• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEPOTONG EPISODE KEHIDUPAN (Muhammad Hafiz)

“Hormatilah orang lain jika kamu ingin dihormati.” Alfian Ashari

SEPOTONG EPISODE KEHIDUPAN (Muhammad Hafiz)

Group, Ungroup16

Kuliah Kerja Nyata atau yang bisa disingkat KKN. Merupakan sebuah program pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang merupakan bagian dari program perkuliahan. Di bawah ini, saya akan menceritakan kisah yang saya alami selama berlangsungnya program KKN ini. Mulai dari sebelum KKN sampai akhir program KKN ini terlaksana. Sebelumnya saya akan memperkenalkan diri saya. Saya adalah Muhammad Hafiz, semester 7 UIN Syarif Hidayatullah dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Manajemen. Saya aktif di salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di UIN, yaitu LDK Syahid. Saya merupakan salah satu pengurus dari UKM tersebut.

Kisah KKN ini berawal dari hiruk pikuk rekan-rekan saya baik di kelas maupun di organisasi saya. Mereka mulai ramai membuat kelompok KKN dengan komposisi sesuai dengan program KKN yang berlangsung tahun sebelumnya. Di tahun sebelumnya, teman-teman kelompok KKN, kita bisa memilih dengan sendirinya, sehingga teman-teman saya mulai mencari orang untuk masuk ke kelompoknya. Dan tawaran demi tawaran pun datang ke saya, ada beberapa teman saya yang menawarkan untuk masuk ke kelompok KKN-nya. lalu saya memilih satu kelompok untuk bergabung bersama mereka. Seiring berjalannya waktu, munculah pengumuman dari PPM-UIN yang merupakan lembaga yang mengkordinir berjalannya

KKN PRIBUMI076_Pangaur Dalam Dekapan | 75 program KKN ini. PPM-UIN mengumumkan bahwa untuk kelompok KKN untuk tahun 2016 seluruhnya ditentukan oleh PPM-UIN.

Kabar yang sangat menghentak untuk saya dan teman-teman saya, dengan segala angan-angan yang telah kita buat namun kebijakan yang dibuat sangat di luar dugaan kita semua. Ramai pembicaraan mahasiswa yang seangkatan saya untuk menolak kebijakan yang dikeluarkan tersebut, dengan alasan akan sulit untuk menyesuaikan diri dengan orang-orang yang belum kita kenal dan tidak kita ketahui jalan fikirannya, akan banyak terjadi konflik di dalamnya. Itulah ungkapan-ungkapan yang terdengar di telinga saya banyak berhembus dari segala penjuru UIN. Pada awalnya saya setuju dengan ungkapan yang terdengar di telinga saya, namun karena tidak banyak hal yang dapat saya lakukan, saya hanya menunggu sampai tiba waktunya PPM-UIN mengumpulkan seluruh mahasiswa UIN yang akan melakukan program KKN.

Pendaftaran Program KKN pun dibuka, banyak rekan-rekan saya yang segera mendaftarkan dirinya untuk mengikuti program KKN ini. Namun saya yang masih merasa belum terima dengan keputusan yang di keluarkan oleh PPM ini masih berharap sebuah keajaiban terjadi. PPM merubah kebijakannya, atau ada mahasiswa lain yang membuat petisi untuk menolak kebijakan PPM untuk KKN 2016 ini. Harapan saya sudah di ujung tanduk, hingga akhir masa pendaftaran KKN tidak ada hal ajaib yang saya harap-harapkan. Akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar program KKN dengan penuh harap, bahwa rekan-rekan setim saya nanti adalah orang-orang yang menarik dan dapat menerima setiap hal yang terjadi dengan lapang dada.

Keheningan, Yang Membosankan

Waktu pengumuman kelompok KKN pun tiba, saya diberitahu oleh teman saya bahwa saya masuk kelompok 076. Saya langsung melihat hasil pengumuman tersebut dan melihat siapa orang-orang yang menjadi rekan saya selama KKN. Hanya satu orang yang saya menyadari bahwa saya kenal dengannya, dia adalah Tika. Teman satu jurusan saya, dan saya sempat satu kelas dengannya. Sisanya? Saya tidak memperhatikan nama mereka satu persatu di baris pengumuman tersebut. Jadi saya hanya menunggu waktu sampai kita dipertemukan oleh PPM.

Di siang yang sangat terik, tapi kalau untuk suhu Ciputat ini merupakan suhu yang sangat menyengat. Di siang ini dengan langkah yang

76 | KKN PRIBUMI076_Pangaur Dalam Dekapan

setengah bermalas-malasan saya melangkahkan kaki saya ke Auditorium Harun Nasution, memenuhi undangan dari PPM untuk sosialisasi program KKN dan menemukan saya dengan teman-teman sekelompok saya.

Berbagai penjelasan dipaparkan oleh Pak Jaka dan Pak Eva, membuat hayalan saya melayang-layang, untuk menggambarkan situasi KKN yang akan saya hadapi. Sampai pada akhirnya waktu untuk berkumpul dengan kelompoknya masing-masing, yang diurutkan berdasarkan nomor kelompoknya. Saat semua mahasiswa mulai mencari kursi kelompoknya, saya mulai menghitung dan mencari di bangku mana teman-teman yang akan sekelompok saya akan berkumpul. Sebuah kejadian yang sangat memalukan terjadi, saya duduk di bangku yang salah, saya mengira saya kelompok 74 ternyata saya salah, saya kelompok 076, akhirnya saya kebelakang untuk mencari bangku kelompok saya.

Tanpa disangka, ketika saya melihat orang-orang yang ada di bangku kelompok saya, saya melihat seorang yang saya kenal lama, selain Tika yang saya kenal di sana ada Elsya, dia merupakan teman SMP saya. Saya tidak menyangka untuk awal pertemuan dengan kelompok saya, saya mengenal 2 orang dari 10 orang teman kelompok saya. Saya sempat tidak menyangka karena ketika melihat list nama teman kelompok saya yang ada di Web saya tidak menyadari ada nama dia.

Karena bangku ruangan Auditorium penuh dengan semua kelompok yang ada, kami memutuskan untuk duduk melingkar di bawah. Ketika lingkaran terbentuk dengan sempurna. Hening Beberapa detik kami terdiam semua, sampai Tika memecah keheningan dan mengajak kami untuk berkenalan, dan perkenalan pun dimulai, mulai dari nama, asal fakultas dan jurusan, asal daerah, sampai program apa yang mereka tuliskan ketika mendaftar program KKN ini.

Tika, Iin, Utami, Nisaa, Elsya, Rifai (Ipay), Iqbal, Vian, Eki, Gilang. Mereka adalah orang-orang yang akan menghabiskan hidupnya selama sebulan bersama saya untuk melaksanakan program KKN. Saya tidak dapat menilai mereka satu persatu di awal pertemuan ini, karena nampaknya mereka masih sangat Jaim (Jaga Image) pada pertemuan ini, sehingga mereka tidak menampakkan rupa asli mereka. Setelah selesai sesi perkenalan, kita menentukan siapa orang yang akan menjadi kordinator kelompok kita untuk menjadi perwakilan kami dalam berkomunikasi dengan pihak PPM. Dan akhirnya Gilang yang terpilih sebagai kordinator kelompok.

KKN PRIBUMI076_Pangaur Dalam Dekapan | 77 Rasanya ingin cepat-cepat mengakhiri pertemuan ini, karena suasana mulai membosankan, di antara kita mengalami kebingungan untuk melakukan pembahasan apa. Akhirnya kami pun menutup kumpul awal ini dengan menentukan koordinasi yang akan kita lakukan kedepannya melalui WhatsApp. Kami pun bubar dan kembali ke aktivitas-aktivitas kami semula.

Pertemuan pertama yang tidak meninggalkan kesan apapun untuk diri saya. Akhirnya rencana pertemuan lanjutan pun kami tentukan, pertemuan tersebut akan dilaksanakan di Fakultas Sains dan Tekhnologi di sore hari. Kami pun berkumpul, dan yang hadir pada pertemuan ini tidak full team, karena banyak dari mereka yang memiliki kesibukan di tempat lain. Pembahasan awal pun kita mulai dengan menentukan ketua kelompok. Setelah berdiskusi cukup lama kita pun ambil suara terbanyak, dan terpilih lah Ahmad Rifai atau yg biasa kita panggil Ipay menjadi ketua kelompok kami. Elsya dan Tika secara berturut-turut menjadi sekretaris dan Bendahara kelompok kami. Pertemuan sore hari ini berlangsung cukup singkat, diiringi dengan sejuknya sore hari ini yang habis diguyur hujan dan gemuruh kumandang adzan maghrib, kami pun berpisah dan melangkahkan kaki-kaki kami pulang kerumah masing-masing.

PRIBUMI

Di pertemuan selanjutnya, kami menentukan nama yang cocok untuk kelompok kami ini, hampir sepuluh opsi dilayangkan oleh teman-teman kelompok KKN saya. Di sini suasana sudah mulai mencair, keakraban mulai terbangun di antara kita walaupun masih terlihat sedikit kecanggungan di antara kita. Gilang dan Ipay yang sangat bersemangat memberikan saran nama untuk kelompok kami. Gilang dengan nama-nama yang cukup aneh menurut pandangan saya, tapi memiliki filosofi yang sangat mendalam. Maupun Ipay yang memadukan dengan bahasa arab nama-nama yang diajukannya. Namun pada akhirnya yang kami sepakati dan kami pilih menjadi nama kelompok kami adalah “KKN PRIBUMI”. Ini lah nama kelompok KKN kami, sebuah nama yang menggambarkan sebuah kesederhanaan. Nama ini diusulkan oleh Tika, dengan harapan selama kita ber-KKN, kita dapat menjalin keakraban dengan masyarakat pribumi dan kami dapat bersatu tanpa ada celah sedikit pun dengan mereka.

Di pertemuan selanjutnya, persiapan demi persiapan pun kami bahas, mulai dari rencana program kerja, rencana anggaran biaya, sampai strategi dalam mendapatkan dana, mulai dari penyebaran proposal sampai iuran dari

78 | KKN PRIBUMI076_Pangaur Dalam Dekapan

pribadi kita masing-masing. Sampai akhirnya, mungkin bisa saya bilang persiapan yang cukup singkat dan tidak memakan waktu lama yang kami lakukan, sehingga kami hanya menunggu sampai waktu KKN pun tiba. Mungkin karena gerak cepat yang dilakukan oleh ketua kelompok kami, tanpa disangka-sangka ternyata Ipay yang pada awalnya cukup “aneh” kalau kata teman-teman yang lain, tapi mampu memberikan sebuah pembuktian kepada teman-teman kelompok yang lain bahwa dia pantas dijadikan sebagai ketua.

Sampai pada saatnya kami memulai program KKN, setelah semua persiapan selesai, kami kelompok “KKN PRIBUMI” siap berangkat. Pelepasan pun dilakukan oleh Rektor UIN Jakarta. Setelah dilakukan pelepasan kami pun berkumpul kembali untuk mengumpulkan barang bawaan dan menaikkannya ke mobil bak yang telah kami sewa. Kami pun berangkat, Saya, Eki, dan Iqbal berangkat menggunakan motor. Sementara Vian pergi bersama mobil baknya untuk menunjukkan arah. Sementara teman-teman saya yang wanita menggunakan kereta untuk pergi ke lokasi KKN.

Keramahan Pribumi

Kami di lokasi KKN tinggal di rumah sepasang suami istri, sang suami bernama Pak Jajat, yang usianya sudah tidak terlalu muda, dan Istrinya yang bernama Ibu Tini, seorang yang memberikan kesan yang sangat baik semenjak awal kami datang kesana. Seorang ibu yang sangat baik. Yang menjadi ibu kami selama di lokasi KKN. Rumah yang kami tinggali berupa rumah panggung, yang dindingnya beruba anyaman bambu, tempat yang sangat nyaman untuk ditinggali dengan suasana daerah yang seharusnya tergolong sangat panas di Jasinga, tapi rumah yang kami tinngali dikelilingi oleh pepohonan yang sangat rindang sehingga membuat rumah tersebut terasa teduh tenang dan sejuk.

Saya pun tiba lebih dulu di lokasi KKN, disusul Eki dan Iqbal kami disambut oleh bapak dan ibu, lalu Vian tiba dengan mobil bak yang membawa barang dan terakhir teman-teman yang menggunakan kereta. Kami pun merapihkan barang-barang bawaan kami lalu beristirahat, karena perjalanan yang cukup jauh sangat menguras tenaga kami semua. Yang kami lakukan di malam pertama kami ini dengan bercengkrama ria, dan mengobrol dengan bapak dan ibu.