• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODE

B. Sifat Kimia Tanah 1

2. Kadar Air Gravimetri (Blakemore et al., 1987)

B.Sifat Kimia Tanah 1.

2.

C Organik N-total

Pengabuan Kering (Blakemore et al., 1987) Spektrofotometri (Burt, 2004) 3. 4. 5. 6. pH H2O (1:5) P2O5 K2O KTK pH meter (Black, 1965) Spektrofotometri (Horwitz, 2000) Flamephotometri (Horwitz, 2000) Perkolasi (Page et al., 1982)

Penentuan kadar air dan bobot isi gambut

Pengambilan contoh tanah dilakukan pada plot penelitian dengan kedalaman antara 0-60 cm menggunakan bor gambut. Alat ini dapat digunakan untuk mengambil contoh tanah gambut dalam keadaan hampir tidak terganggu mulai dari lapisan atas sampai lapisan dasar gambut.

Langkah awal penggunaan bor gambut yaitu dengan menekan bor ke dalam gambut sampai kedalaman yang diinginkan (60 cm) kemudian bor gambut diputar searah jarum jam minimal setengah putaran. Setelah terlewati setengah lingkaran maka tabung pada bor gambut akan terisi dengan gambut dan sayap pada alat ini akan menutup contoh gambut sehingga tidak keluar dari tabung bor dan tidak ada penambahan contoh gambut ke dalam bor. Langkah berikutnya adalah mengambil contoh gambut dan disimpan ke dalam kantong plastik yang tertutup rapat supaya tidak ada air yang tercecer dan gambut yang diambil tidak berubah volumenya.

Penentuan berat isi (BD) dan kadar air tanah (KA) dilakukan di laboratorium menggunakan metode gravimetris. Contoh gambut yang berasal dari bor gambut diukur berat basahnya berdasarkan volume bor gambut (Vt). Berat tanah basah (Mt) adalah Ms + Mw , dimana Ms adalah berat tanah dan Mw adalah berat air yang terkandung di dalam matriks tanah. Contoh tanah tersebut

kemudian dikeringkan di dalam oven pada suhu 1050 C selama 2 x 24 jam sampai dicapai berat kering konstan. Selanjutnya dilakukan pengukuran berat kering tanah (Ms) + berat cawan (Mc). Perhitungan BI menggunakan rumus:

BI = =

Satuan untuk BI adalah g/cm3 dan satuan untuk kadar air adalah % berat untuk mengindikasikan bahwa kadar air dihitung berdasarkan berat tanah. Pengukuran kadar air tanah (KA) selengkapnya dapat dihitung menggunakan rumus:

KA = x 100%

Penetapan C organik gambut

Contoh gambut yang telah dikering oven (yang berasal dari hasil pengeringan sebelumnya) diambil sebanyak satu sendok tanah. Kemudian ditumbuk sampai kira-kira halus menggunakan lumping porselen (mortar) lalu diayak dengan ayakan. Selanjutnya, karbon organik diukur dengan menggunakan metode pengabuan kering (lost of ignation) dan menimbang berat abu yang tersisa dalam cawan (Ma). Kandungan C organik (Corg) menggunakan satuan % berat atau fraksi berat bahan organik terhadap berat kerting total (berat bahan organik dan berat abu, g/g).

Corg = / 1,724

Persiapan Percobaan

Pada tahap persiapan percobaan contoh gambut terlebih dahulu dikomposit berdasarkan tipe penggunaan lahan (L1, L2 dan L3). Masing-masing contoh gambut tersebut dimasukkan ke dalam paralon dengan diameter 22 cm dan tinggi 30 cm. Gambut yang dimasukkan ke dalam paralon harus sesuai dengan kebutuhan tanah masing-masing satuan percobaan berdasarkan BD dan kadar air (Tabel Lampiran 1). Contoh gambut yang sudah dimasukkan ke dalam paralon dikondisikan agar kadar air sekitar 66% (volume/volume).

Sebelum diberikan perlakuan, contoh gambut diinkubasikan terlebih dahulu sekitar 2 minggu agar stabil. Pupuk kandang kotoran ayam yang akan dijadikan perlakuan dikomposkan terlebih dahulu sebelum diaplikasikan ke percobaan. Setelah inkubasi selesai dilakukan lalu diberi pupuk kandang ayam sesuai dengan dosis masing-masing (Tabel lampiran 2).

Pengamatan Emisi GRK pada Gambut

Pengukuran emisi gas rumah kaca pada sampel gambut dilakukan di laboratorium gas rumah kaca Balingtan, Pati. Pengambilan sampel gas rumah kaca (GRK) dilakukan setiap 7 hari sekali sampai 49 hari. Pengambilan contoh gas dilakukan dengan menggunakan jarum suntik. Sampel gas diambil pada pagi hari (06.00-08.00) dengan menggunakan 10 ml-syringe dari sungkup paralon. Interval waktu yang digunakan untuk pengambilan contoh adalah menit ke-10, 20, 30, 40, 50 dan 60.

Sungkup diatur pada posisi rata dan terjaga agar gas yang tertampung dalam sungkup tidak bocor (diisi air). Pasang thermometer pada lubang yang ada di tutup sungkup. Sungkup ditutup, penutup karet/septum pada tempat pengambilan sampel udara dibuka kurang lebih 2-3 menit agar konsentrasi udara dalam sungkup menjadi stabil. Setelah 2-3 menit, sumbat lubang pengambilan gas dengan tutup karet (septum). Pengambilan gas menggunakan jarum suntik (syringe) sesuai dengan label dan dipasang pada posisi tegak lurus. Setelah gas masuk ke dalam syringe, tutup dengan septum sesegera mungkin untuk menghindari kebocoran. Perubahan suhu dalam sungkup selalu dicatat saat pengambilan contoh gas

Gas yang diambil selanjutnya dianalisis dengan menggunakan peralatan pendukung utama yaitu kromatografi gas model Shimadzu 8A dan GHG Varian 450. Syringe diinjeksikan melalui sampling valve. Pengoperasian Green House Gas (GHG) Varian 450 menggunakan software “Galaxie”. Alat ini dilengkapi dengan tiga detektor yaitu FID (Flame Ionization Detector) untuk menganalisis gas CH4, ECD (Electron Capture Detector) untuk analisis gas N2O dan TCD (Thermal Conductivity Detector) untuk analisis CO2. Carrier gas yang digunakan untuk ECD dan TDC adalah N2, sedangkan untuk FID adalah N2, H2 dan udara

tekanan. Sistem kerja alat ini terpisah walau memiliki tiga jenis detektor, sehingga analisis tidak bisa dilakukan secara bersamaan.

Analisis CH4, N2O, dan CO2 dilakukan secara bersamaan yang memerlukan waktu sekitar 7 menit. Setelah 7 menit akan keluar hasil análisis pada software. Hasil analisis berupa peak yang diinterpretasikan dalam bentuk area (tanpa satuan) dan konsentrasi (ppm/ppb) dalam waktu bersamaan. Peak yang dihasilkan akan ditampilkan dalam kromatogram yang berbeda. Setiap satu kali analisis akan dihasilkan tiga kromatogram, masing-masing detector satu kromatogram. Laju emisi gas (ppbv) dihitung dengan regresi linier dari peningkatan secara temporal emisi gas dalam sungkup (Van der Gon, 1996).

Pengamatan Eh dan pH Gambut

Pengukuran potensial redoks tanah dan pH dilakukan seminggu sekali setelah pengambilan sampel gas. Potensial redoks tanah (Eh) diukur menggunakan alat Eh-meter dan elektroda yang ditancapkan sekitar 20 cm sebagai konduktornya. Sedangkan derajat kemasaman (pH) diukur menggunakan pH meter.

Gambar 3. Tahapan Pengukuran emisi Gambut

Pemberian Amelioran

Analisis gas rumah kaca (CO2, CH4 dan N2O)

Gambut berbagai tipe penggunaan lahan

Gambar 4. Bagan alir kegiatan penelitian

Pembuatan gas chamber

Gas chamber diisi bahan gambut sesuai dengan kebutuhan gambut

Inkubasi 2 minggu

Contoh gas dianalisis dengan Kromatografi

Gas

Persiapan Percobaan Pengambilan contoh gambut (Jabiren, Kalsel)

Penyusunan tata letak percobaan

Komposit gambut berdasarkan tipe penggunaan lahan

kadar air tanah gambut dijaga agar tetap 66%

(volum/volum).

Pengolahan data Pengambilan sampel gas CH4, CO2, dan N2O setiap

satu minggu sekali

Pemberian amelioran

Pengamatan

Analisis Gas Rumah Kaca

Pengukuran laju produksi gas rumah kaca diukur dengan menggunakan persamaan sebagai berikut (Khalil et al, 1991):

F = x x x

Keterangan:

F : Fluks CO2/CH4/N2O (mg/m2/menit)

dc/dt : Perbedaan Konsentrasi CO2/CH4/N2O per satuan waktu (ppm/menit) Vch : Volume boks (m3)

Ach : Luas boks (m2)

mW : Bobot molekul CO2/CH4/N2O (gr)

mV : Volume molekul CO2/CH4/N2O (22.4 l pada suhu dan tekanan standar/stp dalam mol/l)

T : Suhu rata-rata inkubator (0C)

Analisis Usahatani

Analisis usahatani dilakukan dengan menggunakan input berupa komponen biaya (TC), penerimaan usaha tani (TR) dan pendapatan biaya usaha tani (Pd). Menurut Soekartawi (2002), cara analisis usahatani dengan menggunakan ketiga variabel tersebut dikenal dengan analisis anggaran arus uang tunai (cash flow analysis). Penentuan analisis biaya-manfaat dalam cash flow pada penelitian ini dikategorikan dalam 2 kondisi, yakni kebun karet monokultur dan kebun karet intercropping dengan tanaman nanas. Secara umum asumsi dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Luas lahan dalam analisis usahatani ini adalah sebesar 1 Ha

2. Semua harga input dan harga output yang digunakan dalam analisis ini adalah berdasarkan harga yang berlaku selama tahun penelitian, dengan asumsi harga konstan selama umur proyek.

3. Tingkat diskonto yang digunakan dalam penelitian ini adalah 17 persen yang didasarkan pada tingkat suku bunga kredit investasi rata-rata pada bulan September 2011-September 2012.

4. Sumber modal seluruhnya modal sendiri.

5. Pendapatan bersih (net benefit) adalah selisih antara arus penerimaan (inflow) dan arus biaya (outflow).

Persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut:

a. Total penerimaan usahatani, merupakan perkalian antara prooduksi yang diperoleh tanaman ke-i dengan harga produksi tanaman ke-i. Persamaannya sebagai berikut:

TR = Yi . Pyi

TR : Total Penerimaan (Rp)

Y : Produksi yang diperoleh tanaman ke-i (kg/ha) Py : Harga produksi tanaman ke-I (Rp/Kg)

b. Total biaya usahatani, merupakan nilai semua keluaran yang dipakai dalam usahatani selama proses produksi baik yang langsung maupun tidak langsung. Hal ini dapat dihitung menggunakan persamaan:

TC = FC + VC

TC : Total biaya, meliputi biaya tetap dan biaya variabel (Rp) FC : Biaya tetap (Rp)

VC : Biaya variabel atau tidak tetap (Rp)

c. Pendapatan usahatani, merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya yang dapat dihitung melalui persamaan berikut:

Pd c= TR-TC

Pd : Pendapatan total (Rp) TR : Total Penerimaan (Rp)

d. Efisiensi, merupakan penerimaan untuk tiap rupiah yang dikeluarkan yaitu revenue cost rasio (R/C rasio) yang dapat dihitung melalui persamaan berikut:

RC= TR/TC

e. Net Present Value, merupakan selisih antara nilai sekarang arus manfaat dengan nilai sekarang arus biaya selama umur proyek yang dapat dihitung melalui persamaan berikut (Gittinger, 1986):

Bt : Manfaat proyek pada tahun ke-t Ct : Biaya proyek pada tahun ke-t t : Umur proyek (tahun)

n : Jumlah tahun

i : Tingkat suku bunga (diskonto)

f. Internal Rate of Return (IRR) merupakan suatu tingkat diskonto yang membuat NPV sama dengan nol. IRR dapat dihitung melalui persamaan berikut (Gittinger, 1986):

Jika IRR > tingkat diskonto, maka suatu usaha layak untuk dilaksanakan. Sebaliknya apabila IRR < tingkat diskonto, berarti suatu usaha tidak layak untuk dilaksanakan.

g. Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C), merupakan perbandingan antara jumlah present value yang positif (sebagai pembilang) dengan jumlah present value yang negative (sebagai penyebut). Angka ini menunjukkan tingkat besarnya tambahan manfaat pada setiap tambahan biaya sebesar satu satuan. Secara sistematis dapat dihitung melalui persamaan berikut:

Jika Net B/C > 1, maka suatu usaha layak untuk dilaksanakan. Sebaliknya jika Net B/C < 1 berarti suatu usaha tidak layak untuk dilaksanakan.

Dokumen terkait