HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum
4.3 Metode Analisis Perbandingan Rata-rata (Independen -Sample t Test )
4.3.1 Uji Signifikansi
Independen sample T Test dilakukan untuk menguji signifikansi beda rata-rata dua kelompok. Independen disini dalam arti keduanya tidak terkait, tidak saling berhubungan, berasal dari dua populasi yang berbeda.
TABEL 4.8
Mean dan Standart Deviasi
Keberhasilan Wirausaha Pada Budaya Minang Kabau Dan Budaya Tionghoa Di Pasar Aksara Medan
Group Statistics
Budaya N Mean
Std.
Deviation Std. Error Mean Keberhasilan
wirausaha
minangkabau 43 10.95 2.104 .321
Tionghoa 43 18.02 1.626 .348
Sumber: Hasil pegolahan SPSS 16,0 (Jan 2014)
Tabel 4.8 menunjukkan keberhasilan wirausaha yang dipengaruhi budaya Minang Kabau dan budaya Tionghoa di pasar Aksara Medan. Pada tabel tersebut dapat terlihat keberhasilan wirausaha dari pengaruh budaya Minang Kabau maupun pengaruh dari budaya Tionghoa. Minang Kabau adalah keberhasilan seorang wirausaha yang dipengaruhi oleh budaya Minang Kabau sedangkan Tionghoa adalah keberhasilan seorang wirausaha yang dipengaruhi oleh budaya Tionghoa. Di dalam kolom mean menunjukkan bahwa rata-rata keberhasilan wirausaha di pasar Aksara Medan pada budaya Minang Kabau adalah 10.95, sedangkan rata-rata keberhasilan wirausaha di pasar Aksara pada budaya Tionghoa adalah 18.02.
Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji beda t-test yaitu independent samples t test. Uji beda t test ini digunakan untuk menentukan apakah dua sampel yang tidak berhubungan memiliki nilai rata-rata yang berbeda. Tujuan uji beda t-test adalah membandingkan rata-rata dua kelompok tersebut, apakah mempunyai nilai rata-rata (mean) yang sama atau tidak sama secara signifikan.
Penelitian ini menggunakan Uji-t sample independent test sebagai uji hipotesisnya seperti terlihat pada Tabel 4.9 berikut ini:
TABEL 4.9
Keberhasilan Wirausaha Pada Budaya Minang Kabau Dan Budaya Tionghoa Di Pasar Aksara Medan
Levene's Test for Equality
of Variances t-test for Equality of Means
95% Confidence Interval of the Difference F Sig. t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error
Difference Lower Upper keberhasilan wirausaha Equal variances assumed .013 .909 -8.292 84 .000 -4.047 .488 -5.017 -3.076 Equal variances not assumed -8.292 83.579 .000 -4.047 .488 -5.017 -3.076
Sumber: Hasil pegolahan SPSS 16,0 (Jan 2014)
Ada dua tahapan analisis yang harus dilakukan, yang pertama adalah menguji dahulu asumsi dengan menggunakan F-Test untuk menguji persamaan variance kedua populasi apakah variance populasi kedua sampel tersebut sama (equal variances assumed) ataukah berbeda (equal variances not assumed) dengan melihat nilai signifikansi pada Levene’s Test for quality of variances.
Tabel 4.9 menunjukkan bahwa F hitung untuk keberhasilan wirausaha dengan equal variances not assumed (diasumsikan kedua varians populasi adalah berbeda) adalah 4.841 dengan probabilitas 0.031. oleh karena probabilitas < 0.05, maka H0
ditolak atau kedua variance populasi adalah berbeda. Terdapat perbedaan yang nyata dari kedua varians membuat penggunaan variance untuk membandingkan rata-rata populasi atau test untuk equality of means menggunakan t test dengan dasar equal variance not assumed (diasumsikan kedua varians populasi berbeda).
Tabel 4.9 menunjukkan bahwa t-hitung untuk keberhasilan wirausaha dengan equal variance not assumed (diasumsikan kedua ratarata populasi berbeda) adalah -17.437 dengan probabilitas 0.000. oleh karena probabilitas < 0.05, maka H0 ditolak atau secara statistik dapat dibuktikan bahwa kedua rata-rata (mean) keberhasilan wirausaha dengan pengaruh budaya Minang Kabau dan pengaruh budaya Tionghoa berbeda. Artinya terbukti bahwa pengaruh budaya Tionghoa memiliki tingkat keberhasilan wirausaha yang lebih tinggi dibandingkan pengaruh budaya Minang Kabau.
4.4 Pembahasan
Pada penelitian yang telah dilakukan pada 86 pedagang yang bersuku Minang Kabau dan suku Tionghoa di pasar Aksara Medan memiliki nilai mean yang menunjukkan bahwa rata-rata keberhasilan wirausaha di pasar Aksara Medan pada budaya Minang Kabau adalah 10.95, sedangkan rata-rata keberhasilan wirausaha di pasar Aksara pada budaya Tionghoa adalah 18.02.
Hasil dari penelitian yang dilakukan bahwa terdapat perbedaan yang nyata dari kedua varians. Hal ini terlihat dari Tabel 4.9, menunjukkan bahwa F hitung untuk keberhasilan wirausaha dengan equal variances not assumed (diasumsikan kedua
varians populasi adalah berbeda) adalah 0.031 dengan probabilitas 4.841. oleh karena probabilitas < 0.05, maka H0 ditolak atau kedua variance populasi adalah berbeda.
Pada Tabel 4.9 terlihat uji t yang menunjukkan bahwa nilai rata-rata dari suku Minang Kabau dan Tionghoa tidak sama secara signifikan. Ditunjukkan dari t-hitung untuk keberhasilan wirausaha dengan equal variance not assumed (diasumsikan kedua rata-rata populasi berbeda) adalah -17.437 dengan probabilitas 0.000. oleh karena probabilitas < 0.05, maka H0 ditolak atau secara statistik dapat dibuktikan bahwa kedua rata-rata (mean) keberhasilan wirausaha dengan pengaruh budaya Minang Kabau dan pengaruh budaya Tionghoa berbeda. Artinya terbukti bahwa pengaruh budaya Tionghoa memiliki tingkat keberhasilan wirausaha yang lebih tinggi dibandingkan pengaruh budaya Minang Kabau.
Teori mengatakan bahwa budaya merupakan salah satu faktor yang berperan dalam kewirausahaan, dimana terdapat nilai-nilai budaya tertentu yang mendukung peningkatan potensi-potensi yang ada dalam diri seorang wirausaha. Sebagaimana budaya-budaya yang dimiliki oleh setiap suku bangsa yang memiliki sistem nilai dan norma dalam mengatur masing-masing anggotanya dari suku bangsa tersebut maupun orang yang berasal dari suku lain. Pengaruh budaya yang mempengaruhi formasi bisnis etnis berhubungan dengan sikap terhadap pengalaman dan proses historis, disamping juga mempertimbangkan praktis yang mempengaruhi motivasi dan kemampuan bagi keberhasilan usaha.
Telah menjadi rahasia umum bahwa kebanyakan orang yang berasal dari Sumatera Barat, atau lebih sering disebut dengan orang Padang, berprofesi sebagai pedagang. Berdagang merupakan salah satu kultur yang menonjol dalam masyarakat Minangkabau. Mulai dari pedagang kaki lima yang berjualan di terminal, sampai pengusaha besar pemilik jaringan supermarket ternama .
Hanya saja pengaruh budaya Tionghoa memiliki tingkat keberhasilan wirausaha yang lebih tinggi dibandingkan pengaruh budaya Minang Kabau karena sejak dulu orang China terkenal piawai dalam hal perdagangan. Jalur-jalur perdagangan di dunia pernah dikuasai oleh orang Cina dan sampai saat ini pun orang Cina sukses dalam bisnis perdagagangan. Dunia orang Cina adalah di bidang perdagangan. Orang Cina sering kali mewariskan pengalaman berdagang kepada anak dan cucunya. Karena itulah, mereka memperkenalkan perdagangan kepada anak-anak sejak kecil.
Orang Cina percaya untuk menjadi pedagang yang matang dan memiliki kemampuan seseorang harus mulai dan belajar dari bawah. Dapat dikatakan, orang Cina dan perdagangan sudah bersatu padu serta menjadi satu entitas yang tidak dapat dipisahkan.Mereka suka dan tertarik untuk berdagang. orang Cina memiliki ketekunan yang tinggi dalam hal berdagang. ketekunan inilah yang menjadi salah satu faktor keberhasilan mereka dalam bisnis perdagangan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN