• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip dan Praktik Ekonomi Islam

3. Sewa-menyewa

a. Pen ertian Sewa-menyewa

Sewa-menyewa dalam fiqh Islam disebut ij±rah, artinya imbalan yang harus diterima oleh seseorang atas jasa yang diberikannya. Jasa di sini berupa penyediaan tenaga dan pikiran, tempat tinggal, atau hewan.

Dasar hukum ij±rah dalam firman Allah Swt.:

Artinya: “...dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut..” (Q.S. al-Baqarah/2: 2 )

Artinya: “...kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak) mu maka berikanlah imbalannya kepada mereka...”(Q.S. a - al±q/ 5: )

b. Syarat dan n Sewa-menyewa

1) Yang menyewakan dan yang menyewa haruslah telah ballig dan berakal sehat.

2) Sewa-menyewa dilangsungkan atas kemauan masing-masing, bukan karena dipaksa.

3) Barang tersebut menjadi hak sepenuhnya orang yang menyewa-kan, atau walinya.

4) Ditentukan barangnya serta keada-an dkeada-an sifat-sifatnya.

5) Manfaat yang akan diambil dari barang tersebut harus diketahui secara jelas oleh kedua belah pihak. Misalnya, ada orang akan menyewa sebuah rumah. Si penyewa harus menerangkan secara jelas kepada pihak yang menyewakan, apakah rumah tersebut mau ditempati atau dijadikan gudang. Dengan demikian, si pemilik rumah akan mempertimbangkan boleh atau tidak disewa. Sebab risiko kerusakan rumah antara dipakai

sebagai tempat tinggal berbeda dengan risiko dipakai sebagai gudang. Sumber: www.artharentcar-semarang.com

Gambar 9.8 Sewa-menyewa (rental) kendaraan

Sumber: www.beritasumbar.com

6) Berapa lama memanfaatkan barang tersebut harus disebutkan dengan jelas. 7) Harga sewa dan cara pembayarannya juga harus ditentukan dengan jelas

serta disepakati bersama.

Dalam hal sewa-menyewa atau kontrak tenaga kerja, haruslah diketahui secara jelas dan disepakati bersama sebelumnya hal-hal berikut.

1) Jenis pekerjaan dan jam kerjanya. 2) Berapa lama masa kerja.

3) Berapa gaji dan bagaimana sistem pembayarannya: harian, bulanan, mingguan ataukah borongan?

4) Tunjangan-tunjangan seperti transpor, kesehatan, dan lain-lain, kalau ada.

Aktivitas Siswa:

1. Carilah barang-barang yang sering disewakan di masyarakat! 2. Bagaimana pendapat kamu tentang sewa-menyewa barang tersebut?

. Syirkah

Secara bahasa, kata syirkah (perseroan) berarti mencampurkan dua bagian atau lebih sehingga tidak dapat lagi dibedakan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya. Menurut istilah, syirkah adalah suatu akad yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih yang bersepakat untuk melakukan suatu usaha dengan tujuan memperoleh keuntungan.

a. n dan Syarat Syirkah

Adapun rukun syirkah secara garis besar ada tiga, yaitu seperti berikut. 1) Dua belah pihak yang berakad (‘aqidani). Syarat orang yang melakukan akad

adalah harus memiliki kecakapan (ahliyah) melakukan ta£arruf (pengelolaan harta).

2) Objek akad yang disebut juga ma’qud alaihi mencakup pekerjaan atau modal. Adapun syarat pekerjaan atau benda yang dikelola dalam syirkah harus halal dan diperbolehkan dalam agama dan pengelolaannya dapat diwakilkan. 3) Akad atau yang disebut juga dengan istilah £igat. Adapun syarat sah akad

harus berupa ta£arruf, yaitu adanya aktivitas pengelolaan.

b. a am- a am Syirkah

Syirkah dibagi menjadi beberapa macam, yaitu syirkah in±n, syirkah abd±n, syirkah wujµh, dan syirkah muf±wa«ah.

1 Syirkah In±n

r nān adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing- masing memberi kontribusi kerja (amal) dan modal (mal). Syirkah ini hukumnya boleh berdasarkan dalil sunah dan ijma’ sahabat.

Contoh syirkah in±n: A dan B sarjana teknik komputer. A dan B sepakat menjalankan bisnis perakitan komputer dengan membuka pusat ser i e dan penjualan komponen komputer. Masing-masing memberikan kontribusi modal sebesar Rp10 juta dan keduanya sama-sama bekerja dalam syirkah tersebut. Dalam syirkah jenis ini, modalnya disyaratkan harus berupa uang. Sementara barang seperti rumah atau mobil yang menjadi fasilitas tidak boleh dijadikan modal, kecuali jika barang tersebut dihitung nilainya pada saat akad. Keuntungan didasarkan pada kesepakatan dan kerugian ditanggung oleh masing-masing sy±rik (mitra usaha) berdasarkan porsi modal. Jika masing-masing modalnya 50 , masing-masing menanggung kerugian sebesar 50 .

2 Syirkah Abd±n

r ān adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing-masing hanya memberikan kontribusi kerja (amal), tanpa kontribusi modal (amal). Konstribusi kerja itu dapat berupa kerja pikiran (seperti penulis naskah) ataupun

ker a fisik (seperti tukang batu). Syirkah ini juga disebut syirkah ‘amal.

Contohnya: A dan B sama-sama nelayan dan bersepakat melaut bersama untuk mencari ikan. Mereka juga sepakat apabila memperoleh ikan akan dijual dan hasilnya akan dibagi dengan ketentuan: A mendapatkan se besar 60 dan B sebesar 40 . Dalam syirkah ini tidak disyaratkan kesamaan profesi atau keahlian, tetapi

boleh berbeda profesi. Jadi, boleh saja syirkah abd±n terdiri atas beberapa tukang kayu dan tukang batu. Namun, disyaratkan bahwa pekerjaan yang dilakukan merupakan pekerjaan halal dan tidak boleh berupa pekerjaan haram, misalnya berburu anjing. Keuntungan yang diperoleh dibagi berdasarkan

Sumber www.bangunrumahindo.files.wordpress. om

Aktivitas Siswa:

1. Carilah contoh r ah a ān yang sering dilakukan oleh sebagian besar masyarakat!

2. Bagaimana cara membagi keuntungan maupun kerugian yang dialami oleh pelaku r ah a ān!

3 Syirkah ujµh

r u adalah kerja sama karena didasarkan pada kedudukan, ketokohan, atau keahlian (wujuh) seseorang di tengah masyarakat. Syirkah

u h adalah syirkah antara dua pihak yang sama-sama memberikan kontribusi kerja (amal) dengan pihak ketiga yang memberikan konstribusi modal (mal).

Contohnya: A dan B adalah tokoh yang dipercaya pedagang. Lalu A dan B bersyirkah wujuh dengan cara membeli barang dari seorang pedagang secara kredit. A dan B bersepakat bahwa masing-masing memiliki 50 dari barang yang dibeli. Lalu, keduanya menjual barang tersebut dan keuntungannya dibagi dua. Sementara harga pokoknya dikembalikan kepada pedagang. Syirkah wujµh ini hakikatnya termasuk dalam syirkah

abd±n.

4 Syirkah uf±wa ah

r u ā adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang menggabungkan semua jenis syirkah di atas. r ah mu ā a ah dalam pengertian ini boleh dipraktikkan. Sebab setiap jenis syirkah yang sah berarti boleh digabungkan menjadi satu. Keuntungan yang diperoleh dibagi sesuai dengan kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung sesuai dengan jenis syirkahnya, yaitu ditanggung oleh para pemodal sesuai porsi modal jika berupa

r ah nān, atau ditanggung pemodal saja jika berupa mu ā a ah, atau ditanggung mitra-mitra usaha berdasarkan persentase barang dagangan yang dimiliki jika berupa r ah u h.

Contohnya: A adalah pemodal, berkontribusi modal kepada B dan C. Kemudian, B dan C juga sepakat untuk berkontribusi modal untuk membeli barang secara kredit atas dasar kepercayaan pedagang kepada B dan C. Dalam hal ini, pada awalnya yang terjadi adalah syirkah abd±n, yaitu ketika B dan C sepakat masing-masing bersyirkah dengan memberikan kontribusi kerja saja. Namun, ketika A memberikan modal kepada B dan C, berarti di antara mereka bertiga terwujud mu«±rabah. Di sini A sebagai pemodal, sedangkan B dan C

kontribusi modal, di samping kontribusi kerja, berarti terwujud syirkah in±n di antara B dan C. Ketika B dan C membeli barang secara kredit atas dasar kepercayaan pedagang kepada keduanya, berarti terwujud syirkah wujµh antara B dan C. Dengan demikian, bentuk syirkah seperti ini telah menggabungkan semua jenis syirkah dan disebut syirkah muf±wa«ah.

Aktivitas Siswa:

1. Buatlah contoh konkret setiap syirkah ( r ah nān a ān u h an mu ā a ah) yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari!

2. Tanggapi setiap contoh tersebut dengan menyertakan dalil sebagai penguat!

u ±rabah

Mu«±rabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak. Pihak pertama menyediakan semua modal (£±hibul m±l), dan pihak lainnya menjadi pengelola atau pengusaha (mu«arrib). Keuntungan usaha secara mu«±rabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Akan tetapi, apabila mengalami kerugian, ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian tersebut bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.

Kontrak bagi hasil disepakati di depan sehingga bila terjadi keuntungan, pembagiannya akan mengikuti kontrak bagi hasil tersebut. Misalkan, kontrak bagi hasilnya adalah 60:40, di mana pengelola mendapatkan 60 dari keuntungan, pemilik modal mendapat 40 dari keuntungan.

Mu«±rabah sendiri dibagi menjadi dua, yaitu mu«±rabah mu laqah dan mu«±rabah muqayyadah. Mu«±rabah mu laqah merupakan bentuk kerja sama antara pemilik modal dan pengelola yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis. Mu«±rabah muqayyadah adalah kebalikan dari mu«±rabah mu laqah, yakni usaha yang akan dijalankan dengan dibatasi oleh jenis usaha, waktu, atau tempat usaha.

Mus±qah Muz±ra’ah dan Mukh±barah

a Mus±qah

Mus±qah adalah kerja sama antara pemilik kebun dan petani. Pemilik kebun menyerahkan kepada petani agar dipelihara dan hasil panennya nanti akan dibagi dua menurut persentase yang ditentukan pada waktu akad.

Konsep mus±qah merupakan kon sep kerja sama yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak (simbiosis mutualisme). Tidak jarang para pemilik lahan tidak memiliki waktu luang untuk merawat perkebunannya. Sementara di pihak lain ada petani yang memiliki banyak waktu luang namun tidak memiliki lahan yang bisa digarap. Dengan adanya sistem kerja sama mus±qah, setiap pihak akan sama-sama mendapatkan manfaat.

b Muz±ra’ah dan Mukh±barah

Muz±ra’ah adalah kerja sama dalam bidang pertanian antara pemilik lahan dan petani penggarap. Dalam kerja sama ini benih tanaman berasal dari petani. Sementara mukh±barahialah kerja sama dalam bidang pertanian antara pemilik lahan dan petani penggarap. Dalam kerja sama ini, benih tanamannya berasal dari pemilik lahan. Muz±ra’ah memang sering kali diidentikkan dengan mukh±barah. Namun demikian, keduanya sebenarnya memiliki sedikit perbedaan. Muz±ra’ah, benihnya berasal dari petani penggarap, sedangkan mukh±barah benihnya berasal dari pemilik lahan.

Muz±ra’ah dan mukh±barah merupakan bentuk kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dan penggarap yang sudah dikenal sejak masa Rasulullah saw. Dalam hal ini, pemilik lahan memberikan lahan pertanian kepada penggarap untuk ditanami dan dipelihara dengan pembagian persentase tertentu dari hasil panen. Di Indonesia, khususnya di kawasan pedesaan, kedua model penggarapan tanah itu sama-sama dipraktikkan oleh masyarakat petani. Landasan syariahnya terdapat dalam hadis dan ijma’ ulama.

. Perban an