Kepatuhan syariah merupakan bagian dari tata kelola lembaga (corporate
governance). Kepatuhan syariah merupakan manifestasi pemenuhan seluruh
prinsip syariah dalam lembaga yang memiliki wujud karakteristik, integritas dan kredibilitas di bank syariah. Di sinilah pentingnya kompetensi dan independensi harus dimiliki oleh auditor di LKS agar pelaksanaan sharia compliance dapat dilakukan dengan baik (Nadia et al, tth). Dengan demikian yang dimaksud dengan penerapan shariah compliance yang ideal pada bank syariah adalah produk-produknya yang syariah, operasional, pelayanan, keuangan dan manajemen bank syariah sesuai dengan prinsip syariah (Martasari, 2015).
Salah satu pilar penting dalam pengembangan bank syariah adalah sharia
compliance. Pilar inilah yang menjadi pembeda utama antara bank syariah dengan
bank konvensional (EI Junusi, 2012). Shariah Compliance pada bank syariah adalah tingkat kepatuhan prinsip-prinsip syariah pada bank syariah. Adapun Prinsip-Prinsip Dasar Perbankan Syariah adalah sebagai berikut:
a. Prinsip Titipan atau Simpanan (Depository/Al-wadi’ah)
Al-wadi’ah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak
lain, baik individu maupun badan hukum, yang harus di jaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendaki. Adapun Landasan Syariah pada prinsip
Al-wadi’ah adalah sebagai berikut:
Allah berfirman dalam QS An-Nisa/4: 58 dan QS Al-Baqarah/2: 283.
َ َّاللَّ َّنِإ
ْنَأ ِساَّنلا َنْيَب ْمُتْمَكَح اَذِإ َو اَهِلْهَأ ٰىَلِإ ِتاَناَمَ ْلْا اوُّدَؤُت ْنَأ ْمُكُرُمْأَي
ا ًري ِصَب اًعيِمَس َناَك َ َّاللَّ َّنِإ ۗ ِهِب ْمُكُظِعَي اَّمِعِن َ َّاللَّ َّنِإ ۚ ِلْدَعْلاِب اوُمُكْحَت
Terjemahnya:
”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”(An-Nisa: 58).
ْمُكُضْعَب َنِمَأ ْنِإَف ۖ ٌةَضوُبْقَم ٌناَه ِرَف اًبِتاَك اوُد ِجَت ْمَل َو ٍرَفَس ٰىَلَع ْمُتْنُك ْنِإ َو
ْنَم َو ۚ َةَداَهَّشلا اوُمُتْكَت َلَ َو ۗ ُهَّب َر َ َّاللَّ ِقَّتَيْل َو ُهَتَناَمَأ َنِمُت ْؤا يِذَّلا ِ دَؤُيْلَف اًضْعَب
َي
ٌميِلَع َنوُلَمْعَت اَمِب ُ َّاللَّ َو ۗ ُهُبْلَق ٌمِثآ ُهَّنِإَف اَهْمُتْك
Terjemahnya:
”Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang
kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
b. Prinsip Bagi Hasil (profit-sharing)
Bagi hasil adalah pendapatan utama pada kegiatan Syariah, karena pada dasarnya semua kegiatan syariah harus mempunyai manfaat yang adil antara semua yang terlibat dalam kegiatan usaha yang mempergunakan prinsip syariah.
1) Al-Musyarakah
Al-musyarakah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk
suatu usaha tertentu di mana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana (atau amal/expertise) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. Adapun Landasan Syariah pada prinsip Al-musyarakah adalah sebagai berikut:
Allah berfirman dalam QS An-Nisa/4: 12 dan QS Sad/38: 24.
...ِثُلُّثلا يِف ُءاَك َرُش ْمُهَف
Terjemahnya:
“…maka mereka berserikat pada sepertiga…”(An-nisa: 12).
َّلَِإ ٍضْعَب ٰىَلَع ْمُهُضْعَب يِغْبَيَل ِءاَطَلُخْلا َنِم ا ًريِثَك َّنِإ َو...
اوُنَمآ َنيِذَّلا
...ِتاَحِلاَّصلا اوُلِمَع َو
Terjemahnya:
“…Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu
sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali
2) Al-Mudharabah
Al-mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak di mana
pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh (100%) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. Perjanjian di awal antara penyedia modal dengan pengusaha, bahwa setiap keuntungan yang diraih, akan dibagi menurut rasio tertentu yang disepakati. Risiko kerugian ditanggung penuh oleh pihak penyedia modal, kecuali kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan pengelolaan, kelalaian dan penyimpangan pihak nasabah seperti penyelewengan, kecurangan, dan penyalahgunaan. Adapun landasan Syariah Al-mudharabah lebih mencerminkan anjuran untuk melakukan usaha, yaitu:
3) Al-Muzara’ah
Al-muzara’ah adalah kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik
lahan dan penggarap, di mana pemilik lahan memberikan lahan pertanian kepada si penggarap untuk ditanami dan dipelihara dengan imbalan bagian tertentu (persentase) dari hasil panen.
4) Al-Musaqah
Al-musaqah adalah bentuk yang lebih sederhana dari muzara’ah di mana
si penggarap hanya bertanggung jawab atas penyiraman dan pemeliharaan. Sebagai imbalan, si penggarap berhak atas nisbah tertentu dari hasil panen.
c. Prinsip Jual Beli (sale and purchasing) 1) Bai’ Al-Murabahah
Bai’ Al-Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan
memberi tahu kepada pembeli berapa nilai pokok barang tersebut dan berapa besar keuntungan yang diperoleh pada nilai tersebut. Keuntungan tersebut bisa berupa nominal keseluruhan atau berdasarkan persentase.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah/2: 275.
ْلا ُ َّاللَّ َّلَحَأ َو
..اَب ِ رلا َم َّرَح َو َعْيَب
.
Terjemahnya:
“…Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan
riba…”(Al-baqarah: 275). 2) Bai’ As-Salam
Bai’ As-Salam adalah pembelian barang yang diserahkan di kemudian
hari, sedangkan pembayaran dilakukan di muka.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah/2: 282.
ُهوُبُتْكاَف ىًّمَسُم ٍلَجَأ ٰىَلِإ ٍنْيَدِب ْمُتْنَياَدَت اَذِإ اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّيَأ اَي
... …
Terjemahnya:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…”(Al-baqarah:
282).
3) Bai’ Al-Istishna’
Bai’ Al-Istishna’ merupakan kontrak penjualan antara pembeli dan
pembuat barang. Dalam kontrak ini, pembuat barang menerima pesanan dari pembeli. Pembuat barang lalu berusaha melalui orang lain untuk membuat atau membeli barang menurut spesifikasi yang telah di sepakati dan menjualnya kepada pembeli akhir. Kedua belah pihak bersepakat atas harga serta sistem
pembayaran; apakah pembayan dilakukan di muka, melalui cicilan, atau ditangguhkan sampai suatu waktu pada masa yang akan datang.
d. Prinsip Sewa 1) Al-Ijarah
Al-ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui
pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan
(ownership) atas barang itu sendiri.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah/2: 233.
َّلَس اَذِإ ْمُكْيَلَع َحاَنُج َلََف ْمُكَد َلَ ْوَأ اوُع ِض ْرَتْسَت ْنَأ ْمُتْد َرَأ ْنِإ َو...
ْمُتْيَتآ اَم ْمُتْم
ٌري ِصَب َنوُلَمْعَت اَمِب َ َّاللَّ َّنَأ اوُمَلْعا َو َ َّاللَّ اوُقَّتا َو ۗ ِفو ُرْعَمْلاِب
Terjemahnya:
“…Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada
dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat
apa yang kamu kerjakan”(Al-baqarah: 233).
2) Al-Ijarah Al-Muntahia Bit-Tamlik (IMB)
Al-Ijarah Al-Muntahia Bit-Tamlik adalah sejenis perpaduan antara kontrak
jual beli dan sewa atau lebih tepatnya akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang di tangan si penyewa. Sifat pemindahan kepemilikan ini pula yang membedakan dengan ijarah biasa.
e. Prinsip Jasa 1) Al-Wakalah
Wakalah atau wikalah berarti penyerahan, pendelegasian, atau pemberian
mandate. Ada pula pengertian-pengertian lain dari wakalah, yaitu; Wakalah adalah pelimpahan kekuasaan oleh seseorang sebagai pihak pertama kepada orang lain sebagai pihak kedua dalam hal-hal yang diwakilkan (dalam hal ini pihak kedua) hanya melaksanakan sesuatu sebatas kuasa atau wewenang yang diberikan oleh pihak pertama, namun apabila kuasa itu telah dilaksanakan sesuai yang disyaratkan, maka semua risiko dan tanggung jawab atas dilaksanakan perintah tersebut sepenuhnya menjadi pihak pertama atau pemberi kuasa.
Allah SWT berfirman dalam QS Ali Imran/3: 173.
ُليِك َوْلا َمْعِن َو ُ َّاللَّ اَنُبْسَح ...
Terjemahnya:
“…Cukuplah Allah sebagai penolong kamu dan Dia sebaik-baik pemelihara”(Ali Imran: 173).
2) Al-Kafalah
Al-Kafalah merupakan jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada
pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung. Dalam pengertian lain, kafalah juga berarti mengalihkan tanggung jawab seseorang yang dijamin dengan berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai penjamin.
Allah SWT berfirman dalam QS Yusuf/12: 72.
ٌميِع َز ِهِب اَنَأ َو ٍريِعَب ُلْم ِح ِهِب َءاَج ْنَمِل َو ِكِلَمْلا َعا َوُص ُدِقْفَن اوُلاَق
Terjemahnya:
”Penyeru-penyeru itu berkata: "Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang
dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban
3) Al-Hawalah
Al-hawalah adalah pengalihan utang dari orang yang berutang kepada
orang lainyang wajib menanggungnya. Dalam istilah para ulama, hal ini merupakan pemindahan beban utang dari muhil (orang yang berutang) menjadi tanggungan muhal ‘alaih (orang yang berkewajiban membayar utang.
4) Ar-Rahn
Ar-rahn adalah menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai
jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Barang yang ditahan tersebut memiliki nilai ekonomis. Dengan demikian, pihak yang menahan memperoleh jaminan untuk dapat mengambil kembali seluruh atau sebagian piutangnya. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa rahn adalah semacam jaminan utang atau gadai.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah/2: 283.
ْمُكُضْعَب َنِمَأ ْنِإَف ۖ ٌةَضوُبْقَم ٌناَه ِرَف اًبِتاَك اوُد ِجَت ْمَل َو ٍرَفَس ٰىَلَع ْمُتْنُك ْنِإ َو
َت َلَ َو ۗ ُهَّب َر َ َّاللَّ ِقَّتَيْل َو ُهَتَناَمَأ َنِمُت ْؤا يِذَّلا ِ دَؤُيْلَف اًضْعَب
ْنَم َو ۚ َةَداَهَّشلا اوُمُتْك
ٌميِلَع َنوُلَمْعَت اَمِب ُ َّاللَّ َو ۗ ُهُبْلَق ٌمِثآ ُهَّنِإَف اَهْمُتْكَي
Terjemahnya:
”Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa
hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan”(Al-baqarah: 283). 5) Al-Qardh
Al-qardh adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih
atau diminta kembali atau dengan kata lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Hadid/57: 11.
ِرَك ٌرْجَأ ُهَل َو ُهَل ُهَفِعاَضُيَف اًنَسَح اًض ْرَق َ َّاللَّ ُض ِرْقُي يِذَّلا اَذ ْنَم
ٌمي
Terjemahnya:
”Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka
Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan
memperoleh pahala yang banyak” (Al-hadid: 11).
Dengan demikian yang dimaksud dengan penerapan shariah compliance yang ideal pada bank syariah adalah produk-produknya yang syariah, operasional, pelayanan, keuangan dan manajemen bank syariah sesuai dengan prinsip syariah (Martasari, 2015).