• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. Motif Binatang

2.6.1. Arsitektur Candi

2.6.1.1. Seni dan Tata Cara Pembuatan Candi

Menurut Acharya (1980), berdasarkan dari kitab Manasara Silpasastra (Kitab agama Hindu yang menjelaskan mengenai seni dan tata cara pembuatan bangunan Hindu), tata cara pembuatan candi terdiri dari beberapa tahapan. Tanah untuk candi dipilih jenis tanah yang baik berdasarkan warna, bau, kelandaian, jenis tanaman, kandungan tanah yang subur. Pendirian bangunan suci sebaiknya dekat dengan air (tirtha) baik air sungai, terutama di dekat pertemuan dua sungai, danau, laut dan walaupu tidak ada harus dibuatkan kolam buatan halaman kuil, atau diletakkan sebuah jambangan berisi air di dekat pintu masuk bangunan suci tersebut.Lokasi bangunan suci (candi) didirikan di puncak bukit, lereng bukit, lembah atau hutan.

Tindakan selanjutnya adalah mencari titik pusat halaman dengan menggunakan sebatang sangkhu yaitu sebatang kayu yang dibuat khusus. Setelah itu dicari keempat mata angin serta arah keempat penjuru lainnya (Santiko,1995),keempat arah mata angin ini terkait dengan

57

kedudukan Brahman sebagai purusa dan membentuk diagram. Kemudian menggambar diagram tersebut di atas tanah. Diagram yang terkenal adalah Vastu-purusamandala, diagram Vastu-purusamandala berbentuk bujursangkar dan dibagi menjadi kotak-kotak kecil. Jumlah kotak-kotak kecil berbeda-beda tergantung jenis bangunan suci yang akan didirikan (Santiko,1995).

Menurut Acharya (1981), Bentuk rumah yang terbaik untuk dewa dan para brahmana adalah bujur sangkar, yaitu bentuk dasar dalam arsitektur India. Disebutkan pula bahwa bentuk terbaik berikutnya adalah persegi panjang dengan catatan,panjangnya tidak boleh melebihi dua kali lebarnya. Bentuk ini mengacu pada figur Vastu Purusha Mandala dan menjadi bentuk umum untuk candi. Bangunan candi sendiri harus menghadap ke timur, yang merupakan arah yang paling menguntungkan karena merupakan arah datangnya cahaya matahari. Dari timur matahari

muncul menghalau kegelapan, memberi kehidupan, pembawa

kebahagiaan. Vastu shastra menyatakan bahwa bangunan yang proporsi dan orientasinya salah akan menciptakan suasana yang kondusif untuk datangnya penyakit, kerusakan dan kematian.

Titik pusat bangunan yang tertutup diterapkan pada kuil-kuil dan candi Hindu, dimana di atas titik pusat (titik suci) terdapat bentuk atap berbentuk meru (yang disebut Wimana untuk puncak candi atau kuil). Dari puncak berbentuk meru yang disebut Wimana itulah cahaya dewata masuk ke dalam bangunan.

58 2.6.1.2. Bagian-Bagian Bangunan Candi

Umumnya folosofi sebuah bangunan candi mengikuti pola pemikiran bahwa bangunan merupakan replika dari alam semesta. Menurut Atmadi (1979), candi dibangun dengan konsep ajaran Hindu yaitu Mandala (Mikrokosmos alam semesta), yang terbagi menjadi tiga bagian yaitu :

1. Bhurloka (Kamadhatu)/ kaki candi :

Bagian terbawah dari sebuah candi beserta lapangan sekeliling candi dimana candi tersebut berdiri, yang melambangkan dunia keinginan atau hasrat tempat dimana terdapat makhluk hidup yang biasa kita temui.

2. Bhuvarloka (Rupadhatu)/ badan candi :

Bagian tengah dari susunan bangunan candi, yaitu dunia tengah yang ditempati oleh orang-orang suci seperto Resi (seseorang suci yang mendapatkan wahyu dari agama Hindu).

3. Svarloka (Arupadhatu)/ atap candi :

Bagian atas atau atap candi yang melambangkan tempat tertinggi dan tersuci yang didiami oleh dewa-dewi dengan kedudukan teratas.

59 2.6.1.3. Arsitektur Candi Hindu di Jawa

Soetarno (1986), seorang ahli percandian Indonesia pernah mengadakan tinjauan ringkas terhadap bangunan candi di Jawa, dinyatakan bahwa bangunan candi di Jawa mempunyai dua langgam, yaitu Langgam Jawa Tengah dan Langgam Jawa Timur. Pengelompokan

candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta berdasarkan wilayah

administratifnya saat ini sulit dilakukan, tetapi berdasarkan ciri-cirinya candi-candi tersebut dapat dikelompokkan dalam candi-candi di wilayah utara dan candi-candi di wilayah selatan.

Candi-candi yang terletak di wilayah utara, yang umumnya dibangun oleh Wangsa Sanjaya, merupakan candi Hindu dengan bentuk bangunan yang sederhana, batur tanpa hiasan, dan dibangun dalam kelompok namun masing-masing berdiri sendiri serta tidak beraturan

Gambar 2.10 Struktur Candi Tampak Samping Sumber : Djoko, 1983

60

beraturan letaknya. Yang termasuk dalam kelompok ini, di antaranya: Candi Dieng dan Candi Gedongsanga. Candi di wilayah selatan, yang umumnya dibangun oleh Wangsa Syailendra, merupakan candi Buddha dengan bentuk bangunan yang indah dan sarat dengan hiasan. Candi di wilayah utara ini umumnya dibangun dalam kelompok dengan pola yang sama, yaitu candi induk yang terletak di tengah dikelilingi oleh barisan candi perwara. Yang termasuk dalam kelompok ini, di antaranya: Candi Prambanan, Candi Mendut, Candi Kalasan, Candi Sewu, dan Candi Borobudur.

Candi-candi di Jawa Timur umumnya usianya lebih muda dibandingkan yang terdapat di Jawa Tengah dan Yogyakarta, karena pembangunannya dilakukan di bawah pemerintahan kerajaan-kerajaan penerus kerajaan Mataram Hindu, seperti Kerajaan Kahuripan, Singasari, Kediri dan Majapahit. Bahan dasar, gaya bangunan, corak dan isi cerita relief candi-candi di Jawa Timur sangat beragam, tergantung pada masa pembangunannya. Misalnya, candi-candi yang dibangun pada masa Kerajaan Singasari umumnya dibuat dari batu andesit dan diwarnai oleh ajaran Tantrayana (Hindu-Buddha), sedangkan yang dibangun pada masa Kerajaan Majapahit umumnya dibuat dari bata merah dan lebih diwarnai oleh ajaran Buddha.

Menurut Soetarno (1986), ciri-ciri candi langgam Jawa Tengah adalah bentuk bangunanny tambun, atapnya berundak-undak, puncaknya berbentuk stupa, gawang pintu dan relung berhiaskan kala makara,

61

reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya naturalis, letak candi di tengah halaman, kebanyakan menghadap ke timur dan terbuat dari batu andesit.

Candi langgam Jawa Timur memiliki ciri-ciri bentuk bangunannya ramping, atapnya merupakan perpaduan tingkatan, puncaknya berbentuk kubus, makara tidak ada dan pintu relung hanya ambang atasnya saja yang diberi kepala kala, reliefnya timbul sedikit saja dan lukisannya simbolis menyerupai wayang kulit, letak candi di bagian belakang halaman, kebanyakan menghadap ke barat dan terbuat dari bata.

Dokumen terkait