BAB VI MAJELIS ULUL ALBAB
SIDANG MAJELIS SYURA
Pasal 39
Sidang Majelis Syura pada semua tingkat diselenggarakan oleh Pimpinan Majelis Syura yang bersangkutan, bila dirasa perlu.
Pasal 40
Peserta sidang Majelis Syura untuk membahas sesuatu masalah yang dianggap perlu, adalah :
1. Semua anggota Majelis Syura. 2. Pengurus Besar.
4. Ulama-ulama yang dianggap menguasai masalah yang akan dibahas 5. Tata tertib pembahasan ditetapkan oleh Pimpinan Majelis Syura.
Pasal 41
1. Jika masa jabatan Pengurus Besar sudah habis sesuai dengan ketentuan AD/ART, maka Majelis Syura dapat memberhentikan Pengurus Besar. 2. Berkaitan dengan ayat 1 di atas, Majelis Syura berkewajiban
menyelenggarakan Muktamar selambat-lambatnya 3(tiga) bulan setelah pemberhentian dilakukan.
3. Pelaksanaan Muktamar sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam AD/ART.
4. Peserta sidang Majelis Syura yang khusus diadakan untuk memberhentikan Pengurus Besar adalah :
a. Semua anggota Majelis Syura; b. Anggota pleno Pengurus Besar; c. Ketua Majelis Syura Cabang; d. Ketua Majelis Syura Anak Cabang; e. Ketua Pengurus Cabang;
f. Ketua Pengurus Anak Cabang;
5. Sidang Majelis Syura dimaksud ayat (1) pasal ini sah, apabila dihadiri oleh dua pertiga dari jumlah peserta sidang Majelis Syura.
6. Sidang-sidang Majelis Syura sah, apabila dihadiri oleh dua pertiga dari jumlah peserta yang hadir.
7. Keputusan sidang Majelis Syura sah, apabila disetujui oleh dua pertiga dari jumlah peserta yang hadir.
8. Peraturan dan tata tertib sidang Majelis Syura dimaksud ayat (1) pasal ini ditetapkan oleh sidang Majelis Syura.
9. Sidang-sidang dalam sidang Majelis Syura dipimpin oleh Pimpinan Majelis Syura.
Pasal 42
1. Peserta sidang majelis Syura cabang yang khusus diadakan untuk memberhentikan pengurus cabang adalah :
a. Semua anggota Majelis Syura Cabang; b. Anggota pleno Pengurus Cabang; c. Ketua Majelis Syura Anak Cabang; d. Ketua Pengurus Anak Cabang;
2. Sidang Majelis Syura cabang dimaksud ayat (1) pasal ini sah, apabila dihadiri oleh utusan Majelis Syura dan utusan Pengurus Besar.
3. Ketentuan-ketentuan yang termaktub dalam pasal 41 ayat 2, 3, 4, 5 dan 6 juga menjadi ketentuan sidang Majelis Syura Cabang dimaksud ayat (1) pasal ini.
Pasal 43
1. Peserta sidang Majelis Syura Anak Cabang yang khusus diadakan untuk memberhentikan Pengurus Anak Cabang adalah :
a. Semua anggota Majelis Syura Anak Cabang; b. Anggota pleno Pengurus Anak Cabang.
2. Sidang Majelis Syura Anak Cabang dimaksud ayat (1) asal ini dihadiri oleh utusan Majelis Syura Cabang dan utusan Pengurus Cabang.
3. Ketentuan-ketentuan termaktub dalam pasal 41 ayat 2,3,4,5 dan 6 juga menjadi ketentuan sidang Majelis Syura Anak Cabang dimaksud ayat (1) pasal ini.
BAB XIII RAPAT-RAPAT
Pasal 44 1. Jenis-jenis rapat adalah :
a. Rapat pengurus adalah rapat yang diselenggarakan bila saja diperlukan dan dihadiri oleh anggota pengurus;
b. Rapat pleno adalah rapat yang diselenggarakan oleh Pengurus bila saja diperlukan yang dihadiri oleh anggota pleno pengurus;
c. Rapat Departemen/Biro/Bagian;
d. Rapat Majelis Syura/Majelis Syura Cabang/Majelis Syura Anak Cabang.
3. Rapat sah, bila dihadiri oleh seperdua dari jumlah anggota rapat.
BAB XIV KEUANGAN
Pasal 45
1. Besarnya uang iuran ditetapkan oleh Pengurus Besar.
2. Iuran dikutip oleh semua tingkat kepengurusan dan diserahkan kepada Pengurus Besar.
3. Pembagian dana iuran adalah : a. Pengurus Besar 45%; b. Pengurus Cabang 35%; c. Pengurus Anak Cabang 20%.
Pasal 46
Semua kekayaan organisasi harus dibukukan secara utuh dan diberi berbadan hukum.
BAB XV KHATIMAH
Pasal 47
1. Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Rumah Tangga ini, akan diatur lebih lanjut oleh Pengurus Besar.
2. Keputusan Pengurus Besar tidak boleh bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
3. Anggaran Rumah Tangga ini hanya dapat dirobah oleh Muktamar.
Ditetapkan di : Banda Aceh
Pada Tanggal : 24 Syawal 1431 H
REKOMENDASI MUKTAMAR VII PERSATUAN DAYAH INSHAFUDDIN
TAHUN 2010
I. Bidang Pengembangan Dayah:
Dayah sebagai lembaga pendidikan tertua di nusantara merupakan aset bangsa yang telah berjasa dalam pembinaan anak bangsa, sudah seharusnya mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah sebagai pemegang amanah dalam mencerdaskan kader bangsa. Walaupun semua orang mengakui bahwa lembaga pendidikan dayah adalah sangat penting dalam mencerdaskan anak bangsa, tetapi selama ini kelihatan lembaga pendidikan dayah masih kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Hal ini dapat dilihat dari kucuran dana yang disediakan pemerintah sangat minim, kurang seimbang dengan tugas dan fungsi yang diemban oleh lembaga dayah tersebut. Oleh karena itu kami menghimbau, kepada Pemda Aceh dan DPRA agar memperhatikan alokasi dana yang berimbang untuk pembangunan dan pengembangan dayah, baik disektor pisik (sarana dan prasarana), non pisik (SDM dan Kurikulum) dan tingkat kesejahteraan tenaga pengajar di dayah.
II. Bidang Pengembangan Ulama:
Dalam sejarah masyarakat Aceh ulama selalu berperan dalam mencerdaskan umat bahkan bahkan dalam bidang bidang lainnya. Ulama pada masa silam tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga pernah memegang berbagai jabatan public, sebagai pedagang, teknokrat yang handal, panglima militer dan juga kepala Negara, sebagai wujud dari pesan Rasul dalam sabdanya al-Ulama-u waritsatul Ambiya. Peran ganda seperti ini sangat sedikit dimiliki oleh ulama/alumni dayah hari ini, karena itu seharusnyalah ulama sendiri secara internal harus ada usaha-usaha untuk mengembalikan fungsi-fungsi ulama seperti yang pernah ada dalam sejarah masyarakat Aceh. Pemerintah Daerah harus memberi kesempatan agar ulama dayah bisa berperan langsung dengan berbagai kegiatan social keagamaan, sosial kemasyarakatan pembangunan dan pemerintahan.
III. Penegakan Syari`at Islam:
Kita semua telah sepakat bahwa syari`at Islam di Provinsi Aceh harus menjadi prioritas untuk diimplementasian dalam semua aspek. Secara legal formal pelaksanaannya sudah dimulai sejak 2001. Dalam sejarah peradaban Aceh, nilai-nilai ajaran Islam sudah mulai berkembang dan menjadi bagian dari adat kebudayaan rakyat Aceh. Pelaksanaan Syari`at Islam yang dideklarasikan tahun 2001 bukanlah barang baru, karena itu perlu kita tata kembali milik kita yang telah hilang akibat dari penjajahan bangsa asing. Karena itu pemda harus memperhatikan keinginan rakyat yaitu menerapkan qanun-qanun syari`at islam yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Pemda juga diharapkan Segera memproses kembali lahirnya qanun jinayat, mengembalikan Badan Wilayatul Hisbah ke Dinas Syari`at Islam dan mengoptimalkan fungsi media untuk percepatan proses sosialisasi pemahaman nilai-nilai syari`at ketengah-tengah masyarakat.
IV. Penguatan Aqidah:
Pendangkalan Aqidah di Aceh bukan hanya isu, tetapi merupakan kenyataan, seperti yang telah ditemukan oleh masyarakat dan dilansir oleh berbagai media cetak dan elektronik dalam dan luar negeri. Kami dari ulama Inshafuddin melihat masalah ini adalah ancaman yang serius bagi keutuhan aqidah umat Islam. Kami mengharapkan kepada komponen masyarakat agar hati-hati dan mencermati setiap usaha pendangkalan aqidah, penyebaran aliran sesat, dan pemurtadan. Kami meminta pemerintah untuk bersikap dan bertindak tegas terhadap oknum-oknum yang melakukan pendangkalan aqidah dan pemurtadan umat. Kami juga menghimbau bagi seluruh Ulama dan zuama senantiasa mengawal dan memberi tausiah kepada umat tentang keharusan memelihara aqidah yang benar.
V. Terorisme
Selama ini kita saksikan telah muncul berbagai tindakan pemaksaan kehendak dan juga terorisme yang telah banyak membawa kerusakan dan kerugian bagi umat.
Ulama Inshafuddin menolak paham dan tindakan pemaksaan kehendak dan terorisme, karena pemaksaan kehendak tidak sejalan dan tidak dikenal dalam ajaran Islam. Oleh karena itu diminta kepada masyarakat untuk berhati-hati dan mewaspadai paham dan tindakan terorisme dan anarkisme.
Banda Aceh, 3 Oktober 2010 Tim Perumus
Ketua : Prof. Dr. M.Hasbi Amiruddin, MA Sekretaris : Drs Abdullah Usman
Anggota : Drs H. Hasyim Daud, MM Drs Tgk Razali Sabil, MAg
Dra. H. Nuraini Muhammad, MAg. Dr. Iskandar Budiman, MCL Drs Burhanuddin, MK