• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN PRAKTIK EMPIRIS

C. Kajian Terhadap Praktik Penyelenggaraan, Kondisi Yang

4. Shared Responsibility antara KY dengan Mahkamah

Menurut Rudolfus Tallan,83 Shared responsibility seyogianya perlu dipertimbangkan ke depannya. Tetapi sebaiknya ada pembagian tanggung jawab yang jelas. MA hanya berkutat di wilayah Manajemen Perkara sedangkan KY berkutat pada urusan-urusan administratif keuangan, supervisi, dan perekrutan. Dengan demikian MA tidak perlu mengurusi persoalan pembangunan infrastruktur Pengadilan, sebaiknya MA mengurusi saja persoalan Perkara yang mendatangkan keadilan. Namun menurut hakim Pengadilan Negeri Medan, jika status hakim telah murni sebagai pejabat negara, konsep shared responsibility dapat diterapkan.

Sedangkan menurut perwakilan dari Kantor Penghubung KY di Kupang84 konsep shared responsibility dimaknai peran lembaga lain dalam pengelolaan manajemen hakim terkait rekrutmen calon hakim, pembinaan, promosi mutasi, pengawasan hingga pensiun hakim. Lembaga lain yang dimaksud adalah KY. Konsep ini merupakan salah 82Diskusi dengan Dju Johnson Mira Mangngi (Ketua Pengadilan Negeri Kupang), Wari Juniati (Wakil Ketua Pengadilan Negeri Kupang), dan beberapa hakim Pengadilan Negeri Kupang yaitu: Nuril Huda, Prasetyo Utomo, dan Paulus DB Naro, pada tanggal 11 Maret 2020.

83Diskusi dengan Rudolfus Tallan (Akademisi Fakultas Hukum Universitas Katolik Widya Mandira) di Fakultas Hukum Universitas Katolik Widya Mandira pada tanggal 11 Maret 2020.

84Diskusi dengan perwakilan dari Kantor Penghubung KY Kupang pada tanggal 10 Maret 2020.

67 satu implementasi dari wewenang lain yang dimiliki oleh KY mendasarkan Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Konsep ini sudah dilakukan oleh KY sejauh ini seperti keterlibatan KY dalam diklat atau pelatihan calon hakim dan hakim, peningkatan kapasitas dan kesejahteraan hakim, pengawasan hakim dan seleksi hakim di Mahkamah Konstitusi. Kewenangan yang sudah ada tersebut tidak terlalu kuat dikarenakan bunyi dalam pasal 24B ayat (1) tersebut masih dapat ditafsirkan lain sehingga perlunya penegasan dalam pasal tersebut.

Penegasan ini sangat diperlukan mengingat Mahkamah Agung cenderung kepada TAP MPR No. X Tahun 1998 tentang Pembagian Penyelenggaraan Negara Antara Lembaga Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif. Dalam TAP MPR tersebut yang perlu diperhatikan adalah pembagian kekuasaan antara eksekutif, legislatif dan yudikatif telah jelas dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan KY adalah lembaga negara yang berada dalam Bab Kekuasaan Kehakiman sehingga makna Konsep shared responsibility oleh KY tidak mengganggu atau mempengaruhi kekuasaan yudikatif yang mandiri tanpa adanya campur tangan kekuasaan lain (eksekutif dan legislatif). Justru konsep ini dapat memperkuat kemandirian kekuasaan yudikatif itu sendiri.

Pemikiran mengenai shared responsibility pada KY juga dikemukakan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surya Kupang.85 Proses transformasi dari one roof system menjadi shared responsibility fokusnya pada status jabatan hakim, rekrutmen hakim, promosi-mutasi hakim, penilaian profesi hakim, dan pengawasan kekuasaan kehakiman dengan melibatkan KY. Soal status jabatan hakim,

85Diskusi dengan beberapa Advokat dari Lembaga Bantuan Hukum Surya Kupang pada tanggal 12 Maret 2020.

68 berimbas pada kemampuan negara dalam memenuhi hak-hak hakim sebagai pejabat negara. Konsep shared responsibility, di mana ada pembagian tanggung jawab bersama pada beberapa lembaga dan lebih menekankan pada manajemen pengelolaan hakim.

Oleh karena itu, konsep shared responsibility system ini diharapkan bisa mengubah arah manajemen hakim yang lebih profesional dan berintegritas. Contoh konsep shared responsibility system ini diadopsi dari Perancis, Jerman, dan Belanda. Disana MA hanya melaksanakan fungsi pembinaan teknis penanganan perkara. Misalnya, di Jerman menganut sistem tiga atap di mana MA, KY, Pemerintah Jerman berbagi peran. KY bertugas melaksanakan manajemen rekrutmen, promosi-mutasi, dan pengawasan. Sedangkan, Departemen Kehakiman sebagai pelaksana rekrutmen hakim dan MA melaksanakan fungsi penanganan perkara. Artinya, penguatan fungsi kontrol (pengawasan) MA dan KY diarahkan pada kejelasan ranah pengawasan, penguatan prinsip akuntabilitas, dan sifat eksekutorial pengawasan yang mengikat. Konsep shared responsibility dimaknai peran lembaga lain dalam pengelolaan manajemen hakim terkait rekrutmen calon hakim, pembinaan, promosi mutasi, pengawasan hingga pensiun hakim. Lembaga lain yang dimaksud adalah KY. Konsep ini merupakan salah satu implementasi dari wewenang lain yang dimiliki oleh KY mendasarkan Pasal 24B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Konsep ini sudah dilakukan oleh KY sejauh ini seperti keterlibatan KY dalam diklat atau pelatihan calon hakim dan hakim, peningkatan kapasitas dan kesejahteraan hakim, pengawasan hakim dan seleksi hakim di Mahkamah Konstitusi. Kewenangan yang sudah ada tersebut tidak terlalu kuat dikarenakan bunyi dalam pasal 24B ayat (1) tersebut masih dapat ditafsirkan lain sehingga perlunya penegasan dalam pasal tersebut.

69 Penegasan ini sangat diperlukan mengingat Mahkamah Agung cenderung kepada TAP MPR No. X Tahun 1998 tentang Pembagian Penyelenggaraan Negara Antara Lembaga Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif. Dalam TAP MPR tersebut yang perlu diperhatikan adalah pembagian kekuasaan antara eksekutif, legislatif dan yudikatif telah jelas dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan KY adalah lembaga negara yang berada dalam Bab Kekuasaan Kehakiman sehingga makna Konsep shared responsibility oleh KY tidak mengganggu atau mempengaruhi kekuasaan yudikatif yang mandiri tanpa adanya campur tangan kekuasaan lain (eksekutif dan legislatif). Justru konsep ini dapat memperkuat kemandirian kekuasaan yudikatif itu sendiri.

Meskipun shared responsibility pada KY perlu dilakukan akan tetapi pembagian kewenangannya dengan Mahkamah Agung haruslah jelas. Akan tetapi untuk saat ini shared responsibility belum diperlukan karena posisi Hakim saat ini masih lemah karena statusnya saat ini masih sebagai Pegawai Negeri Sipil yang masih dibebankan dengan urusan selain perkara seperti manajemen pengadilan sehingga pemikirannya masih sangat bercabang.

Terkait dengan shared responsibility, Faisal Akbar Nasution,86

dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dalam Undang Nomor 18 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang KY sebenarnya sudah ada pengaturan konsep shared responsibility apakah itu dalam hal menetapkan Kode Etik dan/atau Pedoman Perilaku Hakim seperti diatur dalam Pasal 13 huruf c, pembentukan Majelis Kehormatan

86Diskusi dengan Faisal Akbar Nasution, dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara pada tanggal 11 Maret 2020.

70 Hakim (MKH) sebagaimana disebut dalam Pasal 1 angka 7 jo Pasal 40A, dan terdiri dari 4 orang anggota KY dan 3 orang hakim agung.

Dokumen terkait