HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Sifat Fisis Panel Sandwich Kadar Air Kadar Air
Kadar air (Moisture content) menunjukkan banyaknya air yang diikat oleh panel sandwich terhadap berat kering tanurnya (oven) yang dinyatakan dalam persen. Kadar air merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kembang susut kayu. Dari hasil pengujian diperoleh nilai kadar air yang bervariasi seperti yang terlihat pada Gambar 6 di bawah ini :
Gambar 6 histogram kadar air panel Sandwich dibandingkan kontrol .
Dari Gambar 6 terlihat bahwa nilai rata-rata kadar air panel lebih rendah daripada nilai rata-rata kadar air kayu kontrol yang digunakan, yaitu berkisar dari 10,4 % - 15,03 %. Turunnya nilai kadar air panel dipengaruhi oleh perekat, teknik perekatan, dan kondisi permukaan kayu sebagai core. Pori-pori atau sel-sel antara kayu dan bambu menyerap perekat sehingga menyebabkan kemampuan bambu dan kayu dalam menyerap air menurun. Teknik perekatan yang tidak seragam antara bambu dan kayu juga bisa menyebabkan kadar air yang beragam pula. Selain itu besarnya nilai kadar air bahan baku yang digunakan yaitu bambu dan kayu mempengaruhi nilai kadar air panel bambu yang dihasilkan. Hal lain yang mempengaruhi penurunan nilai kadar air adalah kondisi bidang perekatan. Bidang perekatan yang halus menyebabkan luas permukaan bidang perekatan semakin besar, sehingga penetrasi perekat dapat optimal. Jika dibandingkan dengan standard JIS A 5908-2003, nilai kadar air panel tersebut tidak memenuhi standard. Kadar air yang diperkenankan oleh JIS A 5908-2003 adalah 5% hingga 13%. Penyebab tingginya kadar air ini disebabkan karena pembuatan dilakukan pada musim hujan sehingga kadar air lingkungan sekitar meningkat dan mempengaruhi kadar air kayu dan produk.
Pada Gambar 6 di atas terlihat bahwa kadar air panel dari ketiga jenis kayu menunjukkan perbedaan yang tidak nyata. Perbedaan ini diduga karena perbedaan struktur anatomi dan komposisi kimia antar jenis kayu yang mempengaruhi besarnya volume dalam kayu tersebut.
14.21 13.42 13.18 14.08 13.79 14.20 14.16 13.08 13.71 10.40 15 .03 14.12 0 2 4 6 8 10 12 14 16
sengon gmelina afrika
kad ar ai r ( % ) jenis kayu
kontrol pola bilik Pola Sejajar Pola Tegak lurus
21
Tabel 2 Sidik Ragam Kadar Air Panel Sandwich Sumber Keragaman DB JK KT F P F Tabel 0.05 0.01 Kayu (A) 2 209,777 104,889 6,45** 0,0040 3,266 5,264 Pola (B) 2 54,588 27,294 1,68tn 0,2010 3,266 5,264 A*B 4 54,640 13,660 0,84tn 0,5091 2,642 3,906 Error 36 595,520 16,2644 Total 44 904,526
Keterangan: ** = sangat nyata,* = nyata, tn = tidak nyata
Berdasarkan sidik ragam kadar air Tabel 2 diatas menunjukkan bahwa jenis kayu berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air panel sandwich pada selang kepercayaan 95%, sedangkan untuk pola bambu tidak mempunyai pengaruh yang nyata terhadap kadar air. Untuk mengetahui pengaruh jenis kayu tersebut, maka dilakukan uji rata-rata Duncan dan hasilnya disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3 Hasil Uji Duncan Pengaruh jenis Kayu terhadap Kadar Air Panel
Sandwich
Jenis kayu Kadar air (%) Jumlah Contoh Uji
Uji Wilayah Berganda Duncan (α= 0,05) A2 14,34 15 \A A3 13,63 15 B A1 12,33 15 C
Keterangan : Huruf yang sama menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda
Hasil uji beda rata-rata Duncan pada Tabel 3 menunjukkan bahwa nilai
kadar air panel sandwich dari tiga jenis kayu tersebut berbeda nyata. Nilai rata-rata paling tinggi adalah panel dari kayu gmelina dengan nilai kadar air
sebesar 14,34% dan rata-rata terendah adalah panel dari kayu sengon dengan nilai kadar air sebesar 12,3%.
Wirjomartono (1958) diacu dalam Irmon (2005) menyebutkan bahwa sifat fisis kayu laminasi banyak ditentukan oleh sifat fisis kayu pembentuknya, seperti kadar air dan berat jenis. Beberapa faktor lain yang memberikan pengaruh terhadap kadar air menurut Irmon (2005) adalah perekat dan pengkondisian bahan penyusun laminasi sebelum dilakukan pengolahan dan penggabungan. Kadar air
Gambar 7 Histogram kerapatan panel Sandwich dibandingkan kontrol yang tinggi dari kayu penyusun dikarenakan pada saat pengkondisian selama 2 minggu, lebih sering terjadi hujan di lingkungan sekitar produk. Hal ini
mengakibatkan kadar air naik melebihi kadar air yang disyaratkan oleh JIS A 5908-2003.
Kerapatan
Kerapatan merupakan salah satu indikator kekuatan kayu dan oleh karena itu, dapat digunakan untuk memprediksi karakteristik kayu seperti kekerasan, kemudahan pengerjaan, dan resistensi pemakuan. Kayu lebih sering mengembang dan menyusut, hal tersebut menjadi masalah utama dalam pengeringan. Kayu yang paling rapat juga merupakan bahan bakar yang bagus. Kerapatan panel yang dihasilkan berkisar dari 0,35 g/cm3 hingga 0,56 g/cm3, seperti yang terlihat pada Gambar 7 di bawah ini.
Nilai rata-rata kerapatan panel tidak jauh berbeda dengan nilai rata-rata kerapatan kayu maupun nilai kerapatan bambu yang digunakan. Jika dibandingkan dengan standard JIS A 5908-2003, nilai kerapatan tersebut telah memenuhi standard kecuali untuk kayu sengon yang kisaran kerapatannya antara 0,35 g/cm3 hingga 0,36 g/cm3. Kerapatan yang diperkenankan oleh JIS A 5908-2003 adalah 0,4 g/cm3 hingga 0,9 g/cm3. 0.28 0.47 0.54 0.35 0.50 0.53 0.35 0.56 0.49 0.36 0.56 0.5 3 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
sengon gmelina afrika
ke rap atan g/ cm 3) jenis kayu
kontrol pola bilik pola sejajar pola tegak lurus
JIS A 5908 2003
23
Pada Gambar 7 dapat dilihat bahwa panel sandwich dari kayu gmelina memiliki nilai kerapatan yang paling besar yaitu 0,56 g/cm3. Sedangkan nilai kerapatan yang terendah dari produk panel sandwich berasal dari kayu sengon dengan pola bilik dan pola sejajar sebesar 0,35 g/cm3. Perbedaan nilai kerapatan panel sandwich diduga karena adanya perbedaan nilai kerapatan dari tiga jenis kayu yang digunakan dan pola penyusunan anyaman bilik bambu. Haygreen dan Bowyer (2003) menyatakan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi kerapatan suatu spesies kayu antara lain kondisi tempat tumbuh kayu, lokasi dalam pohon, letak dalam kisaran spesies dan sumber genetik.
Tabel 4 Sidik Ragam Kerapatan Panel Sandwich Sumber Keragaman DB JK KT F P F Tabel 0.05 0.01 Kayu (A) 2 0,308 0,154 83,22** 0,0001 3,266 5,264 Pola (B) 2 0,005 0,002 1,38tn 0,2657 3,266 5,264 A*B 4 0,012 0,003 1,65tn 0,1842 2,642 3,906 Error 36 0,066 0,001 Total 44 0,392
Keterangan: ** = sangat nyata,* = nyata, tn = tidak nyata
Berdasarkan sidik ragam pada Tabel 4 diatas menunjukkan bahwa jenis kayu berpengaruh sangat nyata terhadap nilai kerapatan panel. Untuk mengetahui pengaruh jenis kayu terhadap panel sandwich dilakukan uji rata-rata Duncan dan hasilnya disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Hasil Uji Duncan Pengaruh jenis Kayu terhadap Kerapatan Panel
Sandwich
Jenis kayu
Kerapatan Jumlah Contoh Uji
Uji Wilayah Berganda Duncan (α= 0,05) A2 0,54 15 A A3 0,51 15 Aa A1 0,35 15 B
Keterangan : Huruf yang sama menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda
Hasil uji beda rata-rata Duncan pada Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai kerapatan panel sandwich dari tiga jenis kayu tesebut berbeda nyata. Nilai
rata-rata paling tinggi adalah panel dari kayu gmelina sebesar 0,54 g/cm3 dan rata-rata terendah adalah panel dari kayu sengon sebesar 0,35 g/cm3.
Panel sandwich dari kayu gmelina memiliki kerapatan paling tinggi daripada panel sandwich dari kayu sengon dan kayu afrika. Sedangkan nilai kerapatan paling rendah dimiliki oleh kayu sengon. Hal ini disebabkan dari bahan penyusun panel sandwich mempengaruhi kerapatan dari produk tersebut. Selain itu, kekompakan bahan penyusun panel sandwich juga mempengaruhi kerapatan. Seperti yang terlihat pada Tabel 5, kerapatan produk dari kayu afrika cenderung lebih rendah daripada kontrol. Perbedaan yang terjadi ini disebabkan karena pada saat penyatuan kedua bahan antara bambu dan kayu, terdapat rongga antar bahan yang mengakibatkan kerapatan menurun dibandingkan dengan kontrol yang telah memiliki kerapatan alami .