• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sifat Mekanis 2. MOE Sejajar Serat

Dalam dokumen Development of high quality ply bamboo (Halaman 150-158)

B. PENINGKATAN KEAWETAN BAMBU LAPIS Pendahuluan Pendahuluan

4. Ketahanan bambu lapis terhadap serangan rayap

6.2. Sifat Mekanis 2. MOE Sejajar Serat

Dari hasil studi pustaka, data bambu lapis yang mengunakan jenis kayu cepat tumbuh yang tersedia terkait dengan MOE sejajar serat adalah bambu lapis yang menggunakan perekat phenol formaldehyde (PF). Oleh karena itu data kerapatan yang dibandingkan adalah berdasarkan bambu lapis yang menggunakan perekat PF tersebut. Data perbandingan kerapatan bambu lapis dengan kayu lapis disajikan pada Tabel 6.3, sedangkan analisis keragamannya berdasarkan perekat PF disajikan pada Lampiran 6.3.

Tabel 6.3 menunjukkan bahwa MOE sejajar serat bambu lapis dan kayu lapis berkisar antara 13.765 kgf/cm2 dan 95.786,92 kgf/cm2. Nilai MOE sejajar serat terendah terdapat pada kayu lapis yang berbahan baku kayu sengon, sedangkan nilai tertinggi terdapat pada bambu lapis yang berbahan baku bambu betung. Berdasarkan analisis sidik ragam seperti tercantum pada Lampiran 6.3, maka bahan baku berpengaruh terhadap MOE sejajar serat, baik bambu lapis maupun kayu lapis. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa MOE sejajar serat bambu lapis yang berbahan baku tali, andong, danbambu betung tidak berbeda dengan kayu lapis yang berbahan baku kayu mangium, namun keempat jenis bambu lapis dan kayu lapis tersebut berbeda dengan kayu lapis lainnya terkait dengan MOE sejajar serat. MOE sejajar serat kayu lapis dari jenis kayu sengon, mahoni, dan pinus yang direkat menggunakan perekat PF ternyata memberikan nilai yang relatif rendah, yaitu nilainya berkisar antara 13.765 kgf/cm2 dan18.505 kgf/cm2.Nilai MOE sejajar serat pada ketigajenis kayu lapis ini ternayata tidak memenuhi persyaratan SNI 01-5008,7-1999 yang mensyaratkan MOE sejajar serat sebesar 55.000 kgf/cm2, sedangkan bambu lapis yang berbahan baku bambu tali, andong, dan betung, serta kayu lapis berbahan baku jenis kayu mangium memenuhi persyaratan SNI tersebut.

Tabel 6.3. Perbandingan MOE sejajar serat bambu lapis dengan kayu lapis

No. Bahan baku

Nilai MOEsejajar serat (kgf/cm2) berdasarkan perekat UF MF PF 1. Bambu tali 1) 83.424,36 110.151,37 83.868 2. Bambu andong2) 92.674,56 123.332,32 91.325,60 3. Bambu betung3) 106.458,15 197.517,87 95.786,92 4. Mahoni 4) 18.505 5. Pinus 4) 16.854 6. Sengon4) 13.765 7. Mangium4) 99.660

Sumber :1).Suryana J et al., 2009, Mardiana, 2010, dan Iriayanto, 2012 ; 2). Adha, A. ,2008, Suryana J et al., 2009, dan Lestari,R.P., 2012 ; 3). Suryana et al,, 2009 dan Sembiring, 2012; 4).Rosihan, 2005

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ditinjau dari MOE sejajar serat, ternyata hanya bambu lapis dan kayu lapis berbahan baku jenis kayu mangium yang memenuhi persyaratan SNI 01-5008,7-1999, sedangan jenis kayu lapis lainnya tidak memenuhi persyaratan dimaksud.

6.2.3. MOE Tegak Lurus Serat

Dari hasil studi pustaka, data bambu lapis yang mengunakan jenis kayu cepat tumbuh yang tersedia terkait dengan MOE sejajar serat adalah bambu lapis yang menggunakan perekat phenol formaldehyde (PF). Oleh karena itu data kerapatan yang dibandingkan adalah berdasarkan bambu lapis yang menggunakan perekat PF tersebut.

Data perbandingan kerapatan bambu lapis dengan kayu lapis disajikan pada Tabel 6.4, sedangkan analisis keragamannya berdasarkan perekat PF disajikan pada Lampiran 6.4.

Tabel 6.4. Perbandingan MOE tegak lurus serat bambu lapis dengan kayu lapis

No. Bahan baku

Nilai MOE tegak lurus serat (kgf/cm2) berdasarkan perekat UF MF PF 1. Bambu tali 1) 41.729,99 86.151,37 77.453,36 2. Bambu andong2) 42.345,34 103.332,32 81.325,60 3. Bambu betung3) 61.458,15 112.356,72 95.786,92 4. Mahoni 4) 1.505 5. Pinus 4) 4.180 6. Sengon4) 1.570 7. Mangium4) 6.827

Sumber :1).Suryana J et al., 2009, Mardiana, 2010, dan Iriayanto, 2012 ; 2).Adha,A.,2008, Suryana J et al., 2009, dan Lestari,R.P., 2012 ; 3). Suryana et al,, 2009 dan Sembiring, 2012; 4).Rosihan, 2005

Tabel 6.4 menunjukkan bahwa MOE tegak lurus serat bambu lapis dan kayu lapis berkisar antara 1.505 kgf/cm2 dan 95.786,92 kgf/cm2. Nilai MOE sejajar serat terendah terdapat pada kayu lapis yang berbahan baku kayu mahoni, sedangkan nilai tertinggi terdapat pada bambu lapis yang berbahan baku bambu betung. Berdasarkan analisis sidik ragam seperti tercantum pada Lampiran 6.4, maka bahan baku berpengaruh terhadap MOE tegak lurus serat, baik bambu lapis maupun kayu lapis. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa MOE tegak lurus serat bambu lapis yang berbahan baku tali dan andong tidak berbeda dengan bambu lapis yang berbahan baku bambu betung, namun ketiga bambu lapis tersebut sangat berbeda dengan keempat kayu lapis yang dibandingkan. Kayu lapis yang terbut dari jenis kayu mahoni, pinus, sengon dan mangium, ternyata mempunyai nilai MOE tegak lurus serat yang sangat rendah, yaitu dengan kisaran nilai 1.505 kgf/cm2 - 6.827 kgf/cm2 dan tentu saja tidak dapat memenuhi persyaratan minimal SNI 01-5008,7-1999 yang mensyaratkan nilai 35.000 kgf/cm2. Hal itu berbeda dengan ketiga bambu lapis yang ternayata memiliki nilai MOR tegak lurus serat yang jauh lebih tinggi daripada nilai minimal yang dipersyaratkan tersebut, yaitu dengan kisaran nilai 77.453,36 kgf/cm2 – 95.786,92 kgf/cm2.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa terkait dengan MOE tegak lurus serat, ternyata hanya bambu lapis yang memenuhi persyaratan SNI 01-5008,7-1999, sedangan jenis kayu lapis lainnya tidak memenuhi persyaratan dimaksud.

6.2.4. MOR Sejajar Serat

Dari hasil studi pustaka, data bambu lapis yang mengunakan jenis kayu cepat tumbuh yang tersedia terkait dengan MOE sejajar serat adalah bambu lapis yang menggunakan perekat phenol formaldehyde (PF). Oleh karena itu data kerapatan yang dibandingkan adalah berdasarkan bambu lapis yang menggunakan perekat PF tersebut. Data perbandingan kerapatan bambu lapis dengan kayu lapis disajikan pada Tabel 6.5, sedangkan analisis keragamannya berdasarkan perekat PF disajikan pada Lampiran 6.5.

Tabel 6.5 menunjukkan bahwa MOE sejajar serat bambu lapis dan kayu lapis berkisar antara 257,06 kgf/cm2 dan 1.313,22 kgf/cm2. Nilai MOE sejajar serat terendah terdapat pada kayu lapis yang berbahan baku kayu sengon, sedangkan nilai tertinggi terdapat pada bambu lapis yang berbahan baku bambu betung. Berdasarkan analisis sidik ragam seperti tercantum pada Lampiran 6.5, maka bahan baku berpengaruh terhadap MOR sejajar serat, baik bambu lapis maupun kayu lapis. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa MOR sejajar serat bambu lapis yang berbahan baku tali tidak berbeda dengan bambu lapis yang berbahan baku bambu betung, namun berbeda dengan bambu lapis berbahan baku bambu andong. Bambu lapis berbahan baku bambu andong tidak berbeda dengan kayu lapis yang berbahan baku kayu pinus, sedangkan kayu lapis yang berbahan baku kayu mahoni, sengon, dan mangium mempunyai nilai MOR sejajar serat yang berbeda dengan ketiga bambu lapis dan kayu lapis berbahan baku kayu pinus yang telah disebutkan tersebut. Urutan nilai MOR sejajar serat berdasarkan bahan bakunya, dimulai dari yang terendah sampai tertinggi adalah : sengon, mahoni, mangium, pinus, andong, tali dan betung. Meskipun nilai MOR sejajar serat sangat beragam, namun semua nilai tersebut telah memenuhi SNI 01-5008,7-1999 yang mensyaratkan nilai minimal 220 kgf/cm2.

Tabel 6.5 Perbandingan MOR sejajar serat bambu lapis dengan kayu lapis

No. Bahan baku

Nilai MOR sejajar serat (kgf/cm2) berdasarkan perekat UF MF PF 1. Bambu tali 1) 1.139,04 890,23 1.214,42 2. Bambu andong2) 780,98 900,82 1.009,68 3. Bambu betung3) 930,35 1.040,90 1.313,221 4. Mahoni 4) 504,93 5. Pinus 4) 961,68 6. Sengon4) 257,06 7. Mangium4) 751,41

Sumber :1).Suryana J et al., 2009, Mardiana, 2010, dan Iriayanto, 2012 ; 2).Adha,A.,2008, Suryana J et al., 2009, dan Lestari,R.P., 2012; 3). Suryana et al,, 2009 dan Sembiring, 2012; 4).Rosihan, 2005

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam konteks MOR sejar serat, ternyata walaupun ketiga bambu lapis dan keempat kayu lapis dapat memenihi persyaratan SNI 01-5008,7-1999, namun nampak jelas bahwa ketiga bambu lapis mempnyai besaran nilai MOR sejajar serat yang lebih baik.

6.2.5. Keteguhan Rekat sejajar Serat

Data bambu lapis yang mengunakan jenis kayu cepat tumbuh dan kayu meranti yang tersedia terkait dengan keteguhan rekat sejajar serat adalah bambu lapis yang menggunakan perekat phenol formaldehyde (PF). Oleh karena itu data kerapatan yang dibandingkan adalah berdasarkan bambu lapis yang menggunakan perekat PF tersebut. Data perbandingan kerapatan bambu lapis dengan kayu lapis disajikan pada Tabel 6.6, sedangkan analisis keragamannya berdasarkan perekat PF disajikan pada Lampiran 6.6.

Tabel 6.6. Perbandingan keteguhan rekat sejajar serat bambu lapis dengan kayu lapis

No. Bahan baku

Nilai keteguhan rekat sejajar serat (kgf/cm2) berdasarkan jenis perekat

UF MF PF 1. Bambu tali 1) 18,25 26,21 20,24 2. Bambu andong2) 17,49 24,45 22,52 3. Bambu betung3) 15,78 21,67 23,19 4. Sengon4) 9,20 10,06 12,16 5. Sungkai4) 13,10 14,96 18,54 6. Jabon5) 13,87 17,77 18,87 7. Kayu afrika5) 14,42 15,03 20,99 8. Mahoni6) 7,33 9. Pinus6) 11,39 10. Sengon6) 6,91 11. Mangium6) 15,83 12. Meranti7) 15,36

Sumber : 1)Suryana et al.,2009 dan Iriayanto, 2012 ; 2).Adha, 2008, Suryana. et al., 2009 dan Lestari, 2012 ; 3). Suryana et al., 2009 dan Sembiring, 2012 4). Fauziah, 2011; 5). Wahyulia, 2011; 6).Rosihan, 2005; dan 7) Kliwon,1998.

Tabel 6.6 menunjukkan bahwa nilai keteguhan rekat sejajar serat bambu lapis dan kayu lapis berkisar antara 6,91kgf/cm2 dan 23,19 kgf/cm2. Nilai MOE sejajar serat terendah terdapat pada kayu lapis yang berbahan baku kayu sengon, sedangkan nilai tertinggi terdapat pada bambu lapis yang berbahan baku bambu betung. Berdasarkan analisis sidik ragam seperti tercantum pada Lampiran 6.6, maka bahan baku berpengaruh terhadap MOR sejajar serat, baik bambu lapis maupun kayu lapis. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa keteguhan rekat sejajar serat bambu lapis yang berbahan baku tali, andong, dan betung tidak berbeda dengan kayu lapis yang berbahan baku kayu afrika. Nilai keteguhan rekat sejajar serat kayu lapis yang berbahan baku sungkai, tidak berbeda dengan kayu

lapis berbahan baku jenis jabon dan kayu afrika. Begitu pula mahoni tidak berbeda dengan sengon, serta pinus tidak berbeda dengan meranti. Secara umum, baik bambu lapis maupun kayu lapis yang dibandingkan memiliki nilai keteguhan rekat sejajar serat memenuhi persyaratan SNI 01-5008,7-1999 dan JIS A 5980-2003 yang mensraratkan nilai keteguhan rekat sejajar serta masing-masing sebesar 7,00 kgf/cm2 dan 8,24 kgf/cm2, kecuali pada kayu lapis yang dibuat dari kayu sengon yang tidak memenuhi kedua standar tersebut dan kayu lapis yang dibyat dari kayu mahoni yang hanya memenuhi SNI 01-5008,7-1999.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam konteks keteguhan rekat sejar serat, ternyata ketiga bambu lapis mempunyai nilai keteguhan rekat yang lebih tinggi dibandingkan dengan kayu lapis.

6.2.6. Keteguhan Rekat Tegak Lurus Serat

Berdasarkan studi pustaka yang tersedia, penelitian kayu lapis yang mencamtumkan nilai keteguhan rekat tegak lurus serat, terdapat dua jenis kayu cepat tumbuh yang dijadikan sebagai bahan bakunya, yaitu kayu jabon dan kayu afrika. Perekat yang digunakan juga sama dengan perekat yang digunakan untuk membuat bambu lapis, yaitu UF, MF, dan PF. Oleh karena itu analisis yang dilakukan berdasarkan kedua faktor tersebut. Perbandingan keteguhan rekat tegak lurus serat bambu lapis dan kayu lapis disajikan pada Tabel 6.7, sedangkan analisis sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 6.7.

Berdasarkan Tabel 6.7, nilai keteguhan rekat tegak lurus serat berkisar antara 7,50 kgf/cm2 dan 16,23 kgf/cm2. Nilai keteguhan rekat tegak lurus serat terendah terdapat pada kayu lapis yang dibuat dari kayu jabon, sedangkan nilai keteguhan rekat tegak lurus serat tertingi terdapat pada bambu lapis yang dibuat dari bambu betung.

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa keteguhan rekat tegak lurus serat bambu lapis dan kayu lapis dipengruhi oleh bahan baku dan jenis perekat. Berdasarkan uji lanjut Duncan, pererkat MF tidak berbeda dengan perekat PF, namun keduanya berbeda dengan perekat UF. Berdasarkan bahan bakunya dan perekat UF, bambu lapis yang dibuat dari bambu tali, andong, dan bambu betung memiliki keteguhan rekat tegak lurus serat yang tidak berbeda dengan kayu lapis yang berbahan baku kayu jabon, sedangkan kayu afrika mempunyai keteguhan rekat tegak lurus serat yang lebih rendah dan berbeda dengan bambu lapis dan kayu lapis yang disaebuitkan terdahulu.

Tabel 6.7 Perbandingan keteguhan rekat tegak lurus serat bambu lapis dengan kayu lapis

No. Bahan baku Keteguhan rekat tegak lurus serat (kg/cm2) berdasarkan jenis perekat

UF MF PF 1. Bambu tali 1) 11,71 15,73 14,21 2. Bambu andong2) 11,22 14,21 14,34 3. Bambu betung3) 12,67 15,14 15,23 6. Jabon4) 7,50 10,32 13,71 7. Kayu afrika4) 10,42 9,88 10,74

Sumber : 1)Suryana et al., 2009, dan Iriayanto. W. 2012 ; 2).Adha, 2008, Suryana et al., 2009 dan Lestari, 2012; 3).Suryana et al., 2009 dan Sembiring, 2012; dan 4).Wahyulia, 2011

Hasil yang agak berbeda terdapat pada bambu lapis dan kayu lapis yang dibuat dengan menggunakan perekat UF dan MF. Berdasarkan perekat UF, bambu lapis yang dibuat dari ketiga jenis bambu tidak berbeda dengan kayu lapis yang dibuat dari kayu afrika ditinjau dari nilai keteguhan rekat tegak lurus seratnya, namun kayu lapis yang dibuat dari kayu jabon memiliki nilai yang berbeda dengan ketiga bambu lapis dan kayu lapis yang telah disebutkan. Berdasarkan pereketa MF, maka nilai keteguhan rekat tegak lurus serat dapat dikelompokkan menjadi dua berdasarkan bahan bakunya, yaitu bambu lapis dan kayu lapis. Bambu lapis dan kayu lapis tersebut memliki nilai keteguhan rekat yang berbeda.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam konteks keteguhan rekat tegak lurus serat, ternyata ketiga bambu lapis mempunyai nilai keteguhan rekat tegak lurus serat yang lebih baik dibandingkan dengan kayu lapis untuk ketiga jenis perekat yang digunakan.

Secara umum bambu lapis dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan bahan meubel (furniture). Dalam memanfaatkan bambu lapis sebagai bahan bangunan dan mebel tersebut ada beberapa kriteria yang dapat dijadikan acuan agar pemanfaatan bambu lapis sesuai dengan yang diharapkan. Kriteria tersebut antara lain : Dimensi bambu lapis, Karakteristik pemanfaatan. Sifat fisis dan mekanis bambu lapis,dan kondisi pemakaian.

Dalam dokumen Development of high quality ply bamboo (Halaman 150-158)

Dokumen terkait