BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Sikap Nasionalisme di SDN 3 Padurenan
Berdasarkan hasil penelitian yang ditemui peneliti di lapangan melalui kegiatan wawancara, observasi dan dokumentasi dari kepala sekolah, guru maupun siswa. Peneliti mendapatkan informasi bahwa penanaman nilai nasionalisme di SD 3 Padurenan terlihat dari sikap siswa serta pembiasaan yang dilakukan guru saat di sekolah seperti menggunakan bahasa Indonesia saat pembelajaran, menggunakan peralatan sekolah yang merupakan produk buatan dalam negeri, menyanyikan lagu nasional dan lagu daerah saat pembelajaran, melestarikan kebudayaan daerah seperti tradisi di masyarakat (takbir keliling dan muludan), disiplin mengerjakan tugas, menghormati orang tua, menjaga sopan santun serta menjunjung tinggi rasa peduli dan tolong menolong seperti saling meminjamkan buku pelajaran.
35
Dari penjabaran sikap dan pembiasaan yang dilakukan di SD 3 Padurenan tersebut, didapatkan beberapa nilai-nilai dari sikap nasionalisme sebagai berikut.
4.2.1.1. Bangga sebagai bangsa Indonesia
Bangga sebagai bangsa Indonesia merupakan cara berfikir, bersikap, berbuat dan bertindak yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial budaya, ekonomi dan politik bangsa. Bangga sebagai bangsa Indonesia merupakan sikap yang harus dan wajib dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia. Siswa, Guru, dan Kepala Sekolah SDN 3 Padurenan merupakan bagian dari warga negara Indonesia.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Sekolah, siswa SDN 3 Padurenan telah memiliki perilaku bangga menjadi bangsa indonesia dalam dirinya. Hal tersebut diwujudkan dengan senantiasa menggunakan produk-produk dalam negeri. Mereka semua menggunakan alat tulis, sepatu dan tas buatan dalam negeri. Selain itu setiap memperingatan hari-hari besar islam dan nasional juga dianjurkan memakai baju batik.
Hal ini sejalan dengan apa yang telah dilakukan guru kelas V ketika pembelajaran jarak jauh yaitu meminta siswa mengirimkan foto menggunakan baju batik pada saat Peringatan Hari Kartini pada 21 April 2021 lalu. Beliau mengatakan bahwa :
“Dengan pembelajaran dari rumah ini saya harus memutar otak ingatkan untuk selalu sebisa mungkin menggunakan bahasa daerah atau bahasa indonesia saat pembelajaran di media sosial whatsapp. Hal yang menarik saat peniliti bertemu siswa di rumahnya adalah siswa biarpun sudah masuk pada era digital meraka tetap menjunjung tinggi kebanggan atas permainan tradisonal indonesia yaitu dengan bermain layang-layang
36
hal ini sangat bagus untuk mengembangkan dan menggunakan produk-produk dalam negeri untuk selalu melestarikan kebudayaan lokal.
Dari pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa sikap bangga sebagai bangsa indonesia ini sudah dilakukan ketika pembelajaran jarak jauh maupun pembelajaran tatap muka dengan tetap melestarikan permainan tradisional salah satunya anak bermain layang-layang saat di rumahnya, memakai baju batik ketika hari hartini, menggunakan alat tulis maupun sekolah dengan produk dalam negeri, dan menggunkan bahasa indonesia maupun bahasa daerah dengan benar.
4.2.1.2. Cinta Tanah Air
Cinta tanah air merupakan perasaan yang harus dimiliki dan menjadi bagian setiap individu untuk negara dan bangsanya. Cinta tanah air adalah cinta kepada negara tempat kita dilahirkan, dibesarkan, dan memperoleh kehidupan di dalamnya. Cinta tanah air juga merupakan suatu sikap tulus dan ikhlas yang diwujudkan dalam perbuatan untuk kejayaan tanah air dan kebahagiaan bangsanya. Sebagai warga negara Indonesia kita wajib mempunya rasa cinta tanah air. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan menjaga dan merawat lingkungan sekitar, menjaga dengan baik simbol negara, dan semangat menyanyikan lagu-lagu nasional maupun perjuangan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Guru Kelas V, yang mengatakan bahwa:
“Sikap cinta tanah air sangatlah penting karena jika tidak diterapkan maka siswa kurang adanya rasa persatuan dan kesatuan antar sesama dan sikap cinta tanah air adalah salah satu cara agar anak didik bisa bangga kepada bangsanya sendiri.”
Dengan demikian, penerapan sikap cinta tanah air memang sangat penting untuk dimengerti dan dilaksanakan oleh siswa, sebab tanpa adanya sikap cinta tanah air, maka segala tindakan maupun perbuatan akan lebih menyimpang dan lebih mengutamakan hal yang berbau ke luar negerian. Atau dapat dikatakan dengan adanya rasa cinta tanah air maka kita akan ada rasa bangga terhadap bangsa ini.
37
Salah satu upaya yang telah dilakukan dalam menanamkan sikap cinta tanah air adalah dengan mengadakan upacara bendera setiap hari Senin. Untuk membuktikan kecintaan kita terhadap tanah air memang tidak hanya dengan mengikuti upacara bendera. Namun, dengan upacara bendera kita telah mengajarkan kepada siswa untuk menghormati bendera nasional dan para pahlawan yang telah gugur.
Rasa cinta tanah air juga tetap dibentuk walaupun dengan pebelajaran jarak jauh, yaitu siswa dikenalkan dan diajarkan untuk selalu menjaga rumah masing-masing agar tetap bersih, serta mengajarkan lagu-lagu nasional maupun lagu-lagu daerah melalui grup WhatsApp. Menyanyikan lagu nasional dan lagu daerah merupakan kegiatan wajib yang dilakukan sebelum dan sesudah pembelajaran. Lagu nasional atau yang kita kenal dengan lagu wajib merupakan salah satu ikon budaya masyarakat Indonesia yang wajib dihafal oleh siswa. Sebab lagu ini merupakan lagu nasionalisme masyarakat Indonesia mengenai perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sedangkan lagu daerah merupakan lagu khas tiap daerah di Indonesia yang mencerminkan adanya keberagaman budaya tiap daerah di Indonesia. Sehingga dari gambaran inilah, menyanyikan lagu nasional dan lagu daerah menggambarkan rasa kebanggan, semangat juang, dan cinta tanah air.
4.2.1.3. Rela Berkorban demi Bangsa Indonesia
Rela berkorban merupakan kesediaan dengan ikhlas untuk memberikan segala sesuatu yang dimiliki baik itu tenaga, harta atau pemikiran untuk kepentingan orang lain, dan sekalipun menimbulkan penderitaan bagi dirinya demi kepentingan bangsa dan negara. Sebagai siswa sekolah dasar mereka harus mau membantu siswa lain yang kesulitan. Misalnya dengan membantu temannya ketika ada yang tidak memahami materi pelajaran dan bersedia meminjamkan alat tulisnya kepada sesama teman yang tidak membawanya.
Dari hasil wawanacara dengan Kepala Sekolah, dapat diketahui bahwa rasa tanggung jawab yang terwujud dalam perilaku siswa dalam
38
mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, sikap rela berkorban dari siswa ditunjukkan pada pembelajaran di kelas melalui sikap dan perilaku mereka dalam bentuk kesetiakawanan sosial seperti membantu temannya ketika ada yang tidak memahami materi pelajaran dan bersedia meminjamkan alat tulisnya kepada sesama teman yang tidak membawanya. Seperti tampak gambar yang ada di bawah ini.
Gambar 4.1 Siswa meminjam buku pelajaran kepada temannya di rumah.
Kemudian, untuk mendapatkan informasi lebih akurat dan terpercaya, peneliti melakukan wawancara terhadap Ibu Muryanti selaku guru kelas V SDN 3 Padurenan tentang sikap rela berkorban siswa, beliau mengatakan bahwa:
“Sikap rela berkorban sudah diterapkan kepada siswa, siswa diajarkan untuk saling tolong menolong antar sesama seperti membantu teman yang kesulitan memahami pelajaran dan meminjamkan alat tulis ke temannya dan itu salah satu contoh dari adanya sikap rela berkorban yang sudah ada pada siswa.”
Dari pernyataan yang diungkap oleh Ibu Muryanti bahwa rasa kebersamaan serta tolong menolong dalam pembelajaran yang diberikan guru terhadap siswanya baik di kelas maupun di luar kelas, sesama siswa terbiasa untuk saling tolong menolong dan berbagi. Hal itu sejalan dengan hasil obervasi peneliti terhadap siswa, walaupun dengan pembelajaran jarak jauh siswa juga saling membantu temannya yang datang kerumah untuk meminjam buku pelajaran, siswa dengan senang hati meminjamkan buku tersebut selain itu juga membantu teman dalam
39
kesulitan memahami materi atau pertanyaan yang di berikan oleh guru.
Juga berkata jujur kepada orang tua ketika mau bermain.
Dari hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa sikap rela berkorban siswa sudah cukup baik dengan memberikan contoh-contoh yang bersangkutan dengan sikap rela berkorban dan siswa sudah melakukan hal-hal yang bersangkutan dengan sikap rela berkorban dengan dibuktikan seperti berkata jujur kepada orang tuanya ketika mau bermain, membantu teman yang kesulitan dalam memahami pelajaran melalui pesan whattapp atau bertemu langsung dan meminjami buku kepada teman yang datang kerumah.
4.2.1.4. Menghargai Kebudayaan
Sikap menghargai kebudayaan harus selalu di ajarkan, karena semakin majunya era digital pada zaman sekarang. Era digital ini perlu diimbangi dengan wajib melestarikan kebudayaan daerah, mendukung kegiatan seni, bahkan kalau perlu mempelajari kebudayaan daerah masing-masing.
Guru Kelas V SDN 3 Padurenan mempunyai cara dalam mengajarkan siswanya agar senantiasa menghargai kebudayaan walaupun denagan kondisi pembelajaran jarak jauh yaitu mengenalkan siswanya kesenian tari daerah lewat video pembelajaran. Hal ini sejalan dengan keadaan siswa ketika pembelajaran jarak jauh yaitu ada beberapa siswa yang gemar mengikuti rebana di rumahnya, bahkan ada yang latihan alat musik rebana pada saat peneliti mengobservasi.
4.2.1.5. Menghargai Jasa Pahlawan
Sikap menghargai jasa pahlawan ini merupakan sikap yang harus dilestarikan sejak masih usia sekolah dasar misalnya dengan meniru sifat-sifat yang dimiliki pahlwan maupun mengenang jejaknya dengan cara meneruskan semangat dan perjuangan pahlawan bangsa indonesia karena bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa pahlawan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Sekolah, menghargai jasa pahlawa terwujud dengan baik, yaitu ketika sebelum Covid-19 siswa
40
diajarkan untuk menempelkan foto-foto pahlawan di kelas, menempel tata tertib di setiap ruangan, dan meneladani cerita-cerita kepahlawan.
Tetapi, pada saat pembelajaran jarak jauh siswa hanya bisa sesekali diajarkan untuk senantia mengingat foto pahlawan, serta tata tertib di sekolah ketika ada kesempatan tatap muka terbatas atau pada saat mengumpulkan tugas.
Hal ini sama dengan hasil wawancara dengan guru kelas V upaya lain yang dapat dilakukan guru untuk menanamkan sikap menghargai jasa pahlawan adalah menggunakan metode sosiodrama untuk mengenang sejarah jasa pahlawan pada zaman dulu. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Muryati selaku Guru Kelas V, beliau menyatakan bahwa:
“Saat pembelajaran saya berikan materi tentang peristiwa rengasdengklok mas, saya menggunakan metode sosiodrama. Jadi para siswa melakukan sebuah drama tentang nasionalisme atau sejarah kepahlawanan mas. Dengan melakukan drama tersebut, siswa akan lebih mengerti dan memahami makna menghargai jasa pahlawan Indonesia.”
Pada saat pembelajaran jarak jauh siswa juga tetap diajarkan untuk menghargai jasa pahlawan dengan cara selalu disiplin dalam menaati peraturan yang ada seperti mengerjakan tugas sekolah tepat waktu, mengerjakan dengan jujur, mandiri, dan pantang menyerah. Hal ini peneliti temukan saat wawancara dan observasi kepada, siswa bener-benar mengerjakan tugas dirumah dengan sendiri tanpa bantuan orang lain. Guru juga memantau siswanya agar selalu disiplin melaksanakan pekerjaan rumah. Karena kalau ada siswa yang tidak disiplin pasti ada guru yang mengecek kerumah masing-masing. Pernyataan ini sejalan dengan wawancara peneliti dengan Kepala sekolah beliau mengatakan bahwa:
“Sikap nasionalisme yang paling penting adalah disiplin mas, siswa saya kadang kurang memperhatikan dalam mengerjakan tugas rumah. Jadi, saya menugaskan guru untuk selalu memantau tugas-tugas anak, kalau ada siswa yang satu dua tidak menyelesaikan
41
tugas bapak ibu gurunya saya minta untuk home visit kerumah siswa agar tau dan membantu dalam menyelesaikan tugas”.
Dari hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa sikap menghagai jasa pahlawan ini telah diajarkan oleh siswa yaitu pada saat pembelajaran di kelas dengan metode sosiodrama dalam memperagakan perjuangan para pahlwan dalam perumusan nahkah proklamasi. Selain itu, siswa juga disiplin dalam mengerjakan tugas sekolah, jujur, serta mandiri.
4.2.1.6. Mengutamakan Kepentingan Umum
Mengutamakan kepentingan umum ini suatu sikap yang sering sekali di lakukan di dalam lingkungan sekolah atau di masyarakat tentunya. Hal ini dapat ditunjukkan dengan menjaga sopan santun kepada orang lain. Mengutamakan kelompok ketika melaksankan tugas bersama.
Mengikuti kegiatan-kegiatan kemasyarakatan.
Berdasarkan wawancara dengan Ibu Murwati selaku guru kelas V SDN 3 Padurenan, beliau mengatakan :
“Jenjang kelas V itu nakal-nakalnya siswa mas, karena sifat bawaan kelas V yang sudah saatnya aktif. Jadi saat melaksanakan kegiatan kelompok dan bersama-sama harus di pandu dan selalu diingatkan. Sebagai contoh mas ketika shalat berjamaah masih ada siswa yang usil, maka saya berkoordinasi dengan guru PAI Bp.
Ahmad Salim mengingatkan dengan baik.Selain itu juga saat presentasi, kerja kelompok dll.
Dari pernyataan tersebut, siswa kelas V diajarkan untuk selalu menghormati orang lain ketika menjalankan ibadah, saat ada siswa yang menyampaikan hasil diskusi juga diperhatikan dengan baik, bersikap sopan, tidak berkelahi saat ada permasalahan serta mementingkan kepentingan kelompok ketika ada lomba pramuka dan berkerja sama ketika ada bersih-bersih kelas. Hal ini pun sama ketika peneliti mewawancarai beberapa siswa pada saat pembelajaran jarak jauh mereka bilang “ada corona aku tetep melu muludan pak , takbir keliling,”. Hal ini menunjukkan bahwa siswa kelas V SDN 3 Padurenan tetap mengikuti kegiatan-kegiatan masyarakat.
42
4.2.2. Strategi sekolah dalam menumbuhkan sikap nasionalisme siswa di