• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KARANG TARUNA DAN MORAL REMAJA

B. Moral Remaja

4. Sikap Remaja Terhadap Agama

Manusia pada waktu lahir belum membawa sikap, karena sikap itu timbul dari hasil belajar yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi serta komunikasi individu terus menerus dengan lingkungan sekitarnya.21 Jika remaja hidup dipengaruhi oleh lingkungan yang lebih mementingkan kehidupan duniawi/materialistis, maka remaja akan menjadi cenderung jiwanya untuk menjadi materialistis dan jauh dari agama.22 Dalam menjalankan aktivitas-aktivitas agama, beribadah dan sebagainya biasanya remaja sangat dipengaruhi oleh teman-temannya. Misalnya remaja yang ikut dalam kelompok yang tidak sembahyang, atau tidak perduli akan ajaran agama, akan mau mengorbankan sebagian dari keyakinannya, demi untuk mengikuti kebiasaan teman-teman sebayanya. Misalnya di kota-kota besar, seringkali ada kebiasaan dansa-dansi pada sementara remaja yang nampak modern dan kurang mengindahkan agama, pada kesempatan-kesempatan tertentu, seperti ulang tahun, dan sebagainya.

Disamping itu pandangan teman-temannya, remaja juga sangat memperhatikan statusnya dalam masyarakat pada umumnya.konsepsi dan pandangan-pandangan orang dewasa juga ikut menjadi unsur yang

20

Syaiful Hamali, Psikologi Agama:Refleksi Psikologis Manusia Beragama (Bandar Lampung: Harakindo Publishing, 2013).,h.77-79.

21

Syaiful Hamali, Anomali Sikap Remaja Dalam Beragama, Al-AdYAn,Vol. IX, No1, 2014,h.7.

22

28

menentukan dalam perasaan.Remaja seringkali manarik diri dari masyarakat, acuh tak acuh terhadap aktivitas agama, bahkan kadan-kadang tampak tindakan mereka menentang adat kebiasaan dan nilai-nilai yang dianut oleh orang dewasa.Hal ini biasanya di sebabkan oleh karena mereka tidak mendapat kedudukan yang jelas dalam masyarakat.Kadang-kadang mereka dipandang seperti anak-anak, pendapat dan keinginan mereka kurang didengar. 23Dalam agama, ahli psikologi mengatakan bahwa kemantapan beragama biasanya tidak terjadi sebelum usia 24 tahun,rentangan masa remaja mungkin diperpanjang hingga usia 24 tahun. Meskipun terdapat perbedaan para ahli sependapat bahwa masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak yang akan ditinggalkannya menjelang masa dewasa. Dalam psikologi remaja terdapat tiga bagian atau tingkatan :

a. Masa (fase) peural. Pada masa ini para remaja tidak mau dikatakan anak-anak, tetapi juga belum mau dikatakan dewasa. Pada masa pertama ini remaja merasa tidak tenang.

b. Masa (fase) negatif. Masa ini hanya berlangsung beberapa saat, yang ditandai oleh sikap keragu-raguan, murung, suka melamun, dan sebagainya.

c. Masa (fase) pubertas. Masa ini yang dinamakan juga masa adolescence.24

23

Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: 2005), C et Ke-17.,h.103-104. 24

Sikap remaja terhadap agama, maka dapat kita bagi sikap tersebut sebagai berikut:

a. Percaya turut-turutan

Sesungguhnya kebanyakan remaja percaya kepada Tuhan dan menjalankan ajaran agama, karena mereka terdidik dalam lingkungan yang beragama, karena ibu bapaknya orang Bergama, teman-teman dan masyarakat sekelilingnya rajin beribadah, maka mereka ikut percaya dan melaksanakan ibadah dan ajaran-ajaran agama, sekedar mengikuti suasana lingkungan dimana ia hidup. Percaya yang seperti ini lah yang dinamakan percaya turut-turutan.

Mereka seolah-olah apatis, tidak ada perhatian untuk meningkatkan agama, dan tidak mau aktif dalam kegiatan-kegiatan agama.

Kenyataan seperti ini, dapat kita lihat dimana-mana, sehingga banyak sekali remaja yang beragama hanya karena orang tuanya beragama. Cara beragama seperti ini merupakan lanjutan dari caraberagama di masa kanak-kanak, seolah-olah tidak terjadi perubahan apa-apa pada pikiran mereka terhadap agama.

Kepercayaan turut-turutan itu biasanya terjadi, apabila orang tuanya memberikan didikan agamanya dengan cara yang menyenangkan, jauh dari pengalaman-pengalaman pahit di waktu kecil, dan setelah menjadi remaja, tidak mengalami pula peristiwa-peristiwa atau hal-hal yang mengoncangkan jiwanya, sehingga cara

kekanak-30

kanakan dalam beragama it uterus berjala, tidak perlu ditinjaunya kembali. Percayaan turut-turutan ini biasanya tidak lama, dan banyak terjadi hanya pada masa-masa remaja pertama (umur 13-16 tahun). Sesudah itu biasanya berkembang kepada cara yang lebih kritis dan lebih sadar.25

b. Percaya Dengan Kesadaran

Masa remaja adalah masa dimana perubahan dan kegoncangan terjadi di segala bidang, yang dimulai dengan perubahan jasmani yang sangat cepat, jauh dari keseimbangan dan keserasian. Hal ini menyebabkan remaja tertarik untuk memperhatikan dirinya, perhatian yang disertai oleh kecemasan dan ketakutan, lebih-lebih laagi ketika timbul perasaan ingin menentang orang tua, dan terasanya dorongan-dorongan seksual.

Kegelisahan, kecemasan, dan ketakutan bercampur aduk dengan rasa bangga dan kesenangan serta bermacam-macam pikiran dan khayalan, sehingga remaja-remaja betul-betul tertarik untuk memperhatikan dan memikirkan dirinya sendiri, semuanya itu mendorong remaja untuk mendapat tempat dan menonjol dalam masyarakat.Perhatian kepada ilmu pengetahuan, agama dan soal-soal sosial bertambah besar dan semakin bangun. Kebangunan jiwa itu mungkin dalam bentuk abnormal atau menyeleweng,sehingga mereka

25

menjadi nakal, mungkin pula dalam bentuk kesadaran agama yang berlebihan.

Semangat agama pada masa remaja itu, mulai dengan cenderungnya remaja kepada meninjau dan meneliti kembali caranya beragama di masa kecil dulu. Kepercayaan tanpa pengertian yang diterimanya waktu kecil itu, tidak memuaskan lagi, patuh dan tunduk kepada ajaran agama tanpa komentar atau alasan tidak lagi menggembirakannya. Kalau alasannya hanya dengan dalil-dalil dan hukum-hukum mutlak yang diambilkan dari ayat-ayat Kitab Suci Al-qur’an atau hadist-hadist Nabi Muhammad saw. Mereka ingin menjadikan agama, sebagai suatu lapangan baru untuk membuktikan pribadinya, karena ia tidak mau lagi beragama sekedar ikut-ikutan saja.26Semangat agama itu mempunyai dua bentuk, yaitu :

1) Semangat Positif

Semangat agama yang positif itu disertai dengan menjauhkan bidah (bid’ah) dan khurafat-khurafat dari agama. Dan menghindari gambaran sensual terhadap beberapa obyek agama, seperti gambar-gambar terhadap surga, neraka, malaikat dan setan tidak lagi di bayang-bayangkan secara yang dapat dirasa atau dilihat, akan tetapi sudah dapat memikirkannya secara abstrak. Semangat agama yang positif itu berusaha melihat agama dengan pandangan kritis, tidak lagi mau menerima hal-hal yang tidak masuk akal dan bercampur

26

32

dengan khurafat-khurafat.Pandangan seperti ini membangkitkan rasa aman pada remaja terhadap agamanya.

Maka sikap remaja yang bersemangat positif itu, ialah sikap yang ingin membersihkan agama dari segala macam hal yang mengurangkan kemurnian agama. Dan ingin membebaskan agamanya dari kekakuan dan kekolotan.Dalam proses pengembangan agama, mungkin saja remaja-remaja itu menyimpang dari ajaran-ajaran agama yang dulu sangat dipeliharanya. Karena itu, semangat agama itu, tidak saja ditujukan kepada pembaharuan agama, akan tetapi mengandung juga segi-segi menentang terhadap agama dan orang-orang serta pemimpin-pemimpinnya. Karena itulah kita akan melihat adanya serangan-serangan yang ditujukan kepada pemimpin-pemimpin agama, yang mereka sangka kolot, munafik atau beku, kurang mengikuti perkembangan zaman.

Tindakan dan sikap agama orang-orang yang mempunyai semangat agama yang positif itu, akan terlihat perbedaan-perbedaannya sesuai dengan kecenderungan kepribadiannya, hal itu dapat kita bagi kepada dua macam:

a) Ekstrover : Berkepribadian terbuka, yaituorang yang dengan mudah mengungkapkan prasaannya keluar (kepada orang lain)

b) Introver : Berkepribadian tertutup, orang yang lebih cenderung kepada menyendiri dan menyimpan perasaannya.27 2) Semangat Agama Khurafi

Bagi seorang remaja yang mempunyai kecenderungan pikiran kekanak-kanakan, agama dan keyakinan nya biasanya lebihcenderung kepada mengambil unsur-unsur luar yang tercampur kedalam agama misalnya khurafat, bidah-bidah dan sebagainya, seperti jin, setan makam wali-wali, ayat-ayat yang digunakan untuk jimat sebagai penangkal bahaya dan untuk mencapai yang diinginkannya. Remaja-remaja yang lebih mementingkan khurafat , mantera-mantera dan jimat-jimat itu, akan merasa lega, apabila hal-hal tersebut dilakukannya.

Remaja-remaja yang seperti itu, mempunyai keyakinan kepada pengaruh-pengaruh jin, setan, benda-benda keramat, kuburan dan lain-lain. Apabila semangat agama yang bersifat khurafi itu terjadi atas orang yang mempunyai ssifat terbuka (ekstrover),maka praktik-praktik dan keyakinannya terhadap khurafat-khurafat itu tidak saja buat dirinya, akan tetapi, ia akan mengajak orang untuk meyakini apa yang diyakininya.

c. Kebimbangan beragama

Sesungguhnya kebimbingan terhadap ajaran agama yang diterimanya tanpa kritik waktu kecil, merupakan pula pertanda bahwa

27

34

kesadaran beragama terlalu terasa oleh remaja. Tentunya kemanapun untuk merasa ragu-ragu terhadap apa yang dulu diterimanya begitu saja, berhubungan erat dengan pertumbuhan kecerdasan yang dialaminya. Biasanya kebimbangan itu mulai menyerang remaja, setelah pertumbuhan kecerdasan mencapai kematangannya, sehingga ia dapat mengeritik, menerima atau menolak, apa saja yang diterangkan kepadanya.

Dapat kita katakana, bahwa pada masa remaja terakhir, kenyakinan beragama lebih dikuasai pikiran, berbeda dengan masa permulaan remaja, di mana perasaanlah yang lebih menguasai keyakinan agamanya. Oleh karena pikiran yang menguasai, pada masa remaja terakhir, maka sudah barang tentu banyak ajaran-ajaran agama yang kembali diteliti atau dikritik, terutama apabila pendidikan agama yang diterimanya waktu kecil lebih bersifat otoriter, paksaan orang tua, atau karena takut akan kehilangan kasih sayang orang tua.

Dari hasil penelitian yang dibuat oleh Dr. Al-Maligy, terbukti bahwa sebelum umur 17 tahun, kebimbangan beragama tidak terjadi.Puncakkebimbangan itu terjadi antara umur 17 tahun dan 20 tahun. Jika pada masa itu (di bawah umur 17 tahun) remaja menyatakan kebimbangan atau ketidak percayaan kepada Tuhan dan sifat-sifat-Nya.28

28

Kendatipun banyak faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kebimbangan beragama pada remaja, diantara faktor penyelamat atau benteng yang menghidarkan remaja dari kesesatan kepada murtad (atau meninggalkan agamanya) antara lain :

1) Hubungan kasih sayang antara dia dan orang tua, atau orang yang dicintainya.

2) Ketekunan menjalankan syariat agama, terutama yang dilakukkan dalam kelompok-kelompok (jamaah).

3) Apabila remaja yang bimbang itu meragukan sifat-sifat Tuhan (misalnya keadilan dan kekuasaan Tuhan), maka ia akan berjuang mengatasi perasaan tersebut.29

Dokumen terkait