• Tidak ada hasil yang ditemukan

serin metil pentil ester (a), 3-hidroksipikolinil serin metil heksil ester (b), dan 3-hidroksipikolinil serin metil heptil ester (c)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil pentil ester (a), 3-hidroksipikolinil serin metil heksil ester (b), dan 3-hidroksipikolinil serin metil heptil ester (c)

Reaksi sintesis tahap kedua untuk menghasilkan senyawa analog UK-3A, yaitu senyawa a, b, dan c dilakukan dengan mereaksikan senyawa hasil sintesis tahap pertama, yaitu 3-hidroksipikolinil serin metil ester dengan asam pentanoat untuk membentuk senyawa a, asam heksanoat untuk membentuk senyawa b, dan asam heptanoat untuk membentuk senyawa c. Rendemen hasil sintesis dari ketiga senyawa ini secara berturut-turut sebesar 32,2; 36,4; dan 38,8%. Rendemen sintesis tahap kedua masih rendah, hal ini disebabkan reaksi tidak berjalan sempurna dan dibuktikan dari adanya spot bahan awal, yaitu senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil ester masih tersisa. Usulan mekanisme reaksi sintesis senyawa a, b, dan c dapat dilihat pada Gambar 9.

Perpanjangan rantai ester pada sintesis a, b, dan c ini dilakukan untuk menggantikan cincin dilakton, sementara cincin dilakton merupakan gugus yang berperan dalam aktivitas hayati senyawa UK-3A (Hanafi 1997a). Perpanjangan rantai ini bertujuan mendapatkan senyawa yang lebih aktif dengan cara meningkatkan lipofilitas senyawa. Lipofilitas senyawa akan berpengaruh pada kemampuan senyawa dalam menembus dinding sel kanker yang tersusun dari fosfolipid yang bersifat nonpolar (Hanafi et al. 1999).

O O R H C N N C6H11 C6H11 DCC O R O C N C6H11 NH C6H11 .. .. N N DMAP + -N N R O + C6H11 HN C HN C6H11 O DCU + N N R O + N OH O H N O O O H H3C .. N N + :O O O R H3C O H N O N OH : .. -N OH O H N O O O CH3 R O a : R = C4H9 b : R = C5H11 c : R = C6H13 DMAP H+ N N + -(-)

Gambar 9 Usulan mekanisme reaksi sintesis senyawa a, b, dan c

Analisis KLT terhadap produk reaksi, yaitu senyawa a, b, dan c

menggunakan eluen n-heksana:etil asetat (3:1) menunjukkan reaksi yang belum sempurna yang dapat dilihat dari munculnya 2 spot untuk setiap hasil reaksi (Tabel 5).

Tabel 5 Nilai Rf hasil KLT produk reaksi tahap 2

Produk sintesis Rf Keterangan

Senyawa a Spot ke-1 = 0,088 3-hidroksipikolinil serin metil ester Spot ke-2 = 0,440 produk senyawa a Senyawa b Spot ke-1 = 0,088 3-hidroksipikolinil serin metil ester Spot ke-2 = 0,500 produk senyawa b

Senyawa c Spot ke-1 = 0,088 3-hidroksipikolinil serin metil ester Spot ke-2 = 0,557 produk senyawa c

Spot senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil ester sebagai bahan awal ditunjukkan oleh spot dengan nilai Rf 0,088. Produk reaksi, yaitu senyawa a, b, dan c secara berturut-turut memiliki nilai Rf 0,440; 0,500; dan 0,557. Nilai Rf produk reaksi ini cenderung semakin meningkat karena kepolaran senyawa semakin menurun. Hasil analisis KLT terhadap senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil ester menggunakan eluen n-heksana:etil asetat (2:1) yang dilakukan pada penelitian sebelumnya menunjukkan nilai Rf 0,175. Hasil sintesis terdahulu, yaitu senyawa β-hidroksi pikolinil serin metil oktanoil ester (PSMOE) yang memiliki struktur mirip dengan senyawa a, b, dan c, hanya berbeda pada panjang rantai alifatik pada gugus ester memiliki nilai Rf 0,75 menggunakan eluen n-heksana:etil asetat (2:1) (Arifin 2007).

Hasil reaksi sintesis senyawa a berupa larutan berwarna kuning jernih, senyawa b berupa larutan jernih, dan c berupa larutan kuning jernih. Pemurnian dilakukan menggunakan kolom kromatografi dan menghasilkan senyawa a yang berupa seperti minyak (oily) berwarna kuning jernih, senyawa b berupa minyak berwarna kuning, dan c berupa minyak berwarna putih.

Hasil analisis LC-MS senyawa a menunjukkan adanya 1 puncak, b

muncul 2 puncak, dan c muncul 2 puncak. Puncak senyawa a muncul pada kromatogram pada waktu retensi 6,04 menit (T6.0) dengan area sebesar 17526,44 yang merupakan produk senyawa a. Hal ini dibuktikan dari nilai bobot molekul (m/z) sebesar 324,89 g/mol yang merupakan bobot molekul senyawa a, muncul pada serapan spektroskopi massa. Kemurnian senyawa hasil sintesis mendekati 100 %. Kromatogram senyawa a memperlihatkan tidak ada puncak lain yang

berarti dan ha nya ada 1 puncak dominan. Kromatogram senyawa b menunjukkan adanya 2 puncak. Puncak dominan pada kromatogram senyawa b muncul pada waktu retensi 7,56 menit (T7.4) dengan area sebesar 70020,0 yang merupakan produk senyawa b. Hal ini dibuktikan dari nilai bobot molekul (m/z) sebesar 338,91 g/mol yang merupakan bobot molekul senyawa b. Puncak kedua muncul pada waktu retensi 11,77 menit (T11.7) dengan area sebesar 20258,1 yang merupakan pengotor atau hasil samping reaksi yang masih tersisa pada produk. Senyawa yang muncul pada puncak kedua ini memiliki nilai bobot molekul (m/z) sebesar 323,04 g/mol. Kemurnian senyawa hasil sintesis adalah sebesar 77,56%. Kromatogram senyawa c memperlihatkan adanya 2 puncak. Puncak dominan senyawa c muncul pada waktu retensi 8,13 menit (T8.0) dengan area sebesar 56656,2 yang merupakan produk c. Hal ini dibuktikan dari nilai bobot molekul (m/z) sebesar 352,96 g/mol yang merupakan bobot molekul senyawa c. Puncak kedua muncul pada waktu retensi retensi 14,59 menit (T14.4) dengan area 2038,6 yang merupakan pengotor atau hasil samping reaksi yang masih tersisa pada produk. Senyawa pengotor ini memiliki bobot molekul (m/z) sebesar 337,09 g/mol. Kemurnian senyawa hasil sintesis c cukup tinggi, yaitu sebesar 96,53%.

Spektrum FT-IR untuk senyawa a, b, dan c (Lampiran 2) memiliki kemiripan karena semua gugus fungsi yang terdapat dalam ketiga senyawa ini sama. Spektrum FT-IR untuk a menunjukkan pita serapan pada 1745 cm-1 yang merupakan vibrasi ulur karbonil (C=O) dari ester, 1653 cm-1 yang merupakan vibrasi ulur karbonil (C=O) dari amida, dan serapan tunggal pada 3371 cm-1 yang merupakan vibrasi ulur NH dari amida sekunder. Hasil analisis juga menunjukkan adanya vibrasi ulur CH alifatik pada 2958-2870 cm-1.Spektrum FT-IR senyawa b

menunjukkan pita serapan pada 1745 cm-1 yang merupakan vibrasi ulur karbonil (C=O) dari ester, vibrasi pada 1651 cm-1 yang merupakan vibrasi ulur karbonil (C=O) pada gugus amida, dan serapan tunggal pada 3327 cm-1 yang merupakan vibrasi ulur NH dari amida sekunder. Hasil analisis senyawa b juga menunjukkan adanya vibrasi ulur CH alifatik pada 2933-2860cm-1 yang menunjukkan terbentuknya rantai alifatik pada ester yang baru. Spektrum FT-IR untuk senyawa

c menunjukkan pita serapan pada 1747 cm-1 yang merupakan vibrasi ulur karbonil (C=O) dari ester, 1653 cm-1 merupakan vibrasi ulur karbonil (C=O) pada

amida, dan serapan tunggal pada 3375 cm-1 yang merupakan vibrasi ulur NH dari amida sekunder. Hasil analisis juga menunjukkan adanya vibrasi ulur CH alifatik pada 2954-2858 cm-1 (Silverstein et al. 1986). Pembentukan senyawa a, b, dan c

ditunjukkan oleh hilangnya serapan OH pada 3186 cm-1 pada spektrum senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil ester karena OH pada senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil ester telah teresterifikasi oleh asam pentanoat, heksanoat, dan heptanoat.

Spektrum hasil analisis FT-IR senyawa a, b, dan c memiliki kemiripan dengan spektrum senyawa β-hidroksipikolinil serin metil oktanoil ester (PSMOE) yang telah disintesis pada penelitian sebelumnya (Arifin 2007) dan senyawa 3

(Hanafi et al. 1999). Senyawa PSMOE dan senyawa 3 memiliki struktur yang mirip dan gugus fungsi yang sama dengan senyawa a, b, dan c.

Spektrum hasil analisis senyawa produk sintesis tahap kedua, yaitu senyawa a, b, dan c menggunakan spektrometer 1H-NMR (Lampiran 3) dan 13 C-NMR (Lampiran 4), yang membantu dalam menganalisis struktur produk reaksi yang terbentuk. Data hasil pengukuran terhadap senyawa a menggunakan NMR dapat dilihat pada Tabel 6 yang disertai dengan gambar struktur a (Gambar 10).

N OH O H N O O O O 1'' 3'' 2'' 4" 5" 1"' 3' 1' 2' 6 2 3 4 5

Tabel 6 Geseran kimia (δ, ppm) spektrum 1H-NMR dan 13C-NMR untuk senyawa a (CDCl3, 500 MHz) C/H Pergeseran Kimia (δ, ppm) 1H-NMR (J dalam Hz) 13C-NMR 1” - 168,83 2” 2,33 (t, 2H, CH2, J = 7,3) 31,13 3” 1,28 26,98 4” 1,24 22,37 5” 0,88 (t, 3H, CH3, J = 7,3) 13,76 1’’’ 3,82 (s, 3H, OCH3) 53,10 1’ - 169,40 2’ 5,01 (dt, 1H, CH, J = 3,7; 7,3) 51,43 3’ 4,49 (dd, 1H, CH2, J = 3,7; 11,6) 63,54 4,56 (dd, 1H, CH2, J = 3,7; 11,6) -CONH 8,66 (d, 1H, CONH, J = 8,5) 173,44 2 - 130,95 3 - 157,93 4 7,32 (dd, 1H, CH, J = 8,6; 4,3) 126,24 5 7,37 (dd, 1H, CH, J = 4,3; 1,3) 129,11 6 8,12 (dd, 1H, CH, J = 8,6; 1,3) 140,00 3-OH 11,68 (s, 1H, 3-OH) -

Gugus ester baru yang terbentuk pada senyawa a yang merupakan hasil reaksi esterifikasi senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil ester menggunakan asam pentanoat didukung oleh data spektrum 1H-NMR yang ditunjukkan oleh hilangnya sinyal pada geseran kimia proton 3-OH, yaitu 2,55 (t,1H, 3’-OH, J 6,1) pada senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil ester dan munculnya sinyal baru pada geseran kimia proton alifatik C2” pada 2,33 (t, 2H, CH2, J 7,3), C3”- C4” pada 1,24-1,28 (m, 4H, CH2, J 7,3) dan C5” pada 0,88 (t, 3H, CH3, J 7,3). Tetapan kopling proton alifatik ini sebesar 7,3 Hz, sesuai tetapan proton alifatik pada umumnya yang berkisar 6,5-7,5 Hz (Jenie et al. 2006). Geseran kimia proton-proton lainnya pada senyawa a hampir sama dengan nilai geseran kimia pada senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil ester karena perubahan struktur hanya terjadi pada gugus OH pada serin menjadi gugus ester.

Spektrum 13C-NMR yang mendukung terbentuknya senyawa a adalah adanya sinyal pada geseran kimia karbon alifatik pada gugus ester yang baru. Rantai alifatik pada gugus ester ini ditunjukkan oleh geseran kimia C1”-C5” berturut-turut pada 168,83; 31,13; 26,98; 22,37; dan 13,76 ppm. Geseran kimia

karbon-karbon yang lain pada senyawa a mirip dengan geseran kimia karbon-karbon pada senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil ester. Data hasil pengukuran terhadap senyawa b menggunakan NMR dapat dilihat pada Tabel 7 yang disertai dengan gambar struktur b (Gambar 11).

N OH O H N O O O 1'" 1' 2' 3' 2 3 4 6 5 O 1" 2" 3" 4" 5" 6"

Gambar 11 Senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil heksil ester (b)

Tabel 7 Geseran kimia (δ, ppm) spektrum 1H-NMR dan 13C-NMR untuk senyawa

b (CDCl3, 500 MHz) C/H Pergeseran Kimia (δ, ppm) 1H-NMR (J dalam Hz) 13C-NMR 1” - 168,82 2” 2,32 (t, 2H, CH2, J = 7,4) 34,06 3” 1,29 31,25 4” 1,28 (m, 6H, CH2, J = 7,4) 24,62 5” 1,25 22,37 6” 0,86 (t, 3H, CH3, J = 7,4) 13,93 1’’’ 3,82 (s, 3H, OCH3) 51,40 1’ - 169,40 2’ 5,01 (dt, 1H, CH, J = 3,7; 7,3) 53,10 3’ 4,49 (dd, 1H, CH2, J = 3,7; 11,4) 63,53 4,57 (dd, 1H, CH2, J = 3,7; 11,4) -CONH 8,66 (d, 1H, CONH, J = 7,95) 173,45 2 - 130,95 3 - 157,94 4 7,32 (dd, 1H, CH, J = 8,5; 4,3) 126,24 5 7,37 (dd, 1H, CH, J = 4,3; 1,6) 129,10 6 8,11 (dd, 1H, CH, J = 8,5; 1,6) 140,00 3-OH 11,68 (s, 1H, 3-OH) -

Gugus ester baru yang terbentuk pada senyawa b yang merupakan hasil reaksi esterifikasi senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil ester menggunakan asam heksanoat didukung oleh data spektrum 1H-NMR yang ditunjukkan oleh hilangnya sinyal pada geseran kimia proton 3-OH, yaitu 2,55 (t,1H, 3’-OH, J 6,1) pada senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil ester dan munculnya sinyal baru pada geseran kimia proton alifatik C2” pada 2,32 (t, 2H, CH2, J 7,4), C3”- C5”

pada 1,25-1,29 (m, 6H, CH2, J 7,4), dan C6” pada 0,86 (t, 3H, CH3, J 7,4). Tetapan kopling proton alifatik ini sebesar 7,4 Hz sesuai dengan tetapan proton alifatik pada umumnya, yaitu berkisar 6,5-7,5 Hz (Jenie et al. 2006). Geseran kimia proton-proton lainnya pada senyawa b hampir sama dengan nilai geseran kimia pada senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil ester karena perubahan struktur hanya terjadi pada gugus OH pada serin menjadi gugus ester.

Spektrum 13C-NMR yang mendukung terbentuknya senyawa b adalah adanya sinyal pada geseran kimia karbon alifatik pada gugus ester yang baru. Rantai alifatik pada gugus ester ini ditunjukkan oleh geseran kimia C1”-C6” berturut-turut pada 168,82; 34,06; 31,25; 24,62; 22,37; dan 13,93 ppm. Geseran kimia karbon-karbon yang lain pada senyawa b mirip dengan geseran kimia karbon-karbon pada senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil ester. Data hasil pengukuran terhadap senyawa c menggunakan NMR dapat dilihat pada Tabel 8 yang disertai dengan gambar struktur c (Gambar 12).

N OH O H N O O O O 1'' 2'' 3'' 4" 5" 1"' 3' 1' 2' 6 2 3 4 5 6" 7"

Tabel 8 Geseran kimia (δ, ppm) spektrum 1H-NMR dan 13C-NMR untuk senyawa c (CDCl3, 500 MHz) C/H Pergeseran Kimia (δ, ppm) 1H-NMR (J dalam Hz) 13C-NMR 1” - 168,86 2” 2,32 (t, 2H, CH2, J = 7,3 ) 34,13 3” 1,29 31,54 4” 1,27 31,08 5” 1,26 24,92 6” 1,25 22,55 7” 0,84 (t, 3H, CH3, J =7,3) 14,15 1’’’ 3,80 (s, 3H, OCH3) 53,15 1’ - 169,44 2’ 4,99 (dt, 1H, CH, J = 3,7; 7,3) 51,43 3’ 4,47 (dd, 1H, CH2, J = 3,7; 11,6) 63,57 4,56 (dd, 1H, CH2, J = 3,7; 11,6) -CONH 8,65 (d, 1H, CONH, J = 8,6) 173,52 2 - 130,96 3 - 157,97 4 7,30 (dd, 1H, CH, J = 8,6; 4,3) 126,28 5 7,35 (dd, 1H, CH, J = 4,3; 1,2) 129,16 6 8,09 (dd, 1H, CH, J = 8,6; 1,2) 140,05 3-OH 11,67 (s, 1H, 3-OH) -

Gugus ester baru yang terbentuk pada senyawa c yang merupakan hasil reaksi esterifikasi senyawa 3-hidroksipikolinil serin me til ester menggunakan asam heptanoat didukung oleh data spektrum 1H-NMR yang ditunjukkan oleh hilangnya sinyal pada geseran kimia proton 3-OH, yaitu 2,55 (t,1H, 3’-OH, J 6,1) pada senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil ester dan munculnya sinyal baru

pada geseran kimia proton alifatik C2” pada (t, 2H, CH2, J 7,3 ) C3”- C6” pada 1,25-1,29 (m, 8H, CH2, J 7,3) dan C7” pada 0,84 (t, 3H, CH3, J

7,3). Tetapan kopling proton alifatik ini sebesar 7,3 Hz sesuai dengan tetapan proton alifatik, yaitu berkisar 6,5-7,5 Hz (Jenie et al. 2006). Geseran kimia proton-proton lainnya pada senyawa c hampir sama dengan nilai geseran kimia pada senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil ester karena perubahan struktur hanya terjadi pada gugus OH pada serin menjadi gugus ester. Spektrun 1H-NMR memperlihatkan adanya geseran kimia pada 2,18 ppm (s, 3H) yang merupakan geseran kimia untuk proton pada aseton.

Spektrum 13C-NMR yang mendukung terbentuknya senyawa c adalah adanya sinyal pada geseran kimia karbon alifatik pada gugus ester yang baru. Rantai alifatik pada gugus ester ini ditunjukkan oleh geseran kimia C1”-C7” berturut-turut pada 168,86; 34,13; 31,54; 31,08; 24,92; 22,55; dan 14,15 ppm. geseran kimia karbon-karbon yang lain pada senyawa c mirip dengan geseran kimia karbon-karbon pada senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil ester. Hasil spektrum 13C-NMR senyawa c (Lampiran 4) juga memperlihatkan geseran kimia atom karbon pada 28,83 ppm dan 207,29 ppm yang masing-masing merupakan geseran kimia untuk karbon pada CH3 dan karbonil pada pelarut aseton (Jenie et al. 2006). Pelarut aseton dalam analisis ini yang digunakan untuk membersihkan tube sampel, sehingga kemungkinan masih tersisa dan terdeteksi oleh alat.

Spektrum 1H-NMR untuk senyawa a, b, dan c (Lampiran 3) juga menunjukkan geseran kimia masing-masing pada 1,61 ppm (s, 4H), 1,60 ppm (s, 8H), dan 1,60 ppm (m, 2H) yang merupakan geseran kimia untuk proton H2O terhadap pelarut CDCl3. Hal ini menunjukkan masih adanya air yang terdapat dalam senyawa produk reaksi. Keberadaan air dapat menghidrolisis senyawa produk sintesis sehingga perlu dihilangkan. Pelarut CDCl3 ditunjukkan oleh sinyal pada 7,26 (s, 1H) pada spektrum 1H-NMR dan geseran kimia pada 77,09-77,19 ppm pada spektrum 13C-NMR.

Geseran kimia 1H-NMR dan 13C-NMR pada struktur senyawa a, b, dan c

telah dikonfirmasi menggunakan program ChemDraw Ultra 5.0 dan menghasilkan data geseran kimia yang sesuai. Spektrum NMR senyawa PSMOE yang dihasilkan pada penelitian terdahulu (Arifin 2007) dan memiliki str uktur yang mirip dengan senyawa a, b, dan c digunakan sebagai pembanding.

Aktivitas Senyawa Analog UK-3A

Hasil uji sitotoksisitas senyawa analog UK-3A hasil sintesis sebagai antikanker dilakukan secara in vitro terhadap sel kanker Murine leukemia P-388 dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Aktivitas senyawa a, b, c, dan UK-3A terhadap sel kanker Murine leukemia P-388 Senyawa IC50 (µg/mL) a 39,0 b 51,0 c 82,0 cis-platin 12,0

UK-3A (Ueki et al. 1997a) 38,0

Senyawa cis-platin sebagai kontrol positif memperlihatkan aktivitas yang cukup tinggi dalam menghambat pertumbuhan sel kanker Murine leukemia P-388 jika dibandingkan dengan senyawa analog UK-3A, yaitu dengan nilai IC50 sebesar 12 µg/mL. Senyawa analog UK-3A hasil sintesis, yaitu senyawa a memiliki aktivitas yang hampir sama dengan senyawa induk UK-3A, sedangkan senyawa b

dan c menunjukkan aktivitas yang lebih rendah dalam menghambat pertumbuhan sel kanker Murine leukemia P-388 (Lampiran 5). Pembukaan cincin dilakton beranggota sembilan pada senyawa UK-3A menjadi diester pada senyawa a tidak berpengaruh terhadap aktivitasnya. Pembukaan cincin dilakton beranggota sembilan pada UK-3A menjadi senyawa b dan c menurunkan aktivitas senyawa. Penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pembukaan cincin dilakton beranggota sembilan pada UK-2A meningkatkan aktivitas senyawa (Usuki 2006) tidak berlaku pada senyawa b dan c.

Aktivitas senyawa hasil sintesis juga semakin menurun dengan penambahan panjang rantai pada gugus ester. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya menyatakan bahwa bertambahnya sifat hidrofobik senyawa akan meningkatkan aktivitasnya (Hanafi et al. 1999) karena berkaitan dengan kemempuan senyawa dalam menembus dinding sel. Penelitian lain menyebutkan aktivitas senyawa akan semakin tinggi jika kepolarannya mendekati kepolaran dinding sel. Apabila suatu senyawa terlalu hidrofob justru aktivitasnya akan menurun (Berger 2001).

KESIMPULAN

Sintesis senyawa analog UK-3A tahap pertama, yaitu sintesis senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil ester yang merupakan reaksi amidasi menghasilkan senyawa dengan rendemen sebesar 42,4%. Reaksi sintesis tahap kedua, yaitu sintesis senyawa 3-hidroksipikolinil serin metil pentil ester (a), 3-hidroksipikolinil serin metil heksil ester (b), dan 3-hidroksipikolinil serin heptil ester (c) masing-masing menghasilkan rendemen sebesar 32,2; 36,4; dan 38,8%. Reaksi sintesis tahap pertama maupun kedua menghasilkan senyawa dengan rendemen sintesis yang masih rendah.

Uji aktivitas senyawa hasil sintesis dalam menghambat pertumbuhan sel kanker Murine leukemia P-388 menghasilkan nilai IC50 untuk senyawa a, b, dan c

masing-masing sebesar 39,0; 51,0; dan 82,0 µg/mL. Nilai IC50 ini menunjukkan bahwa aktivitas senyawa a hampir sama, b dan c lebih rendah dari senyawa induk UK-3A dan senyawa hasil sintesis cukup berpotensi sebagai antikanker terhadap sel kanker Murine leukemia P-388, terutama senyawa a.

SARAN

Perlu dilakukan penelitian sintesis senyawa analog UK-3A dengan struktur yang berbeda, yaitu dengan meragamkan gugus fungsi. Reaksi sintesis menggunakan gugus pelindung perlu dilakukan agar reaksi lebih spesifik dan menghasilkan rendemen yang tinggi. Uji aktivitas senyawa hasil sintesis, yaitu senyawa a, b, dan c perlu dilakukan terhadap sel kanker lain.

Dokumen terkait