Bab II FUNGSI PENDAFTARAN TANAH DALAM MEMBERIKAN
C. Sertifikat sebagai Tanda Bukti Hak Atas Tanah
Salah satu tujuan pendaftaran tanah sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 3 Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997, adalah untuk memberikan jaminan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun, dan hak-hak lain yang terdaftar agar dengan mudah membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan. Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum, kepada pemegang hak yang bersangkutan diberikan sertifikat hak atas tanah.39
39Ibid., hal. 259.
Menurut Pasal 13 PP Nomor 10 Tahun 1961, yang dimaksud dengan sertifikat adalah surat tanda bukti hak yang terdiri dari salinan buku tanah dan surat ukur, diberi sampul dan dijahit menjadi satu yang bentuknya ditetapkan oleh Menteri Agraria. Sedangkan dalam Pasal 1 angka 20 PP Nomor 24 Tahun 1997 dijelaskan bahwa sertifikat adalah surat tanda bukti hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA untuk hak atas tanah, hak pengelolaan, tanah wakaf, hak milik atas satuan rumah susun, dan hak tanggungan yang masing-masing sudah dibukukan dalam buku tanah yang bersangkutan.
Ada bermacam-macam sertifikat berdasarkan objek pendaftaran tanah yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1996 dan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997, yaitu:40
a. Sertifikat Hak Milik;
b. Sertifikat Hak Guna Usaha;
c. Sertifikat Hak Guna Bangunan Atas Tanah Negara;
d. Sertifikat Hak Guna Bangunan Atas Tanah Hak Pengelolaan;
e. Sertifikat Hak Pakai Atas Tanah Negara;
f. Sertifikat Hak Pakai Atas Tanah Hak Pengelolaan;
g. Sertifikat tanah Hak Pengelolaan;
h. Sertifikat Wakaf Tanah Hak Milik;
i. Sertifikat Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun;
j. Sertifikat Hak Milik Atas Satuan Nonrumah Susun;
k. Sertifikat Hak Tanggungan.
40Ibid., hal. 261.
Hak-hak atas tanah yang tidak diterbitkan sertifikat sebagai tanda bukti haknya, adalah:
a. Hak Guna Bangunan Atas Tanah Hak Milik;
b. Hak Pakai Atas Tanah Hak Milik;
c. Hak Sewa Untuk Bangunan.
Fungsi sertifikat hak atas tanah adalah:41
1. Fungsi Pertama, sertifikat hak atas tanah berfungsi sebagai alat pembuktian yang kuat. Inilah fungsi yang paling utama sebagaimana disebut dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA. Seseorang atau suatu badan hukum akan lebih mudah membuktikan dirinya sebagai pemegang hak atas suatu bidang tanah tersebut bila namanya tercantum dalam sertifikat itu, serta dapat membuktikan mengenai keadaan-keadaan dari tanahnya itu, misalnya luas, batas-batasnya, bangunan-bangunan yang ada, jenis haknya beban-beban yang ada pada hak atas tanah itu, dan sebagainya. Semua keterangan yang tercantum dalam sertifikat itu mempunyai kekuatan hukum dan harus diterima oleh hakim sebagai keterangan yang benar sepanjang tidak ada bukti lain yang dapat membuktikan sebaliknya. Kalau ternyata apa yang termuat didalam sertifikat terdapat suatu kesalahan, maka diadakan perubahan dan pembetulan seperlunya. Dalam hal ini yang berhak mengadakan pembetulan itu bukan pengadilan, melainkan Badan Pertanahan Nasional sebagai instansi yang membuatnya. Pihak
41 Adrian Sutedi, Kekuatan Hukum Berlakunya Sertifikat Sebagai Tanda Bukti Hak Atas Tanah, (Jakarta: Bina Cipta Jaya, 2006) hal. 27-28.
yang merasa dirugikan karena kesalahan dalam sertifikat itu, mengajukan permohonan untuk perubahan atas sertifikat dimaksud, dengan melampirkan Putusan Pengadilan yang menyatakan tentang adanya kesalahan dimaksud.
2. Fungsi Kedua, sertifikat hak atas tanah memberikan kepercayaan bagi pihak bank/kreditur untuk memberikan pinjaman uang kepada pemiliknya. Dengan demikian, bila pemegang hak atas tanah itu seorang pengusaha misalnya, maka sudah tentu akan memudahkan baginya mengembangkan usahanya itu karena kebutuhan akan modal mudah diperoleh.
3. Fungsi Ketiga, bagi pemerintah, adanya sertifikat hak atas tanah juga sangat menguntungkan walaupun kegunaan itu kebanyakan tidak langsung. Adanya sertifikat hak atas tanah membuktikan bahwa tanah yang bersangkutan telah terdaftar pada Kantor Agraria. Data tentang tanah yang bersangkutan secara lengkap telah tersimpan di Kantor Pertanahan, dan bila sewaktu-waktu diperlukan dengan mudah diketemukan. Data sangat penting untuk perencanaan kegiatan pembangunan, misalnya pengembangan kota, pemasangan pipa-pipa irigasi, kabel telepon, penarikan pajak bumi dan bangunan, dan sebagainya.
Berdasarkan ketentuan Pasal 32 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997, meskipun telah diterbitkan sertifikat, tidak ada jaminan bagi pemegang hak atas tanah untuk tidak mendapatkan gugatan dari pihak lain yang merasa dirugikan atas diterbitkannya sertifikat tersebut. Demikian pula Badan
Pertanahan Nasional (BPN) tidak menjamin kebenaran data fisik dan data yuridis yang ada dalam sertifikat.
Untuk memberikan perlindungan hukum bagi pemegang hak atas tanah yang mempunyai sertifikat dari gugatan atau keberatan dari pihak lain, maka ditetapkanlah Pasal 32 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997, yaitu:
“Dalam hal atas suatu bidang tanah sudah diterbitkan sertifikat secara sah atas nama orang atau badan hukum yang memperoleh tanah tersebut dengan iktikad baik dan secara nyata menguasainya, maka pihak lain yang merasa mempunyai hak atas tanah itu tidak dapat lagi menuntut pelaksanaan hak tersebut apabila dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diterbitkannya sertifikat itu tidak mengajukan keberatan secara tertulis kepada pemegang sertifikat dan Kepala Kantor Pertanahan yang bersangkutan ataupun tidak mengajukan gugatan ke pengadilan mengenai penguasaan tanah atau penerbitan sertifikat tersebut.”
Berkaitan dengan sifat pembuktian sertifikat sebagai tanda bukti hak sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 32 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997, Maria S.W. Sumardjono menyatakan bahwa apabila selama 5 (lima) tahun pemegang hak atas tanah semula lalai untuk menggunakan tanahnya sesuai dengan sifat dan tujuan haknya, serta membiarkan hak atas tanahnya dikuasai dan didaftarkan oleh pihak lain yang beriktikad baik dan ia tidak mengajukan gugatan ke pengadilan, berarti yang bersangkutan menelantarkan tanahnya dan kehilangan
haknya untuk menggugat. Konsepsi ini didasarkan pada lembaga rechtsverwerking yang dikenal dalam Hukum Adat.42
Arie S. Hutagulung memberikan pengertian tentang rechtsverwerking, yaitu: “Di dalam Hukum Adat ada lembaga yang namanya “kehilangan hak untuk menuntut” atau rechtsverwerking, yang intinya adalah apabila seseorang mempunyai tanah, tetapi selama jangka waktu tertentu membiarkan tanahnya tidak terurus, dan tanah itu digunakan oleh orang lain dengan iktikad baik, dia tidak dapat lagi menuntut pengembalian tanah tersebut dari orang lain tadi.
Lembaga tersebut adalah sesuai dengan prinsip yang dianut oleh Hukum Adat bahwa tanah merupakan milik bersama masyarakat/anggotanya, dan tidak boleh sekedar dimiliki akan tetapi tidak digunakan, sama halnya dengan larangan menelantarkan tanah dalam Hukum Tanah Nasional”.43
42 Urip Santoso III, Op. Cit., hal. 278.
43 Arie S. Hutagulung, Tebaran Pemikiran Seputar Masalah Hukum Tanah, (Jakarta:
Lembaga Pemberdayaan Hukum Indonesia, 2005), hal. 89.
PENYELESAIAN SENGKETA PERTANAHAN DI INDONESIA
A. Gambaran Umum Mengenai Sengketa Pertanahan
Menurut Pasal 1 Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 1999 tentang Tata Cara Penanganan Sengketa Pertanahan, selanjutnya disebut PMNA/KBPN 1/1999, sengketa pertanahan adalah perbedaan pendapat antara pihak yang berkepentingan mengenai keabsahan suatu hak, pemberian hak atas tanah, pendaftaran hak atas tanah, termasuk peralihan dan penerbitan tanda bukti haknya serta pihak yang berkepentingan yang merasa mempunyai hubungan hukum dan pihak lain yang berkepentingan terpengaruh oleh status hukum tanah tersebut.
Sengketa pertanahan menurut Sarjita adalah perselisihan yang terjadi antara dua pihak atau lebih yang merasa atau dirugikan pihak-pihak tersebut untuk penggunaan dan penguasaan hak atas tanahnya, yang diselesaikan melalui musyawarah atau melalui pengadilan.44
Bentuk-bentuk sengketa pertanahan yang terjadi selama ini sangat beraneka ragam. Sehubungan dengan hal tersebut, Dadang Juliantra, membagi lima bentuk sengketa tanah:45
44 Sarjita, Op. Cit., hal. 8.
45 Dadang Juliantra, Sengketa Tanah, Modal dan Transformasi, (Yogyakarta: forum LSM LPSM DIY, 1995), hal. 175.
1. Pengambilan tanah untuk kepentingan proyek pembangunan pemerintah, seperti waduk, lapangan terbang, tempat latihan tempur, dan lain-lain;
2. Pengambilan tanah untuk perkebunan, baik dalam bentuk perusahaan perkebunan maupun perusahaan inti rakyat;
3. Pengambilan tanah (terutama tanah adat) untuk mengeksploitasi hutan melalui HPH maupun HPI;
4. Konflik tanah untuk pemukiman dan garapan petani versus penggunaan tanah untuk hutan atau suaka marga satwa atau taman nasional;
5. Perebutan tanah antara penggarap dan proyek-proyek wisata atau rekreasi.
Peta permasalahan tanah menurut Maria S.W. Sumardjono dapat dikelompokkan menjadi:46
1. Masalah penggarapan rakyat atas tanah areal kehutanan, perkebunan, proyek perumahan yang diterlantarkan, dan sebagainya;
2. Masalah yang berkenaan dengan pelanggaran ketentuan Land Reform;
3. Ekses-ekses dalam penyediaan tanah untuk keperluan pembangunan;
4. Sengketa perdata berkenaan dengan masalah tanah;
5. Masalah yang berkaitan dengan hak ulayat masyarakat hukum adat.
46Pahlefi, Analisis Bentuk-Bentuk Sengketa Hukum Atas Tanah Menurut Peraturan Perundang-undangan di Bidang Agraria, Majalah Hukum Forum Akademika, Vol. 25 No. 1, Maret 2014, hal. 143.
Sengketa hukum atas tanah adalah bermula dari adanya pengaduan sesuatu pihak (orang/badan) yang berisi keberatan-keberatan dan tuntutan hak atas tanah baik terhadap status tanah, prioritas maupun kepemilikannya dengan harapan dapat memperoleh penyelesaian secara administrasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku, tetapi tujuan akan berakhir kepada tuntutan bahwa ia lebih berhak atas tanah sengketa.47
Sengketa pertanahan yang saat ini masih marak muncul adalah akibat pemilikan atau penguasaan tanah yang tidak seimbang.Hal ini banyak terjadi pada tanah-tanah perkebunan.Sengketa ini banyak memicu terjadinya pendudukan tanah perkebunan dimana HGU-nya belum berakhir oleh masyarakat tanpa seizin pemegang hak atas tanah yang bersangkutan (ocupatie) dan diklaim sebagai tanah miliknya.48
B. Mekanisme Penyelesaian Sengketa Pertanahan
Penyelesaian sengketa pertanahan dapat dilakukan melalui instansi Badan Pertanahan Nasional (BPN), melalui arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa (non litigasi), serta melalui lembaga peradilan (litigasi).
1. Penyelesaian Melalui Badan Pertanahan Nasional (BPN)
Badan Pertanahan Nasional (BPN) adalah lembaga pemerintahan yang bertugas untuk melaksanakan dan mengembangkan hal yang berkaitan dengan administrasi pertanahan.Dalam melaksanakan tugas tersebut, penyelesaian
47 Rusmadi Murad, Penyelesaian Sengketa Hukum Atas Tanah, (Bandung:Alumni, 1999), hal. 22.
48 Pahlefi, Op. Cit., hal. 138.
masalah pertanahan merupakan salah satu fungsi yang menjadi kewenangan BPN.
Dalam menangani sengketa pertanahan, secara struktural menjadi tugas dan fungsi Sub Direktorat Penyelesaian Sengketa Hukum pada BPN, Seksi Penyelesaian Masalah Pertanahan pada Kantor Wilayah BPN Provinsi dan Sub Seksi Penyelesaian Masalah Pertanahan pada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota.
Selain itu berdasarkan PMNA/KBPN No. 1 Tahun 1999, dibentuk Sekretariat Penanganan Sengketa Pertanahan pada Badan Pertanahan Nasional yang secara fungsional bertugas untuk membantu penanganan sengketa pertanahan. Ketentuan tersebut berlaku mutatis-mutandis bagi Kantor Wilayah BPN Provinsi maupun Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota.49
Penyelesaian melalui Instansi Badan Pertanahan Nasional (BPN) dilakukan melalui langkah-langkah:
a. Adanya pengaduan
Sengketa hak atas tanah timbul karena adanya pengaduan atau keberatan dari orang/badan hukum yang berisi kebenaran dan tuntutan terhadap suatu keputusan Tata Usaha Negara di lingkungan Badan Pertanahan Nasional, dimana keputusan Pejabat tersebut dirasakan merugikan hak-hak mereka atas suatu bidang tanah tertentu.
Sengketa hak atas tanah meliputi beberapa macam antara lain mengenai status tanah, siapa-siapa yang berhak, bantahan terhadap
49 Badan Pertanahan Nasional, Pengarahan Direktur Pengadaan Tanah Instansi Pemerintah pada Rapat Konsultasi Teknis Para Kepala Bidang Hak-Hak Atas Tanah Seluruh Indonesia, (Jakarta: 15 Juli 2003), hal. 13.
bukti-bukti perolehan yang menjadi dasar pemberian hak atau pendaftaran dalam buku tanah.
b. Penelitian dan pengumpulan data
Setelah berkas pengaduan diterima, pejabat yang berwenang mengadakan penelitian terhadap data/administrasi maupun hasil di lapangan/fisik mengenai penguasaannya sehingga dapat disimpulkan pengaduan tersebut beralasan atau tidak untuk diproses lebih lanjut.
Jika ternyata terdapat dugaan kuat, bahwa pengaduan tersebut dapat diproses, maka lebih lanjut diselesaikan melalui tahap tentang kemungkinan dilakukan pencegahan mutatis mutandis menyatakan tanah tersebut dalam keadaan sengketa.
Namum apabila pengaduan tersebut tidak mengandung alasan-alasan yang kuat atau masalahnya terlalu prinsipil dan harus menempuh proses lembaga atau instansi lain, maka kepada yang bersangkutan diberitahukan hal-hal tersebut dan ternyata dinyatakan bahwa pengaduan tidak atau belum dapat dipertimbangkan.
c. Pencegahan (mutasi)
Sebagai tindak lanjut dari penyelesaian sengketa tersebut, kemudian baik atas dasar petunjuk atau perintah atasan maupun berdasarkan prakarsa Kepala Kantor Agraria yang bersangkutan terhadap tanah sengketa, dapat dilakukan langkah-langkah pengamanan berupa pencegahan/penghentian untuk sementara terhadap segala bentuk perubahan.
Maksud dari pada pencegahan adalah untuk menghentikan untuk sementara segala bentuk perubahan. Kegunaannya yang pertama adalah untuk kepentingan penelitian didalam penyelesaian sengketa oleh karena kalau tidak demikian, penyelesaian sengketa akan mengalami kesulitan didalam meletakkan keputusannya nanti.
Misalnya tanah yang dalam sengketa diperjualbelikan sehingga keputusannya akan merugikan pihak pembeli yang beriktikad baik.
Kegunaan yang kedua adalah untuk kepentingan pemohon sendiri, sebab apabila tidak dilakukan penghentian maka pengaduan tersebut tidak ada gunanya.
Syarat-syarat untuk dapat dilakukan pencegaan untuk menjamin kelancaran pemeriksaan atau penelitian:
1. Terdapat alasan yang sah, misalnya si pemohon atau pengadu akan terancam haknya, apabila tidak dilakukan pencegahan.
2. Demi kepentingan hukum perlu dilakukan pencegahan untuk menjamin kelancaran pemeriksaan atau penelitian.
d. Musyawarah
Penyelesaian melalui cara musyawarah merupakan langkah pendekatan terhadap para pihak yang bersengketa, seringkali menempatkan pihak instansi/Kantor Pertanahan sebagai mediator dalam penyelesaian secara kekeluargaan ini, sehingga diperlukan sikap tidak memihak dan tidak melakukan tekanan-tekanan, akan tetapi tidak berarti mediator tersebut harus bersikap pasif. Pihak agraria harus mengemukakan beberapa cara penyelesaian, menunjukkan
kelemahan-kelemahan serta kesulitan-kesulitan yang mungkin timbul, yang dikemukakan kepada para pihak.
Musyawarah ini apabila dilakukan, harus pula memperhatikan tatacara formal seperti surat pemanggilan, berita acara atau notulen rapat, akta atau pernyataan perdamaian yang berguna sebagai bukti bagi para pihak maupun pihak ketiga. Hasil dari musyawarah ini dibakukan dalam sebuah akta perdamaian, baik yang dilakukan dimuka hakim maupun diluar pengadilan atau notaris untuk mendapatkan kekuatan hukum yang mengikat para pihak yang telah sepakat.
e. Pencabutan/Pembatalan Surat Keputusan Tata Usaha Negara di bidang Pertanahan oleh Kepala BPN.
2. Penyelesaian Melalui Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (non litigasi)
Secara garis besar, penyelesaian sengketa diluar pengadilan dibedakan atas 2 yakni Pertama, Penyelesaian sengketa secara arbitrase; dan Kedua, Penyelesaian sengketa secara alternatif penyelesaian sengketa.
Proses penyelesaian sengketa pertanahan melalui Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS) atau Alternative Dispute Resolution (ADR), ada juga yang menyebutnya sebagai Mekanisme Penyelesaian Sengketa Secara Kooperatif (MPSSK).50 Menurut Philip D. Bostwick, yang dimaksud dengan Alternative Dispute Resolution (ADR) adalah sebuah perangkat pengalaman dan teknik hukum yang bertujuan (A set of practice and legal techniques that aim):
50 Priyatna Abdurrasyid, Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, (Jakarta:
Fikahati Aneska, 2002), hal. 11.
a. Menyelesaikan sengketa hukum di luar pengadilan demi keuntungan para pihak;
b. Mengurangi biaya litigasi konvensional dan pengunduran waktu yang biasa terjadi;
c. Mencegah terjadinya sengketa hukum yang biasanya diajukan ke pengadilan.
Proses penyelesaian sengketa pertanahan diluar pengadilan pada umumnya dapat dilakukan melalui berbagai cara berikut:
1. Konsultasi
Konsultasi adalah permohonan nasihat atau pendapat untuk menyelesaikan suatu sengketa secara kekeluargaan yang dilakukan oleh para pihak yang bersengketa kepada pihak ketiga.
2. Negosiasi
Negosiasi ialah proses tawar menawar untuk mencapai kesepakatan dengan pihak lain melalui proses interaksi, komunikasi yang dinamis dengan tujuan untuk mendapatkan penyelesaian atau jalan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi oleh kedua belah pihak.
3. Mediasi
Mediasi adalah upaya penyelesaian sengketa para pihak dengan kesepakatan bersama melalui mediator yang bersikap netral, dan tidak membuat keputusan atau kesimpulan bagi para pihak tetapi menunjang fasilitator untuk terlaksananya dialog antar pihak dengan suasana keterbukaan, kejujuran, dan tukar pendapat untuk tercapainya mufakat.
4. Konsiliasi
Konsiliasi mirip dengan mediasi, yakni merupakan suatu proses penyelesaian sengketa berupa negosiasi untuk memecahkan masalah melalui pihak luar yang netral dan tidak memihak yang akan bekerja dengan pihak yang bersengketa untuk membantu menemukan solusi dalam menyelesaikan sengketa tersebut.
5. Arbitrase
Menurut Pasal 1 angka 1 UU Nomor 30 Tahun 1999, arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.
Terdapat 2 macam perjanjian arbitrase sebagai sumber hukum, yaitu:
1. Perjanjian arbitrase yang disepakati dan dibuat sebelum terjadi sengketa atau arbitration clause;
2. Perjanjian arbitrase yang dibuat setelah terjadi sengketa atau submission clause.
3. Penyelesaian Melalui Lembaga Peradilan (litigasi)
Berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 1970 jo. UU Nomor 35 Tahun 1999 jo.
UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, pada umumnya penyelesaian sengketa pertanahan yang terkait sengketa kepemilikan diserahkan ke peradilan umum yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 jo. UU Nomor 8 Tahun 2004 tentang Peradilan Umum; terhadap sengketa keputusan Badan Pertanahan Nasional melalui Peradilan Tata Usaha Negara yang diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 1986 jo. UU Nomor 9 Tahun
2004 tentang Peradilan Tata Usaha Negara; dan sengketa yang menyangkut tanah wakaf diajukan ke Peradilan Agama.51
1. Pengadilan Umum
Penyelesaian sengketa pertanahan dilakukan di pengadilan umum karena sesuai KUHPerdata – dalam Buku Kedua KUHPerdata – tanah diatur dalam hukum formal.Untuk mempertahankan hukum formal digunakan hukum acara HIR/RBg. Walaupun Buku Kedua sudah dihapus setelah pemberlakuan UUPA, hingga saat ini belum ada hukum acara yang berfungsi untuk mempertahankan UUPA tersebut.Jadi HIR/RBg masih dipakai.52
Selain itu HIR/RBg digunakan sebagai hukum acara penyelesaian sengketa pertanahan karena tanah itu mencakup status dan hak sekaligus.Keduanya tak mungkin dipisahkan.Juga, tidak mungkin diselesaikan dengan memisahkan subjek (pemegang haknya) dan objeknya (tanahnya).Sengketa mengenai hak adalah sengketa perdata; jadi merupakan kewenangan pengadilan umum.53
Gugatan perdata ada tiga jenis yaitu:
a. Gugatan Permohonan atau Gugatan Voluntair
Permohonan atau gugatan voluntair adalah permasalahan perdata yang diajukan dalam bentuk permohonan yang ditandatangani pemohon atau kuasa hukumnya yang ditujukan kepada ketua Pengadilan
51 Elza Syarief, Menuntaskan Sengketa Tanah Melalui Pengadilan Khusus Pertanahan, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2012), hal. 379.
52Ibid., hal. 233.
53Ibid., hal. 234.
Negeri.Ciri khas gugatan ini adalah gugatan ini diajukan hanya untuk kepentingan pemohon semata, tidak bersentuhan dengan hak dan kepentingan orang lain. Jadi, pada prinsipnya tanpa sengketa dengan pihak lain. Tidak ada orang lain atau pihak ketiga yang ditarik sebagai lawan. Jadi, bersifat ex-parte.Contohnya adalah permohonan hak waris oleh seorang anak setelah orang tuanya meninggal dunia.Permohonan ini untuk kepentingan sepihak (on behalf of one party).
Pengadilan tidak diperkenankan memutus perkara voluntair yang mengandung partai atau yang harus diputus secara contentious.Jadi pengadilan tidak berwenang menerbitkan penetapan hak atas tanah yang tak dipersengketakan. Yurisprudensi dalam Putusan Mahkamah Agung RI pada 30 Juni 1987 No. 10K/Pdt/1985 menegaskan bahwa putusan Pengadilan Negeri yang menetapkan status hak atas tanah melalui gugatan voluntair tidak sah atau tidak mempunyai dasar hukum.
b. Gugatan Contentiosa
Kewenangan badan peradilan menyelesaikan perkara di antara para pihak disebut yursidiksi contentiosa.Gugatannya berbentuk gugatan contentiosa atau disebut yurisdiksi contentious.Dengan demikian yurisdiksi dan gugatan contentiosa berbeda atau berlawanan dengan yurisdiksi gugatan voluntair yang bersifat sepihak (ex-parte).
Gugatan contentiosa ini yang dimaksud sebagai gugatan perdata dalam praktik di pengadilan negeri.Pasal 118 ayat (1) HIR mempergunakan
istilah gugatan perdata.Tapi dalam pasal-pasal selanjutnya disebut gugatan atau gugat saja seperti dalam Pasal 118 dan 120.54
Ciri yang melekat pada gugatan perdata adalah permasalahan yang diajukan ke pengadilan mengandung sengketa; sengketa terjadi diantara para pihak, paling kurang dua pihak; gugatan perdata bersifat partai (party), dengan komposisi: pihak yang satu bertindak dan berkedudukan sebagai penggugat dan pihak yang lain berkedudukan sebagai tergugat.55
c. Gugatan Perwakilan Kelompok (Class Action)
Class action secara umum adalah sinonim dari class suit atau representative action yang berarti:56
a) Tuntutan melalui pengadilan yang diajukan satu atau beberapa orang yang bertindak sebagai wakil kelompok (class representative);
b) Penggugat bukan hanya atas namanya saja tetapi sekaligus atas nama kelompok yang diwakili. Namun untuk iru penggugat tak memerlukan surat kuasa dari anggota kelompok;
c) Dalam gugatan tidak perlu disebutkan satu per satu identitas anggota kelompok yang diwakili;
d) Yang penting asal kelompok yang diwakili dapat diidentifikasi secara spesifik;
e) Selain itu, diantara seluruh anggota kelompok dan wakil kelompok terdapat kesamaan fakta atau dasar hukum yang melahirkan
54Ibid., hal. 228.
55Ibid., hal. 229.
56Ibid., hal.230.
kesamaan kepentingan (common interest), kesamaan penderitaan (common grievance), dan apa yang dituntut memenuhi syarat kemanfaatan bagi seluruh anggota.
Tujuan class action atau Gugatan Perwakilan Kelompok menurut PERMA Nomor 1 Tahun 2002 adalah:57
a) Menyederhanakan akses masyarakat dalam memperoleh keadilan.
Dengan satu gugatan, satu atau beberapa orang yang bertindak sebagai penggugat diberi hak prosedural untuk memperjuangkan sekaligus kepentingan penggugat dan anggota kelompok (jumlahnya bisa ratusan atau ribuan anggota). Dalam huruf (a) konsiderans disebut salah satu tujuan utama proses Gugatan Perwakilan Kelompok adalah menegakkan asas penyelenggaraan peradilan sederhana, cepat, biaya ringan, dan transparan agar akses masyarakat terhadap keadilan semakin terbuka;
b) Mengefisiensikan penyelesaian pelanggaran hukum yang merugikan orang banyak. Proses berperkara dengan sistem GPK adalah kepentingan kelompok cukup diajukan dalam satu gugatan saja, hal itu dapat dilakukan apabila mereka memiliki fakta atau dasar hukum yang sama dan berhadapan dengan tergugat yang sama, kalau gugatan diselesaikan sendiri-sendiri maka
b) Mengefisiensikan penyelesaian pelanggaran hukum yang merugikan orang banyak. Proses berperkara dengan sistem GPK adalah kepentingan kelompok cukup diajukan dalam satu gugatan saja, hal itu dapat dilakukan apabila mereka memiliki fakta atau dasar hukum yang sama dan berhadapan dengan tergugat yang sama, kalau gugatan diselesaikan sendiri-sendiri maka