• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

2. Sertifikasi Profesi Guru

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya mengajar. Di dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengemukakan bahwa:

Guru adalah pendidik dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Majid (2007 : 123), mengemukakan “Guru adalah orang yang bertugas

membantu murid untuk mendapatkan pengetahuan sehingga ia dapat

mengembangkan potensi yang dimilikinya”. Pendapat lain menurut Mulyasa

(2007 : 37) :

Guru adalah pendidik yang menjadi tokoh panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.

Suparlan (2006 : 11), mengemukakan “ Secara legal-formal, yang dimaksudkan guru adalah sesiapa yang memperoleh Surat Keputusan (SK), baik dari pemerintah atau swasta, untuk melaksanakan tugasnya, dank arena

18 itu memiliki hak dan kewajiban untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar di lembaga pendidikan sekolah”.

Menurut H. Endang Komara dalam Jamal (2011 : 21), guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Di sisi lain guru dalam jabatan adalah guru PNS dan Non PNS yang sudah mengajar pada satuan pendidik, baik yang diselenggarakan pemerintah, pemerintah daerah, maupun masyarakat dan sudah mempunyai perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.

Dari beberapa definisi yang dikemukakan para ahli diatas, maka dapat disimpulkan guru adalah pendidik yang bertugas mengajarkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pesan-pesan moral kepada peserta didik pada lembaga pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

b. Guru Sebagai Profesi

Menurut Kunandar (2007 : 46) profesi adalah suatu keahlian (skill) dan kewenangan dalam suatu jabatan tertentu yang mensyaratkan kompetensi (pengetahuan, sikap, dan keterampilan) tertentu secara khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif.

19 Sementara itu, Payong (2011 : 6) mengemukakan profesi adalah sebuah pekerjaan yang digeluti dengan penuh pengabdian dan dedikasi serta dilandasi oleh keahlian atau keterampilan tertentu. Sahertian dalam Payong (2011:6) mengemukakan, profesi pada hakikatnya adalah suatu pernyataan atau suatu janji terbuka, yang menyatakan bahwa seseorang mengabdikan dirinya pada suatu jabatan atau pelayanan, karena orang tersebut untuk menjabat pekerjaan itu.

Profesi guru adalah keahlian dan kewenangan khusus dalam bidang pendidikan, pengajaran, dan pelatihan yang ditekuni untuk menjadi mata pencaharian dalam memenuhi kebutuhan hidup yang bersangkutan. Guru sebagai profesi berarti guru sebagai pekerjaan yang mensyaratkan kompetensi (keahlian dan kewenangan) dalam pendidikan dan pembelajaran agar dapat melaksanakan pekerjaan tersebut secara efektif dan efisien serta berhasil guna. Sementara itu, Samana dalam Jamal (2011 : 25) mengungkapkan, guru dikatakan sebagai profesi karena memenuhi ciri-ciri antara lain memerlukan persiapan atau pendidikan khusus, dituntut memiliki kecakapan yang memenuhi persyaratan yang telah diterapkan oleh pihak yang berwenang, serta mendapat pengakuan dari masyarakat atau Negara.

Profesionalisme adalah kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan yang berkaitan dengan mata pencaharian seseorang. Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata

20 pencaharian. Guru yang professional adalah guru yang memiliki kompetensi (meliputi pengetahuan, sikap, pribadi, sosial, maupun akademis) yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Guru yang professional memiliki gagasan-gagasan baru untuk selalu mengembangkan kreativitas, memiliki ide cemerlang yang selalu mengiringi daya cipta dalam berkarya, menghabiskan waktu untuk menyelesaikan tugas professional dan administrasi, bertanggung jawab, ikhlas, dan tak pernah putus asa (Jamal 2011 : 29). Dengan kata lain profesionalisme guru adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam budang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.

Profesionalisme berasal dari kata profesi yang artinya suatu bidang pekerjaan yang ingin atau akan ditekuni oleh seseorang. Sementara itu, yang dimaksud profesionalisme adalah kondisi, arah, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian.

Guru yang kompeten dan profesional adalah guru yang piawai dalam

melaksanakan profesinya. Kata “profesional” erat kaitannya dengan kata “profesi”. Wirawan (2002 : 9) berpendapat “profesi adalah pekerjaan yang untuk melaksanakannya memerlukan sejumlah persyaratan tertentu.” Definisi

ini menyatakan bahwa suatu profesi menyajikan jasa yang berdasarkan ilmu pengetahuan yang hanya dipahami oleh orang-orang tertentu yang secara sistematik diformulasikan dan diterapkan untuk memenuhi kebutuhan klien

21 dalam hal ini masyarakat. Salah satu contoh profesi yaitu guru. Menurut pendapat Wirawan (2002 : 10), profesional adalah orang yang melaksanakan profesi yang berpendidikan minimal S1 dan mengikuti pendidikan profesi atau lulus ujian profesi. Pekerjaan profesional berbeda dengan pekerjaan lainnya karena suatu profesi memerlukan kemampuan dan keahlian khusus dalam melaksanakan profesinya. Suatu profesi memerlukan syarat-syarat tertentu, seperti yang disimpulkan oleh Dedi Permadi (Ida DS, 2006 : 19) bahwa profesi yang ideal itu memiliki unsur-unsur sebagai berikut.

a. Suatu dasar ilmu atau teori sistematis.

b. Kewenangan profesional yang diakui oleh kliennya.

c. Sanksi dan pengakuan masyarakat dan keabsahan kewenangannya. d. Kode etik yang regulatif.

e. Kebudayaan profesi.

f. Persatuan profesi yang kuat dan berpengaruh.

Guru profesional adalah guru yang mengenal tentang dirinya, Maksudnya pribadi yang dipanggil untuk mendampingi peserta didik untuk atau dalam belajar. Guru dituntut mencari tahu terus-menerus bagaimana seharusnya peserta didik itu belajar. Maka, apabila ada kegagalan peserta didik, guru terpanggil untuk menemukan penyebabnya dan mencari jalan keluar bersama peserta didik dan bukan mendiamkannya atau menyalahkannya. Sikap yang harus senantiasa dipupuk adalah kesediaan untuk mengenal diri dan kehendak untuk memurnikan keguruannya, mau belajar dengan meluangkan waktu untuk menjadi guru. Seorang guru yang tidak bersedia belajar, tak mungkin bertahan dan bangga menjadi guru. Kebanggaan atas keguruannya adalah langkah untuk menjadi guru yang professional.

22

c. Pengertian Sertifikasi Profesi guru

Pengertian sertifikasi guru menurut Suyatno (2008 : 2) adalah“proses

pemberian sertifikat pendidik kepada guru.” Sedangkan di dalam Undang

Undang Guru dan Dosen pengertian sertifikasi bagi guru dalam jabatan

adalah “proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dalam jabatan.”

Sertifikat pendidik menurut Suyatno (2008 : 2) adalah “sertifikat yang

ditandatangani oleh perguruan tinggi penyelenggara sertifikasi sebagai bukti formal pengakuan dan profesionalitas guru yang diberikan kepada guru sebagai tenaga profesional.”

Jadi, dapat dikatakan sertifikasi adalah proses pembuktian bahwa seorang guru telah memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh peraturan perundangundangan. Proses pembuktian itu dapat saja melalui suatu uji kompetensi guru sebagaimana ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan tersebut.

Menurut Kunandar (2007 : 79), sertifikasi profesi guru adalah proses untuk memberikan sertifikat kepada guru yang telah memenuhi standar kualifikasi dan standar kompetensi. Artinya jika guru belum memenuhi kualifikasi dan standar kompetensi yang sudah ditetapkan maka guru belum bisa mendapatkan gelar guru profesional.

Menurut Mulyasa (2008 : 33), sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai tenaga professional, sedangkan sertifikasi guru adalah suatu proses pemberian pengakuan bahwa seorang telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan pelayanan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu setelah

23 lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh lembaga sertifikasi. Jadi sertifikasi guru adalah proses uji kompetensi yang dirancang untuk mengungkapkan penguasaan kompetensi yang dirancang untuk mengungkapkan penguasaan kompetensi seseorang sebagai landasan pemberian sertifikat pendidik.

Menurut Sagala (2009 : 30) guru wajib mengikuti sertifikasi, karena dengan sertifikasi seorang guru akan meningkatkan kemampuan dan keterlibatannya dalam melaksanakan tugas sebagai guru. Masnur Muslich (2007 : 7) mengatakan bahwa dengan sertifikasi diharapkan guru menjadi pendidik profesional, yaitu berkompetensi sebagai agen pembelajaran yang dibuktikandengan pemilikan sertifikat pendidikan setelah dinyatakan lulus uji kompetensi. Oleh karena itu, lewat sertifikasi ini diharapkan guru menjadi pendidikan yang profesional, yaitu yang berpendidikan minimal S-1/D-4 dan berkompetensi sebagai agen pembelajaran yang dibuktikan dengan sertifikat pendidik setelah dinyatakan lulus uji kompetensi. Atas profesinya itu, guru berhak mendapatkan imbalan (reward) berupa tunjangan profesi dari pemerintah sebesar satu kali gaji pokok. (Masnur Musclish, 2007 : 7).

Pengertian sertifikasi yang lain dikemukakan Martinis Yamin (2006 : 2), bahwa sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen atau bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional.Sesuai pengertian tersebut jelas bahwa sertifikasi pada hakekatnya merupakan proses pengakuan sebagai guru

24 profesional yang dibuktikan dengan adanya pemberian sertifikat pendidik sebagai guru profesional

Berdasarkan pendapat beberapa ahli yang telah dikemukakan dapat disimpulkan, sertifikasi profesi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik yang ditandatangani oleh perguruan tinggi penyelenggara sertifikasi sebagai bukti formal pengakuan dan profesionalitas guru yang diberikan kepada guru sebagai tenaga professional yang telah memenuhi persyaratan tertentu, yaitu memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sehat jasmanai dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional untuk mengangkat derajat guru atas pengabdian kerjanya.

d. Dasar, Tujuan, dan Manfaat Sertifikasi Profesi Guru

Secara umum, sertifikasi profesi guru dapat dianggap sebagai amanah dari UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dasar utama pelaksanaaan sertifikasi profesi guru adalah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) yang disahkan tanggal 30 Desember 2005. Pasal yang menyatakannya adalah Pasal 8: guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal lainnya adalah Pasal 11, ayat (1) menyebutkan bahwa sertifikat pendidik sebagaimana dalam pasal 8 diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Landasan hukum lainnya adalah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan

25 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru, Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru.

Adapun tujuan sertifikasi guru menurut Suyatno (2008 : 2) yaitu :

a. Menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

b. Meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan. c. Meningkatkan martabat guru.

d. Meningkatkan profesionalisme guru.

Manfaat sertifikasi guru menurut Suyatno (2008 : 3) adalah sebagai berikut: 1. Melindungi profesi guru dari praktik-praktik yang tidak kompeten,

yang dapat merusak citra profesi guru.

2. Melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan profesional.

3. Menjadi wahana penjaminan mutu bagi LPTK , dan kontrol mutu dan jumlah guru bagi pengguna layanan pendidikan.

4. Menjaga lembaga penyelenggara pendidikan (LPTK) dari keinginan internal dan tekanan eksternal yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang berlaku.

5. Memperoleh tujangan profesi bagi guru yang lulus ujian sertifikasi.

e. Mekanisme Sertifikasi Profesi dalam Guru

Di Indonesia, menurut UU RI Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran. Sertifikat pendidik diberikan kepada seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan profesi pendidik dan lulus uji sertifikasi pendidik. Dalam hal ini, ujian sertifikasi pendidik dimaksudkan sebagai kontrol mutu hasil pendidikan,

26 sehingga seseorang yang dinyatakan lulus dalam ujian sertifikasi pendidik diyakini mampu melaksanakan tugas mendidik, mengajar, melatih, membimbing, dan menilai hasil belajar peserta didik.

Mengajar tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Pekerjaan guru merupakan suatu keahlian atau profesi. Profesi guru memiliki suatu persyaratan tertentu yang disebutkan secara eksplisit dalam Pasal 8

Undang-undang RI No. 4 Tahun 2005 bahwa ”guru wajib memiliki kualifikasi

akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.

Mengacu pada substansi Pasal 8 tersebut diatas jelas sekali bahwa kepemilikan sertifikat pendidik itu penting bagi seorang guru. Mekanisme sertifikasi profesi guru dalam jabatan adalah sebagai berikut :

Dokumen terkait