TINJAUAN UMUM TENTANG MORALITAS BUSHIDO DAN TEATER BERJUDUL TOUKEN RANBU
2.3. Setting Cerita Teater Berjudul Touken Ranbu
Menurut Jacob Sumardjo dan Saini (1997: 75-76), setting dalam cerita bukan hanya sekedar background, artinya bukan hanya menunjukkan tempat kejadian dan kapan terjadinya, tetapi juga halnya terjadi erat dengan karakter, tema, dan suasana cerita. Dalam suatu cerita yang baik, setting harus benar-benar mutlak untuk menggarap tema dan karakter cerita. Jadi jelas bahwa pemilihan setting dapat membentuk tema tertentu dan plot tertentu. Setting bisa berarti menyatakan tempat tertentu, daerah tertentu, orang-orang tertentu dengan watak yang tertentu pula, cara hidup dan cara berfikir tertentu.
Menurut Ikram (1980 : 21), setting adalah tempat secara umum dan waktu atau masa terjadi. Menurut Welleck (1989 : 24), latar adalah lingkungan, terutama dalam lingkungan rumah tangga, dan merupakan metonimi, metafora, dan pertanyaan dari watak. Menurut Esten (1982: 92-93), setting dapat merupakan pernyataan dari sebuah keinginan manusia. Ia merupakan latar alam sebagai proyeksi dari keinginan. Latar sosial adalah keinginan sosial, tempat tokoh itu bermain. Yang dimaksud dengan latar sosial dalam hal ini tidak tidak hanya menyangkut kelas sosial dari masyarakat, tetapi juga lingkungan masyarakat.
Menurut Kenny (1966: 42), setting sebagai unsur cerita yang dinamis membantu pemgembangan unsur lainnya. Hubungan dengan unsur lain boleh jadi
Universitas Sumatera Utara
49
selaras, boleh jadi pula berkontras, artinya selamanya latar itu sesuai dengan apa yang dilatarinya. Tidak tertutup kemungkinan adanya latar yang berkontras.
Contohnya, adanya suatu pembunuhan yang terjadi di siang bolong, suasana gembira yang ditimbulkan oleh penggambaran pagi yang cerah sengaja dijadikan latar sebagai kontras terhadap keadaan batin tokoh yang serba gundah. Setting memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh ada dan tejadi. Dengan demikian pembaca merasa dipermudah untuk menggunakan daya imajinasi, selain itu dimungkinkan untuk berperan serta secara kritis sehubungan dengan pengetahuannya tentang setting.
Nurgiyantoro (1995: 227) mengatakan setting dapat dibedakan kedalam tiga unsur pokok, yaitu tempat, waktu, sosial. Ketiga unsur itu masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda-beda dan dapat dibicarakan secara tersendiri yang pada kenyataan saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainya. Dalam menganalisis latar cerita Touken Ranbu, akan dibahas latar-latar sebagai berikut :
1. Setting Tempat
Setting tempat merupakan lokasi tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya. Unsur-unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama-nama tertentu, inisial tertentu,mungkin juga lokasi tertentu tanpa nama yang jelas.
Latar terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita Touken Ranbu adalah sebagai berikut :
Universitas Sumatera Utara
50 a. Honmaru
Honmaru yang dalam pengertian secara umum adalah sebuah benteng pertahanan yang biasanya dibuat untuk melindungi kastel dari serangan lawan dengan membuat kota kecil yang melilingi kastel. Dalam seris Touken Ranbu, Honmaru merupakan markas tempat para pedang berkumpul untuk latihan, berkebun, bercengkrama, juga melakukan kegiatan lainnya.
b. Osaka
Setting tempat kejadian berikutnya adalah ketika tim 1 yang diketuai oleh Ichigo Hitofuri dengan beranggotakan Tsurumaru Kuninaga, Shokudaikiri Mitsutada, Kousetsu Samonji, Namazuo Toushirou, Sayo Samonji pergi untuk melakukan ekspedisi pengawasan terhadap para Retrograde Army yang memiliki tujuan untuk membunuh Tokugawa Ieyasu pada saat terjadinya pengepungan kastel Osaka milik Toyotomi Hideyori pada tahun ke 19 Keichou atau 1614.
c. Hutan
Sebuah hutan lebat yang membentang didekat kuil Honnouji tempat Oda Nobunaga bermalam saat itu demi menyambut tamu penting.
Hutan ini tadinya hendak dipakai oleh para Touken Danshi untuk latihan bertarung atas usulan dua pedang milik Date Masamune terdahulu yaitu Tsurumaru Kuninaga dan Shokudaikiri Mitsutada demi mengakrabkan kembali empat pedang milik Oda Nobunaga yang sedang mengalami perselisihan pendapat mengenai asumsi kesetiaan terhadap majikan.
Universitas Sumatera Utara
51 d. Honnouji
Sebuah kuil yang berukuran puluhan hektar ini memiliki banyak bangunan yang salah satunya adalah tempat peristirahatan Oda Nobunaga yang hendak mengadakan upacara minum the disana. Tempat ini juga nantinya yang akan mengawali kisah bersejarah wafatnya sang penakluk dari Owari, Oda Nobunaga akibat penghianatan seorang bawahan setianya, yaitu Akechi Juube Mitsuhide.
2. Setting Waktu
Setting waktu yang berhubungan dengan masalah ‘kapan’ terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah ‘kapan’ tersebut biasanya dihubungkan dengan setting tempat dan setting waktu faktual. Setting waktu juga harus dikaitkan dengan setting tempat dan setting sosial sebab pada kenyataan memang berkaitan.
Teater Touken Ranbu yang di Produseri oleh Suemitsu Kenichi menggambarkan setting waktu yang menceritakan tentang kehidupan samurai pada zaman Sengoku tahun 10 Tensho, dan juga dimasa depan tepat pada tahun 2205. Hal ini dapat dilihat dari penggambaran suasana Jepang di tahun-tahun tersebut dimana peperangan masih terus terjadi pada tahun Tensho dan dimasa depan dengan hari-hari bersantai setelah misi, dengan suguhan makanan khas masa depan ketika mengisi waktu luang.
Universitas Sumatera Utara
52 3. Setting Sosial
Setting sosial mengarah pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi.
Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang kompleks. Dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi keyakinan, pandangan hidup, cara berfikir dan bersikap dan lainnya. Disamping itu, latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.
Teater yang berjudul Touken Ranbu ini bila dilihat dari setting social adalah menggambarkan tentang para pedang samurai yang berjuang demi meluruskan kembali sejarah Jepang yang dirusak oleh tindakan prajurit perusak waktu. Perjuangan mereka bukan hanya sekedar pergi menjalankan misi dan kembali, melainkan perjalanan waktu yang diberi oleh saniwa atau majikan baru mereka untuk belajar banyak hal mengenai apa sesungguhnya arti dari hidup sebagai seorang prajurit yang mengabdikan diri pada tuannya.
Mereka harus berjuang mengalahkan pasuka prajurit perusak waktu yang jumlahnya bisa sampai sebanding dengan pasukan perang Oda pada umumnya.
Kedatangan para prajurit perusak waktu ini dapat menyebabkan malapetaka besar jika mereka tak berhasil mengalahkannya dalam kurun waktu singkat. Jika sejarah yang mereka datangi berubah oleh tindakan prajurit perusak waktu maka pedang yang berasal dari zaman itu juga dapat merasakan akibatnya seperti menghilang dimasa depan.
Universitas Sumatera Utara
53
2.3.1.Tindakan Bushi Sebagai Perwujudan Moralitas Bushido
Bushido (jalan hidup bushi) yang ada di Jepang sebelumnya di pengaruhi oleh ajaran shido dari Tokugawa, telah ada semenjak adanya bushi di Jepang yang disebut dengan bushido lama. Ciri khas bushido lama ini berbeda disetiap daerah.
Bushido lama yang ditandai dengan pengabdian diri yang mutlak dari anak buah terhadap tuannya ini, bushido adalah suatu kode etik kaum samurai yang tumbuh sejak terbentuknya samurai. Sumbernya adalah pelajaran agama budha, khususnya ajaran Zen dan Shinto, karena ajaran ini menimbulkan harmoni dengan apa yang dikatakan orang Jepang “Kekuasaan yang absolut”. Melalui meditasi, kaum samurai berusaha mencapai tingkat berpikir yang lebih tinggi dari ucapan verbal.
Disamping itu kepercayaan Shinto mengajarkan kesetiaan kepada yang berkuasa, sehingga menetralisasi (kemungkinan) sifat sombong seorang pejuang militer.
(Suryohadiprodjo: 1981,49)
Harga diri dan kehormatan merupakan hal yang penting bagi seorang samurai. Mancius, yang dikutip oleh Nitobe (1974), mengatakan bahwa rasa malu adalah lahan dari segala kebajikan, tempat tumbuh pepohonan kelakuan baik dan moral yang baik. Karena itu, seorang samurai merasa lebih baik mati daripada menanggung malu. Untuk mengimbangi hal tersebut, seorang samurai juga belajar mengenai kesabaran dan kemurahan hati. Dalam kasus seorang pengusaha atau direktur yang bunuh diri, sebenarnya sangat sulit menentukan atau menilai mana yang lebih dominan antara sebagai bentuk dari rasa tanggung jawab ataukah karena takut menanggung malu.
Universitas Sumatera Utara
54
Banyak hal yang menyebabkan penyisaan “etika lama” dalam masyarakat Jepang dewasa ini. Jika diperhatikan, orang Jepang sangat serius dan teliti dalam memperkenalkan tata krama dan moral pada anak didik dalam mempraktikkan perilaku sosial yang baik. Misalnya saja cara membungkuk dan duduk yang benar.
Perilaku itu kemudian melembaga, seperti yang tegas terlihat dalam upacara minum teh (chanoyu). Pada hakikatnya chanoyu mengajarkan orang untuk bersikap sopan, saling menghormati, terkendali, sesuai dengan tata krama, sehingga tercipta suatu ketenangan dan rasa kebersamaan. Rasa kebersamaan ini dianggap sangat penting dalam masyarakat Jepang. Wacana Vol. 8 (2006:61).
Dengan etika bushido, Jepang mampu melewati masa peralihan yang sangat penting, termasuk era Meiji. Dengan Restorasi Meiji, walaupun pemerintah feudal runtuh dan digantikan dengan pemerintahan baru yang lebih demokratis, bushido yang merupakan peninggalan lama masih tetap berpengaruh pada pembentukan aturan baru tersebut. Semangat bushido bukan berarti lenyap bersamaan dengan dihapuskannya sistem stratifikasi sosial pada masa Meiji.
Dengan adanya etika tersebut, pengaruh Barat yang masuk dengan derasnya pada masa Meiji tidak menghancurkan karakteristik asli bangsa Jepang.
Walaupun kaum samurai memiliki posisi tersendiri yang berbeda dengan rakyat kebanyakan, perilaku dan nilai-nilai yang mereka junjung tinggi pada akhirnya diikuti dan menjadi pedoman, serta mengakar pada masyarakat luas. Hal ini juga terlihat pada karya sastra yang tidak sedikit mengambil tema kehidupan kaum samurai, seperti karya sastra yang diadaptasi kedalam teater yang berjudul Touken Ranbu oleh Suemitsu Kenichi yang sudah dibicarakan di atas. Wacana Vol. 8 (2006:62).
Universitas Sumatera Utara
55 BAB III
MORALITAS BUSHIDO DALAM CERITA TEATER BERJUDUL