• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Sifat-Sifat Beton

Beton sebagai material komposit mempunyai banyak permasalahan.

Campuran beton tersebut tidak bisa langsung menjadi kaku tapi perlu proses

reaksi hidrasi air dengan semen yang memakan waktu. Salah satu masalahnya

adalah masing – masing unsur dalam campuran beratnya tidak sama sehingga yang berat seperti agregat cenderung bergerak ke bawah sedangkan yang ringan

seperti air cenderung naik ke atas. Untuk itu perlu kita mengetahui sifat –sifat yang terjadi pada beton.

2.3.1 Sifat – Sifat Beton Segar

Dalam pengerjaan beton segar, sifat yang sangat penting harus

diperhatikan adalah kelecakan. Kelecakan adalah kemudahan pengerjaan beton,

dimana pada penuangan (placing) dan memadatkan (compacting) tidak menyebabkan munculnya efek negatif berupa pemisahan (segregation) dan pendarahan (bleeding).

Istilah kelecakan (workability) dapat didefinisikan dari tiga sifat sebagai berikut:

a. Kompaktibilitas yaitu kemudahan dimana beton dapat dipadatkan dan

mengeluarkan rongga – rongga udara.

b. Mobilitas yaitu kemudahan dimana beton dapat mengalir ke dalam cetakan

c. Stabilitas yaitu kemampuan beton untuk tetap menjadi massa homogen

tanpa pemisahan selama dikerjakan.

Pada adukan yang tidak stabil, air dapat terpisah dari benda padat,

kemudian naik ke permukaan. Fenomena ini disebut pendarahan (bleeding). Sebaliknya, agregat kasar bisa terpisah dari mortar. Sedangkan fenomena ini

disebut pemisahan (segregation).

2.3.2 Sifat – Sifat Beton Keras

Nilai kekuatan tekan beton relatif tinggi dibandingkan dengan kuat

tariknya. Beton merupakan bahan yang bersifat getas. Nilai kuat tariknya hanya

berkisar 9% - 15% dari kuat tekannya. Agar beton mampu menahan gaya tarik

maka beton diperkuat oleh batang tulangan baja sebagai bahan yang dapat bekerja

sama.

Dalam bukunya, Dipohusodo (1999) menyatakan bahwa kerjasama antara

bahan beton dan baja tulangan hanya dapat terwujud dengan didasarkan pada

keadaan – keadaan:

1. Lekatan sempurna antara batang tulangan baja dengan beton keras yang

membungkusnya sehingga tidak terjadi penggelinciran di antara keduanya.

2. Beton yang mengelilingi batang tulangan baja bersifat kedap sehingga

mampu melindungi dan mencegah terjadinya karat baja.

3. Angka muai kedua bahan hampir sama, dimana untuk setiap kenaikan suhu

sedangkan baja 0,000012, sehingga tegangan yang timbul karena perbedaan

nilai dapat diabaikan.

2.3.2.1 Kuat Beton Terhadap Gaya Tekan

Karena beton mempunyai sifat yang kuat terhadap tekan dan mempunyai

sifat yang relatif rendah terhadap tarik maka pada umumnya beton hanya

diperhitungkan mempunyai kerja yang baik di daerah tekan pada penampangnya

dan hubungan regangan-regangan yang timbul karena pengaruh pengaruh gaya

tekan tersebut digunakan sebagai dasar pertimbangan.

Nilai dari kuat tekan beton diwakili oleh tegangan tekan maksimum fc’

dengan satuan N/mm2 atau MPa (Mega Pascal). Kuat tekan beton umur 28 hari

berkisar antara nilai ± 10 – 65 MPa. Untuk struktur beton bertulang pada umumnya menggunakan beton dengan kuat tekan berkisar 17 – 30 MPa [Dipohusodo, 1999].

Nilai dari kuat tekan beton ditentukan dari tegangan tekan tertinggi (fc’) yang dicapai benda uji umur 28 hari akibat beban tekan selama percobaan.

Dengan demikian, seperti tampak pada gambar, harap dicatat bahwa tegangan fc’

bukanlah tegangan yang timbul pada saat benda uji hancur melainkan tegangan

maksimum pada saat regangan beton ( b) mencapai nilai ± 0,002. Kurva-kurva pada Gambar 2.3.1 memperlihatkan hasil percobaan kuat tekan benda uji beton

Gambar 2.1. Diagram Tegangan-Regangan Batang Tulangan Baja Terhadap Kuat Tekan Beton [Dipohusodo, 1999]

Secara umum kemiringan kurva regangan-regangan pada tahap awal

menggambarkan nilai modulus elastis suatu bahan. Dengan mengamati bermacam

kurva tegangan-regangan kuat beton berbeda, tampak bahwa umumnya kuat tekan

maksimum tercapai pada saat nilai satuan regangan tekan mencapai ± 0,002. Selanjutnya nilai tegangan fc’ akan turun dengan bertambahnya nilai regangan sampai benda uji hancur pada nilai mencapai 0,003 – 0,005. Beton kuat tinggi lebih getas dan akan hancur pada nilai regangan maksimum yang lebih rendah

dibandingkan dengan beton kuat rendah. Pada SK SNI 15-1991-03 pasal 12.2.3

menetapkan bahwa regangan kerja maksimum yang diperhitungkan di serat tepi

beton tekan terluar adalah 0,003-0,0035 sebagai batas hancur. Regangan

maksimum tersebut boleh jadi tidak konservatif untuk beton mutu tinggi dengan

nilai fc’ antara 55-80 Mpa.

Tidak seperti pada kurva tegangan-regangan baja, kemiringan awal kurva

awal yang beragam tersebut tergantung pada nilai kuat betonnya, dengan

demikian nilai modulus elastisitas beton pun akan beragam pula. Sesuai dengan

teori elastisitas, secara umum kemiringan kurva pada tahap awal menggambarkan

nilai modulus elastisitas suatu bahan. Karena kurva pada beton berbentuk

lengkung maka nilai regangan tidak berbanding lurus dengan nilai tegangannya

berarti bahan beton tidak sepenuhnya bersifat elastis, sedangkan modulus

elastisitas berubah-ubah sesuai dengan kekuatannya dan tidak dapat ditentukan

melalui kemiringan kurva. Bahan beton bersifat elasto plastis dimana akibat dari

beban tetap yang sangat kecil sekalipun, di samping memperlihatkan kemampuan

elastis bahan beton juga menunjukkan deformasi permanen.

Sesuai dengan SK SNI T-03-xxxx-2002 pasal 10.5.1 digunakan rumus

modulus elastisitas beton sebagai berikut :

' 0043

,

0 w1,50 fc

Ec c

di mana, Ec = modulus elastisitas beton tekan (MPa)

c

w = berat isi beton (kg/m3)

fc’ = kuat tekan beton (MPa)

Rumus empiris tersebut hanya berlaku untuk beton dengan berat isi

berkisar antara 1500 dan 2500 kgf/m3. Untuk beton kepadatan normal dengan

berat isi ± 23 kN/m3 dapat digunakan nilai :

' 700 .

4 fc

Tabel 2.1. Nilai modulus elastisitas beton (Ec) berbagai mutu beton. fc’ (Mpa) Ec (Mpa) 17 19.500 20 21.000 25 23.500 30 25.700 35 27.800 40 29.700

Pada umumnya nilai kuat maksimum untuk mutu beton tertentu akan

berkurang pada tingkat pembebanan yang lebih lamban atau slower rates of strain.

Nilai kuat beton beragam sesuai dengan umurnya dan biasanya nilai kuat beton ditentukan pada waktu beton mencapai umur 28 hari setelah pengecoran. Umumnya pada umur 7 hari kuat beton mencapai 70 % dan pada umur 14 hari mencapai 85 % - 90 % dari kuat beton umur 28 hari. Pada kondisi pembebanan tekan tertentu beton

menunjukkan suatu fenomena yang disebut rangkak (creep).

Dokumen terkait