KPID Provinsi
KONTEN SIARAN KEAGAMAAN
B. Siaran Keagamaan
Salah satu konten siaran yang dalam konteks khalayak Indonesia sangat memungkinkan menjadi kebutuhan, keinginan,
Siaran Keagamaan Berbasis Konten Lokal | 184 dan harapan mayoritas warga adalah konten keagamaan.
Banyaknya warga negara Indonesia yang memeluk agama Islam, sangat logis jika dunia penyiaran nasional pun berpihak pada konten-konten bersyiar Islam.
Dalam pandangan idealis, konten-konten keagamaan akan sinergis terhadap dampak perbaikan moral bangsa. Bagaimanapun dan dimanapun, ajaran agama, terlebih ajaran Agama Islam, menjadi pedoman bagi berkembangnya sikap, pemikiran, dan perilaku umat untuk lebih bermoral dan menjunjung kebaikan, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.
Pandangan normatif penyiaran nasional pun, melalui tujuan penyiaran nasional yang tersirat langsung dalam Undang-Undang Penyiaran salah satu tujuannya adalah terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa. Keimanan dan ketakwaan dimaksud akan terbina jika berpedoman pada ajaran agama.
Bahkan, salah satu fungsi penyiaran yang paling ideal dan normatif adalah fungsi pendidikan yang diembankan pada lembaga penyiaran. Fungsi pendidikan tidak hanya untuk mencerdaskan bangsa, tetapi juga menuju pada pembangunan moral dan karakteristik bangsa untuk menjadi bangsa yang baik. Konten pendidikan agamalah yang paling utama dan pertama serta dapat menjamin terciptanya masyarakat yang agamis.
Oleh karena itu, tidak ada alternatif lain bahwa lembaga penyiaran harus memberikan prioritas pada program-program siaran yang berkonten keagamaan. Keberhasilan Pemerintahan dalam membangun masyarakat agamis, satu di antaranya akan
185 | Siaran Keagamaan Berbasis Konten Lokal
sangat tergantung pada konten siaran dan tayangan di media (Sarbini et al., 2018).
Eksistensi lahirnya media massa, seperti media penyiaran, pada kehidupan berbangsa dan bernegara pada substansinya memiliki tujuan utama memberikan kemudahan pada umat manusia. Sebagaimana fungsi lembaga penyiaran untuk memberikan edukasi, informasi, rekreasi, serta kontrol sosial dan perekat sosial yang sejatinya semua itu merupakan kebutuhan urgen bagi manusia. Media penyiaran, seperti televisi merupakan alat komunikasi persuasif yang sangat efektif untuk mempengaruhi khalayak, baik aspek kognisi, afeksi, maupun konasi khalayak. Oleh karena itu, merupakan langkah yang sangat tepat kalau media penyiaran dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyiarkan ajaran Islam. Media massa seperti televisi, radio, koran, dan internet merupakan alternatif terbaik media dakwah Islam yang sangat potensial (Kholil, 2007).
Dari berbagai alternatif yang ada, dalam pandangan Iswadi (2011), media massa merupakan pilihan strategis sebagai alat untuk membentuk dan mendominasi kesadaran massa, sehingga Diminic Strinati (2003) memosisikan media massa menjadi satu-satunya “kiblat” bagi masyarakat massa. Dalam konteks media penyiaran yang dimaksud masyarakat massa adalah khalayak yang memiliki karakteristik umum heterogen, sehingga daya sebarnya pun tidak sebatas khalayak bersangkutan saja, tetapi juga pada hiper-khalayak.
Siaran Keagamaan Berbasis Konten Lokal | 186 Apalagi jika khalayaknya para opinion reader yang juga memiliki daya persuasif yang tajam, maka Teori Snowball akan terjadi. Namun disadari atau pun tidak, khalayak seperti para penonton televisi turut juga memberi arah terbentuknya realitas dan pemahaman baru terhadap makna religiusitas dalam konten siaran keagamaan. Secara metaporik McQuail (2005) menunjukkan enam kemungkinan media televisi dapat memproduksi realitas baru dari realitas konten siaran yang ada. Media sebagai jendela (a window), sehingga membuka cakrawala dan menyajikan realitas dalam berita yang apa adanya; Media sebagai cermin (a mirrow), sehingga merupakan pantulan dari bebagai peristiwa (realitas);
Media sebagai filter atau penjaga gawang (a filter or gatekeeper), sehingga menyeleksi realitas sebelum disajikan pada khalayak, realitas disajikan tidak utuh lagi; Media sebagai penunjuk arah, pembimbing atau penerjemah (a signpost, guide or interpreter);
Media sebagai forum atau kesepakatan bersama (a forum or platform), sehingga mengkonstruksi realitas sesuai dengan kebutuhan khalayak; Media menjadikan realitas sebagai bahan diskusi, sehingga realitas diangkat menjadi bahan perdebatan;
Media sebagai tabir atau penghalang (a screen or barrier), sehingga memisahkan khalayak dari realitas sebenarnya.
Menayangkan konten siaran keagamaan sebagai komoditas siaran melalui produksi berbagai simbol religius yang dikonstruksi secara terus menerus oleh televisi akan mengahantarkan penghayatan agama secara simbolis. Hal ini terlihat biasa karena sebagai sebuah penghayatan individual, agama pada dasarnya
187 | Siaran Keagamaan Berbasis Konten Lokal
memang mengandung sejumlah kode. Kode-kode keagamaan tersebutlah yang diserap oleh pemeluknya dalam satu setting sosial yang spesifik. Agama pada sisi ini bersifat adaptif dengan situasi sosial yang mengitarinya. Ada diaklektika kontekstual dari agama yang bersifat tekstual. Dialektika tersebut termanifestasikan dalam bebagai simbol yang bersifat akulturatif, bukan komodikatif.
Simbol disini dipahami sebagai medium yang memiliki susunan pesan menjadi suatu sistem keyakinan yang dianut (Soekamto, 2001) .
Simbol sebagai suatu sistem keyakinan memiliki kekuatan mempertahankan atau menggerakkan masyarakat karena suatu nilai yang dikandungnya. Oleh sebab itu, secara internal kekuatan simbol bukan saja pada nilai yang dikandungnya, tetapi secara eksternal mampu menggerakkan orang yang meyakini nilai yang dikandungnya. Sehingga dalam peraktek keagamaan simbol menjadi sangat penting karena bekerja menyederhanakan keyakinan agama yang bersifat transenden. Ernest Cassier menyebut kehidupan manusia yang penuh dengan simbol tersebut dengan animal symbolicum, manusia adalah hewan yang bersifat simbolik (Cassier, 1992).
Masuknya media televisi yang mengantarai atau memediasi berbagai konstruksi dan produksi simbol religius akan menempatkan agama menjadi tidak berkembang secara reflektif sebagaimana mestinya. Simbol agama yang termediasi tersebut bukan sebagai produk refleksi religiusitas, tatapi komodifikasi simbol religius. Pada sisi ini terdapat pertarungan nilai antara
Siaran Keagamaan Berbasis Konten Lokal | 188 agama yang dikonstruksi oleh kepentingan industri yang bersifat estetis melalui seperangkat simbolis, dengan agama mengutamakan nilai etis.
Menurut Baudrillard (1983), konstruk budaya masa ini seringkali mengikuti pola-pola simulasi dengan penciptaan model nyata tanpa asal-usul realitas yang jelas. Simulasi model melalui empat tahap hingga sampai pada hilangnya kontrol manusia sebagai subjek pada realitas sebagai objek. Tahap pertama, It is the reflection of a basic reality, awalnya siaran televisi merupakan refleksi atas realitas. Kode religius yang dihadirkan sedekat mungkin dengan merefleksikan ajaran keagamaan. Tahap kedua, It masks and perverts a basic reality, berbagai siaran televisi mulai menyembunyikan atau memberi gambaran yang keliru atas realitas religius. Religisitas dihadirkan melalui simbol yang dipahami oleh budaya sebagai kode yang memuat nilai religius seperti jubah, sorban, tasbih atau kumandang ayat suci. Tahap ketiga yaitu It masks the absence of a basic reality, berbagai siaran televisi mulai menghapus atau meniadakan dasar realitas religius. Agama sebagai ajaran yang penuh refleksi sebagai tuntunan mulai bergeser menjadi tontonan. Agama disajikan dalam bentuk menghibur, kuis atau penuh lelucon, sehingga khalayak justru lebih tertarik dengan hiburan, hadiah kuis atau humor yang disajikan daripada ajaran agama yang disampaikan. Tahap keempat adalah It bears no relation to any reality whatever; it is its own pure simulacrum, berbagai siaran televisi mulai melahirkan tidak ada hubungan pada