BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian dan Pembahasan
1. Pembina Membangun Komunikasi Interpersonal yang
1.3 Sikap Mendukung (supportiveness)
Pada aspek sikap mendukung ini yang menjadi fokus pertanyaan penulis kepada narasumber baik pembina maupun santri ialah sikap saling membangun untuk dapat berubah ke arah yang lebih baik, juga upaya santri untuk saling mendukung satu sama lain dalam segala hal kendala yang dihadapi ataupun motivasi yang ia miliki dalam menjalankan proses pendidikan di pesantren Sultan Hasanuddin.
Hubungan interpersonal yang efektif menurut Josep A. Devinto adalah
hubungan di mana terdapat sikap mendukung (supportiveness) artinya masing-masing
pihak yang berkomunikasi memiliki komitmen untuk mendukung terselenggaranya
Dari hasil wawancara penulis kepada narasumber mengenai aspek sikap mendukung dalam hal harapan pembina kepada santri dan pemberian motivasi kepada santri, selaku penulis saya menitiberatkan bagaimana upaya pembina dan orang tua santri mendukung pembinaan karakter santri, salah satu informan mengatakan bahwa;
“Bentuk dukungan kami kepada santri itu harus tetap menjaga komunikasi kepada orang tua santri agar terjalin pembinaan karakter berkelanjutan, komunikasi yang kami bangun yaitu ada yang langsung dan tidak langsung yaitu. Pertama;Yang langsung misalnya tatap muka maupun lewat telpon untuk emberikan informasi perihal kepada anaknya. Kedua; Yang tidak langsung kami maksud adalah memberikan informasi berupa kertas atau surat pemberitahuan tentang keadaan anaknya sehingga orang tua mampu membina dan mampu bekerja sama membangun akhlak”.20
Informan yang berbeda mengatakan :
“Di pesantren telah dibentuk organisasi yang dinamakan fokus (forum komunikasi orang tua santri/wati). Fokus ini bertujuan agar para pembina dan orang tua bisa saling berkomunikasi tentang perkembangan santri/wati selama di pondok”.21
Hal yang sama juga penulis dapatkan saat mewancarai pembina yang lain,
beliau mengatakan bahwa:
“Membangun komunikasi dengan orang tua santri dalam membentuk karakter itu di setiap bulannya itu seluruh santri/wati memiliki jadwal perpulangan. Jadi, untuk membangun karakter akhlak seorang santri ketika mereka pulang kami memberikan surat izin, di dalam surat izin itu terdapat kesan dan pesan sehingga ketika mereka datang atau kembali ke pondok pesantren setiap orang tua wajib mengisi kesan dan pesan yang ada pada surat izinnya. Di situlah komunikasi yang kami jalin sehingga apapun yang terjadi di pesantren Sultan Hasanuddin ini niat kami untuk membangun karakter akhlak santri”.22
20
Helmi Riyadusshalihin, Pembina Santri,Wawancara, Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (13 Oktober 2016)
21
Ilmy Khariyah Syam, Pembina Santriwati,Wawancara, Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (13 Oktober 2016)
22
Awaluddin K, Pembina Santri, Wawancara, Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (13 Oktober 2016)
Mencermati hasil wawancara di atas menjelaskan bahwa diperlukan sikap
saling mendukung antara pembina dengan orang tua santri sebagai wujud dukungan
nonmateri dalam pembinaan karakter santri dalam penanaman nilai-nilai akhlak.
Pentingnya sikap saling mendukung dalam penanaman akhlak, memberikan
dorongan penulis untuk melihat efeknya dalam terbentuknya akhlak, yang ditinjau
dari aspek dukungan, hasil wawancara penulis kepada santri untuk aspek mendukung,
salah satu informan mengatakan bahwa:
“Salah satu wujud dukungan yang diberikan oleh pembina kepada saya jika saya berprestasi, pembina senantiasa mendorong saya lebih baik lagi dan jangan patah semangat apabila kita berprestasi maka bersyukurlah dan apabila kita runtuh atau gagal maka jangan patah semangat”.23
Selain itu, Informan lainnya mengatakan sebagai berikut:
“Memberikan penghargaan bagi kami adalah salah satu wujud dukungan jikalau kita berprestasi”.24
Sementara itu informan yang lain juga menuturkan bahwa:
“Mereka selalu memberikan selamat pada saya dan juga selalu mengatakan pertahankan-pertahankan nak dan jangan bersikap sombong jika kamu meraih sesuatu yang berprestasi”.25
Selain itu, Informan lainnya mengatakan sebagai berikut:
“Semacam penghargaan, di sini juga apabila kita menghafal 1 jus maka kita dibebaskan pembayaran uang spp selama satu bulan maka dari situ kita termotivasi untuk lebih banyak menghafal”.26
Dalam kasus yang berbeda, informan mengatakan:
23
Reynaldi Wahab, Santri kelas XII Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin, Wawancara, Depan Asrama (13 Oktober 2016)
24
Muhammad Nur Rasuli Muslimin, kelas X Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin,Wawancara, Lapangan Pondok Pentren Sultan Hasanuddin (13 Oktober 2016)
25
Nur Isna, Santriwati kelas XI Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin, Wawancara, Lapangan Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (13 Oktober 2016)
26
Widya Awalia Wahid, Santriwati kelas X Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin,Wawancara, Lapangan Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (13 Oktober 2016)
“Di sini kalau orang berprestasi kak diberi reward tapi kalau ada yang tidak patuh aturan, yah diberi hukuman tapi hukuman yang mendidik kak, bahkan pelanggaran bahasa saja kita diberi tulisan yang di pakai di leher biar menjadi bentuk hukuman sosial menjadi pelajaran biar tidak pake bahasa Indonesia lagi, belum lagi kalau ada yang terlambat masuk pondok diberi jilbab warna warni biar berusaha tidak terlambat dan menjadi pelajaran buat semua”.27
Dari hasil wawancara tersebut, kami bisa melihat bahwa dalam membangun
hubungan interpersonal dalam penanaman akhlak, selain komunikasi dengan orang
tua juga upaya pembina memberikan reward kepada santri yang berprestasi sebagai
upaya untuk memberikan kepercayaan santri atas kebaikan akhlaknya bahkan dari sisi
lain apabila santri ada yang tidak mematuhi aturan, pembina memberikan
pendampingan akhlak untuk memperbaiki perilaku santri. Melihat dari umpan balik
yang diberikan santri, saya selaku penulis melihat aspek sikap saling mendukung ini
berjalan maksimal dan penting dalam membangun komunikasi pembina dan santri
dalam penanaman akhlak, tanpa adanya sikap saling mendukung antara pembina
dengan santri maka upaya pembina dalam penanaman akhlak akan menjadi kendala.
1.4 Sikap Positif (positiviness)
Pada aspek sikap positif (positivisme) ini yang menjadi fokus pertanyaan penulis kepada narasumber baik pembina maupun santri ialah sikap positif untuk dapat berubah ke arah yang lebih baik, upaya pembina dengan santri untuk berfikiran positif terhadap orang lain agar dalam kesehariannya berjalan dengan baik.
Sikap positif dapat ditunjukkan dengan berbagai macam perilaku dan sikap,
antara lain:
27
Meirisfa, Santriwati kelas XII Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin, Wawancara, Lapangan Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (13 Oktober 2016)
1) Menghargai orang lain
2) Berfikiran positif terhadap orang lain
3) Tidak menaruh curiga secara berlebihan
4) Meyakini pentingnya orang lain
5) Memberikan pujian dan penghargaan
6) Komitmen menjalin kerjasama
Dari hasil wawancara penulis kepada narasumber mengenai aspek sikap positif (positivisme) dalam hal harapan pembina kepada santri untuk selalu menanamkan dalam dirinya sikap positif atau berfikiran baik kepada sesama , salah satu informan mengatakan bahwa;
“Tentunya harapan kami pembina terhadap santri harus jadi santri berakhlak: bisa mengaplikasikan pelajaran-pelajaran yang mereka dapatkan di sekolah dalam kehidupan sehari-hari”.28
Sementara itu informan yang lain juga menuturkan bahwa:
“Harapan saya adalah agar kelak para santriwati mampu menjadi seorang pendidik bagi anak-anaknya kelak dalam keluarga, masyarakat sekitar ataupun menjadi pemimpin bagi bangsa yang selalu menegakkan ukhuwah islamiyah dan menjadi surih tauladan yang baik”.29
Harapan yang sama juga penulis dapatkan saat mewancarai pembina yang
lain, beliau mengatakan bahwa:
“Harapan saya mereka bisa menjadi anak yang sholeh-sholeha, bermanfaat kepada orang lain, berbakti kepada kedua orang tua dan bermanfaat bagi nusa dan bangsa kita termasuk agama kita”.30
28
Helmi Riyadusshalihin, Pembina Santri,Wawancara, Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (13 Oktober 2016)
29
Ilmy Khariyah Syam, Pembina Santriwati,Wawancara, Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (13 Oktober 2016)
30
Awaluddin K, Pembina Santri, Wawancara, Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (13 Oktober 2016)
Mencermati hasil wawancara di atas menjelaskan bahwa diperlukan sikap positif (positivisme)antara pembina dengan santri dalam penanaman nilai-nilai akhlak. Pentingnya sikap positif dapat diwujudkan dengan cara memposisikan santri sebagai
objek penting dalam hal pembinaan karakter. Sejauh penemuan penulis, penulis
melihat aspek sikap positif terhadap santri ditunjukkan tidak hanya menjalin
kerjasama dengan santri sikap menghargai kepada santri, sikap mendukung
pengembangan kualitas santri dan menjadi budaya memberikan penghargaan kepada
santri sebagai wujud dukungan pembina/pesantren kepada santri, hal ini memberikan
feedbackyang baik sebagaimana yang dikatakan oleh informan bahwa:
“Saya merasa senang sekali mendapat pembinaan dari pembina karena mengapa pembinaan dari pembinalah yang terbaik bagi saya”.31
Selain itu, Informan lainnya mengatakan sebagai berikut:
“Iya tentu saya merasa senang karena berkat pembinaan dari pembina saya bisa berubah sikap dan sifat saya jadi lebih baik lagi”.32
Sementara itu informan yang lain juga menuturkan bahwa:
“Saya merasa senang mendapatkan pembinaan dari pembina karena lewat itu kita dapat mengetahui apa kesalahan kita dan kita juga dibimbing untuk memperbaiki kesalahan tersebut”.33
Dari hasil wawancara tersebut, kami bisa melihat bahwa adanya sikap positif
(positivisme) antara pembina dengan santri untuk mendekatkan seseorang pada
keberhasilan, mewujudkan keinginan-keinginan mereka. Memiliki sikap positif
sebagai bagian dari usaha meraih sukses, bahwa pikiran positif dapat membantu
31
Reynaldi Wahab, Santri kelas XII Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin, Wawancara, Depan Asrama (13 Oktober 2016)
32
Andi Fajrin Ali, Santri kelas XI Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin, Wawancara, Depan Asrama Pembina (13 Oktober 2016)
33
Meirisfa, Santriwati kelas XII Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin, Wawancara, Lapangan Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (13 Oktober 2016)
seseorang meraih kesuksesan dan lebih percaya dalam diri santri dalam penanaman
nilai-nilai akhlak, tanpa adanya positif (positivisme) antara pembina dengan santri
maka upaya pembina dalam penanaman akhlak akan menjadi kendala.
1.5 Kesetaraan (equity)
Pada aspek yang terakhir ini sikap kesetaraan (equity) ini sesuai arahan Josep A. Devinto dalam bukunya ialah sikap dapat menerima masukan dari orang lain, serta berkenaan menyampaikan informasi penting kepada orang lain. Dalam setiap situasi, barangkali terjadi ketidaksetaraan. Salah seorang mungkin lebih pandai, lebih kaya,
lebih cantik atau lebih tampan daripada yang lain. Tidak pernah ada dua orang yang
benar-benar setara. Terlepas dari ketidaksetaraan ini, komunikasi interpersonal akan
lebih efektif bila suasananya setara artinya, pengakuan bahwa kedua belah pihak
memiliki kepentingan, kedua belah pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan
saling memerlukan. Kesetaraan tidak mengharuskan kita menerima dan menyetujui
begitu saja semua perilaku verbal dan nonverbal pihak lain. Kesetaraan berarti kita
menerima pihak lain.
Dari hasil wawancara penulis kepada narasumber mengenai aspek sikap kesetaraan (equity) dalam hal harapan pembina kepada santri dan pemberian motivasi kepada santri yang kurang disiplin, salah satu informan mengatakan bahwa;
“Dalam pemberian motivasi dan pembinaan kepada santri tentu tidak sama tiap orang akan tetapi kami selaku pembina menjunjung tinggi nilai keadilan, karena di pondok ini ada kurang lebih 600 santri berarti kurang lebih juga 600 watak dan berbeda-beda juga caranya bertindak, berpikir, berperilaku, sehingga untuk menghadai mereka harus dengan cara yang berbeda juga. Kalau ada santri yang butuh motivasi baru mau bergerak kita akan berikan motivasi dan nanti ada
santri diberi sanksi baru mau baik kita akan berikan sanksi dan harus berpariatiflah sesuai dengan keadaan santri itu”.34
Sementara itu informan yang lain juga menuturkan bahwa:
“Tentunya kami di sini berbeda pikiran, berbeda karakter tetapi visi dan misi kami sama”.35
Mencermati hasil wawancara di atas menjelaskan bahwa diperlukan sikap kesetaraan (equity) dari pembina kepada santri dengan santri yang lain dalam penanaman nilai-nilai akhlak. Pentingnya sikap kesetaraan (equity) atau kesedarajatan merupakan suatu sikap untuk mengakui adanya persamaan derajat, hak dan kewajiban sebagai sesama santri. Dapat diwujudkan dengan cara adanya persamaan dalam diri santri untuk mondok di pesantren Sultan Hasanuddin dalam penanaman akhlak,
memberikan dorongan penulis untuk melihat efeknya dalam terbentuknya akhlak,
hasil wawancara penulis kepada santri untuk aspek sikap kesetaraan (equity), salah satu informan mengatakan bahwa:
“Kalau ditanya soal keadilan pembina semua disini kak rataji caranya membina, tidak ada yang istimewa kalau salah dihukum dan hukumannya itu hukuman mendidik, paling disuruh hafal mufradat (kuasa kata) atau disuruh membersihkan tapi kalau berprestasi orang, pesantren itu kirimki sampai ke tingkat nasional misalnya lomba pencak silat, kaligrafi dan lainnya”.36
Dari hasil wawancara tersebut, kami bisa melihat bahwa adanya kesetaraan
(equity) dalam penanaman akhlak, pembina kepada santri, dengan kesetaraan
menunjukkan adanya tingkatan yang sama, kedudukan yang sama, tidak lebih tinggi
34
Helmi Riyadusshalihin, Pembina Santri,Wawancara, Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (13 Oktober 2016)
35
Awaluddin K, Pembina Santri, Wawancara, Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (13 Oktober 2016)
36
Reynaldi Wahab, Santri kelas XII Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin, Wawancara, Depan Asrama (13 Oktober 2016)
atau lebih rendah antara satu sama lain. Ini tergambar dari umpan balik yang
diberikan santri, saya selaku penulis melihat aspek kesetaraan (equity) ini telah
ditunjukkan oleh pembina dalam membina di pondok pesantren Sultan Hasanuddin.
Kesetaraan ini dipraktekkan oleh pembina dalam membangun komunikasi
interpersonal, bahwa nilai kesetaraan tetap diutamakan akan tetapi tentulah pembina
dalam memberikan pembinaan kepada santri tidak sama kepada setiap idividu
diakibatkan oleh adanya perbedaan karakter tiap santri.
Kesetaraan ini juga menjadi nilai yang dipegang oleh pembina untuk tidak
menganggap ada yang istimewa dari santri, baik itu yang mampu atau tidak mampu
dan aspek lainnya karena, bagi pembina nilai kesetaraan adalah nilai yang utama
dalam memberikan penanaman akhlak kepada santri. Jika pembina tidak adil maka
akan menjadi cela/contoh yang buruk bagi santri kepada terhadap pembinannya.
2. Penunjang dan Kendala Komunikasi Interpersonal antara Pembina dengan Santri dalam Penanaman Nilai-nilai Akhlak di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin
1.1 Penunjang Komunikasi Interpersonal antara Pembina dengan Santri
Ada beberapa faktor pendukung/penunjang terwujudnya komunikasi
interpersonal antara pembina dengan santri dalam penanaman nilai-nilai akhlak di
Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin. Faktor pendukung/penunjang yang dimaksud
di sini ada 3, yaitu:
Pertama, komunikasi (berupa; nasehat, arahan, dan sejenisnya) yang
dilakukan pembina tidak terkesan memaksa santri, sehingga santri tidak merasa
perlu memposisikan diri sebagai teman atau sahabat supaya santri bisa lebih terbuka
mengutarakan masalahnya. Selain itu, pembina perlu menyelipkan humor/candaan
dalam melakukan bimbingan dan pembinaan agar santri merasa nyaman ketika
mendapatkan bimbingan dan pembinaan tersebut. Hal ini dinyatakan oleh ustad
Helmi Riyadusshalihin selaku pimpinan kampus santri. Pembina dalam memberikan
bimbingan/pembinaan kepada santri terkadang menyelipkan humor agar santri yang
ia bimbing mau mengutarakan masalah yang ia hadapi secara terbuka.
“Pertama saya memposisikan sebagai teman atau sahabat sehingga dia mau terbuka lagi. Terkadang ada santri yang mau terbuka ketika diselipi dengan humor, tapi banyak juga santri yang terbuka ketika formal”.37
Kedua, pembina sudah mengetahui latar belakang, kepribadian, dan
kehidupan santri di pondok. Hal ini dikarenakan, merekalah yang mendampingi
kehidupan santri di pondok selama 24 jam. Dengan demikian, mereka sudah tidak
asing lagi dengan kebiasaan santri. Jadi, ketika memberikan bimbingan kepada santri,
mereka mempertimbangkan hal tersebut agar santri dapat menerima bimbingan
tersebut tanpa merasa terpaksa.
“Jadi hampir semua kehidupan santriwati kita tahu mulai dari kehidupan di rumahnya karena kita selalu berkomunikasi dengan orang tua santriwati dan di sini juga kita tinggal 24 jam sama-sama.
Di samping kita sama-sama tinggal 24 jam di pondok, kita juga sering komunikasi dengan pembina lain dan laporan dari pengurus”.38
Selain itu, para pembina di Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin itu
mayoritas nya adalah alumni dari pesantren sendiri. Sehingga sudah ada gambaran
dalam diri mereka mengenai kehidupan santri di pondok. Hal ini sangat membantu
37
Helmi Riyadusshalihin, Pembina Santri,Wawancara, Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (23 September 2016)
38
Suhaeni, Pembina Santriwati,Wawancara, Koperasi Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (25 September 2016)
mereka dalam menentukan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah yang
dihadapi oleh santri. Seperti yang diungkapkan oleh ustad Helmi Riyadusshalihin:
“Saya pernah mengalami dan merasakan apa yang mereka alami dan rasakan selama di pondok, sehingga saya hanya mengulang, bercerita, berbagi pengalaman tentang apa yang saya pernah rasakan di pondok”.39
Ketiga, adanya koordinasi yang baik antara pembina dengan pengurus OSPSH
(Organisasi Santri/Wati Pesantren Sultan Hasanuddin). Dengan adanya koordinasi
ini, perilaku santri/wati bisa terpantau oleh pembina, baik secara langsung (melalui
pengamatan pembina sendiri), ataupun tidak langsung (melalui pengamatan pengurus
OSPSH). Hal ini diakui oleh Ustadz Helmi Riyadusshalihin dalam pernyataannya:
“Harus, karena dengan hubungan tercipta hal yang baik, karena interaksi lewat hubungan terjalin pendidikan, terjalin pesan dan banyak hal yang terjadi”.40
Hal yang sama juga diutarakan oleh Muhammad Nur Rasuli Muslimin selaku
salah satu pengurus OSPSH (Organisasi Santri/Wati Pesantren Sultan Hasanuddin).
Ia mengatakan bahwa:
“Jika sebuah masalah menyangkut dengan pondok, saya akan menceritakannya, sedangkan kalau masalah yang bersifat pribadi saya tertutup”.41
Dari wawancara tersebut kami melihat bahwa pentingnya koordinasi antara
berbagai pihak dalam pondok pesantren baik itu dari unsur santri, pembina bahkan
pengurus pondok pesantren Sultan Hasanuddin sangat vital untuk dilakukan karena
39
Helmi Riyadusshalihin, Pembina Santri,Wawancara, Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (23 September 2016)
40
Helmi Riyadusshalihin, Pembina Santri,Wawancara, Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (23 September 2016)
41
Muhammad Nur Rasuli Muslimin, kelas X Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin,Wawancara, Lapangan Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (24 September 2016)
tanpa adanya kordinasi yang baik maka tidak terwujud keselarasan antara berbagai
pihak.
Sementara jika koordinasi itu berjalan maksimal maka yang terjadi adalah
adanya kesatu pahaman, sinergitas yang bermuara kepada penanaman akhlak yang
baik terhadap santri Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin.
1.1 Kendala Komunikasi Interpersonal antara Pembina dengan Santri
Komunikasi interpersonal antara pembina dengan santri dalam penanaman
nilai-nilai akhlak di Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin memiliki beberapa kendala
dalam pelaksanaanya. Kendala-kendala yang dijumpai adalah sebagai berikut.
a. Oknum santri yang tidak bisa bertahan hidup di pondok
b. Oknum santri yang tidak memperdulikan aturan-aturan pesantren
Kedua kendala di atas merupakan kendala klasik yang sering dijumpai di
lembaga pendidikan berbasis pondok. Oknum santri yang tidak bisa bertahan di
pondok dan yang tidak memperdulikan aturan-aturan pesantren cenderung untuk
tidak mengindahkan nasehat, arahan, dan bimbingan yang diberikan oleh pembina.
Seperti yang dikutip oleh pernyataan ustad Helmi Riyadusshalihin:
“Paling berat itu akibat dari santri itu, terkadang keinginannya untuk meninggalkan pondok membuat dia tidak bisa lagi menerima saran. Mungkin tidak kerasan lagi tinggal disini sehingga tidak mau lagi menerima saran. hambatannya itu ada pada diri saya pribadi karena saya sebagai manusia belum sempurna dalam arti banyak kekurangan, belum mampu menjadi contoh buat santri sehingga dalam memberikan nasehat, memberikan saran kepada santri terkadang terhalang oleh perilaku saya pribadi kemudian yang kedua banyaknya santri belum sepenuhnya berkeinginan jadi santri yang baik
sehingga ketika kita berikan nasehat, arahan, terkadang itu tertolak karena hatinya memang ada rada paksaan jadi santri”.42
Untuk mengatasi oknum santri yang tidak bisa bertahan hidup di pondok,
pembina biasanya mengarahkan santri tersebut ke pembina lain yang dianggap dapat
memberikan nasehat oleh si oknum santri tadi. Hal ini diutarakan oleh ustadz Helmi
Riyadusshalihin dan ustadzah Suhaeni. Keduanya sepakat untuk mengarahkan santri
tersebut ke pembina lain yang dianggap mau didengar oleh si oknum santri tadi.
“Kebanyakan santri yang tidak senang dengan saya, saya lebih pilih merekomendasikan ke pembina lain karena di pondok banyak pembina (sesuai dengan karakter santri)”43
Sama halnya yang dikemukakan salah satu informan pembina:
“Untuk santri yang kami anggap sudah tidak betah di pesantren kami serahkan kepada pembina lain untuk mendapatkan bimbingan, kemungkinan terakhirnya itu kita arahkan ke direktur pesantren”.44
Melihat dari hasil wawancara terhadap narasumber ada beberapa kendala
dalam penanaman karakter santri, utamanya kepada santri yang tidak bisa bertahan
hidup di pesantren.
42
Helmi Riyadusshalihin, Pembina Santri,Wawancara, Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (23 September 2016)
43
Helmi Riyadusshalihin, Pembina Santri,Wawancara, Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (23 September 2016)
44
Suhaeni, Pembina Santriwati,Wawancara, Koperasi Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (25 September 2016)
78
Dengan melihat hasil observasi penulis, maka ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Pembina dapat membangun komunikasi interpersonal yang efektif dengan santri dalam penanaman nilai-nilai akhlak di Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin karena mereka memperhatikan aspek-aspek penting yang harus ada dalam komunikasi interpersonal (yaitu: (1) keterbukaan; (2) empati; (3) mendukung; (4) positif; dan (5) kesetaraan) pada proses penanaman akhlak. 2. Penunjang yang dihadapi oleh pembina dapat membangun komunikasi
interpersonal dengan santri dalam penanaman nilai-nilai akhlak di Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin ialah sebagai berikut: (1) Komunikasi (berupa; nasehat, arahan, dan sejenisnya) yang dilakukan pembina tidak terkesan memaksa santri, sehingga santri tidak merasa terlalu tegang ketika mendapat bimbingan dan pembinaan; (2) Pembina sudah mengetahui latar belakang, kepribadian, dan kehidupan santri di pondok; (3) Adanya koordinasi yang baik antara pembina dengan pengurus OSPSH (Organisasi Santri/Wati Pesantren Sultan Hasanuddin). Kendala yang dihadapi oleh pembina dapat membangun komunikasi interpersonal dengan santri dalam penanaman nilai-nilai akhlak di Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin ialah sebagai berikut: