• Tidak ada hasil yang ditemukan

September Ceria

Dalam dokumen Mensyukuri Hidup JULI- DESEMBER Pengantar (Halaman 65-71)

Minggu Pertama September 2022

2 KORINTUS

6:1-10

PENJELASAN TEKS

Membaca kisah-kisah hidup Rasul Paulus, kita menemukan bahwa hidupnya seolah tidak lepas dari penderitaan. Fitnah, penolakan, kecelakaan, sakit parah dan sebagainya serasa dekat dengan kesehariannya. Pengalaman menderita karena ditolak dialami Paulus di kota Korintus. Di kota ini banyak orang-orang Yahudi. Mereka meragukan kerasulan Paulus. Sebagai hamba Allah yang sudah bekerja keras, penolakan itu pasti menyakitkan. Maka dari itu Paulus merasa perlu menuliskan surat kepada jemaat Korintus.

Ia menjelaskan perutusan Tuhan melalui kerasulan yang dijalani.

Dengan amat jelas Paulus menjelaskan bahwa dirinya sudah dipanggil dan ditetapkan Allah menjadi rasul bagi banyak orang. Melalui surat ini pula Paulus menunjukkan imannya yang teguh serta kesetiaannya pada Allah yang sudah memanggil dalam pelayanan. Dalam suka dan duka, Paulus tetap setia (ay. 4-10). Paulus “menahan dengan penuh kesabaran” (kata Yunani hupomone menggambarkan kemampuan menanggung penderitaan dengan diam, namun yakin akan jalan kemenangan yang akan diberikan Tuhan) berbagai kesulitan.

Mengapa Paulus tetap sabar menderita? Kemampuan Paulus menjalani kehidupan di tengah aneka kesulitan karena ia menjalani hidup dalam kasih karunia Allah (ayat 1). Kasih karunia Allah membuat ia mampu menjalani hidup dalam kemurnian hati, kesabaran, dan kemurahan hati.

Melalui perikop ini, kita menemukan aspek hidup yang “ceria” dari Rasul Paulus. Aspek itu adalah hidup yang ketetapan batin untuk menjalani hidup meski di tengah aneka tantangan. Keceriaan tidak ditentukan oleh keadaan namun kemampuan mengolah makna dari setiap peristiwa. Rasul Paulus mengajarkan bahwa keceriaan itu diciptakan, bukan buah dari penantian yang pasif di tengah keadaan.

Kita dapat mengetahui hal itu dari ungkapan Paulus pada ayat 8-10.

Melalui kesaksiannya Paulus menyebut: meski dianggap penipu, namun dipercaya; ketika dianggap bukan siapa-siapa, namun terkenal; sebagai orang yang berdukacita namun senantiasa

bersukacita; sebagai orang yang miskin namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik namun memiliki segala sesuatu.

Pengalaman-pengalaman yang paradoks itu ada dalam hidup Paulus karena ia hidup dalam kesucian. Kesucian hidup yang dijalankan secara konsisten menjadikan dirinya dikenal sebagai seorang rasul Kristus yang bersih, murni. Kesucian itu juga membuat Paulus semakin meyakini panggilannya, yaitu menceritakan kebaikan, keselamatan Allah supaya banyak orang mengalami kesukacitaan Injil Yesus Kristus.

PENYAMPAIAN BAHAN

Ketika mendengar kata ceria, apa makna yang ditemukan? Sebagian besar orang biasanya memaknai ceria dengan keadaan wajah berseri-seri, seger, wajah tidak kusut dan energik. Namun ternyata jika kita memperhatikan definisi ceria dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, di sana didapati makna ceria lebih dari definisi di atas. Bagi yang mau cek di google, bisa ketik KBBI-ceria (lansia yang mau ikut mencari di mesin pencari google bisa diberi kesempatan). Ceria, dalam KBBI memiliki dua makna yaitu: 1) bersih, suci, murni, 2) berseri-seri. Dari makna pertama dan kedua itu, kata ceria dapat dimaknai bahwa hidup bersih, suci, murni dan selalu menampakkan wajah berseri-seri adalah satu rangkaian yang berkaitan. Wajah berseri-seri sebagai ekspresi diri timbul dari batin yang bersih, suci, murni.

Batin yang bersih membuat wajah berseri-seri, kok bisa? Tentu sangat bisa. Orang berhati murni akan membiasakan diri berpikir dan bertindak positif dalam segala keadaan. Rasul Paulus mengajarkan hal itu. Lihat saja seperti apa kehidupan yang dijalani Paulus. Penderitaan, rasa sakit, penolakan kerap dialami. Pengalaman menderita karena ditolak dialaminya di kota Korintus. Orang-orang Yahudi yang tinggal di kota Korintus meragukan kerasulannya. Sebagai hamba Allah yang sudah bekerja keras, penolakan itu pasti menyakitkan. Meski berulang kali ia menjelaskan kerasulannya, keraguan pada kerasulannya tetap ada. Jika hati Rasul Paulus dipenuhi pikiran kotor, ia pasti kehilangan

keceriaan. Batin yang bersih membuatnya tetap setia melakukan karya.

Hidup yang suci, memancarkan keceriaan. Bagaimana itu terjadi?

Dalam buku Makarios, delapan sabda bahagia, Pdt. Tabita Kartika Christiani menyebut bahwa kata “suci” dalam bahasa Yunani

“katharos” yang berarti bersih (seperti pakaian yang dicuci, atau gandum yang dilepaskan dari sekam), murni (seperti susu, anggur, atau logam). Jadi tidak cukup hanya bersih secara lahiriah menurut peraturan ketahiran (Matius 15:1-20). Segala perasaan, pikiran, keinginan, keputusan, dan tindakan harus ke luar dari hati yang bersih. “Suci hati” berarti terbuka terhadap semua yang ditawarkan Allah, dan setiap saat penuh perhatian terhadap karya Allah dalam hidup manusia, artinya memiliki hati dan pikiran yang sepenuhnya ditujukan kepada kehendak Allah. Hati yang suci memancarkan keceriaan karena hidup selalu terarah pada Tuhan. Rasul Paulus menyampaikan pada jemaat Korintus agar hidup dengan hati yang suci dengan mengingat kasih karunia Allah. Oleh kasih karunia itu mereka dibawa pada Allah yang menyelamatkan.

Ceria, dalam hidup sehari-hari tampak dari wajah berseri-seri yang lahir dari dalam hati, bukan dibuat-buat. Keceriaan yang dibuat-buat itu dalam bahasa lain disebut “Aspal” alias asli namun palsu. Sesuatu yang palsu pasti mudah berlalu. Sebaliknya sesuatu yang dilakukan dengan hati bersih dan suci akan tetap dikenang meski pada awalnya diabaikan. Rasul Paulus mencontohkan dirinya. Melalui kesaksiannya Paulus menyebut: meski dianggap penipu, namun dipercaya; ketika dianggap bukan siapa-siapa, namun terkenal; sebagai orang yang berdukacita namun senantiasa bersukacita; sebagai orang yang miskin namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik namun memiliki segala sesuatu. Pengalaman-pengalaman yang paradoks itu membuat Paulus semakin meyakini panggilannya, yaitu menceritakan kebaikan, keselamatan Allah supaya banyak orang mengalami kesukacitaan Injil Yesus Kristus.

Melalui teladan Paulus kita dipanggil untuk hidup dengan ceria. Apa kaitan dengan September ceria? Tentu saja hidup ceria bukan hanya dilakukan pada bulan September saja namun dalam segala keadaan.

Minggu pertama bulan September ini tema kita “September Ceria” dan melaluinya kita diajak untuk tetap ceria dalam segala keadaan, di mana saja dan kapan saja.

USULAN KEGIATAN

Analisis Lagu “September Ceria”

Awali dengan mendengarkan lagu September Ceria

(link: https://www.youtube.com/watch?v=QP_MGTzuTvk)

Setelah mendengar lagu itu, ajak lansia menyanyi September Ceria.

Usai mendengarkan lagu, mintalah lansia menemukan nilai di balik lagu dan membagikan nilai-nilai (kesegaran, pengharapan, kebersamaan) dalam hidup sehari-hari. Apa tindakan-tindakan sederhana yang bisa dibagikan.

Mengapa September Ceria?

September ceria, istilah itu akrab dalam khazanah dengar kita karena nyanyian berjudul “September Ceria” yang dilantumkan Vina Panduinata. Nyanyian itu berturur tentang hadirnya kesegaran di ujung kemarau panjang karena datangnya butiran hujan.

Segarnya hidup semakin terasa karena ada kasih di sana. Inilah September ceria dalam nyanyian dari Vina Panduinata. Jika menarik makna nyanyian itu ke dalam hidup sehari-hari, keceriaan tentu bukan hanya dirasakan di bulan September semata. Keceriaan dirasakan sangat indah.

Tujuan:

1. Lansia menghayati makna hidup dalam pemeliharaan Tuhan 2. Lansia mewujudkan penghayatan akan pemeliharaan Tuhan

dengan semakin mengimani Tuhan

FOKUS

Sejenak kita melihat bagaimana hidup kita dijalani. Di sana ada aneka peristiwa dijumpai. Suka, duka, berhasil, gagal dan aneka peristiwa lainnya. Dalam permenungan terhadap peristiwa-peristiwa itu, ada hal yang perlu kita refleksikan dengan bertanya: di saat lemah, siapa yang menguatkan? Di saat dalam situasi tidak punya, siapa yang mencukupkan? Di kala hidup tertekan, siapa yang melepaskan dari tekanan? Dalam hidup kita selalu ada “tangan-tangan yang tidak kelihatan” yang bekerja dengan luar biasa. Bisa jadi mereka sahabat, famili, orang-orang terdekat atau bahkan orang yang tidak dikenal sekalipun datang di saat yang tepat memberikan kekuatan, membantu untuk mencukupkan kebutuhan, melepaskan kita dari tekanan dan tindakan-tindakan lain yang sangat bermakna bagi kita. Dalam iman kita meyakini bahwa Tuhan memakai mereka untuk menyatakan pertolongan-Nya. Itu adalah cara Tuhan memberikan pemeliharaan-Nya bagi kita. Selain dengan cara itu, ada berbagai cara lain yang digunakan-Nya untuk menyatakan pemeliharaan. Maka bila Tuhan Yesus berkata,”Janganlah takut (Luk. 12:32), Ia menyampaikan pada kita sebuah peneguhan agar kita beriman penuh pada Tuhan. Melalui tema pemeliharaan Tuhan ini, Lansia diharap menghayati makna

Dalam dokumen Mensyukuri Hidup JULI- DESEMBER Pengantar (Halaman 65-71)