• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sikap Operator Angkutan Umum

STRATEGI PEMBINAAN PENGELOLAAN ANGKUTAN UMUM

13.2. Studi Kasus; Mertomini Dibiarkan Kalah Bersaing

13.2.2. Sikap Operator Angkutan Umum

Pada pirnsipnya seorang pebisnis mampu melakukan kegiaannya secara corporate yakni membangun jaringan bisnis yang selalu berorientasi kepada keuntungan dan tidak mau rugi. Sedangkan bisnis di bidang Transportasi secara internal syarat dengan teknologi dan memerlukan biaya operasional yang tinggi. Disamping itu faktor eksternal seperti proses birokrasi perijinan, fluktuasi harga BBM, kebijakan Moneter yang sering berubah menjadi tidak menentu dalam

141

penyelenggaran angkutan umum. Demikian pula perubahan pasar global, faktor eksternal tersebut juga sangat berpengaruh terhadap operasional kendaraan (BOK). Sedangkan dilain pihak kondisi masyarakat Indonesia dari sisi Income perkapita masih tergolong Low Midle In come sehingga penetapan Tarif masih dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah terutama jika terjadi kegagalan pasar.

Oleh sabab itu para pemilik angkutan umum di Indonesia sebagian besar dalam mengelola usaha angkutan umum cash flow kurang sehat.

Untuk mudahkan biaya operasional seringkali yang harus dihemat yaitu biaya perawatan dan gaji sopir dan kernet dan karyawan teknis.

Penekanan Biaya operasional terlebih tinggi maka dipastikan yang dikorbankan adalah kelaikan kendaraan kondisi armada Metro Mini.

Pada kenyataannya kondisis sebagian besar kurang laik jalan.

Penekanan biaya operasional dan mengabaikan safety atau kelaikan kendaraan angkutan umum merupakan potret keadaan dan kondsi angkutan umum di Indonesia. Kompleksitas bisnis atau usaha angkutan umum di Indonesia salah satu cara supaya tetap survey maka cara penghematan biaya operasional dengan melakukan misalnya kanibalisasi dalam perawatan kendaraan. System penggajian kepada sopir yang belum menjamin kesejahteraan sopir (dibawah (UMP) yaitu dengan sistim setoran. Keadaan Metro Mini tidak jauh berbeda dengan yang di uraikan diatas. Oleh sebab itu pemilik armada angkutan umum diminta oleh Gubernur Ahok supaya merger dengan manajemen Transjakarta pada umumnya setuju asal Gubernur Ahok menempati janjinya memberikan gaji sopir sebesar Rp. 6,2 juta. Kasus Kopaja yang sudah bergabung dengan manajemen Transjakarta ternyata Gubernur Ahok tidak menempati janji. Jika pemilik Metromini tidak bersedia mengikuti ajakan Gubernur Ahok maka ahok mengancam

142

mebangkrutkan Metromini dengan mendatangkan bus Transjakarta yang bagus dan nyaman melewati rute yang dilewati Metro Mini di wilayah DKI Jakarta. Persoalan Metro Mini memang menjadi dilematis ketika dihadapkan pada dua pilihan yang sama beratnya.

Disatu pihak pemilik kendaraan Metro Mini jika meneruskan usahanya harus berhadapan dengan pesaing baru yaitu Bus Transjakarta yang akan melewati rute yang sama dengan Metro Mini Sedangkan dilain pihak jika mengikuti anjuran bergabung dengan manajemen Transjakarta, khawatir Gubernur Ahok tidak menepati Janji seperti terhadap ―Kopaja‖. Selanjutnya persoalan lain yang dihadapi yaitu kebijakan Dinas Perhubungan DKI Jakarta yang akan menghapus Metro Mini yang sudah berusia 10 tahun. Sesungguhnya Merger dengan manajemen Bus Transjakarta boleh jadi dapat mengatasi persoalan Internal manajemen Metro Mini juga membutuhkan biaya yang besar. Setiap pilihan pasti mengandung resiko. Tetapi jika pemilik Metro Mini bersedia merger dengan manajemen Transjakarta resiko lebih kecil seluruh sopir dan kernet bisa bekerja kembali di Transjakarta dengan gaji lebih besar.

Disamping itu pemilik Metro Mini masih diberikan kesempatan memiliki saham dalam manajemen Transjakarta. Kebijakan win-win solution seperti yang akan ditawarkan kepada para pemilik Metromini merupakan penyelesaian yang bijaksana.

13.1.2.4 Respon masyarakat

Sebenarnya masyarakat yang paling dirugikan terhadap kondisi angkutan umum yang pelayanan masih buruk. Bagi Masyarakat yang pendapatannya rendah masih naik angkutan umum Metro Mini dalam keadaan terpaksa karena tidak ada pilihan yang lain.

143

Ekspektasi masyarakat sudah barang tentu mengaharapkan pelayanan angkutan umum yang cepat, tepat waktu, murah dan aman.

Seharunya masyarakat tidak begitu peduli terhadap persoalan Metromini yang menjadi urusan dan Tanggung jawab Pemerintah.

Jika angkutan umum itu efisiensi dan efektif dipastikan masyarakat akan mendukung misalnya dengan suka rela meninggalkan kendaraan pribadi dan memilih angkutan umum. Akan tetapi jika angkutan umum belum memberikan pelayanan yang memadai maka masyarakat akan mengambil jalannya sendiri. Bagi masyarakat yang berpenghasilan tinggi sudah dipastikan lebih memilih kendaraan pribadi yang lebih nyaman dan dapat memberikan door to door service.

Sedangkan bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah atau pas-pasan maka akan memilih sepeda motor untuk mengganti angkutan umum. Fenomena boomning sepeda motor di Indonesia di sebabkan kinerja angkutan umum tidak kunjung membaik. Pada akhir nya masyarakat memiliki jalannya sendiri yaitu menggunakan mobil pribadi dan sepada motor untuk mengganti fungsi angkutan umum dalam aktifitas sehari-hari.

Berdasarkan analisis studi kasus tentang ―Metro Mini‖ dari aspek pemerintahan, pemilik Metromini dan masyarakat menunjukan bahwa Transportasi sebagai Public Service tetap masih domain pemerintah yang harus menyelenggarakan untuk mewujudkan tercapainya kepuasan publik. Apabila penyelenggaraan transportasi seperti angkutan umum di delegasikan kewenangan operasional kepada masyarakat dan sektor swasta tetap dalam pembinaan, pengawasan dan pengendalian pemerintah.

Jika sektor swasta sebagai operator menghadapi masalah manajemen maka pemerintah harus turun tangan memberikan guide

144

line. Dalam kasus Metro Mini, Pemerintah sudah memberikan Guide Line yaitu mengajak pemilik Metro Mini merger atau bergabung dengan manajemen Transjakarta. Artinya fungsi Pemerintah dalam hal pembinaan telah dijalankan Walaupun masih perlu pendekatan kedua belah pihak untuk mencari solusi yang sama mengutungkan. Sebab pelaku usaha sudah dipastikan pertimbangannya kepada orientasi profit .Sedangkan emerintah yang lebih dikedepankan adalah kepentingan masyarakat luas misalnya ketika penyelenggaraan angkutan umum dapat memuaskan masyarakat maka merupakan keberhasilan peran pemerintah.

Kasus Metromini diatas boleh jadi dialami angkutan umum di kota lain. Akan tetapi jika strategi pengembangan pengelolaan Angkutan Umum sebagaimana yang telah diuraikan diatas dapat menjadi solusi menghadapi permasalahan Angkutan Umum di Indonesia yang kompleks tersebut maka strategi diatas dapat menjadi guide line dala pembuatan kebijakan transportasi jalan khususnya angkutan umum.

Dokumen terkait