INDIKATOR PENDUKUNG
2.4.6 Sensitivitas Terhadap Risiko Pasar (Sensitivity To Market Risk)
Faktor terakhir dari rasio keuangan model CAMELS adalah faktor sensitivitas terhadap resiko pasar atau yang dikenal juga dengan sebutan sensitivity to market risk. Faktor ini merupakan faktor yang baru ditambahkan pada tahun 2004 yang berdasar pada SE BI No 6/23/DPNP 31 Mei 2004, dari yang sebelumnya adalah rasio keuangan model CAMEL. Faktor sensitivitas ini digunakan untuk mengukur seberapa besar tingkat sensitivitas suatu bank terhadap resiko pasar yang terjadi. Resiko pasar itu sendiri adalah resiko yang timbul akibat dari pergerakan faktor pasar dam juga pergerakan dari variabel harga pasar dari portofolio yang dimiliki oleh
46
sebuah bank. Penilaian terhadap faktor sensitivitas terhadap risiko pasar meliputi penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut:
1. Modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi Suku bunga dibandingkan dengan potential loss sebagai akibat Fluktuasi (adverse movement) suku bunga;
2. Modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi Nilai tukar dibandingkan dengan potential loss sebagai akibat Fluktuasi (adverse movement) nilai tukar; dan
3. Kecukupan penerapan sistem manajemen risiko pasar.
Berikut Matriks perhitungan/analisis setiap komponen faktor sensitivity to market risk:
Tabel 2.15.
Matriks Perhitungan Komponen sensitivity to market risk
NO KOMPONEN FORMULA &
INDIKATOR PENDUKUNG KETERANGAN 1 Modal atau cadangan yang dibentuk untuk mencover fluktuasi suku bunga dibandingkan dengan Potential Loss Suku Bunga (=Eksposur Trading Book + Banking Book x Fluktuasi Suku Bunga)
Ekses Modal Potensial Loss Suku
Bunga
a. Potensial loss suku bunga adalah (gap position dari eksposur trading book + banking book) x fluktuasi suku bunga. b. Ekses Modal adalah kelebihan modal dari modal minimum yang ditetapkan yang khusus digunakan untuk antisipasi risiko suku bunga. c. Fluktuasi suku
bunga dihitung berdasarkan skenario analisis atas perubahan
47 suku bunga. d. Trading Book adalah seluruh posisi perdagangan Bank (proprietary position) pada instrumen keuangan dalam neraca dan rekening administratif serta transaksi derivatif yang: 1) Dimaksudkan untuk dimiliki dan dijual kembali dalam jangka pendek; 2) Dimiliki untuk tujuan memperoleh keuntungan jangka pendek dari perbedaan secara aktual dan atau potensial atas nilai jual dan nilai beli atau dari harga lain atau dari perbedaan suku bunga; 3) Timbul dari kegiatan perantaraan (brokering) dan kegiatan pembentukan pasar (market making); atau 4) Diambil untuk kegiatan lindung nilai (hedging) komponen Trading Book lain.
48
e. Banking Book adalah semua elemen/posisi lainnya yang tidak termasuk dalam Trading Book. 2 Modal atau cadangan yang dibentuk untuk meng-cover fluktuasi nilai tukar dibandingkan dengan Potential Loss Nilai Tukar (=Eksposur Trading Book valas +
Banking Book Valas x Fluktuasi Nilai Tukar)
Ekses Modal Potensial Loss Nilai
Tukar
a. Potensial loss nilai tukar adalah (gap position dari eksposur trading book valas + banking book valas) x fluktuasi nilai tukar. b. Ekses Modal adalah kelebihan modal dari modal minimum yang ditetapkan yang khusus digunakan untuk antisipasi risiko nilai tukar. c. Fluktuasi nilai tukar berdasarkan skenario analisis atas perubahan nilai tukar. 3 Kecukupan penerapan Sistem Manajemen Risiko Pasar (Market Risk)
Penerapan Bank terhadap Sistem Manajemen Risiko Pasar meliputi: a. pengawasan aktif
dewan Komisaris dan Direksi Bank terhadap potensi eksposur Risiko Pasar Antara lain pemahaman Komisaris dan Direksi Bank terhadap potensi eksposur risiko pasar. b. kecukupan kebijakan, prosedur, dan
penetapan limit Risiko Pasar
Antara lain kesesuaian antara kebijakan, prosedur, dan limit risiko pasar dengan ukuran dan kompleksitas Bank serta
penerapannya. c. kecukupan proses Antara lain meliputi:
49 identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian Risiko Pasar serta sistem informasi Manajemen Risiko Pasar a. penilaian terhadap metode pengukuran risiko pasar, b. asumsi-asumsi yang digunakan dalam model risiko, c. cakupan dalam sistem informasi (aktivitas trading book dan banking book) untuk mendukung kecukupan, keakuratan, dan ketepatan waktu pelaporan kepada manajemen, d. metode pengakuan laba rugi, e. penetapan tanggung jawab pengukuran dan pemantauan risiko pasar. d. efektivitas pelaksanaan pengendalian intern (Internal Control) terhadap eksposur risiko pasar termasuk kecukupan fungsi audit intern
Antara lain penetapan jalur pelaporan dan pemisahan fungsi yang jelas serta kaji ulang yang efektif serta pelaksanaan tindakan korektif.
Untuk penetapan peringkat setiap komponen dilakukan perhitungan dan analisis dengan mempertimbangkan indikator pendukung dan atau pembanding yang relevan dengan mempertimbangkan unsur judgement yang didasarkan atas materialitas dan signifikansi dari setiap komponen yang dinilai.
50
Berdasarkan uraian mengenai faktor – foktor CAMELS yang telah dijelaskan tersebut diatas, maka sesuai dengan peraturan BI kriteria penilaian kesehatan keuangan bank baik bank umum maupun BPR ditetapkan sebagai berikut:
Tabel 2.16
Bobot Penilaian Tingkat Kesehatan Bank
No Faktor CAMELS Bobot
BU BPR
1 Permodalan 25% 30%
2 Kualitas Aktiva Produktif 25% 30% 3 Kualitas Manajemen 20% 20% 4 Rentabilitas(Earning) 10% 10%
5 Likuiditas 10% 10%
6 Sensitivitas 10%
Perbedaan penilaian tingkat kesehatan antara bank umum dan BPR hanya pada bobot masing-masing faktor CAMELS. Yang mana faktor sensitivitas berlaku bagi BPR atau dengan kata lain khusus untuk BPR masih mengacu pada SK DIR BI No. 30/12/KEP/DIR tanggal 30 April 1997 selanjutnya dilakukan sama tanpa ada pembedaan antara bank umum dan BPR.
Dalam rangka menetapkan peringkat setiap komponen dilakukan perhitungan dan analisis dengan mempertimbangkan indikator pendukung dan atau pembanding yang relevan. Berdasarkan hasil penetapan peringkat setiap komponen Proses penetapan peringkat setiap faktor dilaksanakan setelah mempertimbangkan unsur judgement yang didasarkan atas materialitas dan signifikansi dari setiap komponen yang dinilai. Hasil penetapan peringkat setiap faktor diuraikan sebagai berikut:
a. Peringkat Komposit 1 (PK-1), mencerminkan bahwa Bank tergolong sangat
baikdan mampu mengatasi pengaruh negatif kondisi perekonomian dan industri
51
b. Peringkat Komposit 2 (PK-2), mencerminkan bahwa Bank tergolong baik dan mampu mengatasi pengaruh negatif kondisi perekonomian dan industri keuangan namun Bank masih memiliki kelemahan-kelemahan minor yang dapat segera
diatasi oleh tindakan rutin;
c. Peringkat Komposit 3 (PK-3), mencerminkan bahwa Bank tergolong cukup
baiknamun terdapat beberapa kelemahan yang dapat menyebabkan peringkat
kompositnya memburuk apabila Bank tidak segera melakukan tindakan korektif; d. Peringkat Komposit 4 (PK-4), mencerminkan bahwa Bank tergolong kurang
baikdan sensitif terhadap pengaruh negatif kondisi perekonomian dan industri
keuangan atau Bank memiliki kelemahan keuangan yang serius atau kombinasi dari kondisi beberapa faktor yang tidak memuaskan, yang apabila tidak dilakukan tindakan korektif yang efektif berpotensi mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya.
e. Peringkat Komposit 5 (PK-5), mencerminkan bahwa Bank tergolong tidak
baikdan sangat sensitif terhadap pengaruh negatif kondisi perekonomian dan
industri keuangan serta mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya.
52 BAB III KESIMPULAN
Kesehatan atau kondisi keuangan Bank merupakan kepentingan semua pihak terkait, baik pemilik, pengelola (manajemen) Bank, masyarakat pengguna jasa Bank, Bank Indonesia selaku otoritas pengawasan Bank, dan pihak lainnya. Kondisi Bank tersebut dapat digunakan oleh pihak-pihak tersebut untuk mengevaluasi kinerja Bank dalam menerapkan prinsip kehati-hatian, kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku dan manajemen risiko.
Perkembangan industri perbankan, terutama produk dan jasa yang semakin kompleks dan beragam akan meningkatkan eksposur risiko yang dihadapi Bank. Perubahan eksposur risiko Bank dan penerapan manajemen risiko akan mempengaruhi profil risiko Bank yang selanjutnya berakibat pada kondisi Bank secara keseluruhan. Bagi perbankan, hasil akhir penilaian kondisi Bank tersebut dapat digunakan sebagai salah satu sarana dalam menetapkan strategi usaha di waktu yang akan datang sedangkan bagi Bank Indonesia, antara lain digunakan sebagai sarana penetapan dan implementasi strategi pengawasan Bank.
Mekanisme penilaian kesehatan bank diatur dalam undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, pembinaan dan pengawasan bank dan peraturan Bank Indonesia Nomor: 6/10/PBI/2004 tentang sistem penilaian tingkat kesehatan bank umum dengan analisi CAMELS.
Faktor-faktor CAMELS terdiri dari permodalan (capital), kualitas asset (asset quality), manajemen (management), rentabilitas (earning), liquiditas (liquidity), dan
53
sensitifitas terhadap resiko pasar (sensitivity to market risk). Faktor-faktor CAMELS ini sudah diakui dunia perbankan internasional.
Perhitungan CAMELS dilakukan oleh manajemen bank terlebih dahulu atau bersifat self-asessment. Selanjutnya pemeriksa bank dari Bank Indonesia akan melakukan konfirmasi dan evaluasi terhadap hasil perhitungan versi bank tersebut sebelum memutuskan hasil akhir perhitungan. Penilaian CAMELS tidak hanya bersifat kuantitatif saja, namun juga mempertimbangkan aspek kualitatif dalam bentuk “expert judgment”- baik dari penilai dari bank yang bersangkutan maupuan dari pemeriks BI. CAMELS menggunakan matriks penilaian yang tidak hanya sekedar pendekatan kuantitatif saja. Hasil akhirnya pun adalah “Komposit 1″ yang identik “sangat baik” atau “sehat” sampai “Komposit 5″ yang bisa dikategorikan “buruk” atau “tidak sehat”.