D. Kinerja Reproduksi Ternak
2. Service per Conception (S/C)
Service per Conception adalah angka yang menunjukkan jumlah inseminasi yang dibutuhkan oleh ternak betina untuk menghasilkan kebuntingan. Untuk service per conception yang ada di Kecamatan Pudak dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Service per conception sapi perah di Kecamatan Pudak
Service IB ke- Persentase (%)
1 kali 33 2 kali 44 3 kali 17 >4 kali 6 Jumlah 100 Rerata S/C (kali) 2,1 ± 1,38
Sumber : Data Primer Terolah, 2012.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa rataan S/C sapi perah di Kecamatan Pudak adalah 2,1 ± 1,38 masuk dalam service per conception sebanyak 2 kali (44%). Nilai S/C ini menunjukkan tingkat kesuburan dari hewan betina. Semakin rendah nilai tersebut maka semakin tinggi kesuburan dari sapi-sapi betina yang di IB dan sebaliknya, semakin tinggi nilai S/C maka semakin rendah tingkat kesuburan sapi betina dalam kelompok tersebut. Beberapa penelitian lain mengenai pencapaian rata-rata angka S/C untuk sapi perah sebesar 2,75 kali (Saptono, 2011); 2,55 kali (Octaviani, 2010); 2,27 kali (Leksanawati, 2010). Bila dibandingkan dengan hasil S/C peneliti sebelumnya hasil S/C sapi perah di Kecamatan Pudak sudah cukup baik walaupun masih sedikit dibawah normal, nilai S/C yang normal menurut Toelihere (1993) berkisar antara 1,6 sampai 2,0 kali.
Tingkat kesuburan sapi betina in i dipengaruhi oleh faktor internal dari hewannya, termasuk kesehatan reproduksi hewan dan manajemen
21
pemeliharaan (Fitrianti, 2008). Selain kondisi ternak (kesuburan betina), faktor lain yang juga mempengaruhi nilai S/C adalah keterampilan inseminator dalam melakukan kegiatan inseminasi, yaitu mengenai tekn ik inseminasi (Oktaviani, 2010). Soeharsono et al. (2010) menambahkan, faktor lain yang tidak kalah penting dan berpengaruh terhadap nilai S/C adalah pengetahuan dan keterampilan peternak dalam deteksi birahi. Deteksi birahi yang tepat dan pengetahuan peternak tentang waktu optimum untuk inseminasi disertai pelaporan pada waktu yang tepat akan sangat membantu dalam keberhasilan kegiatan IB. Menurut Pramono et al. (2008), service per conception dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu ketepatan mendeteksi birahi, kondisi ternak sendiri serta keterampilan dan ketepatan inseminator dalam menginseminasi sapi perah.
3. Calving Interval
Calving interval adalah jangka waktu yang dihitung dari tanggal seekor sapi perah beranak sampai beranak berikutnya atau jarak antara dua kelahiran yang berurutan. Untuk calving interval yang ada di Kecamatan Pudak dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Calving Interval sapi perah di Kecamatan Pudak
Calving interval Ternak (ekor) Persentase (%)
11-12 bulan 75 75 13-14 bulan 19 19 15-16 bulan 4 4 >17 bulan 2 2 Jumlah 100 100 Rerata (bulan) 12,36 ± 1,22
Sumber : Data Primer Terolah, 2012.
Calving interval merupakan salah satu penilaian terhadap baik buruknya kinerja reproduksi. Rerata calving interval di Kecamatan Pudak yaitu sebesar 12,36 ± 1,22 bulan terletak pada interval 11-12 bulan (75%). Faktor yang mempengaruhi lama jarak beranak adalah post partum estrus, post partum mating, dan S/C (Winarti dan Supriyadi, 2010). Semakin lama post partum estrus dan post partum mating maka jarak beranak akan semakin lama, serta semakin tinggi nilai S/C maka jarak beranak akan
22
semakin lama pula. Beberapa penelitian mengenai rerata pencapaian calving interval yaitu sebesar 13 bulan (Leksanawati, 2010); 12,63 bulan (Octaviani, 2010). Menurut Hardjopranjoto (1995) efisiensi reproduksi pada sapi dianggap baik apabila jarak antar kelahiran tidak melebihi 12 bulan atau 365 hari. Nilai yang didapatkan menunjukkan bahwa calving interval yang ada di tingkat peternak Kecamatan Pudak sudah cukup baik, serta dapat menunjukkan bahwa peternak mempunyai kemampuan yang cukup baik dalam melakukan deteksi estrus.
Post partum estrus adalah estrus pertama yang dialam i induk sapi setelah melahirkan. Untuk post partum estrus yang ada di Kecamatan Pudak dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Post Partum Estrus sapi perah di Kecamatan Pudak
Post partum estrus Ternak (ekor) Persentase (%)
20-40 hari 34 34 41-60 hari 46 46 61-80 hari 12 12 >81 hari 8 8 Jumlah 100 100 Rerata (hari) 50,68 ± 24,02
Sumber : Data Primer Terolah, 2012.
Setelah melahirkan saluran reproduksi sapi betina akan kembali ke ukuran semula dan ovarium berfungsi kembali. Waktu yang diperlukan untuk involusi uterus pada sapi berkisar antara 30 sampai 50 hari. Involusi uterus biasanya tercapai menjelang periode estrus pertama sesudah partus. Interval antara partus ke estrus pertama pada sapi berkisar antara 50 sampai 60 hari (Toelihere, 1985). Sapi perah di Kecamatan Pudak pada umumnya kembali mengalami birahi setelah melahirkan atau post partum estrus rata-rata 50,68±24,02 hari berada pada interval 41-60 hari (46%). Berdasarkan kisaran tersebut maka post partum estrus di Kecamatan Pudak tergolong baik. Beberapa penelitian lain mengenai pencapaian rata- rata post partum estrus adalah 68,85 hari (Leksanawati, 2010); 70,65 hari (Oktaviani, 2010). Penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil yang tidak jauh berbeda.
23
Kemampuan peternak dalam mendeteksi estrus setelah sapi beranak berpengaruh juga terhadap panjang dan pendeknya post partum estrus. Deteksi estrus yang dilakukan oleh peternak melalui suara, nafsu makan turun, tingkah laku dan 3A (abang, abuh, anget). Melihat dari pengalaman beternak yang masih sedikit yaitu kurang dari 5 tahun, maka dapat dikatakan bahwa peternak sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam deteksi estrus.
Banyak peristiwa reproduksi yang berlangsung selama periode awal kelahiran, disamping dimulainya laktasi. Selama periode awal postpartus, sapi laktasi biasanya dalam kondisi keseimbangan energi negatif (negative energy balance) karena ketidak mampuannya mengkonsumsi energi dengan jumlah mencukupi dalam ransum. Keseimbangan energi dalam kondisi negatif mengakibatkan turunnya sekresi LH postpartus, akibatnya memperlambat aktivitas kerja ovari. Keseimbangan energi negatif juga memperpanjang interval ovulasi dan estrus pertama postpartus. Tidaklah mengejutkan jika angka konsepsi mencapai keberhasilan kurang dari 50% pada sapi induk yang dikawinkan sebelum 100 hari pertama laktasi (Anggraeni, 2008).
Post partum mating adalah jangka waktu yang menunjukkan perkawinan atau inseminasi buatan pertama kali setelah induk beranak. Post partum mating di Kecamatan Pudak dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 12. Post Partum Mating sapi perah di Kecamatan Pudak
Post partum mating Ternak (ekor) Persentase (%)
<60 hari 47 47
60-90 hari 41 41
>90 hari 12 12
Jumlah 100 100
Rerata (hari) 63,77 ± 25,61
Sumber : Data Primer Terolah, 2012.
Kawin pertama setelah melahirkan atau disebut post partum mating (PPM) pada sapi perah di Kecamatan Pudak rata-rata 63,77 ± 25,61 hari berada pada interval 60-90 hari (41%). Tetapi 47% sapi perah kembali IB setelah partus umumnya langsung ketika birahi pertama sekitar kurang
24
dari 60 hari. Hal ini kurang baik karena menurut Salisbury dan Vandemark (1985), sapi betina sebaiknya dikawinkan 60-80 hari setelah beranak karena diperlukan waktu minimal 50-60 hari untuk mencapai involusi uteri yang sempurna pada sapi. Atabany et al. (2011) menambahkan, kawin pertama setelah beranak pada sapi FH adalah 78-92 hari dan sapi berusia lebih tua mempunyai jarak waktu kawin pertama setelah beranak leb ih panjang daripada sapi berusia lebih muda. Dengan demikian pengetahuan peternak mengenai keadaan sapi setelah partus masih kurang baik, atau ada faktor terlalu tergesa-gesa mengawinkan sapi mereka kembali.
Beberapa penelitian lain yang dilakukan di daerah Boyolali adalah 70,65 hari (Leksanawati, 2010); 71,52 hari (Oktaviani, 2010). Penelitian yang telah dilakukan hasilnya lebih bagus dari penelitian sebelumnya meskipun perbedaannya tidak terlalu jauh. Penelitian terdahulu terlalu lama PPM terjadi karena adanya penundaan perkawinan setelah beranak dikarenakan peternak tidak mengawinkan ternaknya pada estrus yang pertama tetapi menunggu setelah estrus yang kedua.
Panjang pendeknya post partum mating secara mendasar dipengaruhi oleh dua pertimbangan utama, yaitu pertimbangan fisiologis dan ekonomi (Noor, 2011). Secara fisiologi post partum mating memberi kesempatan berlangsungnya involusi uterus atau pemulihan kondisi organ reproduksi induk setelah melahirkan hingga induk siap kembali untuk proses reproduksi selanjutnya. Pertimbangan ekonomis dilakukan berdasarkan pengaruh post partum mating terhadap tingkat konsepsi, kebuntingan, efisiensi tenaga kerja dan produktivitas susu induk.
24