• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN LITERATUR DAN PERUMUSAN HIPOTESIS …

A. Sikap

proses belajar berpengaruh positif terhadap partisipasi anggota dalam koperasi. Sikap

positif masyarakat terhadap CU akan mempengaruhi perilaku seseorang dalam

berpartisipasi aktif di dalamnya, terutama dalam kegiatan simpan pinjam, mengikuti

program pendidikan dan dalam mengikuti semua kegiatan-kegiatan yang

dilaksanakan oleh CU (solidaritas). Dalam kenyataannya para anggota CU itu sendiri

berasal dari status sosial ekonomi yang berbeda-beda, sehingga sikap dan perilaku

terhadap CUpun berbeda-beda.

Dari uraian diatas maka penulis tertarik untuk meneliti mengenai ”Analisis

Perbedaan Sikap dan Perilaku Partisipasi Anggota terhadap Credit Union ditinjau dari Karakteristik Status Sosial Ekonomi Anggota Credit Union Banuri Harapan Kita”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas mengenai ”Analisis Perbedaan Sikap dan

Perilaku Partisipasi Anggota terhadap Credit Union ditinjau dari Karakteristik Status

Sosial Ekonomi Anggota Credit Union Banuri Harapan Kita” maka penulis

merumuskan masalah-masalah sebagai berikut:

1. a. Apakah ada perbedaan sikap anggota terhadap pelayanan CU ditinjau dari

jenis pekerjaan anggota CU Banuri Harapan Kita?

b. Apakah ada perbedaan sikap anggota terhadap pelayanan CU ditinjau dari

tingkat pendapatan anggota CU Banuri Harapan Kita?

c. Apakah ada perbedaan sikap anggota terhadap pelayanan CU ditinjau dari

tingkat pendidikan anggota CU Banuri Harapan Kita?

2. a. Apakah ada perbedaan perilaku partisipasi anggota dalam CU ditinjau dari

jenis pekerjaan anggota CU Banuri Harapan Kita?

b. Apakah ada perbedaan perilaku partisipasi anggota dalam CU ditinjau dari

tingkat pendapatan anggota CU Banuri Harapan Kita?

c. Apakah ada perbedaan perilaku partisipasi anggota dalam CU ditinjau dari

tingkat pendidikan anggota CU Banuri Harapan Kita?

3. Apakah sikap anggota terhadap pelayanan CU mempengaruhi perilaku

C. Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini penulis hanya membatasi masalah mengenai partisipasi

anggota dan karakteristik status sosial ekonomi anggota koperasi agar masalah yang

diteliti tidak terlalu luas dan lebih fokus. Batasan masalah tersebut, sebagai berikut:

1. Anggota yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah anggota yang telah satu

tahun atau lebih menjadi anggota CU Banuri Harapan Kita

2. Perilaku partisipasi anggota dalam CU dapat dilihat dari keaktifannya dalam

mengikuti program pendidikan, keaktifannya dalam simpan-pinjam, dan

keaktifannya dalam bersolidaritas kepada sesama anggota

3. Karakteristik status sosial anggota koperasi meliputi jenis pekerjaan, tingkat

pendidikan dan tingkat pendapatan. Jenis pekerjaan yang dimaksud dalam

penelitian ini adalah PNS, pegawai swasta, wiraswasta, pedagang, petani, dan

buruh. Tingkat pendidikan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat

pendidikan terakhir yang diselesaikan yaitu SD, SLTP, SMU/sederajat, akademi,

dan perguruan tinggi. Sedangkan tingkat pendapatan yang dimaksudkan adalah

jumlah Rupiah dari pendapatan bersih baik dari pekerjaan tetap maupun pekerjaan

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk menjelaskan apakah ada perbedaan sikap anggota terhadap pelayanan CU

berdasarkan jenis pekerjaan anggota CU Banuri Harapan Kita

2. Untuk menjelaskan apakah ada perbedaan sikap anggota terhadap pelayanan CU

berdasarkan tingkat pendapatan anggota CU Banuri Harapan Kita

3. Untuk menjelaskan apakah ada perbedaan sikap anggota terhadap pelayanan CU

berdasarkan tingkat pendidikan anggota CU Banuri Harapan Kita

4. Untuk menjelaskan apakah ada perbedaan perilaku partisipasi anggota dalam CU

berdasarkan jenis pekerjaan anggota CU Banuri Harapan Kita.

5. Untuk menjelaskan apakah ada perbedaan perilaku partisipasi anggota dalam CU

berdasarkan tingkat pendapatan anggota CU Banuri Harapan Kita

6. Untuk menjelaskan apakah ada perbedaan perilaku partisipasi anggota dalam CU

berdasarkan tingkat pendidikan anggota CU Banuri Harapan Kita

7. Untuk mengetahui apakah sikap anggota terhadap pelayanan CU mempengaruhi

E. Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilakukan penulis ini diharapkan dapat memberikan manfaat

bagi pihak CU Banuri Harapan Kita dan bagi masyarakat.

1. Bagi CU Banuri Harapan Kita

Hasil penelitian ini membantu memberikan sumbangan pemikiran kepada

CU sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan di masa yang

akan datang terutama mengenai peningkatan partisipasi anggota dalam mengikuti

pendidikan dan pelatihan CU, bersolidaritas kepada sesama anggota, dan dalam

kegiatan simpan-pinjam serta dapat lebih menyakinkan anggota bahwa CU dapat

mensejahterakan anggotanya.

2. Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman baru

kepada masyarakat, bahwa CU merupakan alat yang sangat penting bagi

masyarakat dalam mensejahterakan anggotanya karena CU dapat mendidik orang

dalam merencanakan masa depan, pandai mengolah ekonomi rumah tangga, dan

membantu memenuhi kebutuhan secara mudah dengan cara ikut berpartisipasi

BAB II

TINJAUAN LITERATUR DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

Pada bab ini penulis akan memaparkan beberapa kajian pustaka yang akan

mendukung tulisan ini. Penulis akan menguraikan teori-teori yang akan digunakan

sebagai landasan teori penelitian seperti pengertian sikap dan perilaku, perbedaan sikap

dan perilaku terhadap CU ditinjau dari karakteristik status sosisal anggota, serta sikap dan

perilaku anggota CU. Hal tersebut akan dijelaskan satu persatu dan pada setiap akhir

pembahasan penulis akan menuliskan hipotesis mengenai hal yang bersangkutan.

A. SIKAP

1. Pengertian Sikap

Sikap adalah kecenderungan yang dipelajari dalam berperilaku dengan

cara yang menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap suatu obyek tertentu.

Obyek sikap yang berorientasi pada konsumen meliputi konsep yang

berhubungan dengan konsumsi atau pemasaran khusus, seperti produk, golongan

produk, merk, jasa, kepemilikan, penggunaan produk, orang, iklan dan harga

(Schiffman dan Kanuk, 2008: 222).

Sebagai kecenderungan yang dipelajari, sikap mempunyai kualitas

memotivasi yaitu mereka dapat mendorong konsumen ke arah perilaku tertentu

atau menarik konsumen dari perilaku tertentu. Namun sikap relatif konsisten

hasil pembelajarannya. Akan tetapi sikap juga bisa berubah pada seseorang bila

terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat tertentu yang mempengaruhi

hubungan sikap dan perilaku.

Menurut modelnya sikap mempunyai tiga komponen yang sangat

berpengaruh yaitu:

1) Komponen kognitif yaitu pengetahuan dan persepsi yang diperoleh

berdasarkan kombinasi pengalaman langsung dengan obyek sikap dan

informasi yang berkaitan dari berbagai sumber. Pengetahuan dan persepsi

yang ditimbulkan biasanya mengambil bentuk kepercayaan, yaitu kepercayaan

konsumen bahwa obyek sikap mempunyai berbagai sifat dan perilaku yang

akan menimbulkan hasil tertentu. Semakin positif keyakinan konsumen

terhadap produk maka semakin positif pula sikap konsumen terhadap produk.

2) Komponen afektif yaitu emosi atau perasaan konsumen mengenai produk atau

obyek tertentu. Emosi dan perasaan ini mencakup penilaian seseorang

terhadap obyek sikap secara langsung dan menyeluruh.

3) Komponen perilaku yaitu kemungkinan atau kecenderungan bahwa individu

akan melakukan tindakan khusus atau berperilaku dengan cara tertentu

terhadap obyek sikap tertentu. Komponen perilaku ini menunjukan perilaku

seseorang yang sesungguhnya.

Ketiga komponen sikap diatas memiliki derajat tingkat kepentingan yang

berbeda sesuai dengan tingkat motivasi konsumen. Sikap konsumen muncul

perasaan suka terhadap suatu produk. Contoh yang paling nyata adalah ketika kita

menyukai iklan suatu produk dan karena rasa suka tersebut kita terdorong untuk

melakukan pembelian, selanjutnya hasil pembelian tersebut akan menciptakan

suatu sikap (Ferrinadewi, 2008: 100).

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap yaitu:

a) Pengalaman pribadi

Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah

meninggalkan kesan yang kuat karena sikap akan menjadi lebih mudah

terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang

melibatkan faktor-faktor emosional. Faktor emosional akan membentuk kesan

positif dan negatif yang selanjutnya dapat menjadi pembentukan sikap.

b) Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Orang lain disekitar kita merupakan salah satu diantara komponen sosial yang

dapat mempengaruhi sikap kita, seperti orang tua, keluarga, teman-teman,

orang yang kita kagumi, dan lain sebagainya. Umumnya individu tersebut

akan memiliki sikap yang searah dengan orang yang dianggap penting.

c) Pengaruh kebudayaan

Kebudayaan di mana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar

terhadap pembentukan sikap, misalnya apabila kita hidup dalam budaya yang

mengutamakan kehidupan kelompok, maka sangat mungkin kita akan

d) Media massa

Media massa (TV, radio, surat kabar, internet, dan berbagai majalah)

mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan

orang. Dalam penyampaian informasi media massa membawa pesan-pesan

yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Komunikasi

media massa ini memberikan sumber informasi penting yang mempengaruhi

pembentukan berbagai sikap konsumen.

e) Lembaga pendidikan dan lembaga agama

Lembaga pendidikan dan lembaga agama sebagai sesuatu sistem yang

mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya meletakkan

dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Konsep moral dan

ajaran agama sangat menentukan sistem kepercayaan maka tidak

mengherankan kalau pada gilirannya kemudian konsep tersebut ikut berperan

dalam menentukan sikap individu terhadap sesuatu hal.

f) Faktor emosional

Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman

pribadi. Kadang kala, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari

emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan

2. Sikap Anggota terhadap Pelayanan Credit Union

Sikap adalah perasaan seseorang tentang obyek, aktivitas, peristiwa, dan

orang lain. Perasaan ini menjadi konsep yang menyatakan suka atau tidak sukanya

(positif, netral atau negatif) seseorang terhadap sesuatu. Pembentukan sikap

konsumen sangat dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, pengaruh keluarga,

teman-teman kelompok, pemasaran langsung, dan media massa. Teman-teman

kelompok sebaya atau kelompok masyarakat memberi pengaruh dalam

pembentukan sikap pada individu. Ada kecenderungan bahwa seseorang individu

akan berusaha untuk sama dengan teman sekelompoknya (Schiffamn dan Kanuk,

2003).

Untuk menumbuhkan sikap positif dari masyarakat terhadap CU, maka

CU memberikan penerangan khususnya bagi pemuda dan para pembawa opini di

masyarakat tentang hakekat CU dan manfaat ber CU. Hal ini dilakukan agar

jangan ada diantara calon-calon anggota yang kurang mengerti dan salah sangka

tentang maksud dan tujuan koperasi tersebut serta memberikan pembekalan

kepada generasi muda agar bisa melanjutkan estafet kepemimpinan di dalam CU.

Selain itu, dalam menumbuhkan sikap anggotanya, CU mempersatukan anggota

dari lingkungan pekerjaan, tempat tinggal, dan perkumpulan (Ikatan Pemersatu

atau Common Bond of Interst). Pendapat serta pilihan teman-teman sekelompok

merupakan pengaruh yang penting dalam menentukan produk atau jasa yang

akhirnya dipilih oleh konsumen.

saja yang diikat oleh kepentingan tersebut. Ikatan Pemersatu diperlukan karena

Credit Union adalah suatu usaha dibidang ekonomi yang didirikan atas dasar

adanya kepentingan dan kebutuhan yang dirasakan bersama di dalam salah satu

lingkungan masyarakat. Anggota di arahkan perhatiannya kepada kepentingan

bersama semua anggota dan masyarakat, kemudian diberi dorongan untuk mau

bekerja sama dalam memecahkan persoalan sosial ekonomi yang dihadapi

bersama-sama. Tanpa kepentingan bersama itu sulit untuk mendorong orang agar

dapat bekerja-sama.

Menurut Schiffamn dan Kanuk, konsumen biasanya mempunyai sikap

yang menyenangkan atau bersikap positif terhadap produk, jasa atau merk-merk

yang mereka percaya mempunyai keistimewaan dan mereka nilai positif.

Keistimewaan dari didirikannya Credit Union yaitu CU memiliki tiga pilar dasar

sebagai alat pembangunannya.

1) Pendidikan

Pendidikan adalah pilar pertama dalam Credit Union. Dengan Motto

“Mulai dengan pendidikan, berkembang dengan pendidikan, dikontrol oleh

pendidikan dan bergantung pada pendidikan”. Usaha utama CU dalam

meningkatkan harkat hidup manusia yaitu lewat pendidikan anggota dengan

tujuan agar anggota dapat mengerti peran serta, hak dan kewajiban sebagai

anggota CU, agar lebih bijaksana dalam mengatur keuangan rumah tangga

dan usahanya, mengetahui dan memahami laporan keuangan serta

Pada CU seseorang baru bisa dianggap sebagai anggota penuh apabila

telah mengikuti Pendidikan Dasar. Ini sangat penting karena setiap anggota

mempunyai hak yang sama misalnya meminjam uang. Ketika seorang anggota

meminjam uang melebihi tabungannya maka itu berarti bahwa uang lebih

tersebut adalah uang anggota lain yang dipercayakan kepadanya. Itu berarti

uang tersebut harus dikembalikan sesuai perjanjian. Satu-satunya cara untuk

menyadarkan anggota tentang hak dan kewajibannya adalah melalui

pendidikan.

2) Swadaya

Pilar kedua adalah Swadaya dengan motto: “Dari anggota, oleh

anggota dan untuk anggota”. Dari anggota artinya bahwa CU hanya

mengumpulkan assetnya dari anggota dan tidak dari pihak lain. Oleh anggota

dan untuk anggota artinya asset CU hanya didistribusikan kepada anggota dan

semua keuntungan CU ditujukan untuk kemakmuran setiap anggota.

CU didirikan untuk memberikan kesempatan kepada

anggota-anggotanya memperoleh pinjaman dengan mudah dan dengan bunga yang

ringan. Akan tetapi untuk dapat memberikan pinjaman atau kredit itu CU

memerlukan modal. Modal CU yang utama didapatkan dari simpanan anggota

terdiri dari simpanan wajib, simpanan pokok, simpanan sukarela. Dari uang

simpanan yang dikumpulkan bersama-sama itu diberikan pinjaman kepada

anggota yang perlu dibantu. Oleh karena itu, maka CU atau koperasi kredit

Fungsi pinjaman di dalam CU adalah sesuai dengan tujuan koperasi

pada umumnya, yaitu untuk memperbaiki kehidupan para anggotanya.

Koperasi Simpan Pinjam adalah koperasi yang bergerak dalam lapangan

usaha pembentukan modal melalui tabungan-tabungan para anggota secara

teratur dan terus-menerus untuk kemudian dipinjamkan kepada para anggota

dengan cara mudah, murah, cepat, dan tepat untuk tujuan produktif dan

kesejahteraan.

3) Solidaritas

Pilar ketiga adalah solidaritas dengan motto; “Anda susah saya bantu,

saya susah anda bantu”. CU tidak sekedar menghimpun simpanan dan

memberi kredit (pinjaman) dari dan kepada anggota, namun yang paling

diutamakan adalah bagaimana sikap setiap anggota CU memperhatikan

kepentingan kelompok daripada kepentingan diri sendiri dan saling melayani.

Semua anggota CU diajak untuk peduli terhadap sesama yang dimulai dari

sesama anggota CU kemudian meluas kemasyarakat di luar CU.

Suatu studi menemukan bahwa merk yang secara tegas menyampaikan

keistimewaan, tujuan dan manfaat dari produk atau jasa menimbulkan ingatan

yang lebih kuat terhadap pernyataan tersebut. Pada umumnya, berbagai kegiatan

bauran pemasaran perusahaan yang berusaha menyampaikan manfaat produk dan

jasa mereka kepada konsumen akan mempengaruhi sikap konsumen dalam

3. Perbedaan Sikap Anggota terhadap Pelayanan CU ditinjau dari Karakteristik Status Sosial Anggota

Kelas sosial masyarakat sering diukur dengan status sosial. Status paling

sering ditentukan dari sudut satu variabel demografis atau lebih cocoknya seperti

pekerjaan, pandapatan keluarga, dan pencapaian pendidikan.

Status sosial ekonomi dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga bagian

yaitu:

a. Pekerjaan

Pekerjaan akan menentukan status sosial ekonomi karena dari bekerja

segala kebutuhan akan dapat terpenuhi. Pekerjaaan tidak hanya mempunyai

nilai ekonomi namun usaha manusia untuk mendapatkan kepuasan dan

mendapatkan imbalan atau upah, berupa barang dan jasa akan terpenuhi

kebutuhan hidupnya. Pekerjaan akan dipilih sesuai dengan kemampuan dan

keterampilan yang dimilikinya.

Dalam penelitian ini, jenis pekerjaan dibagi menjadi tiga kelompok

yaitu:

1) PNS (Guru, POLRI, TNI)

2) Pegawai Swasta (buruh, karyawan)

3) Wiraswasta (petani, pedagang)

b. Pendapatan

Pendapatan seseorang atau keluarga merupakan variabel sosial

sosial. Pendapatan seseorang diukur dengan jumlah Rupiah dari pendapatan

bersih keluarga baik dari pekerjaan tetap maupun pekerjaan sampingan yang

didapatkan dalam jangka waktu satu bulan.

c. Pendidikan

Tingkat pendidikan formal seseorang merupakan perkiraan lain bagi

kedudukan kelas sosial yang umum diterima. Pendidikan merupakan proses

belajar yang dapat dilakukan manusia seumur hidupnya, baik melalui sekolah

maupun luar sekolah.

Dalam penelitian ini, pendidikan dikelompokan menurut tingkat

pendidikan terakhir yang telah diselesaikan, dan dibedakan menjadi tiga

kelompok yaitu:

a. Dasar (SD)

b. Menengah (SLTP, SMU)

c. Perguruan Tinggi (Akademi, S1, S2, 23)

Jika dilihat dari jenis pekerjaan, umumnya masyarakat yang bekerja

sebagai pegawai negeri dan pegawai swasta mempunyai penghasilan tetap

setiap bulannya sehingga dapat memenuhi segala kebutuhan yang diperlukan

baik kebutuhan jangka pendek maupun kebutuhan jangka panjang, selain itu

juga pegawai negeri dan pegawai swasta memiliki berbagai jenis tunjangan

dari instansi tempat mereka bekerja seperti tunjangan kesehatan, tunjangan

hari tua atau menjadi salah satu anggota asuransi. Tunjangan kesehatan

musibah seperti sakit maupun meninggal dunia. Berbeda halnya dengan

masyarakat yang bekerja sebagai petani, penghasilan yang didapatkan tidak

menentu setiap bulannya sehingga hanya dapat memenuhi kebutuhan jangka

pendek saja, selain itu juga mereka tidak memiliki tunjangan apa-apa dari

jenis pekerjaannya itu.

Menurut Credit Union Counselling Office (CUCO), tujuan dari

didirikannya CU adalah memperbaiki keadaan ekonomi anggota yaitu dengan

menolong para anggota melalui pinjaman murah pada saat mereka

membutuhkannya (jangka pendek) dan dengan monolong para anggota untuk

memperbesar kemampuan mereka dalam menggunakan uang secara tepat dan

berhemat (jangka panjang) melalui swadaya CU. Selain itu, CU juga

mempunyai tujuan mengembangkan kepribadian anggota yaitu dengan

mengembangkan sikap sosial anggota melalui solidaritas CU. Anggota

diarahkan untuk memotivasi agar tidak hanya memikirkan diri sendiri

melainkan harus saling melayani, misalnya melalui solidaritas kesehatan

setiap anggota pada setiap bulannya wajib membayar iuran tersebut. Ini

bertujuan apabila salah satu anggota CU menderita sakit maka CU dapat

membantu sebagian biaya kesehatan dengan memberikan solidaritas

kesehatan tersebut. Hal ini menunjukan bahwa anggota yang bekerja sebagai

petani akan bersikap paling positif terhadap swadaya dan solidaritas CU

karena CU dapat membantu anggota dalam memenuhi kebutuhannya baik itu

meringankan biaya kesehatan anggota dibandingkan dengan anggota yang

bekerja sebagai pegawai negeri dan pegawai swasta.

Menurut Credit Union Counselling Office (CUCO), CU yang paling

berhasil adalah yang didirikan dikalangan orang-orang yang masih belum kuat

keadaan ekonominya seperti golongan menengah ke bawah. Hal ini

disebabkan karena CU bukan hanya melayani masyarakat yang ada di daerah

perkotaan saja tetapi telah merambah di daerah-daerah pedesaan. CU juga

mempunyai kepedulian (solidaritas) yang sangat tinggi terhadap nasib

kelompok masyarakat yang masih terbelakang seperti pemberian santunan

duka bagi anggota yang keluarganya meninggal, membantu sebagian biaya

pengobatan bagi anggota yang sakit, membantu perkembangan modal usaha

anggota, dan membantu pembiayaan pendidikan anak. Kepedulian akan nasib

kelompok masyarakat dan dapat melayani seluruh lapisan masyarakat yang

berada di perdesaan, akan menarik perhatian masyarakat yang berasal dari

golongan menengah ke bawah dibandingkan dengan golongan menengah ke

atas. Hal ini menunjukan bahwa golongan menengah ke bawah bersikap lebih

positif terhadap swadaya dan solidaritas CU dibandingkan dengan golongan

menengah ke atas.

Menurut Zuhaimi (Kalimantan Review; 2007), pada umumnya

koperasi simpan-pinjam muncul sebagai reaksi terhadap kurangnya pemberian

kredit dan jasa tabungan untuk orang miskin, bahkan kelas menengah ke

bawah dari lembaga-lembaga keuangan seperti bank. Bank adalah lembaga

menyalurkannya dalam bentuk kredit dan dengan harapan dari investasi

tersebut didapatkan hasil bunganya. Akan tetapi, modal dari bank sangat sulit

untuk didapatkan. Ini disebabkan oleh permintaan bank untuk menyediakan

jaminan berupa sertifikat-sertifikat jasa atau surat berharga lainnya yang

dapat menjamin kredit yang mereka ajukan pada bank, hal ini dirasakan cukup

memberatkan terutama bagi golongan menengah ke bawah. Ditambah lagi

dengan bunga yang cukup tinggi, sehingga beban untuk membayar kembali

kredit yang diberikan terasa sangat berat. Berbeda halnya dengan CU, di

dalam swadaya CU masyarakat dapat memperoleh pinjaman dengan cepat,

tanpa prosedur yang berbelit-belit, bunga yang layak, tanpa jaminan yang

berat bahkan untuk pinjaman yang tidak terlalu besar peminjam hanya

didasarkan atas kepercayaan dan nama baik si peminjam serta memperoleh

pembagian keuntungan (deviden) pada akhir tahun.

Jika dilihat dari tingkat pendidikan masyarakat, masyarakat yang

memiliki tingkat pendidikan dasar dan menengah lebih membutuhkan

lembaga keuangan seperti CU ini karena swadaya CU memudahkan

anggotanya dalam memberikan pinjaman yang cepat dan tanpa prosedur yang

berbelit-belit kepada masyarakat. Berbeda halnya dengan masyarakat yang

memiliki tingkat pendidikan tinggi mereka lebih membutuhkan lembaga

keuangan sebagai tempat investasi dengan harapan dari investasi tersebut akan

menghasilkan keuntungan yang besar. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat

paling positif terhadap swadaya CU dibandingkan dengan masyarakat yang

memiliki tingkat pendidikan tinggi.

Berdasarkan pembahasan diatas, maka saya mengajukan hipotesis 1

sebagai berikut:

Hipotesis 1:

1. a. Petani mempunyai sikap paling positif terhadap solidaritas dan swadaya CU dibandingkan dengan pegawai negeri, pegawai swasta, wiraswasta, dan pedagang

b. Golongan menengah ke bawah mempunyai sikap paling positif terhadap solidaritas dan swadaya CU dibandingkan dengan golongan menengah ke atas

c. Tingkat pendidikan dasar dan menengah mempunyai sikap

Dokumen terkait