• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sikap Kerja yang Diperlukan dalam Merencanakan dan Mempersiapkan

BAB II MERENCANAKAN DAN MEMPERSIAPKAN PEKERJAAN

C. Sikap Kerja yang Diperlukan dalam Merencanakan dan Mempersiapkan

Harus bersikap secara:

1. Tepat dalam melaksanakan instruksi dalam perintah kerja, mempersiapkan program kerja pengujian tahanan, menyiapkan Alat uji, alat K3 dan alat bantu yang dibutuhkan serta menyiapkan, mempelajari dan menjelaskan gambar kerja, surat perintah kerja, berita acara dan dokumen terkait inspeksi penangkal/penangkap petir.

2. Teliti dalam menyiapkan, mempelajari dan menjelaskan gambar kerja, surat perintah kerja, berita acara dan dokumen terkait inspeksi penangkal/penangkap petir.

3. Cermat dalam melaksanakan instruksi dalam perintah kerja serta menyiapkan alat uji, alat K3 dan alat bantu yang dibutuhkan.

4. Sesuai syarat dalam mempersiapkan program kerja pengujian tahanan serta menyiapkan, mempelajari dan menjelaskan gambar kerja, surat perintah kerja, berita acara dan dokumen terkait inspeksi penangkal/penangkap petir.

BAB III

MENGINSPEKSI PEKERJAAN

A. Pengetahuan yang Diperlukan dalam Menginspeksi Pekerjaan

1. Peraturan dan Prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pekerjaan Inspeksi Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (3) tidak hanya ditujukan kepada orang yang melakukan pekerjaan saja, akan tetapi juga ditujukan untuk keamanan peralatan kerja serta lingkungan kerja. Tujuan K3 adalah untuk :

a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan.

b. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban.

c. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses kerjanya.

Penyebab Kecelakaan Kerja

Kecelakaan yang timbul sewaktu melakukan aktifitas dibengkel atau dimana saja pada umumnya disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :

a. Kecelakaan yang diakibatkan oleh sikap kerja yang salah / tidak aman, seperti, tidak menggunakan helm kerja, sarung tangan, sepatu kerja, baju kerja dan lain sebagainya.

Gambar 8

Macam-macam Alat Pelindung Diri (APD) untuk K3

b. Lingkungan kerja yang tidak aman dalam melakukan aktifitas seperti tempat kerja berantakan atau tidak teratur dengan baik, menempatkan peralatan yang tidak teratur, tempat kerja yang tidak bersih (oli berserakan) dan sebagainya.

Judul Modul : Menginspeksi Penangkal/Penangkap Petir

Gambar 9

Lingkungan/ Bengkel Kerja Listrik yang Tidak Aman

Tindakan Pencegahan Kecelakaan Kerja

Sebelum melakukan aktifitas di bengkel lingkungan kerja harus betul-betul aman dari gangguan, baik secara langsung maupun tak langsung terhadap aktifitas yang dilakukan. Apakah terhadap sipekerja maupun pada benda kerja.

Gambar 10

Sikap dan Lingkungan kerja/ Bengkel listrik yang Aman dan Baik Untuk Bekerja

Usaha pencegahan terhadap bahaya listrik antara lain :

a. Melakukan perbaikan instalasi listrik dalam keadaan tidak bertegangan.

b. Setiap bagian yang aktif harus dilindungi atau diisolasi atau gunakan peralatan kerja yang berisolasi.

c. Dilarang menggunakan penghantar yang isolasinya sudah mengelupas.

d. Semua bagian konduktif terbuka perlengkapan dan instalasi listrik serta titik netral sistem listrik disumbernya harus dibumikan.

e. Menggunakan alat pelindung (sarung tangan karet elektrik dan sepatu).

f. Memasang tanda adanya pekerjaan yang berbahaya.

g. Bekerja pada instalasi listrik dalam keadaan sehat (tidak mengantuk, tidak mabuk)

h. Hindari bercanda sewaktu bekerja.

i. Lakukan perawatan peralatan dan perkakas secara berkala (teratur).

2. Prosedur Inspeksi Instalasi Penangkal/ Penangkap Petir dan Kelengkapannya Pemerikasaan instalasi akan memastikan kelayakan dari sebuah instalasi penangkal petir yang terpasang. Setiap instalasi Penangkal Petir sebaiknya diperiksa setiap setahun sekali yang dilakukan menjelang musim penghujan (Internal Cek), diharapkan selama musim penghujan instalasi yang telah terpasang dapat berfungsi dengan baik sehingga bangunan akan aman dan terlindungi serta terhindar dari bahaya sambaran petir.

Setiap instalasi Penangkal Petir sebaiknya diperiksa setiap setahun sekali secara mandiri oleh teknisi (internal cek) dan Pemeriksaan yang mendapatkan sertifikasi disnaker tiap dua tahun sekali

Sebagaimana peraturan pemerintah RI NO. :PER. 02/MEN/1989 TENTANG PENGAWASAN INSTALASI PENYALUR PETIR maka pemeriksaan berkala oleh instansi terkait dalam hal ini adalah Disnaker, dilakukan setiap 2 tahun, hal ini dapat terwujud apabila pihak Swasta/Instansi sadar perlunya keselamatan baik itu pada gedung dan isinya maupun keselamatan bagi karyawan yang ada disekitar tempat kerja.

Pemeriksaan instalasi penangkal petir meliputi pemeriksaan yang terdiri dari serangkaian pengujian terhadap sistem penyalur petir yang ada , mulai dari jenis dan fisik material , spesifikasi teknis material , serta teknis pemasangan.

Hasil pemeriksaan instalasi penangkal petir berisi data teknis kondisi fisik instalasi penyalur petir, serta hasil spesifikasi teknisnya sesuai standar operasional dan ketentuan yang berlaku.

Rekomendasi perbaikan atau penggantian akan diberikan bila ditemukan kesalahan ataupun potensi ketidaksesuaian , Untuk pelaksanaan perbaikan akan kembali menjadi kebijakan pihak pemilik akan pelaksanaanya.

Prosedur Pemeriksaan/Inspeksi Instalasi Penangkal Petir meliputi : a. Pemeriksaan data teknis yang ada

b. Pengamatan visual peralatan dan sistem instalasi penangkal petir (di lokasi).

c. Pencatatan data lapangan (di lokasi).

d. Perbandingan kesesuaian teknis dengan standar nasional.

e. Melakukan evaluasi teknis dalam standarisasi yang dipakai f. Analisa kelayakan instalasi

g. Laporan Hasil Pemeriksaan

Judul Modul : Menginspeksi Penangkal/Penangkap Petir

Hasil Pelaporan Pemerikasaan Instalasi Penangkal Petir

Hasil laporan pemeriksaan akan disampaikan kepada pelanggan baik lesan atau tulisan. Bila ada temuan kelemah menjadi dasar rekomendasi kami agar dilakukan perbaikan.

Perbaikan akan kekurangan dan kelemahan dari instalasi menjadi tanggung jawab penuh pihak pengelola bila tidak di lakukan perbaikan ( Internal Cek ), Tetapi akan berbeda bila pemeriksaan berkala 2 tahunan, bila ditemukan ketidak sesuaian maka dari Pihak Dinas Tenaga Kerja setempat tidak mensetujui kelayakan pakai dari fungsi keselamatan Penyalur Petir.

Sertifikasi Disnaker

Sertifikasi Legal Regulasi akan dilakukan pihak Disnaker dengan menyertakan hasil pelaporan pemeriksaan dan dilengkapi dokumen dokumen pendukung, gambar situasi, detail instalasi dan surat Permohonan Pengesahan.Bila ada ketidak sesuaian maka pihak Instansi terkait ini akan meminta untuk melakukan perbaikan

Tabel 1

Prosedur Pemeriksaan dan Pengujian Instalasi Penyalur Petir

PROSEDUR PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN INSTALASI PENYALUR PETIR No Lingkup Pekerjaan Baru (Sertifikasi) Lama (Re-Sertifikasi)

1. Pedoman Pemeriksaan/

Referensi

 Undang-Undang Nomor 01 Tahun 1970

 Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor : PER.02/Men/1989

 Keputusan menteri tenaga kerja No.Kep.75/Men/2000 tentang standar Nasional lndonesia (SNI) No.04-0225-2000 Mengenai PUIL No.04-0225-2000

 Prosedur " Riksa & Uji " lnstalasi Penyalur & Penangkal Petir

2. Pemeriksaan Dokumen Data Umum

 Pemilik

 lnstalatir

 Alamat lnstalatir

 Tahun Pembuatan

 Tipe/Model Penerima (Air Terminal)

 Pembumian

 Hantaran Penyalur Gambar

 Gambar lnstalasi Penyalur Petir

Data Umum

 ljin Pengesahan

 ljin Pemakaian Tetap

 Buku Laporan

Pemeriksaan Terdahulu

 Buku Maintenance - Pelaksana Perbaikan - Sertifikat Instalatir - Kesimpulan Hasil

Paska Perbaikan

 Hasil Pengujian Paska Perbaikan

Gambar

 Gambar lnstalasi Penyalur Petir

PROSEDUR PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN INSTALASI PENYALUR PETIR No Lingkup Pekerjaan Baru (Sertifikasi) Lama (Re-Sertifikasi)

3. Pemeriksaan Visual Penerima I Air Terminal

 Diameter

 Panjang

 Permukaan Penghantar

 Pengikat

Penerima I Air Terminal

 Diameter

 Panjang

 Permukaan Penghantar

 Pengikat 4. Pengukuran Tahanan/Resistance

Pembumian

 Masing - masing Titik x 4

 Radius Perlindungan Sambaran

 Tingkat Kelembaban Struktur Tanah (%)

Tahanan/Resistance Pembumian

 Masing - masing Titik x 4

 Radius Perlindungan Sambaran

 Tingkat Kelembaban Struktur Tanah (%)

 Pengukuran Tahanan Pembumian

 Photo hasil Pemeriksaan

 Kesimpulan

 Pengukuran Tahanan Pembumian

 Photo hasil Pemeriksaan

 Kesimpulan

 Saran-saran 6. Kesimpulan dan saran Kesimpulan

 Hasil Pemeriksaan &

Pengujian Bila Ditemukan Kelainan (Standar/Spesifikasi) Saran

 Berhubungan dengan keselamatan, kesehatan Kerja dan Lingkungan (Standar/Spesifikasi)

Kesimpulan

 Hasil Pemeriksaan &

Pengujian Bila

Judul Modul : Menginspeksi Penangkal/Penangkap Petir

PROSEDUR PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN INSTALASI PENYALUR PETIR No Lingkup Pekerjaan Baru (Sertifikasi) Lama (Re-Sertifikasi)

7. Akte Ijin  Lampiran Laporan Hasil Akte ljin Pemakaian Tetap

 Lampiran Laporan Hasil Pemeriksaan dan

8. Alat yang digunakan Digital Earth Resistance Tester

Merk : Kyoritsu Electical lntrumentsWorks. Ltd Model Number : 4105A

SerialNumber : W8000344

3. Komponen Penangkal/Penangkap Petir dan Tingkat Pengamanan (IP)-nya a. Komponen Penangkal/Penangkap Petir

1). Logam penangkap/Sela Batang .

Logam Penangkap Petir dapat terbuat dari bahan yang tidak dapat melengkung atau terbakar jika tersambar oleh arus petir. Umumnya alat penangkal petir ini terbuat dari tembaga atau baja atau semacamnya.

Logam penangkap petir harus dibuat meruncing pada bagian atasnya, supaya jika sewaktu-waktu tersambar oleh arus petir, loncatan corona (bunga api) yang terjadi tidak menyebar kemana-mana, tetapi dengan meruncing pada bagian atasnya, loncatan bunga api diusahakan bunga api itu akan dibuang/dinetralkan ke udara.

Gambar 11

Logam Penangkap Petir dengan Ujung Runcing

2). Saluran atau Penghantar Arus Petir

Saluran untuk mengalirkan arus petir biasanya menggunakan penghantar jenis tembaga bulat (rounded conductor) dengan luas penampang minimal 25 mm2 atau penghantar jenis plat.

Gambar 12

Saluran atau Penghantar Arus Petir

3). Ketentuan Sambungan penghantar untuk Instalasi Penangkal Petir.

Jika perlu ada sambungan misalnya; karena batas panjang penghantar dari produksinya dan lain-lain, maka sambungan itu harus menggunakan sambungan sekrup atau selongsong sambungan.

Gambar 13 Sistim Sambungan

4). Klem Penyangga penghantar

Pemasangan penghantar pada dinding-dinding maupun di atas atap digunakan klem-klem yang ditinggikan. Jarak antara klem dengan klem sejauh-jauhnya 1 (satu) meter. Kawat penghantar harus ditarik cukup kencang. Tinggi klem harus dibuat sama agar pemasangan terlihat rapih.

Belokan-belokan penghantar harus dijaga jangan sampai terjadi retakretak (belokan jangan terlalu tajam).

Judul Modul : Menginspeksi Penangkal/Penangkap Petir

Gambar 14 Klem Penyangga

b. Tingkat pengamanan IP

Tingkat Pengamanan ( IP ) sistem penangkal petir adalah IP dengan indeks tidak ada pengamanan khusus karena instalasi tersebut tidak harus dihindari dari :

1) Air 2) Debu

4. Rangkaian Listrik (Tahanan Pembumian, Tahanan Isolasi, Polaritas) pada Penangkal/Penangkap Petir

Pemeriksaan dan pengujian pemasangan penangkal petir dilakukan pada seluruh sistem, meliputi :

a. Pemasangan dan pengujian grounding.

b. Pemasangan sela batang (logam penangkap petir).

c. Pemasangan saluran penghantar arus petir Gambar 15

Sistem Penangkal Petir yang Perlu Dilakukan Pemeriksaan dan Pengujian

Cara pemeriksaan dan pengujian meliputi :

a. Penanaman grounding rod diuji dengan pengamatan dan alat ukur earth tester.

Untuk mengetahui apakah grounding sistem tersebut sudah terpasang pada tempat yantg tepat dan tidak terganggu. Apakah grounding sistem sudah mendapatkan ukuran yang tepat serta sudah mencapai titik resistansi tanah yang dipersyaratkan.

b. Logam penangkap (sela batang) diuji dengan pengamatan. Apakah sela batang sudah terpasang pada tempat yan tepat, terpasang kokoh serta bediri tegak lurus, sehingga nantinya dapat melindungi seluruh bangunan dari arus petir.

c. Kawat penghantar saluran arus petir diperiksa secara fisik. Pengujian dapat dilakukan dengan memeriksa sambungansambungan kawat penghantar dengan sela batang dan kawat penghantar dengan grounding(pembumian). Kawat penghantar harus benar-benar terpasang kuat dan lurus.

d. Klem penyangga. Pengujian secara fisik pada klem penyangga kawat penghantar, yang digunakan untuk memisahkan kawat penghantar dengan bangunan. Klem penyangga harus terpasang kokoh dan dengan jarak yang sama antara satu dengan yang lainnya.

Cara Memastikan Tahanan Pembumian

Memastikan pengukuran tahanan Pembumian dalam Sistem Penangkal/

Penangkap Petir (SPP) merupakan syarat utama untuk kelayakan grounding pada SPP yang standart (PUIL 2000) pada suatu instalasi penangkal petir. Ketentuan PUIL untuk tahanan pembumian yang dipersyaratkan untuk instalasi penangkal petir, yakni kurang dari 5 Ohm. Berikut gambar Eart Tester dan cara pengukurannya di bawah ini dengan baik.

Ada berbagai merk dan seri produk peralatan tester ini, salah satunya adalah Digital Earth Tester Meter Kyoritsu 4105a.

Prosedur yang harus diperhatikan dalam Earth Tester :

a. Tempatkan batang bantu pada satu garis lurus dengan elektrode bumi dengan jarak masing-masing 5 sampai 10 meter.

b. Tancapkan bila perlu dengan memukulnya dengan palu, c. Periksa apakah semua kabel sudah dikaitkan dengan baik,

d. Putar sakelar pemilih ke salah satu skala pilih (20, 200, atau 2000 Ohm) sampai terlihat angka 000 pada monitor,

Judul Modul : Menginspeksi Penangkal/Penangkap Petir

e. Tekan dan putar ke kanan tombol uji (sebelah kiri bawah) sampai lampu LED-nya meLED-nyala,

f. Bacalah angka yang tertera, perbedaan skala pilih hanya membedakan digit angka di belakang koma saja, hasil yang Saudara lihat adalah pada skala Ohm, dan

g. Bila sudah selesai, putar kembali sakelar pemilih ke arah OFF dan tekan kembali tombol uji.

Gambar 16 Alat Ukur Earth Tester

OFF

Cara Memastikan Tahanan Isolasi

Pada pengoperasian Penangkal/ Penangkap Petir, selain memastikan Tahanan Pembumian untuk grounding sistem yang standar, juga perlu memastikan tahanan isolasi kawat/ kabel penghantar pembumian. Ketentuan besarnya tahanan isolasi yang dipersyaratkan dalam PUIL 2000 adalah sebesar 1000  setiap volt-nya. Alat ukur untuk memastikan tahanan isolasi menggunakan alat Megger (Isolasi Meter).

Megger satuannya mega ohm, karena itu alat ini sering juga disebut dengan mega ohm meter (Megger).

Gambar 17 Alat Ukur Megger

Gambar diatas adalah salah satu gambar megger jenis mekanik Yokogawa Type 3221 Handle Speed 120 rpm, yang didalamnya terdapat pembangkit listrik (dinamo) yang dapat mengeluarkan arus listrik DC atau aliran rata/searah dengan kemampuan maksimum 500 V dan kemampuan batas ukur sebesar 1000 M.

Selain jenis mekanik juga ada jenis megger transistorized (jenis elektronik) yang menggunakan tenaga listrik sebesar 220 V AC.

Ketentuan besarnya tahanan isolasi yang dipersyaratkan dalam PUIL adalah sebesar 1000  setiap voltnya. Hal tersebut dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Bila instalasi listrik yang menggunakan tegangan kerja sebesar 220 V, maka besar tahan isolasi (phase nol/arde) penghantar yang tidak terhubung secara langsung yang memenuhi syarat minimum sebesar 220 x 1000  = 220.000  = 0,22 M.

Jadi bila tahanan isolasi jaringan tersebut kurang dari 0,22 M berarti tahanan kurang baik (kurang dari yang dipersyaratkan), sebaliknya jika nilai tahanan dari pengukuran tersebut lebih besar dari yang disyaratkan berarti tahanan isolasinya dalam keadaan baik atau telah memenuhi syarat.

Pada pemasangan instalasi pemasangan penangkal/ penangkap petir, Megger digunakan lebih mengarah pada pengecekan hubungan penghantar fasa dengan penghantar Grounding, dan hubungan penghantar Netral dengan penghantar Grounding.

a. Fasa – PE  Nilai ~ (Mendekati Tak Hingga) b. Netral – PE  Nilai ~ (Mendekati Tak Hingga)

5. Cara Memastikan Pengukuran Penangkal/Penangkap Petir yang Dilakukan oleh Pemasang Telah Sesuai Persyaratan

Setiap pengukuran penangkal/penangkap petir oleh pemasang perlu dipastikan apakah hasil pengukuran sudah sesuai dengan persyaratan yang berlaku. Cara memastikannya adalah dengan membandingkan data dengan peraturan dan persyaratan yang berlaku sehingga didapatkan kepastian mengenai kelayakan dari sistem penangkal petir tersebut.

Dalam setiap kegiatan inspeksi yang dalam hal ini instalasi sistem penangkal petir, perlu mempertimbangkan segala ketentuan yang ada baik yang mengacu kepada PUIL 2000 juga peraturan dari instansi terkait yakni :

Judul Modul : Menginspeksi Penangkal/Penangkap Petir

a. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. PER.02/MEN/1989 tentang Pengawasan Instalasi Penyalur Petir.

b. Kepmen ESDM nomor 1109K/30/MEM/2005 tentang penunjukan KONSUIL c. UU No. 15/1985 tentang Ketenagalistrikan

B. Keterampilan yang Diperlukan dalam Menginspeksi Pekerjaan

1. Menerapkan peraturan dan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja pekerjaan inspeksi.

2. Memeriksa dan menguji instalasi penangkal/penangkap petir dan kelengkapannya sesuai prosedur inspkesi.

3. Memeriksa komponen penangkal/penangkap petir dan tingkat pengamanan (IP)-nya sesuai standar.

4. Mengukur rangkaian listrik (tahanan pembumian, tahanan isolasi, polaritas) pada penangkal/penangkap petir sesuai persyaratan.

5. Memastikan pengukuran penangkal/penangkap Petir yang dilakukan oleh pemasang telah sesuai persyaratan.

C. Sikap kerja yang Diperlukan dalam Menginspeksi Pekerjaan Harus bersikap secara:

1. Sesuai prosedur dalam menerapkan peraturan dan prosedur K3 pekerjaan inspeksi serta memeriksa dan menguji instalasi penangkal/penangkap petir dan kelengkapannya.

2. Teliti dalam memeriksa dan menguji instalasi penangkal/penangkap petir dan kelengkapannya, memeriksa komponen penangkal/penangkap petir dan tingkat pengamanan (IP)-nya, mengukur rangkaian listrik pada penangkal/penangkap petir serta memastikan pengukuran penangkal/ penangkap Petir yang dilakukan oleh pemasang.

3. Sesuai standar dalam memeriksa komponen penangkal/penangkap petir dan tingkat pengamanan (IP)-nya.

4. Tepat dan sesuai syarat dalam mengukur rangkaian listrik pada penangkal/penangkap petir.

5. Cermat dalam memastikan pengukuran penangkal/penangkap petir yang dilakukan oleh pemasang.

BAB IV

MEMBUAT LAPORAN

A. Pengetahuan yang Diperlukan dalam Membuat Laporan 1. Prosedur dan Format Membuat Laporan Pemeriksaan

Laporan dipergunakan untuk mempresentasikan/menyajikan informasi-informasi faktual secara ringkas (concise) dan akurat, tanpa rincian-rincian yang tidak relevan. Tujuannya untuk membantu dalam pengambilan keputusan, menetapkan perubahan dan atau peningkatan (improvement) serta pemecahan masalah.

Laporan memuat fakta logis yang berurutan, yang dinyatakan tanpa keterlibatan personal dan dipengaruhi oleh subjektivitas penulisnya.

Susunan Suatu Laporan

Jika membuat laporan, maka maka harus jelas dalam pikiran anda, apa yang akan disampaikan dan bagaimana susunannya. Susunan suatu laporan dapat terdiri atas:

a. Heading

Laporan hendaknya mempunyai heading, yang menjelaskan sementara kepada pembaca, tentang apa laporan tersebut. Dengan heading juga ada catatan kecil yang menyatakan kepada siapa laporan tersebut ditujukan.

b. Pendahuluan

Meskipun tidak terlalu panjang, pendahuluan suatu laporan adalah sangat penting, karena akan memberikan “over view” tentang isi laporan, dan pembaca akan mengetahui apakah laporan tersebut berkenaan dan berkepentingan dengannya. Pendahuluan harus akurat dan tidak boleh menyimpang, dan menyatakan secara singkat isi dan maksud laporan

c. Isi laporan

Isi laporan biasanya merupakan bagian terbesar dari suatu laporan, yang secara jelas menyatakan masalah dan segala sapek yang berkaitan dan juga berisinkan analisis masalah, sifat masalah dan penyebabnya. Karena masalah yang dilaporkan berbeda-beda, maka tidak ada ketentuan yang baku untuk menulis isi laporan. Masing-masing laporan mempunyai kepentingan yang berbeda, jika perlu dibagi kedalam judul dan sub-judul.

Judul Modul : Menginspeksi Penangkal/Penangkap Petir

Isi laporan memuat semua informasi yang penting. Jika memuat banyak hal, jangan ragu-ragu untuk membuat judul-judul dan sub judul, sehingga jelas bagi yang membuatnya maupun yang harus membaca dan memahaminya. Dalam laporan pemeriksaan isi laporan ini biasanya termuat beberapa data :

1). Gambar instalasi listrik.

2). Data pelanggan 3). Sketsa denah lokasi.

4). Data hasil Pemeriksaan

5). Foto-foto hasil pemeriksaan (bila diperlukan).

Laporan pemeriksaan dan pengujian dibuat sesingkat mungkin, hanya memuat hal-hal yang esensiil saja.

d. Kesimpulan

Kesimpulan akan menyimpulkan semua informasi yang telah dikumpulkan di dalam isi laporan. Kadang-kadang kesimpulan dapat diitemasi, sehingga pembaca dapat lebih mudan menemukan dan mengikutinya serta memahaminya. Yang penting adalah bahwa kesimpulan harus konsisten dengan apa yang telah ditulis dalam laporan. Jika tidak, laporan akan kehilangan kredibilatasnya. Jika laporan cukup singkat dan hanya berkenaan dengan satu masalah yang sederhana, maka kesimpulannya mungkin termasuk rekomendasi dan saran-saran. Tetapi jika laporan cukup panjang, dan berkaitan dengan sejumlah masalah dan kemungkinan, maka rekomendasi dapat ditempatkan pada judul lain yang terpisah. Jika ada saran-saran berkenaan dengan sejumlah point dan digabungkan dengan kesimpulan, laporan akan nampak kacau balau dan pembaca tidak akan memperoleh gambaran yang jelas tentang apa yang ingin anda sampaikan.

e. Rekomendasi

Rekomendasi adalah suatu saran. Rekomendasi yang anda buat haruslah menyuarakan dan berdasarkan pada fakta yang ada pada isi laporan.

Rekomendasi dapat diitemasi . Saran yang anda ajukan harus didefinisikan dengan baik, ringkas dan menyampaikan ide secara tepat.

f. Penutup laporan

Penutup laporan adalah penanda tanganan. Anda harus menuliskan nama dan seksi/bagian dari mana anda berasal, kemudian tanda tangan atas nama anda

sendiri. Jika laporan telah selesai dibuat/ditulis, baca kembali untuk memeriksa kesalahan ejaan, dan ketidak tepatan tata bahasa. Adalah hal yang baik jika orang lain suruh membaca dan memeriksa. Orang lain biasanya lebih objektif dari pada penulisnya sendiri.

Contoh Form Inspeksi Pengujian Insatalasi Penangkap Petir :

MATA UJI PROSEDUR UJI KRITERIA HASIL UJI a. Penghantar SPP

2. Cara Mengisi Berita Acara Pemeriksaan

Berita acara pemeriksaan adalah laporan kegiatan yang memuat keterangan meliputi: nama kegiatan, orang yang melaksanakan pemeriksaan, pemilik rumah, waktu pelaksanaan pemeriksaan, dan tahap tahap kegiatan yang dilakukan dari awal hingga selesainya pelaksanaan pekerjaan tersebut. Setelah petugas pemeriksa selesai melaksanakan pemeriksaan dan megisi Form Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP), kemudian meminta tandatangan dari pemilik rumah (atau wakilnya) sebagai saksi yang melihat bahwa pekerjaan Pemeriksaan Instalasi Penangkap petir telah dilaksanakan. Apabila pemasang instalasi yang bersangkutan turut hadir, maka pemasang tersebut juga bertindak sebagai saksi.

Judul Modul : Menginspeksi Penangkal/Penangkap Petir

Contoh Format Berita Acara Pemeriksaan :

BERITA ACARA

PEMERIKSAAAN SISTEM PENANGKAL PETIR

Pada hari ini, ... tanggal ... bulan ... tahun ... yang bertandatangan dibawah ini :

Berdasarkan SPPI (Surat Permohonan Pemeriksaaan Instalasi) pada alamat berikut : ...

Dinyatakan hasil pemeriksaaan sebagai berikut :

Kaji ulang (review) dan verifikasi kesesuaian spesifikasi peralatan ataupun sistem instalasi dengan dokumen teknis ( Sesuai / Tidak )

Pengamatan visual terhadap peralatan dan sistem instalasi, dan identifikasi

obyek ( Sesuai / Tidak )

Perbandingan data lapangan dan teknis ( Sesuai / Tidak )

Pengamatan visual terhadap peralatan dan sistem instalasi, dan identifikasi

obyek ( Sesuai / Tidak )

Analisa kelayakan instalasi penangkal petir

_____________________________________________________________

_____________________________________________________________

_____________________________________________________________

_____________________________________________________________

_____________________________________________________________

_____________________________________________________________

Demikian BERITA ACARA ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

Kab/Kota, Tanggal Pemeriksaan

Pihak Pertama Pihak Kedua

(...) (...)

B. Keterampilan yang Diperlukan dalam Membuat Laporan

1. Membuat laporan pemeriksaan sesuai prosedur dan format yang berlaku.

2. Mengisi berita acara pemeriksaan sesuai dengan prosedur dan format yang berlaku dan ditanda tangani oleh pihak yang terkait.

C. Sikap kerja yang Diperlukan dalam Membuat Laporan Harus bersikap secara :

1. Tepat dalam membuat laporan pemeriksaan;

2. Teliti dan cermat dalam mengisi berita acara pemeriksaan.

Judul Modul : Menginspeksi Penangkal/Penangkap Petir

DAFTAR PUSTAKA

A. Dasar Perundang-undangan

1. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. PER.02/MEN/1989 tentang Pengawasan Instalasi Penyalur Petir.

2. Kepmen ESDM nomor 1109K/30/MEM/2005 tentang penunjukan KONSUIL 3. UU No. 15/1985 tentang Ketenagalistrikan

B. Buku Referensi

1. Abdul Hadi, Ir., Sistem Distribusi Daya Listrik, Erlangga, 1991 2. Neidle, Michael, Instalasi Listrik, Erlangga, 1984

3. Rusmadi, Dedy, Belajar Instalasi Listrik, Pionir Jaya, 2006 C. Majalah atau Buletin

1. –

D. Referensi Lainnya

1. Lukmantara, Adeng. 2014. System Penangkal Petir.

http://aloekmantara.blogspot.co.id/2014/05/system-penangkal-petir-2.html Diakses pada tanggal 11 september 2015.

2. Anonim. (2014). Cara Melakukan Pengujian Tahanan Pentanahan.

http://www.bloganton.info/2013/08/cara-melakukan-pengujian-tahanan.html

http://www.bloganton.info/2013/08/cara-melakukan-pengujian-tahanan.html

Dokumen terkait