BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Penelitian
2. Setelah Bertindak
2.1 Setelah Bertindak Sesuai Standart Sosial a. Pengalaman Emosi
a.1 Kategori Usia Remaja
Pengalaman emosi yang muncul pada kategori usia remaja,
setelah bertindak sesuai dengan standart sosial dapat dilihat pada
Tabel 16.
Tabel 16
Pengalaman Emosi Setelah Bertindak Sesuai Standart Sosial Pada Kategori Usia Remaja
Pencapaian Tujuan Individu
Emosi Positif
Emosi
Negatif Tidak Ada Emosi Tujuan Identitas
Hukum Lega - -
Peraturan Senang Lega
Tabel 16 (lanjutan) Norma Senang Lega Puas Nyaman Bangga Inferior - Tujuan Bertahan hidup Senang - -
Setelah bertindak sesuai dengan standart sosial, yang berkaitan
dengan pencapaian tujuan identitas, khususnya jika berkaitan
dengan hukum, hanya tema emosi positif yang muncul pada
individu remaja. Tema emosi positif yang muncul tersebut yaitu: “Saya lega setelah..”(S7/MU11/B1)
Sedangkan setelah bertindak sesuai standart sosial, yang
berkaitan dengan pencapaian tujuan identitas, khususnya jika
berkaitan dengan peraturan, hanya tema emosi positif dan tema
emosi negatif yang muncul pada individu remaja. Tema-tema
emosi positif yang muncul antara lain: “Perasaan saya seneng...”(S3/MU34/B1) “Lega itu...” (S7/MU27/B1)
Meskipun demikian, tema-tema emosi negatif yang muncul
setelah individu remaja bertindak sesuai standart sosial, jika
berkaitan dengan pencapaian tujuan identitas, khususnya yang
berkaitan dengan peraturan dapat dilihat sebagai berikut:
“...Tapi kalau situasinya tidak menyenangkan, agak nggak
enak di hati. Jadi belajar nggak konsentrasi, pikirannya kemana-mana. Jadi saya merasa percuma masuk. Hanya sekedar badannya aja tapi nyawanya nggak ada. Ya mbuang waktu lah...”(S3/MU15/B8-12)
Setelah bertindak sesuai standart sosial, yang berkaitan dengan
pencapaian tujuan identitas, khususnya jika berkaitan dengan
norma, hanya tema emosi positif dan tema emosi negatif yang
muncul pada individu remaja. Tema-tema emosi positif yang
muncul antara lain:
“Kalau itu pasti seneng banget mbak...”(S2/MU18/B1)
“Saya lega setelah”(S7/MU11/B1)
“...Ketika saya udah mencapainya dan direspon sama orang
sekitarnya itu baik dengan usaha saya, rasanya tuh kepuasan
sendiri.”(S2/MU21/B6)
“...jadi saya pun merasa tenang, enjoy, enak. Seperti itu...”(S7/MU39/B3)
“...Oh aku berhasil melalui seperti ini, saya merasa sepeti menjadi seorang juara, oh saya bisa berarti.” (S7/MU40/B3-5)
Sedangkan tema-tema emosi negatif yang muncul setelah
individu remaja bertindak sesuai standart sosial, jika berkaitan
dengan pencapaian tujuan identitas, khususnya yang berkaitan
dengan norma dapat dilihat sebagai berikut:
“...sampai ada orang yang bilang, “ih kok kamu kayak gitu sih itunya?”. Itu kan buat saya semakin “aduh kok jadinya kayak gini?...”(S2/MU13/B1-3)
Selain itu, hanya emosi positif yang muncul setelah individu
remaja bertindak sesuai standart sosial, yang berkaitan dengan
pencapaian tujuan bertahan hidup. Berikut merupakan tema emosi
positif yang muncul pada individu remaja setelah bertindak sesuai
standart sosial, yang berkaitan dengan pencapaian tujuan bertahan
“Ya seneng sih...”(S3/MU21/B1) a.2 Kategori Usia Dewasa Awal
Pengalaman emosi yang muncul pada kategori usia dewasa
awal setelah bertindak sesuai dengan standart sosial dapat dilihat
pada Tabel 17.
Tabel 17
Pengalaman Emosi Setelah Bertindak Sesuai Standart Sosial Pada Kategori Usia Dewasa Awal
Pencapaian Tujuan Individu
Emosi Positif
Emosi
Negatif Tidak Ada Emosi Tujuan Identitas Hukum Senang Bersyukur Puas Bangga - -
Peraturan Senang - Tidak ada emosi yang muncul
Norma Senang
Puas
Marah Tidak ada emosi yang muncul Tujuan Bertahan
hidup
- - Tidak ada emosi
yang muncul
Setelah bertindak sesuai standart sosial, yang berkaitan dengan
pencapaian tujuan identitas, khususnya jika berkaitan dengan
hukum, hanya tema emosi positif yang muncul pada individu
dewasa awal. Tema-tema emosi positif yang muncul antara lain: “Senengsih...”(S1/MU7/B1)
“...Syukurlah maksdunya...”(S1/MU7/B3)
“Tapi kalau nggak melakukan kan ada kepuasan batin
kan...”(S1/MU14/B1)
“...Yo bangga aku melakukan hal yang bener gitu lhoh...”(S4/MU23/B1)
Sedangkan jika berkaitan dengan pencapaian tujuan identitas,
khususnya peraturan, hanya tema emosi positif dan tidak ada emosi
yang muncul setelah individu dewasa awal bertindak sesuai
standart sosial. Tema emosi positif yang muncul yaitu:
“Kalau dapet ya seneng...”(S1/MU97/B1)
Berikut merupakan tema tidak ada emosi yang muncul
setelah individu dewasa awal bertindak sesuai standart sosial, yang
berkaitan dengan peraturan:
“... Soalnya ngelakuinnya ya bukan karena disuruh atau
dipaksa ya reflek aja. Nggak ngerasain
apa-apa...”(S1/MU51/B2-4)
Selain itu, tema-tema emosi positif yang muncul setelah
individu dewasa awal bertindak sesuai standart sosial, jika
berkaitan dengan pencapaian tujuan identitas, khususnya yang
berkaitan dengan norma antara lain:
“Setelahnya seneng. Ya apalagi soalnya sholat sama ngaji ya seneng banget...”(S8/MU31/B1-2)
“...yo puas...”( S4/MU31/B1)
Berikut merupakan tema emosi negatif yang muncul setelah
individu dewasa awal bertindak sesuai standart sosial, jika
berkaitan dengan pencapaian tujuan identitas, khususnya yang
berkaitan dengan norma:
“Kadang kalau misalnya udah kejadian seperti yang nggak kita
mau dan karena dia yang sarankan kan kita kadang marah,
Tema tidak ada emosi yang muncul setelah individu dewasa
awal bertindak sesuai standart sosial, jika berkaitan dengan
pencapaian tujuan identitas, khususnya yang berkaitan dengan
norma, yaitu:
“Ya biasa saja sih.”(S8/MU13/B1)
Sedangkan jika berkaitan dengan pencapaian tujuan bertahan
hidup, hanya tema tidak ada emosi yang muncul setelah individu
dewasa awal bertindak sesuai standart sosial. Tema tidak ada emosi
yang muncul antara lain:
“Ya biasa saja sih”(S8/MU13/B1) a.3 Kategori Usia Dewasa Madya
Pengalaman emosi yang muncul pada kategori usia dewasa
madya setelah bertindak sesuai dengan standart sosial dapat dilihat
pada Tabel 18.
Tabel 18
Pengalaman Emosi Setelah Bertindak Sesuai Standart Sosial Pada Kategori Usia Dewasa Madya
Pencapaian Tujuan Individu
Emosi Positif
Emosi
Negatif Tidak Ada Emosi Tujuan Identitas Hukum Nyaman Lega - - Peraturan Bersyukur Tidak tega Takut - Norma Senang Lega Bahagia - - Tujuan Bertahan hidup - Takut Menyesal -
Jika berkaitan dengan pencapaian tujuan identitas, khususnya
hukum, hanya tema emosi positif yang muncul setelah individu
dewasa madya bertindak sesuai standart sosial. Tema emosi positif
yang muncul antara lain:
“...Mbawanya juga ndak ragu-ragu. Jadi enak. Walaupun
ketemu kan enak...”(S5/MU17/B3-4)
“...Plonggitu. Kan sudah diberikan...”(S5/MU17/B4)
Selain itu, jika berkaitan dengan pencapaian tujuan identitas,
khususnya peraturan, hanya tema emosi positif dan emosi negatif
yang muncul setelah individu dewasa madya bertindak sesuai
standart sosial. Tema emosi positif yang muncul antara lain: “Tapi syukur bisa diamankan, diatasi.”(S5/MU6/B1)
“Kasihan. Yang jelas kasihan dengan anak itu. Sebenernya perlu ditolong.”(S5/MU28/B1)
Sedangkan tema emosi negatif yang muncul setelah individu
dewasa madya bertindak sesuai standart sosial, yang berkaitan
dengan peraturan, yaitu:
“Takut. Takut diancam. Takut marah sungguhan. Nanti
kalau marah sungguhankan jadi rame.”(S5/MU42/B1)
Jika berkaitan dengan pencapaian tujuan identitas, khususnya
norma, hanya tema emosi positif yang muncul setelah individu
dewasa madya bertindak sesuai standart sosial. Tema emosi positif
yang muncul antara lain:
“...senang, terus gimana ya?”(S9/MU33/B2)
“...wah, wes lega, ini wes mari, ini wes mari...”(S6/MU52/B2)
Berikut merupakan tema-tema emosi negatif yang muncul
setelah individu dewasa madya bertindak sesuai standart sosial,
yang berkaitan dengan pencapaian tujuan bertahan hidup: “Ya disamping itu yakalau tadi takut kesetrum...” (S5/MU65/B1)
“Ya termasuk cuman hanya getun ya...”(S5/MU66/B1) b. Isi Kognitif
b.1 Kategori Usia Remaja
Isi Kognitif yang muncul pada kategori usia remaja setelah
bertindak sesuai standart sosial dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19
Isi Kognitif Setelah Bertindak Sesuai Standart Sosial Pada Kategori Usia Remaja
Tujuan Individu Isi Kognitif Tujuan Identitas
Hukum Perspektif Individu
Mempertahankan representasi diri Peraturan Perspektif Individu
Mempertahankan representasi diri
Memikirkan dampak positif atas tindakan Menghindari dampak negatif atas tindakan Lingkungan Sekitar
Penilaian lingkungan sekitar terhadap individu
Fisiologis
Jantung berdebar-debar Norma Perspektif Individu
Memikirkan dampak positif atas tindakan Memikirkan dampak negatif atas tindakan Mempertahankan representasi diri
Lingkungan Sekitar
Puas karena mendapat respon positif dari lingkungan sekitar
Tabel 19 (lanjutan) Tujuan Bertahan Hidup
Perspektif Individu
Tidak memikirkan keputusan yang telah diambil
Memikirkan dampak positif atas tindakan
Jika berkaitan dengan pencapaian tujuan identitas, khususnya
yang berkaitan dengan hukum, hanya tema perspektif individu
yang muncul setelah individu remaja bertindak sesuai standart
sosial. Tema perspektif individu yang muncul yaitu:
“...ya intinya se-stress-stressnya dan se-sumppek-sumpeknya saya tidak akan melakukan hal itu.”(S7/MU13/B2-3)
Selain itu, tema perspektif individu yang muncul pada individu
remaja setelah bertindak sesuai standart sosial, jika berkaitan
dengan pencapaian tujuan identitas, khususnya peraturan, antara
lain:
“...Soalnya saya itu, bagaimanapun hasilnya, ya itu hasil perjuangan saya. Gitu.”(S3/MU34/B1-2)
“...woo untung udah ngerjain jadi bisa kerja tugas lainnya atau main-main dulu. Jadi ndak beban lagi gitu.”(S3/MU54/B1-3)
“...Untung saya tadi nggak bolos. Kalau saya ngggak masuk, saya ketinggalan banyak bangetpadahal pelajarannya sulit dan tugasnya banyak banget...”(S3/MU15/B6-8)
Berikut merupakan tema lingkungan sekitar yang muncul pada
individu remaja setelah bertindak sesuai standart sosial, jika
berkaitan dengan pencapaian tujuan identitas, khususnya peraturan:
“...Terus kalau ini deg-deggaannya lebih ke reaksi kelas
kepada saya. Waktu saya angkat tangan dan langsung ngomong itu, kan perhatian langsung ke saya semua. Jadi
Sedangkan, berikut merupakan tema fisiologis yang muncul
pada individu remaja setelah bertindak sesuai standart sosial, jika
berkaitan dengan pencapaian tujuan identitas, khususnya peraturan: “Ya itu sih, lebih kedeg-deggantadi.”(S3/MU44/B1)
b.2 Kategori Usia Dewasa Awal
Isi Kognitif yang muncul pada kategori usia dewasa awal
setelah bertindak sesuai dengan standart sosial dapat dilihat pada
Tabel 20.
Tabel 20
Isi Kognitif Setelah Bertindak Sesuai Standart Sosial Pada Kategori Usia Dewasa Awal
Tujuan Individu Isi Kognitif Tujuan Identitas
Hukum Perspektif Individu
Memikirkan dampak positif atas tindakan Memikirkan dampak negatif atas tindakan Mempertahankan representasi diri
Peraturan Perspektif Individu
Mempertahankan representasi diri Keluarga
Kelekatan dengan keluarga Norma Perspektif Individu
Memikirkan dampak positif atas tindakan Memikirkan dampak negatif atas tindakan Mempertahankan representasi diri
Tujuan Bertahan Hidup
Perspektif Individu
Memikirkan dampak negatif atas tindakan
Jika berkaitan dengan pencapaian tujuan identitas, khususnya
yang berkaitan dengan hukum, hanya tema perspektif individu
yang muncul setelah individu dewasa awal bertindak sesuai
standart sosial. Tema perspektif individu yang muncul antara lain: “...yo tenang...”(S4/MU11/B1)
“Cuman opo yo? Aku pikir lagi, yo itu ndak baik lah buat
aku.”(S8/MU17/B1-2)
“Tapi kalau nggak melakukan kan ada kepuasan batin kan. Wah aku orang`e nggak kejem gitu.”(S4/MU14/B2)
Sedangkan jika berkaitan dengan pencapaian tujuan identitas,
khususnya yang berkaitan dengan peraturan, hanya tema perspektif
individu dan tema keluarga yang muncul setelah individu dewasa
awal bertindak sesuai standart sosial. Tema perspektif individu
yang muncul yaitu:
“Soalnya ngelakuinnya ya bukan karena disuruh atau di paksa ya reflek aja . enggak ngerasain apa- apa. Aku soalnya di kos itu banyak tipe- tipe orang itu kaya. Cuman yaenggak
tau sih bener atau nggak. Mangkanya di suruh kerja bakti
buat beresin kos, masuk satu- satu ke kamar terus pintu kamarnya di tutup...”(S1/MU51/B3-10)
Sedangkan tema keluarga yang muncul setelah individu
dewasa awal bertindak sesuai standart sosial, yang berkaitan
dengan peraturan, yaitu:
“Ah aku udah ngelakuin pasti ibuk seneng kalau misalnya dulu aku “cabut” sekarang aku nggak lagi. Sekarang aku serius.”(S1/MU24/B1-3)
Selain itu, jika berkaitan dengan pencapaian tujuan identitas,
khususnya yang berkaitan dengan norma, hanya tema perspektif
individu yang muncul setelah individu dewasa awal bertindak
sesuai standart sosial. Tema perspektif individu yang muncul antara
lain:
“...Aku bisa deket sama Tuhan...”(S8/MU31/B8)
“...Aku pikir lagi, yo itu ndak baik lah buat
“...Apa namane ngepek bojo ki ora mung ngepek bojo, tapi aku punya kewajiban untuk memenuhi kebutuhan dia gitu lhoh.”(S4/MU35/B3-4)
Tema perspektif individu yang muncul setelah individu dewasa
awal bertindak sesuai standart sosial, yang berkaitan dengan
pencapaian tujuan bertahan hidup, yaitu:
“Cuman opo yo? Aku pikir lagi, yo itu ndak baik lah buat
aku.” (S8/MU17/B1-2)
b.3 Kategori Usia Dewasa Madya
Isi Kognitif yang muncul pada kategori usia dewasa madya
setelah bertindak sesuai dengan standart sosial dapat dilihat pada
Tabel 21.
Tabel 21
Isi Kognitif Setelah Bertindak Sesuai Standart Sosial Pada Kategori Usia Dewasa Madya
Tujuan Individu Isi Kognitif Tujuan Identitas
Hukum Perspektif Individu
Memikirkan dampak negatif atas tindakan Memikirkan dampak positif atas tindakan Peraturan Perspektif Individu
Memikirkan dampak positif atas tindakan Memikirkan dampak negatif atas tindakan Norma Perspektif Individu
Memikirkan dampak positif atas tindakan Mempertahankan representasi diri
Tujuan Bertahan Hidup
Persektif Individu
Menghindari dampak negatif atas tindakan
Hanya tema perspektif individu yang muncul setelah individu
dewasa madya bertindak sesuai standart sosial, jika berkaitan
dengan pencapaian tujuan identitas (khususnya hukum, peraturan,
Berikut merupakan tema perspektif individu yang muncul
setelah individu dewasa madya bertindak sesuai standart sosial, jika
berkaitan dengan hukum:
“...Setelah ndak bawa pulang yang dipikirkan anu, wong ini sudah termasuk barang bekas, lama-lama dimakan rayap atau habis musnah. Kan gitu. Ndak ada manfaatnya...”(S5/MU20/B1-4)
“Kecuali kalau sudah ijin dari kepala sekolah. Pak ini sudah
ndak tepakai, boleh dibawa pulang. Mbawanya juga ndak
ragu-ragu. Jadi enak. Walaupun ketemu kan enak. Plong gitu. Kan sudah diberikan...”(S5/MU17/B1-4)
Sedangkan tema perspektif individu yang muncul setelah
individu dewasa madya bertindak sesuai standart sosial, jika
berkaitan dengan peraturan, antara lain:
“...Ada berita apa setelah ini di sana? Kok adem adem ayem aja, berarti sudah ndak apa-apa. Setelah itu saya lega
sudah...”(S5/MU43/B8-10)
“...Nanti kalau marah sungguhan kan jadi rame.”(S5/MU42/B1-2)
Berikut merupakan tema perspektif individu yang muncul
setelah individu dewasa madya bertindak sesuai standart sosial, jika
berkaitan dengan norma:
“Kedua itu pikirannya juga tenang gitu.”(S9/MU14/B1) “...Misalnya saya bangun duluan. Saya tahu “oh ini perlu masak air, perlu masak nasi. Lho kok belum masak, kok belum ada persiapan?...”(S6/MU49/B2-4)
Sedangkan tema perspektif individu yang muncul setelah
individu dewasa madya bertindak sesuai standart sosial, jika
berkaitan dengan pencapaian tujuan bertahan hidup, yaitu: “...Takut kesetrum. Mati saya nanti.”(S5/MU64/B1)
2.2 Setelah Bertindak Tidak Sesuai Standart Sosial a. Pengalaman Emosi
a.1 Kategori Usia Remaja
Pengalaman emosi yang muncul pada kategori usia remaja
setelah bertindak tidak sesuai dengan standart sosial dapat dilihat
pada Tabel 22.
Tabel 22
Pengalaman Emosi Setelah Bertindak Tidak Sesuai Standart Sosial Pada Kategori Usia Remaja
Pencapaian Tujuan Individu
Emosi Positif
Emosi
Negatif Tidak Ada Emosi Tujuan Identitas
Hukum - - -
Peraturan - - Tidak ada emosi
yang muncul Norma Senang Lega Tidak nyaman Bersalah Menyesal - Tujuan Bertahan Hidup - - -
Tidak ditemukan tindakan yang tidak sesuai standart sosial jika
berkaitan dengan pencapaian tujuan bertahan hidup dan pencapaian
tujuan identitas (khususnya yang berkaitan dengan hukum), pada
individu remaja. Oleh karena itu, tidak ditemukan tema emosi
positif, emosi negatif, maupun tema tidak ada emosi yang muncul
setelah bertindak tidak sesuai standart sosial, khususnya yang
tujuan identitas (khususnya yang berkaitan dengan hukum), pada
individu remaja.
Meskipun demikian, hanya tema tidak ada emosi yang muncul
setelah individu remaja bertindak tidak sesuai standart sosial, yang
berkaitan dengan peraturan. Tema tidak ada emosi tersebut yaitu: “Aku perasaan sih biasa sih. Lebih ke cuek. Wong toh kan juga aku ngelakuin yang lebih penting gitu.”(S3/MU96/B1-2) Sedangkan jika berkaitan dengan norma, hanya tema emosi
positif dan emosi negatif yang muncul setelah individu remaja
bertindak tidak sesuai standart sosial. Tema-tema emosi positif
tersebut meliputi:
“...Yang pertama seneng. Maksudnya lega karena ndak ada masalah yang muncul antara orang tua dan anak tadi...”(S3/MU83/B1-3)
“Lega...”(S7/MU58/B1)
Berikut merupakan tema-tema emosi negatif yang muncul
setelah individu remaja bertindak tidak sesuai standart sosial,
khususnya jika berkaitan dengan norma:
“...Terus mikirnya juga kalau sering-sering bohongin mamak juga gak enak.”(S2/MU46/B3)
“Rasa bersalah kepada orang tuanya.”(S3/MU85/B1)
“Lebih kepada menyesal ya...”(S7/MU68/B1) a.2 Kategori Usia Dewasa Awal
Pengalaman emosi yang muncul pada kategori usia dewasa
awal setelah bertindak tidak sesuai dengan standart sosial dapat
Tabel 23
Pengalaman Emosi Setelah Bertindak Tidak Sesuai Standart Sosial Pada Kategori Usia Dewasa Awal
Pencapaian Tujuan Individu
Emosi Positif
Emosi
Negatif Tidak Ada Emosi Tujuan Identitas
Hukum - Menyesal -
Peraturan Senang Takut -
Norma Lega Senang Tidak peduli Inferior Malu Menyesal Takut Berdosa Bersalah
Tidak ada emosi yang muncul
Tujuan Bertahan Hidup
- - Tidak ada emosi
yang muncul
Jika berkaitan dengan hukum, hanya tema emosi negatif yang
muncul setelah individu dewasa awal bertindak tidak sesuai
standart sosial. Tema-tema emosi negatif tersebut yaitu: “Di situ hal yang paling aku sesali...”(S1/MU79/B1)
Disamping itu, jika berkaitan dengan peraturan, hanya tema
emosi positif dan emosi negatif yang muncul setelah individu
dewasa awal bertindak tidak sesuai standart sosial. Tema-tema
emosi positif tersebut yaitu:
“Kalau dapet ya seneng...”(S1/MU97/B1)
Sedangkan berikut merupakan tema emosi negatif yang
muncul setelah individu dewasa awal bertindak tidak sesuai
standart sosial, yang berkaitan dengan peraturan:
“...Dan setelah itu nggak berani lagi cabut sekolah soalnya takut ketahuanbapak...”(S1/MU77/B6-8)
Berikut merupakan tema-tema emosi positif yang muncul
setelah individu dewasa awal bertindak tidak sesuai standart sosial,
jika berkaitan dengan pencapaian tujuan identitas, khususnya yang
berkaitan dengan norma:
“Yaudah. Berarti ya sama-sama. Yaudah.”(S1/MU64/B1) “Seneng”(S1/MU72/B1)
Sedangkan tema-tema emosi negatif yang muncul setelah
individu dewasa awal bertindak tidak sesuai standart sosial, jika
berkaitan dengan pencapaian tujuan identitas, khususnya yang
berkaitan dengan norma, antara lain:
“Tapi kadang-kadang yabiarin aja...”(S8/MU76/B1)
“...Kan jadinya down.”(S1/MU90/B3)
“Pengen minta maaf tapi malu. Haduh harga diriku
dimana...”(S1/MU93/B1)
“Nyesel. Asem ki, kok aku ngono kuwi?”(S4/MU47/B1)
“...Sebenernya sama-sama takut sih”(S8/MU52/B2)
“...Kalau untuk membohonginorang tua itu paling dosa gedhe
lahmenurut aku...”(S8/MU55/B6-7)
“...Kalau pas ibuk lagi ndak mood gitu ya aku ngerasa
bersalah gitu...” (S8/MU75/B2)
Berikut merupakan tema-tema tidak ada emosi yang muncul
setelah individu dewasa awal bertindak tidak sesuai standart sosial,
jika berkaitan dengan pencapaian tujuan identitas, khususnya yang
berkaitan dengan norma:
Selain itu, berikut merupakan tema-tema tidak ada emosi yang
muncul setelah individu dewasa awal bertindak tidak sesuai
standart sosial, jika berkaitan dengan pencapaian tujuan bertahan
hidup:
“nggakadasih.”(S4/MU76/B1) a.3 Kategori Usia Dewasa Madya
Pengalaman emosi yang muncul pada kategori usia dewasa
madya setelah bertindak tidak sesuai dengan standart sosial dapat
dilihat pada Tabel 24.
Tabel 24
Pengalaman Emosi Setelah Bertindak Tidak Sesuai Standart Sosial Pada Kategori Usia Dewasa Madya
Pencapaian Tujuan Individu
Emosi Positif
Emosi
Negatif Tidak Ada Emosi Tujuan Identitas Hukum - - - Peraturan - - - Norma - Menyesal Tidak nyaman
Tidak ada emosi yang muncul
Tujuan Bertahan Hidup
- - -
Pada kategori usia dewasa madya, hanya muncul tindakan
tidak sesuai standart sosial, jika berkaitaan dengan norma.
Sehingga tidak ada tema emosi positif, tema emosi negatif, dan
tema tidak ada emosi yang muncul pada individu dewasa madya
setelah bertindak tidak sesuai standart sosial, jika berkaitan dengan
pencapaian tujuan bertahan hidup dan pencapaian tujuan identitas,
Meskipun demikian, hanya ditemukan tema-tema emosi
negatif dan tidak ada emosi yng muncul pada individu dewasa
madya setelah bertindak tidak sesuai standart sosial, yang berkaitan
dengan pencapaian tujuan identitas, khususnya jika berkaitan
dengan norma. Tema-tema enosi negatif tersebut meliputi:
“Penyesalan. Penyesalan. Sebetulnya ada rasa penyesalan. Seperti itu.”(S6/MU7/B1)
“Tetep ndak nyaman”(S6/MU72/B1)
Sedangkan tema tidak ada emosi yang muncul setelah individu
dewasa madya bertindak tidak sesuai standart sosial, jika berkaitan
dengan norma, yaitu:
“Anu, biasa-biasa saja. Kalau untuk itu biasa-biasa
saja.”(S6/MU83/B1)
b. Isi Kognitif
b.1 Kategori Usia Remaja
Isi Kognitif yang muncul pada kategori usia remaja setelah
bertindak tidak sesuai dengan standart sosial dapat dilihat pada
Tabel 25.
Tabel 25
Isi Kognitif Setelah Bertindak Tidak Sesuai Standart Sosial Pada Kategori Usia Remaja
Tujuan Individu Isi Kognitif Tujuan Identitas
Hukum -
Peraturan Perspektif Individu
Mencari pembenaran atas tindakan Norma Perspektif Individu
Mencari pembenaran atas tindakan
Mampu mengungkapkan emosi terpendam Menyadari dan memperbaiki kesalahan
Tabel 25 (lanjutan)
Lingkungan Sekitar
Menyesal karena tertinggal dari kelompok Keluarga
Mempertahankan kepercayaan orang tua Tujuan Bertahan
Hidup
-
Pada individu remaja, tidak ditemukan tindakan tidak sesuai
standart sosial yang muncul, jika berkaitan dengan pencapaian
tujuan identitas (hukum) dan pencapaian tujuan bertahan hidup.
Oleh karena itu, tidak ditemukan tema-tema isi kognitif yang