• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

1. Sifat dan Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, artinya bahwa penelitian ini termasuk lingkup penelitian yang menggambarkan, menelaah, dan menjelaskan secara tepat serta menganalisis peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tujuan penelitian ini.

22Soerjono Soekanto. Op.Cit., hal. 43

Jenis penelitian yang digunakan disesuaikan dengan permasalahan yang diangkat di dalamnya. Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum normatif.

Penelitian hukum normatif yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara menganalisa hukum yang tertulis dari bahan pustaka atau data sekunder belaka yang lebih dikenal dengan nama bahan hukum sekunder dan bahan acuan dalam bidang hukum atau bahan rujukan bidang hukum.23

Penelitian hukum normatif dimaksudkan untuk mengadakan pendekatan terhadap masalah dengan cara melihat dari segi peraturan perundang-undangan yang berlaku serta doktrin-doktrin. Dalam penelitian ini, penelitian hukum normatif bertujuan untuk meneliti aturan-aturan mengenai akta perdamaian dalam pembagian harta bersama pasca perceraian.

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah melalui penelitian kepustakaan ( Library Research ) untuk mendapatkan konsepsi teori atau doktrin, pendapat atau pemikiran konseptual dan penelitian pendahulu yang berhubungan dengan objek telaah penelitian ini, yang dapat berupa peraturan perundang-undangan, dan karya ilmiah lainnya.

3. Sumber Data

Data dalam penelitian ini diperoleh melalui data sekunder yaitu data yang dikumpulkan melalui studi dokumen terhadap bahan kepustakaan yang terdiri dari:

a. Bahan Hukum Primer

23Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. Op.Cit., hal. 33

Bahan hukum primer adalah hukum yang mengikat dari sudut norma dasar, peraturan dasar dan peraturan perundang-undangan. Dalam penelitian ini bahan hukum primernya yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Algemene Bepalingen van Wetgeving (A.B), UU No. 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman, LN No. 8, Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia No : 1 Tahun 2002 dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

b. Bahan Hukum Sekunder

Bahan Hukum Sekunder adalah bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer yang berupa buku, hasil-hasil penelitian dan atau karya ilmiah dari kalangan hukum tentang pembagian harta bersama pasca putusnya perkawinan karena perceraian dan yang berhubungan tentang judul penelitian ini.

c. Bahan Hukum Tertier

Bahan hukum tertier adalah bahan yang memberi petunjuk dan penjelasan

terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti kamus hukum, ensiklopedia dan sebagainya.

4. Alat Pegumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan (library research). Dengan penelitian kepustakaan, dikumpulkan data, membaca dan mempelajari bahan-bahan kepustakaan yang terkait dengan judul.

5. Analisa Data

“Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan suatu hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data”.24

Di dalam penelitian hukum normatif, maka analisis data pada hakekatnya berarti kegiatan untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis. “Sistematisasi berarti, membuat klasifikasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis tersebut, untuk memudahkan pekerjaan analisis dan konstruksi”.25

Penelitian dalam tesis ini termasuk Pendekatan hukum yang lebih mengarah dengan metode pendekatan kasus (case appoach).26

Dalam menggunakan pendekatan kasus, yang perlu dipahami oleh peneliti adalah ratio decidendi, yaitu alasan-alasan hukum yang digunakan oleh hakim untuk sampai

kepada putusannya. Menurut Goodheart, ratio decidendi dapat diketemukan dengan menemukan fakta materiil.27 Fakta-fakta tersebut berupa orang, tempat, waktu dan segala yang menyertai asalkan tidak terbukti sebaliknya. Perlunya fakta materiil tersebut diperhatikan karena baik hakim maupun para pihak akan mencari aturan hukum yang tepat untuk dapat diterapkan kepada fakta tersebut. Ratio decidendi inilah yang menunjukan bahwa ilmu hukum merupakan ilmu yang bersifat preskriptif, bukum deskriptif. Sedangkan diktum, yaitu putusannya merupakan sesuatu yang bersifat deskriptif. Oleh karena itulah pendekatan kasus bukanlah merujuk kepada ratio decidendi.

24Lexy J.Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2002), hal. 101

25Soerjono Soekanto, Op.Cit., hal. 251

26Peter Mahmud Marzuki. Penelitian Hukum, (Surabaya : Prenada Media Group, 2005), hal 119

27Ian Mcleod, Op cit., p.144.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Harta Bersama 1. Pengertian Harta Bersama

a. Menurut Undang-Undang No 1 Tahun 1974

Menurut ketentuan pasal 35 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dinyatakan sebagai berikut: “Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama, sedangkan harta bawaan masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah dibawah pengawasan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain” .

Harta bersama diatur dalam Pasal 35-37 UU No. 1 Tahun 1974, berbunyi:

Pasal 35 (1) harta benda diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama,

(2) bahwa harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.

Pasal 36 (1) mengenai harta bersama, suami atau isteri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak.

(2) mengenai harta bawaan masing-masing, suami dan isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya.

Pasal 37 bila perkawinan putus karena perceraian, hartabersama diatur menurut hukumnya masing-masing.

Dari penjelasan pasal 37 UU Nomor 1 Tahun 1974 bahwa “yang dimaksud

“hukumnya” masing-masing ialah hukum agama, hukum adat dan hukum lainnya”.

Dalam suatu perkawinan maka secara otomatis akan terjadi harta bersama, harta itu diperoleh karena usaha suami atau istri atau suami istri secara bersama-sama.28 Harta juga salah satu penunjang keluarga dapat harmonis dan bahagia, jika satu keluarga tidak kekurangan maka mereka akan dapat memenuhi kebutuhan yang mereka inginkan.

Harta bersama adalah harta kekayaan yang diperoleh selama perkawinan di luar warisan atau hadiah, maksudnya adalah harta yang diperoleh atas usaha mereka atau sendiri-sendiri selama masa ikatan perkawinan.29Harta yang ada baik dari suami dan istri sebelum pernikahan akan tetap menjadi harta mereka masing-masing.

b. Menurut Kompilasi Hukum Islam

Dalam Kompilasi Hukum Islam juga terdapat pengaturan tentang harta bersama ini, antara lain terdapat pada pasal :

1. Pasal 85 yang menyatakan harta bersama dalam perkawinan itu tidak menutup kemungkinan adanya harta milik masing-masing suami atau istri.

2. Pasal 86 ayat (2), harta istri tetap menjadi hak istri dan dikuasai penuh olehnya demikian juga harta suami tetap menjadi hak suami dan dikuasai penuh olehnya.

28Soermiyati, Op-cit, hal 102.

29Ahmad Rofiq, Hukum Islam Di Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, hal 200.

3. Pasal 87 ayat (1), harta bawaan dari masing-masing suami dan istri yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah dibawah penguasaan masing-masing, sepanjang para pihak tidak menentukan lain dalam perjanjian kawinnya.

4. Pasal 87 ayat (2), suami atau istri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum atas harta masing-masing berupa hibah, hadiah sodakah atau lainnya.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan juga mengatur tentang harta kekayan antara lain dalam pasal:

1. Pasal 35 ayat (1) menyatakan harta benda yang diperoleh sepanjang perkawinan menjadi harta bersama.

2. Pasal 35 Ayat (2) menyebutkan harta bawaan dari masing-masing suami atau istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah di bawah penguasan masingmasing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.

3. Pasal 36 ayat (1) menyebutkan harta bersama suami dan istri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak.

4. Pasal 37 ayat (1) yaitu bilamana perkawinan putus karenma perceraian maka harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing.

Dengan melihat kedua peraturan di atas, yakni Kompilasi Hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dapat disimpulkan bahwa kedua aturan tersebut sejalan dalam pengaturan tentang harta bersama ini.

c. Menurut Hukum Adat

Menurut hukum adat yang di maksud dengan harta perkawinan adalah :

“Semua harta yang dikuasai suami istri selama mereka terikat dalam ikatan perkawinan, baik harta kerabat yang dikuasai, maupun harta perorangan yang berasal dari harta warisan, harta hibah, harta penghasilan sendiri, harta pencaharian hasil bersama suami istri, dan barang-barang hadiah. Kesemuanya itu di pengaruhi oleh prinsip kekerabatan yang dianut setempat dan bentuk perkawinan yang berlaku terhadap suami istri yang bersangkutan”.30

Harta Perkawinan yang merupakan kekayaan duniawi guna memenuhi segala keperluan hidup somah wajib dibedakan dari Harta Kerabat. Memang harus diakui bahwa kadang-kadang batas antara Harta Perkawinan atau Harta Keluarga dengan Harta Kerabat atau Harta Famili itu sangat lemah dan tidak mudah dilihat, tetapi juga kadang-kadang sangat jelas dan tegas. Jadi harta perkawinan pada umumnya diperuntukan pertama-tama bagi keperluan somah yaitu suami, istri dan anak-anak untuk membiaya kebutuhan hidupnya sehari-hari.

2. Macam-Macam Harta Bersama a. Menurut Kompilasi Hukum Islam

Kompilasi Hukum Islam Pasal 91 menyatakan bahwa wujud harta bersama itu antara lain :

1. Harta bersama sebagai tersebut dalam Pasal 85 dapat berupa benda berwujud atau tidak berwujud.

30Hilman Hadikusuma, “Op. Cit”, hlm. 156

2. Harta Bersama yang berwujud dapat meliputi benda bergerak, tidak bergerak dan surat-surat berharga lainnya.

3. Harta bersama yang tidak berwujud dapat berupa hak maupun kewajiban.

4. Harta bersama dapat dijadikan sebagai barang jaminan oleh salah satu pihak atas persetujuan pihak lain.31

Sementara Pasal 92 Kompilasi Hukum Islam berbunyi “Suami atau istri tanpa persetujuan para pihak lain tidak diperbolehkan menjual atau memindahkan harta bersama”.

Terhadap harta bersama ini, pihak suami atau istri mempunyai tanggung jawab yang sama dan harta bersama itu akan dibagi sama apabila perkawinan tersebut sudah putus akibat kematian ataupun perceraian dan karena putusan pengadilan.

Sayuti Thalib, berpendapat bahwa harta bersama dibagi dalam 3 (tiga) kelompok yaitu32:

1. Dilihat dari sudut asal usul harta suami istri itu dapat digolongkan pada 3 golongan yaitu

a. Harta masing-masing suami atau istri yang didapat sebelum perkawinan adalah harta bawaan atau dapat dimiliki secara sendirisendiri.

b. Harta yang diperoleh sepanjang perkawinan itu berjalan, tetapi bukan dari usaha mereka melainkan hibah, wasiat atau warisan adalah harta masing-masing.

c. Harta yang diperoleh sepanjang perkawinan, baik usaha sendiri suami atau istri maupun bersama-sama merupakan harta pencarian atau harta bersama.

31Abdul Manan, M Fauzan, Pokok-pokok Hukum Perdata Wewenang Peradilan Agama, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001, hal 75

32 Sayuti Thalib, Hukum Kerkeluargaan Indonesia, Yayasan Penerbit UI, Jakarta, 1974, hal83.

2. Dilihat dari sudut pandang pengguna, maka harta dipergunakan untuk : a. Pembiayan untuk rumah tanga, keluarga dan belanja sekolah anak-anak.

b. Harta kekayaan yang lain.

3. Dilihat dari sudut hubungan harta dengan perorangan dalam masyarakat, harta itu akan berupa :

a. Harta milik bersama.

b. Harta milik seseorang tapi terikat pada keluarga.

c. Harta milik seseorang dan pemiliknya dengan tegas oleh yang bersangkutan.

Mengenai harta kekayaan yang didapat sepanjang perkawinan inilah yang akan dibagi jika perkawinan itu putus, baik karena perceraian, kematian ataupun putusan pengadilan.

Pentingnya ditetapkan harta bersama dalam suatu perkawinan adalah untuk penguasaan dan pembagiannya, penguasaan terhadap harta bersama dalam hal perkawinan masih berlangsung, pembagian harta bersama dilakukan ketika terjadi putusnya perkawinan.

Harta bersama atau gono-goni ini diatur secara seimbang dalam artian, suami atau istri menguasai harta secara-bersama-sama, masing-masing pihak bertindak atas harta tersebut dengan persetujuan pihak lain dan jika perkawinan putus maka menurut Kompilasi Hukum Islam harta itu akan dibagi sama banyak antara suami dan istri.

b. Menurut Hukum Adat

Hukum adat di Indonesia mengenal berbagai macam harta perkawinan (Huwelijks Goederenrecht) di antarannya, harta warisan atau hibah yang di peroleh salah

satu pihak suami atau istri dan kerabatnya. Harta yang di peroleh salah satu pihak suami atau istri atau usaha sendiri sebelum atau sesudah perkawinan. Harta yang di peroleh suami istri semasa perkawinan atas usaha bersama, dan harta yang di peroleh dan hadiah-hadiah semasa perkawinan.

Menurut Soerojo Wignjodipoero sebagaimana dikutip oleh Tolib Setiady menyatakan bahwa Harta Perkawinan lajimnya dapat dipisah-pisahkan dalam 4 golongan, yaitu:33

a. Barang-barang yang diperoleh suami atau istri secara warisan atau penghibahan dari kerabat (famili) masingmasing yang dibawa ke dalam perkawinan.

b. Barang-barang yang diperoleh suami atau istri untuk diri sendiri serta atas jasa diri sendiri sebelum perkawinan atau dalam masa perkawinan.

c. Barang-barang yang dalam masa perkawinan diperoleh suami dan istri sebagai milik bersama.

d. Barang-barang yang dihadiahkan kepada suami dan istri bersama pada waktu pernikahan.

Menurut Djojodigoeno dan Tirtawinata dalam bukunya “Adat Privaatrecht Van Middle-Java” sebagaimana dikutip oleh Tolib Setiady menegaskan : Rakyat Jawa Tengah

mengadakan pemisahan Harta Perkawinan ini dalam 2 (dua) golongan, yaitu:34 1. Barang asal atau barang yang dibawa kedalam perkawinan,

2. Barang milik bersama atau barang perkawinan.

33Tolib Setiady, “Ibid”, hlm. 274-275

34Tolib Setiady, “Ibid”, hlm. 275

Sedangkan menurut Wiryono Projodikoro, dalam bukunya Hukum Perkawinan Indonesia halaman 89, sebagaimana dikutip oleh Tolib Setiady menguraikan: “Bahwa Harta Perkawinan menurut Hukum Adat kemungkinan sebagai dari kekayaan suami dan istri masing-masing terpisah satu dari yang lain, dan sebagian merupakan Campur Kaya”.35

Bagian ke-satu dari kekayaan tersebut jadi kepunyaan masing-masing suami dan istri dapat dibagi dalam 2 golongan, yaitu:

1. Barang yang masing-masing mendapat secara warisan dari orang tua atau nenek moyang.

2. Barang yang masing-masing mendapat secara hibah atau secara usaha sendiri.36 Perbedaan cara pemisahan dalam beberapa golongan seperti disebutkan di atas itu sesungguhnya bukan disebabkan karena ada perbedaan-perbedaan yang principal, tetapi perbedaan dalam penggolongan itu hanya merupakan perbedaan sistematika dalam penguraiannya saja.37

3. Terbentuknya Harta Bersama

a. Harta Bersama Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

Harta bersama menurut UU ini ialah: "terbatas pada harta yang diperoleh selama dalam perkawinan". Sedangkan harta yang dibawa sebelum perkawinan berlangsung ini disebut dengan harta bawaan.

35Tolib Setiady, “Ibid”.

36Tolib Setiady, “Ibid”.

37Tolib Setiady, “Ibid”.

Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 telah menegaskan harta benda yang diperoleh selama perkawinan adalah harta bersama, ini mengartikan syirkah atau harta bersama itu terbentuk sejak tanggal terjadinya perkawinan sampai perkawinan itu putus.

Ketentuan tentang satu barang atau benda masuk kedalam harta persatuan atau tidak ditentukan oleh faktor selama perkawinan antara suami dan istri berlangsung, barang menjadi harta bersama kecuali harta yang diperoleh berupa warisan, wasiat dan hibah oleh satu pihak, harta ini menjadi harta pribadi yang menerimanya.

b. Harta Bersama Menurut KUHPerdata

Persatuan harta kekayaan dalam pasal 119 KUHPerdata pada pokoknya dikemukakan bahwa terhitung sejak saat perkawinan dilangsungkan, demi hukum terjadilah persatuan bulat harta kekayaan suami dan isteri sejauh tidak diadakan perjanjian perkawinan tentang hal tersebut, jadi dari sini dapat diartikan bahwa yang dimaksud Harta Bersama adalah "Persatuan harta kekayaan seluruhnya secara bulat baik itu meliputi harta yang dibawa secara nyata (aktiva) maupun berupa piutang (pasiva), serta harta kekayaan yang akan diperoleh selama perkawinan".

c. Harta Bersama Menurut Hukum Islam

Pasal 1 sub f jo Pasal 85 Kompilasi Hukum Islam menyebutkan bahwa harta bersama adalah harta yang diperoleh sepanjang perkawinan, baik benda itu terdaftar atas nama suami ataupun sebaliknya atas nama istri. Akan tetapi akan menjadi barang pribadi apabila harta yang dipergunakan untuk membeli benda tersebut mengunakan

harta pribadi suami atau istri dengan kata lain harta yang dibeli dengan harta yang berasal dari barang pribadi adalah milik pribadi.

Bisa juga terjadi suami istri memiliki harta bersama setelah terjadi perceraian, dengan ketentuan bahwa uang yang dipergunakan untuk membeli benda itu berasal dari atau harta bersama semasa perkawinan terdahulu, sehingga ini juga akan tetap dibagi sama banyak.

d. Harta Bersama Menurut Hukum Adat

Dalam hukum adat, harta bersama merupakan bagian dari harta perkawinan.

Harta perkawinan adalah harta benda yang dapat digunakan oleh suami-isteri untuk membiayai biaya hidup mereka sehari-hari beserta anak-anaknya. Suami dan isteri sebagai suatu kesatuan bersama anakanaknya dalam masyarakat adat disebut somah atau serumah. Dengan demikian, harta perkawinan pada umumnya diperuntukkan bagi keperluan somah. Harta perkawinan dalam hukum adat.

Menurut Ter Haar sebagaimana dikutip oleh Mohamad Isna Wahyudi38, dapat dipisah menjadi empat macam yaitu:

1. Harta yang diperoleh suami atau isteri sebagai warisan atau hibah dari kerabat masing-masing dan dibawa ke dalam perkawinan

2. Harta yang diperoleh suami atau isteri untuk diri sendiri serta atas jasa diri sendiri sebelum perkawinan atau dalam masa perkawinan.

3. Harta yang dalam masa perkawinan diperoleh suami dan isteri sebagai milik bersama.

38Mohamad Isna Wahyudi, “Harta bersama: Antara Konsepsi dan Tuntutan Keadilan”, Cakim MARI, PA Yogyakarta. 2006

4. Harta yang dihadiahkan kepada suami dan istri bersama pada waktu pernikahan.

Menurut Djojodigoeno dan Tirtawinata, dalam bukunya ”Adatprivaatrecht Van Middle-Java” sebagaimana dikutip oleh Mohamad Isna Wahyudi, masyarakat Jawa Tengah membagi harta perkawinan menjadi dua macam :39

1. Harta asal atau harta yang dibawa ke dalam perkawinan.

2. Harta milik bersama atau harta perkawinan.

Sementara menurut Wirjono Prodjodikoro, dalam bukunya ”Hukum Perkawinan Indonesia” sebagaimana yang dikutip oleh Mohamad Isna Wahyudi, menjelaskan bahwa: harta perkawinan menurut hukum adat terbagi menjadi harta milik masing-masing suami atau istri dan harta bersama.40

Adapun harta perkawinan yang menjadi harta milik masing-masing suami atau istri sebagaimana dikutip oleh Mohamad Isna Wahyudi, adalah mencakup :

a. Harta yang diperoleh masing-masing suami-isteri sebagai warisan dari orang tua atau nenek-moyang.

b. Harta yang diperoleh masing-masing suami-isteri sebagai hibah atau hasil usaha sendiri.

Penyebutan harta bersama berbeda dari satu daerah dengan daerah lainnya. Di Aceh harta bersama disebut hareuta sihareukat, di Minangkabau disebut harta suarang, di Sunda disebut guna kaya, di Bali disebut druwe gabro, di Kalimantan disebut barang perpantangan.41

39Mohamad Isna Wahyudi, “Ibid”.

40Mohamad Isna Wahyudi, “Ibid”.

41Happy Susanto, “Pembagian Harta Gono Gini saat terjadi Perceraian”, Visimedia, Jakarta, 2008, hlm. 3.

Ismuha, sebagaimana dikutip oleh H. M Anshary MK, berpendapat42: bahwa menurut hukum adat di Indonesia, tidaklah semua harta kekayaan suami istri merupakan kesatuan kekayaan, hanya harta kekayaan yang diperoleh bersama dalam masa perkawinan saja yang merupakan kesatuan kekayaan antara suami istri. Adapun harta mereka masing-masing yang mereka peroleh sebelum perkawinan dan harta warisan yang mereka peroleh selama perkawinan, tetap merupakan kekayaan masing masing mereka.

4. Pembagian Harta Bersama

a. Pembagian Harta Menurut Undang – Undang No 1 Tahun 1974

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 37 mengatakan “bila perkawinan putus kerena perceraian harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing,” yang dimaksud dengan hukum masing-masing ditegaskan dalam penjelasan Pasal 37 ialah “hukum agama, hukum adat dan hukum-hukum lainnya,”.

Dalam Pasal 37 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tidak menegaskan berapa bagian masing-masing antar suami atau istri, baik cerai mati maupun cerai hidup, tetapi dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 96 dan 97 mengatur tentang pembagan syirkah ini baik cerai hidup maupuin cerai mati, yaitu masing-masing mendapat separo dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan dalam perjanjian kawin.

42H.M., Anshary MK, “Op. Cit”, hlm. 132

b. Menurut Kompilasi Hukum Islam

Selengkapnya Pasal 96 Kompilasi Hukum Islam berbunyi :

1. Apabila terjadi cerai mati maka separoh harta bersama menjadi hak pasangan yang hidup lebih lama.

2. Pembagian harta bersama bagi seorang suami atau istri yang istri atau suaminya hilang harus ditangguhkan sampai adanya kepastian matinya yang hakiki atau matinya secara hukum atas dasar putusan Pengadilan Agama.

Sedangkan Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam menyatakan, “Janda atau duda yang cerai hidup masing-masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian kawin”.

Dari kedua pasal di atas, dapat disimpulkan bahwa harta bersama atau syirkah akan dibagi sama banyak atau seperdua bagian antara suami dan istri, hal ini dapat dilakukan langsung atau dengan bantuan pengadilan.

c. Menurut Parental / Bilateral

Apabila terjadi putusnya perkawinan karena perceraian dalam masyarakat hukum adat tentunya di lihat pada suami istri dan keluarga yang bersangkutan, apakah mereka di dalam ruang lingkup kemasyarakatan adat yang Patrilineal, Matrilineal atau Parental dan bagaimana bentuk perkawinan yang mereka lakukan, situasi lingkungan yang mempengaruhinya.

Barang-barang milik bersama apabila terjadi perceraian dibagi antara kedua belah pihak masing-masing yang pada umumnya separuh-separuh, tetapi ada beberapa tempat (daerah) yakni di Jawa Tengah disebut Sagendong Sapikul, di Bali

disebut Sasuhun Sarembat, yang mempunyai kebiasaan sedemikian rupa sehingga suami mendapat 2/3 dan istri mendapat 1/3. tetapi setelah perang dunia II asas ini semakin berkurang karna adanya kesadaran persamaan hak antara suami istri.

disebut Sasuhun Sarembat, yang mempunyai kebiasaan sedemikian rupa sehingga suami mendapat 2/3 dan istri mendapat 1/3. tetapi setelah perang dunia II asas ini semakin berkurang karna adanya kesadaran persamaan hak antara suami istri.

Dokumen terkait