• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP FILM “FLYING COLOR”

2.2 Resensi Film “Flying Color”

2.2.4 Setting atau Latar

Setting atau latar adalah penggambaran situasi, tempat, dan waktu serta

suasana yang terjadinya peristiwa (Aminuddin, 2000 : 94). Latar atau setting disebut juga sebagai landasan tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan, waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams dalam Nurgiantoro, 1995 : 216).

Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis terhadap pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh ada dan terjadi.

Unsur dalam latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu tempat, waktu dan sosial. Ketiga unsur tersebut walaupun menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, pada kenyataannya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya (Nurgiantoro, 1995 : 227).

1. Latar Tempat

Latar tempat menggambarkan atau mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa dalam cerita. Penggunaan latar tempat dengan nama-nama tertentu haruslah mencerminkan atau tidak bertentangan dengan sifat dan keadaan geografis tempat yang bersangkutan agar pembaca dapat mengerti dan tahu jalan cerita sebenarnya terutama dalam cerita karya non fiksi.

Dalam hal ini , lokasi tempat berlangsungnya cerita dalam film Flying Color adalah kota Tokyo dengan situasi didalam rumah, sekolah, tempat les private dan Universitas Keio.

2. Latar Waktu

Latar waktu mengacu pada kapan peristiwa itu terjadi yang dituangkan dalam cerita. Dalam karya non fiksi latar waktu merupakan hal yang penting diperhatikan agar tidak menimbulkan kerancuan cerita itu sendiri. Latar waktu juga harus dikaitkan dengan latar tempat dan latar sosial karena pada kenyataannya memang saling berkaitan.

Latar waktu dalam film Flying color adalah Jepang pada masa sekarang. Hal ini terlihat oleh aktifitas masyarakat, serta gambaran bangunan dan transportasi yang digambarkan oleh pengarang dalam film ini.

3. Latar Sosial

Menurut Nurgiantoro (1995:233), latar sosial-budaya menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dan karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks, dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, kenyakinan, pandangan hidup, cara berfikir dan bersikap. Selain itu, latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.

Latar sosial yang digambarkan oleh pengarang dalam film ini adalah kehidupan seorang gadis yang tidak mendapatkan amae (kasih sayang) dari sang ayah. Dalam masyarakat Jepang terdapat budaya yang sampai sekarang tetap berkembang dan direalisasikan dalam segala hubungan. Budaya tersebut adalah budaya amae. Amae adalah sebuah budaya ketergantungan seseorang terhadap individu lain, dimana

seseorang itu mengharapkan kasih sayang dari orang lain. Budaya amae juga bermakna tingkah laku manusia ketika menginginkan untuk dicintai, menginginkan untuk diperhatikan, tanpa sadar ingin bergantung kepada orang lain seperti orang tua, suami/istri, atasan atau keengganan anak-anak untuk dipisahkan dari kehangatan sang ibu, dimana dapat terjadi juga pada orang dewasa. Penyebab awal kemunculan budaya amae adalah pada zaman Kamakura (1192-1333M) muncul nilai bushido yang banyak di pakai oleh para samurai yang salah satu prinsip dari bushido tersebut melahirkan nilai omoiyari (memberikan perasaan suka rela kepada orang lain), karena nilai omoiyari dapat memunculkan nilai amae pada perilaku penerima omoiyari tersebut.

Amae pertama kali diperkenalkan secara luas oleh Dr. Takeo Doi.

Menurut Dr. Takeo Doi, amae adalah kosakata yang umum digunakan di Jepang, dan tidak ada satu kata pun ekuivalen dalam bahasa Inggris maupun bahasa Eropa lainnya. Ketika memperdalam studi psikiatri di Amerika pada tahun 1950, Takeo Doi memperoleh berbagai pengalaman.

Pengalaman-pengalaman tersebut pada awalnya menyebabkan Doi mengalami “cultur shock” atau “kejutan budaya”. Kejutan budaya ini terjadi karena adanya perbedaan yang kontras antara “cara berpikir” dan

“cara rasa” Takeo Doi (orang Jepang) dengan “cara berpikir” dan “cara rasa” orang-orang Amerika yang berinteraksi dengannya. Dari kejadian-kejadian itulah, secara kronologis setahap demi setahap Doi mulai menyadarinya dan memahami kemudian menyimpulkan bahwa amae adalah konsep kunci untuk memahami struktur kepribadian orang Jepang.

Adapun kejadian-kejadian tersebut pada saat Doi pertama sekali berada di Amerika, Doi berkunjung ke rumah seorang temannya yang berkewarganegaraan Amerika. Di sela pembicaraan, temannya bertanya apakah Doi merasa lapar, karena sungkan dan tidak ingin berterus terang pada orang yang baru pertama bertemu, maka Doi pun menjawab bahwa dia tidak lapar. Pada akhirnya tuan rumah mengatakan “Oh, Saya mengerti!”. Doi merasa menyesal karena tidak berterus terang bahwa sesungguhnya lapar. Pada waktu itu saya berpikir bahwa di Jepang, seorang tuan rumah tidak akan menanyakan secara berterus terang apakah tamunya lapar, akan tetapi akan mencari cara untuk menyuguhkan sesuatu tanpa bertanya kepada tamunya.

Dalam perkembangannya amae tidak hanya ditunjukkan dalam hubungan keluarga maupun hubungan dari bawah keatas seperti amae bayi kepada ibunya, amae juga dapat ditunjukkan oleh murid kepada guru maupun sebaliknya, bawahan ke atasan maupun sebaliknya, maupun pertemanan dan lain-lain. Banyak peneliti yang mengungkapkan pentingnya amae dalam budaya Jepang salah satu contohnya, dalam sistem tradisional Jepang tidak ada hak untuk bawahan, karena tidak ada hubungan secara kontrak, satu-satunya jalan yang bisa mereka ambil adalah dengan berharap kebajikan dan kebaikan dari atasan mereka.

Dengan menanamkan perasaan untuk mengasuh dan mengapresiasi mereka oleh atasan. Hal yang memanipulasi atasan mereka inilah yang disebut dengan amaeru dalam bahasa Jepang. Pada masa sekarang, amae masih memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat Jepang,

terutama dalam hubungan orang tua dan anak dalam pola pengasuhan.

Hubungan ketergantungan antara orang tua dan anak memiliki suatu bentuk ideal menurut kebiasaan orang Jepang. Terdapat hubungan ketergantungan yang manis antara orang tua dan anak dalam pola yang melatarbelakangi budaya amae ini.Para orang tua terutama ibu akan menyalahkan dirinya sendiri jika tidak memberikan cukup cinta kepada anak-anak mereka. Melalui pola amae ini, mereka dapat memberikan perhatian, cinta, dan perlindungan yang berlebih kepada anak mereka.

Perilaku amae juga digunakan orang tua untuk mendisiplinkan anak mereka. Dengan memanfaatkan ketergantungan antara si anak kepada orang tuanya, orang tua akan berusaha untuk menumbuhkan disiplin dalam diri anak mereka. Pada saat seseorang sudah memasuki fase remaja, mereka akan berjuang untuk mendapatkan kebebasan dari kedua orang tuanya. Ayah akan memberikan kebebasan kepada anaknya, karena menurutnya si anak sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk, dan juga sudah saatnya sang anak untuk mencari jati diri. Namun, terkadang karena perlakuan amae yang diterima sejak bayi yang membuatnya dekat dengan orang tuanya, para remaja Jepang akan kesulitan mencari identitas diri atau jati dirinya, sehingga mereka menemukan ketidakpuasan dalam diri. Mereka menerima perlindungan dan kasih sayang dari orang tua mereka tetapi tidak menerima nasehat bagaimana bertumbuh menuju arah kedewasaan. Mereka tidak mengetahui bahwa dalam cara yang bagaimana orang tua mereka menuju arah kedewasaan berbeda dengan diri mereka. Maksudnya mereka ingin orang

tua mereka mengerti bagaimana kehendak hati mereka ingin menjadi diri mereka sendiri tanpa bayang-bayang orang tua mereka. Meskipun, pada akhirnya anak tidak akan bisa lepas dari orang tua dan akan tetap bersama mereka. Hal tersebut didasari oleh perlakuan amae yang mereka terima sejak bayi hingga masa remaja membuat ikatan diantara mereka tidak dapat terlepas bagaimanapun caranya. Sehingga jika anak terlepas dari orang tuanya, maka si anak akan menjadi depresi terutama depresi yang menurut Aaron Beck memiliki pandangan negatif tentang dirinya sendiri seperti “saya tidak mampu, tidak diinginkan, tidak berharga, akhirnya si anak jadi berperilaku melawan orang tua, bandel, sering membuat masalah dan membangkang.

Film flying color yang saya tonton sepertinya mengadopsi budaya amae. Dalam film Flying ini tokoh Sayaka dalam kehidupannya hanya

mendapatkan amae dari sang ibu saja. Awalnya Sayaka mendapatkan amae dari sang ayah, tetapi berubah ketika Sayaka memiliki adik laki-laki,

Sayaka tidak lagi mendapatkan amae dari sang ayah. Akibat tidak adanya amae dari sang ayah, Sayaka berubah menjadi pribadi yang suka

membangkang, berandalan dan suka membuat masalah. Salah satu contohnya yaitu Sayaka kedapatan membawa rokok, karena hal itu menyebabkan Sayaka diskros dan tidak mendapatkan rekomendasi tempat kuliah. Amae sangat penting untuk memahami struktur kepribadian orang Jepang. Seseorang yang memiliki amae akan berperilaku manis, penurut, penuh dengan kasih sayang, dan lain-lain. Berbeda dengan seseorang yang tidak mendapatkan amae, maka akan berperilaku membangkang,

berandalan, sering membuat masalah. Seperti yang tergambarkan dalam film ini, seseorang yang tidak mendapatkan amae dari orang tua atau ayah akan berperilaku demikian. Mereka yang berperilaku seperti itu, sebenarnya hanya ingin mendapatkan perhatian dan kasih sayang lebih.

Meskipun nyatanya tetap tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang terdekat terutama orang tua.

Dalam sistem ie pada masyarakat Jepang yang bersifat patrilineal memberikan kekuasaan penuh pada laki-laki untuk memimpin dalam sebuah keluarga. Ketika dalam suatu keluarga memiliki ayah yang berpikiran tradisional ataupun kuno sedangkan sang anak berpikiran modern maka akan terjadi kontradiktif. Bahwa perempuan modern yang memiliki ayah yang berpikiran tradisional, sang ayah akan lebih memperhatikan si anak laki-laki sesuai dengan pemikiran sistem ie pada masyarakat tradisional yang lebih mementingkan anak laki-laki daripada anak perempuan. Karena pada sistem masyarakat tradisional ie perempuan tidak memiliki peran penting dalam keluarga, dan tidak diperbolehkan untuk berpendapat, sehingga perempuan dalam masyarakat tradisional hanya dituntut untuk patuh terhadap perintah sang ayah. Sedangkan perempuan pada zaman sekarang menginginkan adanya kesamaan derajat dan juga hak dalam keluarga. Misalnya, pada masyarakat tradisional perempuan tidak diperkenankan untuk memilih jodohnya sendiri, karena riwayat percintaannya telah ditentukan oleh sang ayah. Pernikahan pun semata-mata hanya demi kepentingan kedua belah pihak keluarga. Bisa juga dikatakan sebuah bisnis bagi keluarga. Sedangkan ketika hal tersebut

terjadi pada perempuan modern, maka si perempuan akan berusaha memberontak terhadap keputusan sang ayah. Karena menurutnya hal itu tidaklah adil, perempuan modern berpikir bahwa dirinya memiliki hak untuk memilih jodohnya sendiri dan menjalani kehidupan percintaannya sendiri tanpa ada campur tangan dari pihak keluarga. Pada zaman modern seperti sekarang setiap orang bebas untuk mengeluarkan pendapatnya baik dalam masyarakat maupun dalam keluarga.

Berdasarkan hal tersebut, tokoh Sayaka mengalami tekanan batin dalam setting sosialnya karena sang ayah yang berpikiran tradisional ataupun kuno lebih memperhatikan si anak laki-laki sesuai dengan pemikiran sistem ie pada masyarakat tradisional. Sedangkan tokoh Sayaka yang berpikiran modern juga menginginkan sang ayah memperhatikannya.

Oleh sebab itu, tindakan seorang ayah yang tidak memperhatikan Sayaka sebagai anak perempuan dapat menimbulkan tekanan batin bagi diri tokoh Sayaka.

2.3 Studi Psikologi Sastra

Dokumen terkait