• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

B. Isi Serat Wedhatama

1. Arti Serat Wedhatama

Serat Wedhatama sebenarnya terdiri dari tiga suku kata yang

memiliki arti sendiri-sendiri, yaitu Serat, Wedha dan Tama. Serat adalah kitab, adapun Wedha mengandung arti pengetahuan, dan Tama adalah Utama. Maka Serat Wedhatama bermakna Kitab Ajaran yang Utama, yang kiranya memiliki budi atau jiwa yang utama/luhur bagi setiap kehidupan insan di dunia (Sabdacarakatama, 2010:9).

2. Ringkasan Isi Serat Wedhatama

Serat Wedhatama secara garis besar berisi nasehat dan ajaran bagi

para penerus. Nasihat tersebut dicantumkan menjadi 4 bab, pokok nasihatnya yaitu petunjuk tentang tata laku susila dalam masyarakat sesuai dengan ajaran agama Islam.

Bab I menggambarkan tingkah laku anak muda yang bertindak angkuh karena memiliki keturunan bangsawan dan hanya menjalankan ibadah secara lahiriah saja (Ciptoprawiro, 1986:50).

Bab II memberikan contoh kepada anak muda yaitu Panembahan Senopati Raja Mataram yang pertama. Manusia harus mengedalikan hawa

nafsunya serta untuk memantapkan hidup kemasyarakatannya harus menguasai tiga hal: arta–wirya-wasis: harta-kedudukan-pengetahuan (Ciptoprawiro, 1986:50).

Bab III menegaskan bahwa untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan, kita harus menjalankan tata susila dengan usaha pertama pandai mengendalikan nafsu angkara murka (Ciptoprawiro, 1986:50).

Bab IV memerinci penerapan empat macam cara ibadah menuju kesempurnaan diri, yaitu sembah raga, kalbu, jiwa dan rasa. Tata laku susila ditujukan terhadap ketiga dimensi kehidupan itu yang berpuncak pada penghayatan dan pengetahuan hakekat hidup dengan perjumpaan manusia dengan Tuhan sebagai Manunggaling Kawula Gusti (Ciptoprawiro, 1986:50).

Pada dasarnya isi Serat Wedhatama berisi tentang cara mendidik anak yang baik dan nasihat-nasihat yang mulia. Dalam hal ini Serat

Wedhatama terbagi menjadi 4 pupuh yaitu: pangkur, sinom, pucung,

gambuh.

a. Pupuh Pangkur. Serat Wedhatama ingin mengajarkan ilmu yang

sempurna, yang menjadi pedoman bagi setiap orang yakni berisi tentang sopan santun. Syarat utama untuk memperolehnya ialah dengan mawas diri. Orang yang berhasil mawas diri akan menemukan dalam dirinya ketenteraman dan keserasian sehingga dapat menguasai dunia, itulah rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa (Mahmudi, 2014)

b. Pupuh Sinom. Yaitu menjalaskan keberhasilan dari sikap mawas diri. Seperti Panembahan Senopati yang mendapat gelar wong Ngeksigondo (orang yang hambanya) seorang raja teladan, ramah dan memasyarakatkan serta secara teratur menjalankan tapa (puasa), tetapi selamanya beliau tidak pernah mengasingkan diri dari masyarakat (Mahmudi, 2014).

c. Pupuh Pucung. Berisi tentang kebijaksanaan sejati, kebijaksanaan yang

sejati tidak pernah terlihat pada suatu tempat. Hakekat kebijaksanaan tersebut adalah harus selalu dilaksanakan. Kedewasaan hidup menurut Mangkunegara IV meliputi: lilo (rela) narima dan legawa atau rela batinnya sudah pasrah, tetap sabar tulus ikhlas serta tawakkal atau berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan (Mahmudi, 2014).

d. Pupuh Gambuh. Mengungkapkan bahwa limpahan anugerah Tuhan harus

ditebus dengan pengahayatan mutlak, didasar pada kesucian batin, menjauhkan diri dari watak angkara murka serta ketekunan melaksanakan sembahyang yang 4 macam, yakni sembahyang raga, sembahyang cipta,

sembahyang jiwa dan sembahyang rasa (Mahmudi, 2014).

Pengertian sembahyang dalam karangan Serat Wedhatama ini dimaksudkan sebagai badah yang dilakukan manusia dalam menjalin hubungan dirinya dengan Tuhan (Ardani, 1995:56).

1) Sembahyang raga, ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan

gerak laku badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Menurut ajaran agama Islam yaitu sembahyang lima waktu.

2) Sembahyangcipta, yaitu sembahyang dengan melatih diri mengurangi

3) Sembahyang jiwa, ialah bertujuan mengenal pribadinya sendiri, adapun sarana yang dipergunakan adalah mengolah batin dan harus selalu ingat akan akhirat.

4) Sembahyang rasa, ialah suatu usaha agar manusia dapat merasakan

hakikat hidup (Sabdacarakatama, 2010:16).

Empat sembahyang itu merupakan mata rantai yang terkait satu dengan yang lainnya, namun keempatnya membentuk suatu susunan yang berurutan dan perlu dilakukan tahap demi tahap.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV sebagai pengarang Serat Wedhatama memiliki tujuan memberikan nasihat kepada ahli warisnya dalam mempelajari ilmu agama yang telah turun temurun. Ajaran yang terkandung dalam Serat Wedhatama juga diringkas menjadi 2 kelompok yang dibagi menurut usia, yakni:

a) Ajaran bagi golongan muda

1) Dianjurkan agar mempelajari etika dan sopan santun serta memahami sumber ilmu yang benar. Terdapat pada pupuhpangkur bait ke 5:

Mangkono ngelmu kang nyata Sanyatane mung weh reseping ati Bungah ingaran cubluk

Sukeng tyas yen den ina

Nora kaya si punggung anggung gumunggung Ugungan sadina-dina

Aja mangkono wong urip (Begitulah ilmu yang nyata

Sebenarnya hanya memberi kesenangan hati Bangga dikatakan bodoh

Hati suka ria bila dihina

Tidak seperti si bodoh yang selalu besar kepala Minta dipuji setiap hari

Jangan begitulah orang hidup) (Sabdacarakatamma, 2010:22).

2) Jangan bersikap angkuh dan sombong walaupun memiliki ilmu yang tinggi, karena ilmu tersebut sebenarnya tidak diandalkan yang dijelaskan dalam pupuh pangkur bait ke 1, yaitu:

Mingkar-mingkuring angkara Akarana karenan mardi siwi Sinawung resmining kidung Sinuba sinukarta

Mrih kretarta pakartining nglemu luhung Kang tumprap neng tanah jawa

Agama ageming aji

(Menghindarkan diri dari hawa nafsu Sebab ingin mendidik putra

Dalam bentuk keindahan syair Dihias agar tampak indah

Agar menumbuhkan jiwa dan ilmu luhur Yang berlaku di tanah jawa

3) Dapat menilai dengan cermat segala macam ajaran, sehingga akan dapat memanfaatkan ajaran tersebut dan memilih ilmu mana yang kiranya benar-benar sesuai dengan bakat pribadinya sendiri yang terdapat pada puph sinom bait 17, yaitu:

Saben mendra saking wisma Lelana laladan sepi

Ngingsep sepuhing supana Mrih pana pranaweng kapti Tis tising tyas marsudi Mardawaning budya tulus Mesu reh kasudarman Neng tepining jala idhi

Sruning brata kataman Wahyu dyatmika

(Setiap kali pergi meninggalkan rumah (istana) Untuk mengembara di tempat yang sunyi Dengan tujuan meresapi setiap tingkatan ilmu Agar mengerti dengan sesungguhnya

dan memahami akan maknanya

Ketajaman hatinya dimanfaatkan guna menempa jiwa Untuk mendapatkan budi pikiran yang tulus

Selanjutnya memeras kemampuan agar mencintai sesama insan Dilakukannya ditepi samudra

Dari tekun bertapa mendapat wahyu yang baik) (Sabdacarakatama, 2010:29).

4) Sadarlah bahwa apa yang dimaksud menunaikan darma semasa hidup di dunia ini, antara lain wajib bagi setiap manusia untuk berikhtiar meraih trisarana hidup, yaitu wirya, arta, wasis (kamuliaan, harta, kepandaian) (Sabdacarakatama, 2010:16). Pada

pupuhsinom bait 29, yaitu :

Bonggan kan tan merlokena Mungguh ugering ngaurip Uripe lan tri prakara Wirya arta tri winasis Kalamun kongsi sepi Saka wilangan tetelu Telas tilasing janma Aji godhong jati aking

(Temah papa papariman ngulandara. Salah sendiri yang tidak peduli terhadap landasan kehidupan Hidup berlandaskan tiga hal Keluhuran, kesejahteraan dan ilmu Bila tidak memiliki

satu di antara ketiganya habislah arti sebagai manusia

Masih berharga daun jati kering

Akhirnya menjadi peminta-minta dan gelandangan) (Sabdacarakatama, 2010:37)

b) Ajaran bagi golongan tua

1) Ilmu cara mendidik anak. Yang dijelaskan pada bait 1pada pph

pangkur, yaitu:

Mingkar-mingkuring angkara Akarana karenan mardi siwi Sinawung resmining kidung Sinuba sinukarta

Mrih kretarta pakartining nglemu luhung Kang tumprap neng tanah jawa

Agama ageming aji

(Menghindarkan diri dari hawa nafsu Sebab ingin mendidik putra

Dalam bentuk keindahan syair Dihias agar tampak indah

Agar menumbuhkan jiwa dan ilmu luhur Yang berlaku di tanah jawa

Agama pegangan yang baik) (Sabdacarakatamma, 2010:19).

2) Cara untuk mentukan atau meyakinkan kebenaran suatu ilmu. Dijelaskan pada pupuhpangkur bait 5, yaitu:

Mangkono ngelmu kang nyata Sanyatane mung weh reseping ati Bungah ingaran cubluk

Sukeng tyas yen den ina

Nora kaya si punggung anggung gumunggung Ugungan sadina-dina

Aja mangkono wong urip (Begitulah ilmu yang nyata

Sebenarnya hanya memberi kesenangan hati Bangga dikatakan bodoh

Hati suka ria bila dihina

Tidak seperti si bodoh yang selalu besar kepala Minta dipuji setiap hari

Jangan begitulah orang hidup) (Sabdacarakatamma, 2010:22). 3) Cara menjalankan sembah sujud kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,

agar tidak merugi dan sia-sia dalam usaha menghadap Tuhan. Dijelaskan pada bait 6 pupuh pangkur, yaitu:

Uripe sepisan rusak

Nora mulur nalare ting saluwir Kadi ta guwa kang sirung Sinerang ing maruta

Gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung Pindha padhane si Mudha

Prandene paksa kumaki.

(Hidup yang hanya sekali di dunia ini berantakan Penalarannya tidak berkembang

picik tercabik-cabik

Ibarat gua gelap menyeramkan terlanda angin Suaranya berkumandang keras sekali

Demikianlah anak muda jika picik pengetahuannya

namun demikian sombongnya bukan main) (Sabdacarakatamma, 2010:22).

4) Meskipun seseorang telah cukup usia (tua), akan tetapi bila tidak berilmu dan tidak memahami rasa, pasti mendapat sebutan

tuwa-tuwas atau dapat diartikan hanya usianya saja yang banyak

(Sabdacarakatama, 2010:17). Dan dijelaskan pula pada pupuh

pangkur bait 12, yaitu:

Sapantuk wahyuning Allah

Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit Bangkit mikat reh mangukut

Kukutaning jiwangga

Yen mengkono kena sinebut wong sepuh Lire sepuh sepi hawa

Awas roroning atunggil.

(Siapa pun yang menerima wahyu Illahi

Mampu menguasai kesempurnaan ilmu Kesempurnaan diri pribadi

Orang yang demikian itu pantas disebut „orang tua‟

Orang yang tidak dikuasai nafsu

Mampu memahami dwitunggal (Sabdacarakatamma, 2010:22).

Menurut penulis, Serat Wedhatama adalah serat yang berisi tentang kebaikan, baik kebaikan secara lahir ataupun batin.

Dokumen terkait