selain dipergunakan sebagai pakaian juga menjadi penanda tingkat kehormatan seseorang di dalam adat. Tenun sebagai dunia wanita, dapat dilihat dalam falsafah orang Lampung yang menyatakan seorang gadis Lampung yang dipuji adalah yang banyak melakukan kegiatan menenun dan menjahit sebagaimana tertulis dalam kitab adat Kuntara
Raja Niti.
…yang memalukan pada seorang gadis apabila kain tapis yang dipakainya didapat dengan cara meminjam...
nampan sebagai alas tempat untuk mengantarkan barang-barang lamaran.
sulaman benang emas dan benang sutera. Sebagaimana kain kapal, tapis selain dipergunakan sebagai pakaian juga menjadi penanda tingkat kehormatan seseorang di dalam adat. Tenun sebagai dunia wanita, dapat dilihat dalam falsafah orang Lampung yang menyatakan seorang gadis Lampung yang dipuji adalah yang banyak melakukan kegiatan menenun dan menjahit sebagaimana tertulis dalam kitab adat Kuntara Raja Niti.
…yang memalukan pada seorang gadis apabila kain tapis yang dipakainya didapat dengan cara meminjam...
Kain tapis merupakan hasil tenunan gadis-gadis (muli-muli) sebagai persiapan diri memasuki acara perkawinan. Menenun me-rupakan pekerjaan yang menjadi bagian dari persiapan kejiwaan yang bertahap. Pekerjaan ini melatih orang untuk tidak terburu-buru, apalagi terpaksa dalam melakukan sesuatu. Menenun juga memerlukan ketekunan dan daya kreativitas (Djausal, 1999:49). Pada masa lalu, setiap gadis Lampung dituntut untuk memiliki kain tapis hasil karyanya sendiri, karena dari situlah timbul penghargaan dan penilaian akan harkat kewanitaan, nilai kepribadian, dan kehormatan keluarga di mata masyarakat. Setelah si gadis menjadi seorang ibu, pekerjaan menenun kain tapis masih diteruskan, karena ketika menjadi ibu maka kain tapis yang dipakai berbeda motif sesuai dengan acara adat yang diikuti, yaitu begawi, cakak pepadun, turun cangget, menyambut tamu, ataupun pakaian mempelai wanita. Kegiatan menenun (mantok) dan menyulam benang emas (nyucuk) bukanlah sekedar perintang waktu tetapi merupakan bagian dari persiapan seseorang memasuki siklus kehidupan, sehingga pekerjaan ini dilakukan dengan sepenuh hati.
2.5.3. 2. Seni Sastra
Sebagaimana masyarakat Melayu pada umumnya, seni sas-tra di Lampung berkembang pesat dan merupakan sistem yang memberikan nilai-nilai yang diharapkan dan berlaku di masyarakat.
Rina Martiara
99
Ini memperkuat kenyataan bahwa masyarakat Lampung adalah masyarakat kaum peladang. Sebagaimana kain tenun, pantun me-ru pakan ciri khas hasil budaya kaum peladang, yang hidup dari per tanian huma, padi kering yang berbeda dengan masyarakat yang hidup dari pertanian sawah. Meskipun sama-sama hidup dari pertanian, keduanya memiliki pandangan dunia yang berbeda. Di lingkungan masyarakat kaum peladang tidak dikenal musik orkestra. Hal ini dapat dipahami mengingat tempat tinggal mereka di daerah perbukitan yang menyulitkan pengangkutan dan mengumpulkan orang. Tidak seperti masyarakat sawah yang menetap di tanah-tanah datar (Sumardjo, 2003:120). Pada masyarakat yang otonom dan terbatas, seni secara orkestra jarang dilakukan, oleh karena seni orkestra hanya dimungkinkan pada masyarakat sawah yang padat penduduknya.Masyarakat Lampung mengenal recako (riwayat adat Lampung dalam bentuk syair), peribahasa, pattun (pantun), teka-teki, cerita panjang (serambai) maupun cecawan yang merupakan bimbingan dan ajaran hidup dalam kemasyarakatan. Pattun merupakan salah satu jenis sastra lisan Lampung yang berbentuk puisi. Istilah pattun dikenal di lingkungan masyarakat Lampung Abung, Menggala (Tulangbawang), Pubian, Sungkai, Way Kanan, dan Melinting. Pada masyarakat Lampung pesisir dikenal dengan istilah segata, dan ada pula yang menyebut adi-adi. Isi pattun/segata/adi-adi secara umum berupa ungkapan perasaan (misalnya isi hati seorang bujang kepada seorang gadis), harapan-harapan, yang cara pengungkapannya umum nya bersifat menghibur. Pattun/segata/adi-adi terdiri dari bait-bait bersajak. Masing-masing bait-bait terdiri atas empat baris (tetapi ada juga berisi lima baris, karena divariasikan). Baris pertama dan kedua berupa sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi. Akan tetapi ada pula bait yang tidak mempunyai sampiran, semua baris dalam satu bait merupakan isi. Puisi jenis pattun lazim digunakan dalam acara-acara yang sifatnya bersuka ria. Misalnya dalam acara muda-mudi yang bersifat non formal yang disebut
kedayek/kedayok atau jagodamagh/jagadamar,27 maupun dalam acara muda-mudi yang diatur formal yaitu cangget. Contoh “Pattun Setimbalan” (pantun bersahut) oleh A.Effendi Sanusi
Nikeu adikkeu sayang Mulei sikep betuah
Payah nyak ngandan igham Ki nikeu mak kunah
Ki nikeu temmen sayang Tutuk cawokeu kidah Najin gippo dang juhang Haccur alam dang ghubah Dang ghubah sappai matei Ughik matei jejamo
Walau alam beggatei Nikeu gattungan nyawo Hai munih putik patak Ngeliwih putik kecicei Ki temmen ago din yak Tunggu wo tahhun lagei
(Kamu adikku sayang, gadis cantik bertuah.
sukar saya mengasuh rindu, jika kamu tidak kulihat Jika kamu benar-benar sayang, penuhilah harapanku
walau gempar jangan berpisah, hancur alam jangan berubah Jangan berubah selamanya, hidup mati bersama
walau alam berganti, kamu gantungan nyawa
27 Jagadamar (dilafalkan dalam bahasa Lampung: jagadamagh); ada juga yang menyebut miyah damar, adalah acara muda-mudi yang dilakukan pada malam hari. Damar adalah sejenis pohon yang
getahnya dapat dipakai sebagai minyak. Masyarakat Lampung menyebut damar sebagai lampu, pelita atau lentera. Pada acara jagadamar ini mereka duduk bersama-sama saling berhadapan. Acara diisi dengan saling melontarkan teka-teki, saling bertukar surat dengan bantuan pengelaku untuk diantar pada pihak yang dituju. Tidak seperti cangget, pertemuan ini bersifat non formal, walaupun tetap me-makai aturan-aturan umum dalam pergaulan.
Rina Martiara
101
Hai, burung kutilang, melirik burung pipitjika benar mau kepada saya, tunggulah dua tahun lagi)
Bebadung adalah sastra lisan yang berisi petuah atau ajaran yang berkenaan dengan agama Islam. Misalnya, perbuatan apa yang wajib dikerjakan dan apa yang harus dihindari oleh seorang muslim; perbuatan yang mendatangkan pahala dan perbuatan yang mendapat dosa. Pengungkapannya dilakukan dengan cara berdendang. Beba-dung lazim digunakan pada acara cangget, meninabobokkan anak, atau untuk didengar sendiri sebagai pengisi waktu bersantai. Beba-dung terdiri atas sejumlah bait yang masing-masing bait memiliki sajak. Akan tetapi pola sajaknya tidak tetap. Pola sajak bait yang satu tidak harus sama dengan pola bait sajak berikutnya. Hubungan antar bait ada yang menunjukkan hubungan terkait, dan ada pula yang tidak. Ditinjau dari sudut isinya, bebadung masuk ke dalam puisi yang berbentuk syair. Dari pola persajakannya, bebadung dapat disamakan dengan pantun. Contoh Bebadung “Rukun Iman” oleh A.Effendi Sanusi:
Ngejuk ingek di gham segalo Sanak tuho sebbai semanei Rukun iman enem pekaro Sai mustei gham yakinei Percayo di Allah ino utamo
Kaban malaikat gham perleu ngertei Tanggeh rasul No dang sappai lupo Mangi selamat di alam salah nei Kitab-kitab-No ghadeu nyato Ngissei amanat sai kak pastei Harei kiamat gham pastei tunggo Wawai jahhel anjak Illahei
(Memberi ingat kepada kita Tua, muda, perempuan, laki-laki Rukun iman enam perkara Yang harus kita yakini
Percaya kepada Allah itu utama Para malaikat kita perlu mengetahui Ajaran rasul-Nya jangan sampai lupa Agar selamat di akhir nanti
Kitab-kitab-Nya sudah nyata Berisi amanat yang sudah pasti Hari kiamat kita pasti jumpa Baik buruk dari Illahi)
Ringget/ pisaan/ highing-highing/ wayak/hahiwang/ ngenga-hado adalah sastra lisan yang berbentuk puisi yang dilantunkan de-ngan cara berdendang. Istilah ringget dikenal di masyarakat Lampung Abung, Menggala (Tulangbawang), dan Melinting. Pisaan dikenal di masyarakat Lampung Pubian, Sungkai dan Way Kanan. Highing-highing di masyarakat Lampung Pemanggilan Jelma Daya (Kome-ring), dan wayak/nghahaddo/hahiwang di masyarakat Lampung pem-inggir. Walaupun terdapat penamaan yang berbeda, akan tetapi secara umum yang dimaksud adalah sama. Baris ringget tidak bersampiran, semua baris mengandung isi. Isinya umumnya berupa cerita dan nasi-hat. Banyaknya bait tergantung pada hal yang ingin dikemukakan. Contoh Ringget Cecco (Sirih pinang) oleh A. Sanusi PPA.
Bareng katun penyuwak Seghayo bebidang bumei Rai sikam lajeu minjak Ghabai ketteu kawei Sikam pun lagei sanak Sangun kurang ngertei
Rina Martiara
103
Tigeh sikam di sessatCawo tian sai tuho Ago nanjarken adat Anjak sai siyo-siyo Lo mak dapek aghat Teninggal Rajo Aso
Ngunang-kunang lem nuwo io nyawoken sehajo
Ngunang-kunang di ghangek io nyawoken sai halek Ngunang-kunang di titei io nyawoken perattei Ngunag-kunang di anjung io nyawaken sai ngagung Kattono ajei sako
Ngedengei bunyei gasso --(suwo nettik canang--) Sirep kito segalo
Canang sikam bebunyei Dikayun tuho rajo Seghayo bebidang bumei Ngatur itin ketaro
Adat tittei gematei
Tenneng banyeu mak limbak Cappang di kanan kirei Ki cawo salah cacak Dang mettei suyo gaccei Rasan layen mingan mak Jeng mulo dilakunei Sai tuho ngebaco Sabbihis Sai sanak ngealif ba to Adat kak ghadeu biris Kak ghadeu di recako
(Ketika yang mengundang terlihat Serta para warga adat
Saya segera bergegas Takut kalau terlambat Saya masih muda
Memang kurang mengerti
Setibanya saya di balai kencana adat Berbicara mereka yang tua-tua Akan melaksanakan adat (kebiasaan) sejak zaman dahulu Ia tidak bisa hilang
Peninggalan para leluhur Bersenandung dalam rumah Ia mengemukakan maksud hati Bersenandung di pintu
Ia mengemukakan yang baik-baik Bersenandung di titian (tangga) Ia mengemukakan adat kebiasaan Bersenandung di anjung
Ia mengemukakan yang agung Kebiasaan sejak zaman dahulu
Mendengar bunyi perunggu (canang) --sambil memukul canang Mohon hadirin diam
Canang kami berbunyi
Diperintah oleh pemimpin jurai Serta para warga adat
Mengatur pelaksanaan acara Adat turun temurun
Sungai tenang tiada beriak
Rina Martiara
105
Andaikan ada perkataan yang salahJanganlah hadirin kecewa dan marah Hal ini tidak boleh tidak
Maka saya laksanakan
Yang tua membaca (ayat) Sabbihis Yang muda mengaji alif ba ta Adat sudah beres
Telah selesai dibicarakan)
Sesikun adalah suatu bentuk syair yang melalui untaian liriknya si penyair mencoba menyampaikan perasaan hatinya mengenai sesuatu yang perlu mendapat perhatian (bersifat imbauan). Subyek yang menjadi sasaran himbauan sifatnya umum (tidak kepada pribadi tertentu, tetapi kepada mereka yang merasa berkepentingan). Yang membedakannya dari bentuk syair Lampung lainnya, khususnya Ringget, Bebadung atau Ngediyo adalah waktu penyampaiannya. Sesikun biasanya disampaikan disaat menjelang fajar (subuh). Pada Ringget, biasanya apa yang disampaikan berupa pesan (juga himbauan) untuk suatu tujuan dan maksud yang jelas. Penyampaiannya tidak langsung kepada subjek atau pribadi yang dituju melainkan melalui perantara (mediator). Misalnya dari seorang bujang untuk gadis yang dicintainya, atau untuk seorang kerabat yang diharapkan bantuannya. Saat ini sering dilakukan pesan-pesan ini disampaikan melalui radio. Pada Bebandung, pesan-pesan atau untaian kalimat syair secara terselubung berupa ajakan-ajakan yang kemudian dijawab secara langsung dan berhadap-hadapan.