METODE PENELITIAN Desain, Lokasi dan Waktu Penelitian
Total 30 100 30 100 30 100 90 100 Seni Membina Hubungan (SMH)
Sedang 6 20.0 8 26.7 18 60.0 32 35.6
Baik 24 80.0 22 73.3 12 40.0 58 64.4
Total 30 100 30 100 30 100 90 100
Skor KED contoh menyebar antara 32-56 dari skor maksimum 60, dengan rata-rata skor 44.367. Proporsi terbesar tingkat KED contoh berada pada kategori baik (55.6%) dan tidak ada contoh yang berada pada kategori rendah. Tingkat KED paling baik terdapat pada kelompok I (70% pada kategori baik). Skor PE contoh menyebar antara 25-60 dari skor maksimum 60, dengan rata-rata skor 43.978. Proporsi terbesar tingkat PE contoh berada pada kategori baik (53.3%) dan tingkat PE paling baik terdapat pada kelompok I (70% pada kategori
baik). Skor KMD contoh menyebar antara 26-60 dari skor maksimum 60, dengan rata-rata skor 46.567. Proporsi terbesar tingkat KMD contoh berada pada kategori baik (65.6%) dan tingkat KMD paling baik terdapat pada kelompok I (80% pada kategori baik). Skor KEM contoh menyebar antara 29-60 dari skor maksimum 60, dengan rata-rata skor 434.078. Proporsi terbesar tingkat KEM contoh berada pada kategori baik (51.1%). Tingkat KEM paling baik terdapat pada kelompok I (80% pada kategori baik). Skor SMH contoh menyebar antara 29-60 dari skor maksimum 60, dengan rata-rata skor 45.722. Proporsi terbesar tingkat SMH contoh berada pada kategori baik (64.4%). Tingkat SMH paling baik terdapat pada kelompok I (80% pada kategori baik).
Secara umum kelompok I memiliki nilai yang paling baik pada kelima kategori kecerdasan emosional. Hal ini didukung oleh hasil temuan sebelumnya yang menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan emosional kelompok I juga paling baik. Hasil uji Oneway Anova menunjukkan bahwa ada perbedaan signfikan pada pengelolaan emosi value=0.003), kemampuan motivasi diri (ρ-value=0.004), kemampuan empati (ρ-value=0.003) dan seni membina hubungan (ρ-value=0.006) antar kelompok yang berbeda. Pada kategori pengelolaan emosi, kemampuan motivasi diri dan seni membina hubungan, kelompok I berbeda dengan kelompok III di mana kelompok I memiliki rata-rata skor yang lebih besar daripada kelompok III.
Pada kelompok III ada satu contoh yang pengelolaan emosinya kurang dan satu contoh yang kemampuan motivasi dirinya kurang. Hal ini diduga karena contoh pada kelompok III diberikan kebebasan mengekspresikan diri di sekolah sehingga ekspresi emosi yang seperti apapun diperbolehkan. Pihak sekolah/guru kurang memberikan pengarahan dan batasan pada contoh sehingga kesan yang didapat adalah kebebasan yang berlebih dan contoh menjadi kurang dapat mengelola emosinya. Selain itu, contoh pada kelompok III diberikan kebebasan untuk menjelajahi minat dan bakatnya tanpa adanya paksaan untuk menguasai bidang yang tidak disukai contoh. Dengan demikian diduga bahwa kemampuan motivasi contoh menjadi kurang baik karena bila menemui kesulitan dalam suatu hal, contoh cenderung menyerah dan hal ini pun dibiarkan oleh pihak sekolah/guru. Kualitas membina hubungan pada kelompok III yang juga lebih rendah dari kelompok I diduga karena pengembangan diri pada contoh kelompok III di sekolah lebih bersifat individual. Didukung pula oleh kemampuan
pengelolaan emosi kelompok III yang juga kurang, maka akan semakin menghambat contoh untuk membina hubungan dengan orang lain.
Adapun untuk kategori kemampuan empati, kelompok I berbeda dengan kelompok II dan III, di mana rata-rata skor kemampuan empati kelompok I lebih besar daripada kelompok II dan III. Contoh dari kelompok I pada dasarnya memiliki kecerdasan emosional yang lebih baik dari kedua kelompok lainnya sehingga diharapkan skor untuk kelima kategori kecerdasan emosionalnya pun lebih baik. Selain itu pada hasil temuan sebelumnya terlihat bahwa kemampuan mengelola emosi dan membina hubungan contoh kelompok I lebih baik dari kedua kelompok lainnya, di mana kedua kemampuan tersebut berkaitan positif dengan kemampuan empati sesorang (Goleman 1995). Dengan memiliki kemampuan mengelola emosi yang baik, contoh dapat mengendalikan emosi yang dirasakannya dan tidak sembarang mencari pelampiasan sehingga contoh juga dapat menahan diri dan merasakan emosi yang dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya. Contoh juga memiliki kemampuan membina hubungan yang baik, di mana kemampuan tersebut tidak dapat berkembang dengan baik tanpa kemampuan empati yang baik pula. Dengan kemampuan empati yang baik, contoh dapat mengerti emosi yang dirasakan orang-orang di sekitarnya sehingga dapat menempatkan dirinya dengan baik. Selain itu, contoh perempuan pada kelompok I lebih banyak daripada contoh laki-lakinya. Goleman (1995) menyatakan bahwa perempuan umumnya memiliki kemampuan empati yang lebih baik dibandingkan laki-laki. Hal ini menyebabkan timbulnya kecenderungan kemampuan empati yang tinggi pada kelompok I
Motivasi Belajar
Skor motivasi belajar contoh berkisar antara 62-97 dari skor maksimum 100, dengan rata-rata skor 79.478. Pada Tabel 14 terlihat bahwa lebih dari separuh contoh (77.8%) memiliki motivasi belajar yang baik dan tidak ada contoh yang motivasi belajarnya kurang. Hasil uji Oneway Anova menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan pada motivasi belajar contoh antar kelompok yang berbeda (ρ-value=0.508).
Menurut McCleland (1976) dalam Hawadi (2001), motivasi belajar atau motivasi berprestasi adalah motif yang mengarahkan tingkah laku seseorang dengan titik berat pada bagaimana prestasi tersebut dicapai. Motif inilah yang mendorong individu untuk mencapai keberhasilan dalam bersaing dengan suatu standar keunggulan tertentu. Motivasi dapat memberi arah dan tujuan pada
kegiatan belajar serta mempertahankan perilaku berprestasi dan mendorong siswa untuk memilih dan menyukai kegiatan belajar. Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Peranannya sebagai penumbuh gairah, memberikan rasa senang dan pembangkit semangat belajar.
Tabel 14 Sebaran contoh berdasarkan motivasi belajar
Motivasi Belajar Kelompok Total I II III n % n % n % N % Sedang 8 26.7 6 20.0 12 40.0 26 28.9 Baik 22 73.3 24 80.0 18 60.0 64 71.1 Total 30 100 30 100 30 100 90 100
Hawadi (2001) juga menyatakan bahwa secara umum motif untuk berprestasi dibagi menjadi dua, yaitu motivasi yang datang dari luar diri (ekstrinsik) dan motivasi yang datang dari dalam diri (intrinsik). Motivasi ekstrinsik muncul karena faktor dari luar diri, baik dari lingkungan rumah maupun sekolah. Sedangkan motivasi intrinsik muncul tanpa dorongan dari pihak luar. Siswa menyadari sepenuhnya manfaat belajar, bukan semata-mata ingin mendapat hadiah, pujian atau takut dihukum tapi lebih dari itu ia akan memperoleh pengetahuan. Pada kenyataannya, ada siswa yang motif berprestasinya lebih bersifat intrinsik sedangkan siswa lain lebih bersifat ekstrinsik.
Tabel 15 Sebaran contoh berdasarkan kecenderungan motivasi belajar
Kecenderungan Motivasi Belajar Kelompok Total I II III n % n % n % n % Intrinsik 20 66.7 17 56.7 14 46.7 51 56.7 Ekstrinsik 7 23.3 13 43.3 14 46.7 34 37.7 Seimbang 3 10.0 0 0.0 2 6.6 5 5.6 Total 30 100 30 100 30 100 90 100
Sebanyak 56.7 persen contoh memiliki kecenderungan motivasi intrinsik dan 5 contoh memiliki keseimbangan pada motivasi intrinsik dan ektrinsiknya. Hasil uji Oneway Anova juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada motivasi intrinsik value=0.076) maupun motivasi ekstrinsik (ρ-value=0.824) antar ketiga kelompok tersebut.
Hubungan Karakteristik Individu dengan Gaya Pengasuhan
Hasil uji statistik korelasi Rank Spearman menunjukkan bahwa karakteristik inidvidu yang berhubungan dengan gaya pengasuhan hanya jenis
kelamin. Jenis kelamin memiliki hubungan signifikan positif dengan skor gaya pengasuhan pelatih emosi (ρ-value=0.035, r=0.222). Hal ini menunjukkan bahwa orangtua memiliki kecenderungan untuk menerapkan gaya pengasuhan pelatih emosi pada contoh yang berjenis kelamin perempuan, seperti yang terlihat pada Tabel 16.
Tabel 16 Sebaran contoh menurut kelamin berdasarkan gaya pengasuhan
Gaya Pengasuhan Jenis Kelamin Total Laki-laki Perempuan n % n % n % M-TF-LF-PE 1 2.38 0 0.00 1 1.11 TM-LF-PE 1 2.38 2 4.17 3 3.33 M-LF 1 2.38 0 0.00 1 1.11 TM-M 2 4.76 1 2.08 3 3.33 LF-PE 0 0.00 2 4.17 2 2.22 M 2 4.76 0 0.00 2 2.22 TM 1 2.38 1 2.08 2 2.22 LF 2 4.76 2 4.17 4 4.44 PE 32 76.19 40 83.33 72 80.00 Total 42 100 48 100 90 100
Keterangan: M=mengabaikan, TM=tidak menerima, LF=Laissez-Faire, PE=pelatih emosi
Goleman (1995) menyatakan bahwa dalam menghadapi anak laki-laki dan perempuan, praktek pengasuhan akan berbeda karena adanya perbedaan pertumbuhan fisik serta perkembangan mental dan sosial anak. Pada umumnya, orangtua membahas emosi, kecuali amarah, lebih banyak pada anak perempuannya daripada dengan anak laki-laki. Anak perempuan lebih banyak mendapatkan informasi tentang emosi daripada anak laki-laki. Menurut Gunarsa dan Gunarsa (2001) orangtua berperan sebagai penentu utama dalam terbentuknya kepribadian anak yang akan dibawa hingga anak dewasa.
Hubungan Karakteristik Keluarga dengan Gaya Pengasuhan
Berdasarkan hasil uji statistik ditemukan bahwa variabel karakteristik keluarga yang berhubungan dengan gaya pengasuhan adalah usia ayah. Faktor besar keluarga memberikan pengaruh terhadap interaksi antara anggota keluarga itu sendiri. Berdasarkan Tabel 17 terlihat bahwa gaya pengasuhan pelatih emosi cenderung diterapkan oleh keluarga sedang.
Gunarsa dan Gunarsa (2001) menyatakan bahwa semakin besar jumlah anggota keluarga akan semakin banyak interaksi yang terjadi. Banyaknya interaksi yang dilakukan seorang anak dengan lingkungan keluarganya akan
mempengaruhi kecerdasan emosionalnya (Gottman & DeClair 1999). Anak dapat belajar bagaimana bertindak dan mengendalikan emosi. Selain itu kemampuan empati dan membina hubungannya juga diharapkan berkembang dengan baik. Meskipun demikian, hasil uji korelasi Rank Spearman menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara besar keluarga dengan gaya pengasuhan yang diterapkan (ρ-value=0.059, r=0.580).
Tabel 17 Sebaran contoh menurut besar keluarga berdasar gaya pengasuhan
Gaya Pengasuhan Besar Keluarga Total Kecil Sedang n % n % n % M-TF-LF-PE 1 1.89 0 0.00 1 1.11 TM-LF-PE 2 3.77 1 2.70 3 3.33 M-LF 0 0.00 1 2.70 1 1.11 TM-M 2 3.77 1 2.70 3 3.33 LF-PE 2 3.77 0 0.00 2 2.22 M 2 3.77 0 0.00 2 2.22 TM 2 3.77 0 0.00 2 2.22 LF 3 5.66 1 2.70 4 4.44 PE 39 73.58 33 89.19 72 80.00 Total 53 100 37 100 90 100
Keterangan: M=mengabaikan, TM=tidak menerima, LF=Laissez-Faire, PE=pelatih emosi
Usia ayah berhubungan signifikan positif dengan gaya pengasuhan mengabaikan (ρ-value=0.037, r=0.220) dan Laissez-Faire (ρ-value=0.023, r=0.239). Dengan bertambahnya usia ayah maka ada kecenderungan untuk menerapkan pola asuh emosi mengabaikan atau Laissez Faire kepada contoh.
Diduga karena semua ayah contoh memiliki pekerjaan, maka seiring dengan bertambahnya usia kegiatan ayah di luar rumah semakin bertambah karena kesibukan pekerjaan. Gottman & DeClaire (1999) menyatakan bahwa orangtua yang sibuk dengan pekerjaan memiliki kecenderungan untuk mengabaikan atau tidak menghiraukan anak dari segi kebutuhan emosinya. Oleh karena itu perhatian ayah untuk anak semakin berkurang dan gaya pengasuhan mengabaikan atau Laissez Faire akan cenderung diterapkan. Padahal keterlibatan seorang ayah dalam mengasuh anak itu sangat penting. Kehidupan seorang anak akan sangat ditingkatkan oleh ayah yang secara emosional hadir, meneguhkan dan mampu memberikan hiburan pada saat-saat sedih. Dengan cara yang sama, anak-anak dapat dirugikan oleh ayah-ayah yang suka melecehkan, sangat mudah mengecam suka menghina atau dingin emosinya.
Tabel 18 Sebaran contoh menurut usia ayah berdasarkan gaya pengasuhan
Gaya Pengasuhan
Kategori Usia Ayah
Total Dewasa dini Dewasa madya Dewasa lanjut n % n % n % n % M-TF-LF-PE 1 2.94 0 0.00 0 0.00 1 1.11 TM-LF-PE 1 2.94 2 3.64 0 0.00 3 3.33 M-LF 0 0.00 1 1.82 0 0.00 1 1.11 TM-M 0 0.00 3 5.45 0 0.00 3 3.33 LF-PE 1 2.94 1 1.82 0 0.00 2 2.22 M 1 2.94 1 1.82 0 0.00 2 2.22 TM 0 0.00 2 3.64 0 0.00 2 2.22 LF 1 2.94 3 5.45 0 0.00 4 4.44 PE 29 85.29 42 76.36 1 100.0 72 80.00 Total 34 100 55 100 1 100 90 100
Keterangan: M=mengabaikan, TM=tidak menerima, LF=Laissez-Faire, PE=pelatih emosi
Tabel 19 Sebaran contoh menurut pendidikan orangtua berdasarkan gaya pengasuhan
Gaya Pengasuhan
Tingkat Pendidikan
Total Pendidikan Menengah Perguruan Tinggi
n % n % n % Ayah M-TF-LF-PE 0 0.00 1 1.25 1 1.11 TM-LF-PE 0 0.00 3 3.75 3 3.33 M-LF 0 0.00 1 1.25 1 1.11 TM-M 0 0.00 3 3.75 3 3.33 LF-PE 0 0.00 2 2.50 2 2.22 M 0 0.00 2 2.50 2 2.22 TM 0 0.00 2 2.50 2 2.22 LF 1 10.00 3 3.75 4 4.44 PE 9 90.00 63 78.75 72 80.00 Total 10 100 80 100 90 100 Ibu M-TF-LF-PE 0 0.00 1 1.41 1 1.11 TM-LF-PE 1 5.26 2 2.82 3 3.33 M-LF 0 0.00 1 1.41 1 1.11 TM-M 0 0.00 3 4.23 3 3.33 LF-PE 1 5.26 1 1.41 2 2.22 M 0 0.00 2 2.82 2 2.22 TM 0 0.00 2 2.82 2 2.22 LF 1 5.26 3 4.23 4 4.44 PE 16 84.21 56 78.87 72 80.00 Total 19 100 71 100 90 100
Keterangan: M=mengabaikan, TM=tidak menerima, LF=Laissez-Faire, PE=pelatih emosi
Hasil uji korelasi Rank Spearman juga menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ayah maupun ibu tidak memiliki hubungan signifikan dengan gaya pengasuhan (ρ-value=0.342, r=-0.101 dan ρ-value=0.608, r=-0.055). Temuan ini berbeda dengan pendapat Alsa dan Bachroni (1984) dalam Nuraini (2004), yang
menyatakan bahwa tingkat pendidikan orangtua mempunyai korelasi positif dengan cara mendidik anak. Dengan semakin tinggi pendidikan orangtua, diharapkan pola asuh yang diterapkan akan semakin baik. Sumarwan (2003) menyatakan bahwa tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi nilai-nilai yang dianutnya, cara berpikir, cara pandang dan persepsinya terhadap suatu masalah. Oleh karena itu tingkat pendidikan, baik secara langsung maupun tidak akan menentukan baik buruknya komuniksi antar anggota keluarga (Gunarsa dan Gunarsa 1990). Pendidikan yang diperoleh ibu akan mempengaruhi cara membimbing dan mendidik anak. Dengan memiliki pendidikan yang baik, orangtua dapat memberikan stimulasi lingkungan (fisik, sosial, emosional dan psikologis) yang lebih bagi anaknya dibandingkan dengan orangtua yang tingkat pendidikannya rendah. Meskipun demikian pada Tabel 18 terlihat bahwa ada kecenderungan orangtua yang pendidikannya tinggi untuk menerapkan gaya pengasuhan pelatih emosi pada contoh.
Hubungan Karakteristik Individu dengan Kecerdasan Emosional
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa usia contoh memiliki hubungan signifikan negatif dengan kecerdasan emosional (ρ-value=0.018, r=-0.249). Selain itu, usia contoh juga memiliki hubungan signifikan negatif dengan kesadaran emosi diri value=0.039, r=-0.218), pengelolaan emosi (ρ-value=0.025, r=-0.236) dan kemampuan motivasi diri (ρ-value=0.001, r=-0.351). Hal ini menunjukkan bahwa semakin muda usia contoh maka kecerdasan emosional dan kemampuan pada keempat kategori kecerdasan emosional tersebut akan semakin baik. Pada Tabel 20 dapat dilihat bahwa contoh yang berusia di bawah 11 tahun lebih dari separuhnya (56.58%) adalah perempuan.
Berdasarkan hasil temuan sebelumnya, ditemukan adanya kecenderungan orangtua contoh untuk menerapkan gaya pengasuhan pelatih emosi pada contoh perempuan. Oleh karena itu contoh perempuan umumnya memiliki kecerdasan emosional yang lebih baik daripada contoh laki-laki, seperti yang terlihat pada Tabel 20. Kecerdasan emosional yang baik tersebut pada akhirnya turut mempengaruhi kategori kecerdasan emosional lainnya yang juga menjadi lebih baik dari contoh laki-laki. Dengan demikian pada penelitian ini muncul pola kecenderungan di mana contoh dengan usia muda memiliki kecerdasan emosional yang lebih baik.
Tabel 20 Sebaran contoh menurut jenis kelamin berdasar kecerdasan emosional Kecerdasan emosional Jenis Kelamin Total Laki-laki Perempuan n % n % n % Sedang 20 47.62 14 29.17 34 37.78 Baik 22 52.38 34 70.83 56 62.22 Total 42 100 48 100 90 100
Selain itu, ditemukan juga hubungan signifikan positif antara jenis kelamin contoh dengan kesadaran emosi diri (ρ-value=0.023, r=0.239) dan kemampuan empati (ρ-value=0.021, r=0.244). Hal ini menunjukkan bahwa contoh dengan jenis kelamin perempuan memiliki kesadaran emosi dan kemampuan empati yang lebih baik daripada laki-laki, seperti yang terlihat pada Tabel 20. Temuan ini sejalan dengan pendapat Goleman (1995) yang menyatakan bahwa anak perempuan lebih terampil dalam mengekspresikan perasaaan dan memiliki kebutuhan untuk berada dan menjaga suatu ikatan sehingga kemampuan empatinya lebih berkembang. Berbeda dengan anak laki-laki yang kurang terampil mengutarakan emosinya dan memiliki kebanggaan akan kemandirian dan kemampuan indivudialnya. Hal tersebut juga menjadikan anak perempuan lebih sadar secara emosi. Goleman (1995) juga menyebutkan bahwa orangtua memiliki kecenderungan untuk membicarakan emosi dengan anak perempuannya sehingga anak perempuan secara umum lebih sadar secara emosi dibandingkan anak laki-laki.
Tabel 21 Sebaran contoh menurut jenis kelamin berdasarkan kesadaran emosi diri dan kemampuan empati
Kategori Kecerdasan Emosional Jenis Kelamin Total Laki-laki Perempuan n % n % n % Kesadaran Emosi Diri
Sedang 24 57.14 16 33.33 40 44.44 Baik 18 42.86 32 66.67 50 55.56 Total 42 100 48 100 90 100 Kemampuan Empati Sedang 26 61.90 18 37.50 44 48.89 Baik 16 38.10 30 62.50 46 51.11 Total 42 100 48 100 90 100
Hubungan Karakteristik Keluarga dengan Kecerdasan Emosional
Variabel karakteristik keluarga yang memiliki hubungan dengan kecerdasan emosional adalah pekerjaan utama ibu, pendapatan tambahan ayah dan pendapatan utama ibu. Terdapat hubungan signifikan yang positif antara pekerjaan utama ibu (ρ-value=0.010, r=0.270) dan pendapatan tambahan ayah (ρ-value=0.017, r=0.251) dengan kecerdasan emosional. Adapun pendapatan utama ibu berhubungan signifikan negatif dengan kecerdasan emosional (ρ-value=0.003, r=-0.311).
Tabel 22 Sebaran contoh menurut status kerja ibu berdasarkan kecerdasan emosional Status Kerja Kecerdasan Emosional Total sedang baik n % n % n % Bekerja 25 48.08 27 51.92 52 100 Tidak bekerja 9 23.68 29 76.32 38 100 Total 34 37.78 56 62.22 90 100
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa pekerjaan ibu memiliki hubungan negatif dengan kecerdasan emosional contoh. Hal ini menunjukkan bahwa ibu yang bekerja di luar rumah cenderung memiliki anak dengan kecerdasan emosional yang lebih rendah daripada ibu yang bekerja sebagai ibu rumah tangga. Pada Tabel 22 terlihat bahwa contoh dengan ibu yang bekerja sebagai ibu rumah tangga memiliki kecerdasan emosional yang lebih baik daripada contoh dengan ibu yang bekerja di luar rumah.
Selain itu, hasil uji statistik juga menunjukkan bahwa pendapatan tambahan ayah berhubungan signifikan positif dengan kecerdasan emosional. Hal ini menunjukkan bahwa bila ayah contoh memiliki pendapatan tambahan maka kecerdasan emosional contoh akan lebih baik. Dengan memiliki pendapatan tambahan yang cukup maka dapat diasumsikan bahwa keluarga tersebut lebih aman secara ekonomi. Freeman dan Munandar (2000) berpendapat bahwa semakin aman orangtua dari segi ekonomi dan emosional maka akan dapat lebih banyak mencurahkan perhatian untuk membimbing, merawat serta mendidik anak. Dengan demikian ayah dapat menyediakan suasana yang kondusif secara emosional di rumah bagi contoh.
Sejalan dengan temuan sebelumnya pada hubungan pekerjaan ibu dengan kecerdasan emosional, pendapatan tambahan ibu memiliki hubungan signifikan negatif dengan kecerdasan emosional contoh. Hal ini menunjukkan
bahwa bila ibu memiliki pendapatan utama maka kecerdasan emosional contoh akan lebih rendah dibandingkan contoh dengan ibu yang tidak memiliki pendapatan, seperti yang terlihat pada Tabel 23.
Tabel 23 Sebaran contoh menurut pendapatan utama ibu berdasarkan kecerdasan emosional
Pendapatan Utama Ibu
Kecerdasan emosional Total sedang baik n % n % n % Tidak Berpenghasilan 9 28.13 23 71.88 32 100 <= 2500000 4 18.18 18 81.82 22 100 2500001 - 5000000 13 50.00 13 50.00 26 100 5000001 - 7500000 8 80.00 2 20.00 10 100 Total 34 37.78 56 62.22 90 100
Bila ibu tidak bekerja (ibu rumah tangga) dan tidak memiliki penghasilan maka tingkat kecerdasan emosional anak akan lebih baik karena ibu memiliki lebih banyak waktu untuk mencurahkan perhatiannya pada perkembangan emosi anak dan waktunya tidak akan tersita oleh pekerjaan. Hal ini sejalan dengan pendapat Goleman (1995) dan Gottman & DeClaire (1999) yang menyatakan bahwa orangtua yang sibuk bekerja memiliki kecenderungan untuk mengabaikan anak secara emosional sehingga akan menghambat perkembangan kecerdasan emosionalnya.
Hubungan Karakteristik Individu dengan Motivasi Belajar
Usia contoh memiliki hubungan signifikan negatif dengan motivasi belajar contoh (ρ-value=0.008, r=-0.277). Contoh dengan usia yang lebih muda memiliki motivasi belajar yang lebih baik daripada contoh dengan usia yang lebih tua. Hasil temuan sebelumnya pada kecerdasan emosional memperlihatkan bahwa tingkat kecerdasan emosional dan kemampuan motivasi diri contoh dengan usia muda lebih baik daripada yang usianya lebih tua.
Tabel 24 Sebaran contoh menurut usia berdasarkan motivasi belajar
Motivasi Belajar Usia (tahun) Total 9.1-10 10.1-11 11.1-12 n % n % n % n % Sedang 2 7.41 13 26.53 5 35.71 20 22.22 Baik 25 92.59 36 73.47 9 64.29 70 77.78 Total 27 100 49 100 14 100 90 100
Selain itu juga, contoh perempuan yang tingkat motivasinya baik (83.3%) lebih banyak daripada contoh laki-laki (71.4%). Karena sebagian besar contoh perempuan berusia lebih muda daripada contoh laki-laki maka usia contoh yang lebih muda cenderung memiliki tingkat motivasi yang lebih baik pula.
Tabel 25 Sebaran contoh menurut jenis kelamin berdasarkan motivasi belajar
Motivasi Belajar Jenis Kelamin Total Laki-laki Perempuan n % n % n % Sedang 12 28.57 8 16.67 20 22.22 Baik 30 71.43 40 83.33 70 77.78 Total 42 100 48 100 90 100
Hubungan Karakteristik Keluarga dengan Motivasi Belajar
Variabel karakteristik keluarga yang berhubungan dengan motivasi belajar adalah usia ibu. Usia ibu memiliki hubungan signifikan negatif dengan motivasi belajar contoh (ρ-value=0.018, r=-0.249). Hal ini menunjukkan dengan semakin muda usia ibu maka akan semakin baik motivasi belajar contoh. Pada Tabel 26 terlihat bahwa motivasi belajar contoh dengan ibu yang berada pada kategori dewasa dini lebih baik daripada motivasi belajar contoh dengan ibu yang berada pada kategori usia dewasa madya.
Tabel 26 Sebaran contoh menurut usia ibu berdasarkan motivasi belajar
Motivasi Belajar
Kategori Usia Ibu
Total Dewasa dini Dewasa madya
n % n % n %
Sedang 13 18.31 7 36.84 20 22.22
Baik 58 81.69 12 63.16 70 77.78
Total 71 100 19 100 90 100
Sebanyak 70.42 persen ibu yang berada pada kategori usia dewasa dini hanya/baru memiliki satu orang anak sehingga perhatian ibu dapat terfokus pada satu orang anaknya. Dengan memberikan perhatian yang cukup maka ibu dapat mengembangkan motivasi belajar yang baik pada anak. Selain itu, ditemukan bahwa sebanyak 89.29 persen contoh yang berusia di bawah 11 tahun merupakan anak pertama. Hasil temuan sebelumnya pada hubungan kecerdasan emosional dengan usia contoh, menunjukkan bahwa contoh dengan usia yang lebih muda cenderung memiliki kecerdasan emosional yang lebih baik. Pada akhirnya kecerdasan emosional contoh yang baik tersebut akan mendorong terbentuknya motivasi belajar contoh yang baik pula.
Tabel 27 Sebaran contoh menurut usia ibu berdasar gaya pengasuhan
Gaya Pengasuhan
Kategori Usia Ibu
Total Dewasa dini Dewasa madya
n % n % n % M-TF-LF-PE 1 1.41 0 0.00 1 1.11 TM-LF-PE 3 4.23 0 0.00 3 3.33 M-LF 0 0.00 1 5.26 1 1.11 TM-M 1 1.41 2 10.53 3 3.33 LF-PE 1 1.41 1 5.26 2 2.22 M 1 1.41 1 5.26 2 2.22 TM 2 2.82 0 0.00 2 2.22 LF 3 4.23 1 5.26 4 4.44 PE 59 83.10 13 68.42 72 80.00 Total 71 100 19 100 90 100
Keterangan: M=mengabaikan, TM=tidak menerima, LF=Laissez-Faire, PE=pelatih emosi
Ditemukan juga adanya kecenderungan ibu yang berada pada usia dewasa dini untuk menerapkan gaya pengasuhan pelatih emosi, seperti yang terlihat pada Tabel 27. Gottman & DeClaire (1999) menyatakan bahwa gaya pengasuhan yang melatih emosi dapat mendorong terbentuknya kecerdasan emosional yang baik, yang pada akhirnya dapat memberikan dorongan yang positif pula pada perkembangan motivasi belajar anak.
Hubungan Gaya Pengasuhan dengan Kecerdasan Emosional
Kecenderungan gaya pengasuhan berhubungan signifikan positif dengan kecerdasan emosional (ρ-value=0.044, r=0.213). Bila gaya pengasuhan orangtua semakin melatih emosi maka kecerdasan emosional anak pun akan semakin baik. Kecenderungan tersebut dapat dilihat pada Tabel 28.
Temuan ini sejalan dengan pendapat Gottman & DeClaire (1999) yang menyatakan bahwa gaya pengasuhan yang diterapkan orangtua akan mempengaruhi kecerdasan emosional anak. Karena keluarga merupakan salah satu faktor yang penting dalam perkembangan kecerdasan emosional seorang anak (Goleman 1995) maka gaya pengasuhan yang diterapkan orangtua haruslah yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan emosi anak, dalam hal ini gaya pengasuhan yang dimaksudkan adalah gaya pengasuhan pelatih emosi (Gottman & DeClaire 1999). Elizabeth Ellis dalam Shapiro (1999) mengungkapkan, banyak penelitian yang menyatakan bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga yang menerapkan keotoriteran dan pengawasan yang ketat tidak memperlihatkan pola yang berhasil. Anak-anak mereka cenderung tidak bahagia, penyendiri dan sulit mempercayai orang lain.
Tabel 28 Sebaran contoh menurut gaya pengasuhan berdasarkan kecerdasan emosional Gaya Pengasuhan Kecerdasan Emosional Total Sedang Baik n % n % n % M-TF-LF-PE 1 2.94 0 0.00 1 1.11 TM-LF-PE 2 5.88 1 1.79 3 3.33 M-LF 1 2.94 0 0.00 1 1.11 TM-M 3 8.82 0 0.00 3 3.33 LF-PE 1 2.94 1 1.79 2 2.22 M 1 2.94 1 1.79 2 2.22 TM 0 0.00 2 3.57 2 2.22 LF 1 2.94 3 5.36 4 4.44 PE 24 70.59 48 85.71 72 80.00 Total 34 100 56 100 90 100
Keterangan: M=mengabaikan, TM=tidak menerima, LF=Laissez-Faire, PE=pelatih emosi
Selain memiliki kecerdasan emosional yang baik, anak-anak yang orangtuanya secara mantap mempraktekkan pelatihan emosi akan memiliki kesehatan fisik yang lebih baik serta memperoleh nilai yang lebih baik secara akademis bila dibandingkan dengan anak-anak yang orangtuanya tidak memberi pedoman semacam itu. Hal tersebut dapat terjadi karena dengan kecerdasan emosional yang baik maka anak mendapatkan dorongan positif pada kemampuan motivasi dirinya, yang di dalamnya mencakup motivasi belajar.