• Tidak ada hasil yang ditemukan

Roh Kudus

G. Sikap Tuhan Yesus

Sikap Tuhan Yesus terhadap orang-orang yang marjinal justru bertolak belakang dengan hukum-hukum Taurat Israel. Yesus lebih mencerminkan keterbukaan Allah seperti yang digambarkan dalam Kitab Yesaya yang dikutip di atas. Misalnya, Tuhan Yesus pun dikecam para ahli Taurat dan orang Farisi karena Ia menembuhkan orang yang sakit pada hari Sabat – yang dianggap

diunduh

dari

sebagai pelanggaran terhadap hukum Taurat. Sementara itu, mereka justru tidak akan segan-segan menyelamatkan lembu mereka yang terperosok ke dalam sumur, meskipun pada hari Sabat (Luk. 14:2-5)

Kalau harus melakukan perbuatan baik, Yesus tidak mau menunggu sampai Sabat berlalu. Ia akan segera menyembuhkan orang yang sakit itu, karena Ia tahu orang itu membutuhkannya. Dalam Markus 2:27 Tuhan Yesus kepada orang banya, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.”

Terhadap orang kusta, Yesus tidak segan-segan menyentuhnya dan menyembuhkannya. Perempuan yang mengalami pendarahan selama 12 tahun, yang menurut hukum Taurat harus dianggap najis, dibiarkan menjamah- Nya dan perempuan itu menjadi sembuh.

Kalau Tuhan Yesus tidak segan-segan menghampiri orang-orang yang tersingkirkan oleh masyarakatnya, kaum marjinal, maka komunitas yang Tuhan Yesus ingin¬kan pun tentunya adalah komunitas yang inklusif, terbuka bagi setiap orang, apapun juga latar belakang ras, etnis, kelas sosial, bahkan juga kondisi isiknya. Kedekatan Yesus terhadap perempuan Samaria dan perempuan Kanaan – kedua-duanya orang-orang bukan Yahudi dan pemberitaan Injil kepada sida-sida Etiopia ini adalah gambaran yang diberikan oleh Lukas, si penulis Kisah para Rasul, untuk melukiskan betapa terbukanya gereja kepada semua orang.

Dalam Galatia 3:26-29 dikatakan,

26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus

Kristus. 27 Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan

Kristus. 28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada

hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. 29 Dan jikalau kamu adalah milik

Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.

Keterbukaan yang digambarkan oleh Paulus di atas tidak mungkin bisa terjadi bila Roh Kudus tetap membelenggu kita. Baru ketika Allah melalui Roh- Nya yang kudus membebaskan kita dari belenggu Taurat (Gal. 5:18), maka kita akan menjadi bebas.

diunduh

dari

H. Diskusi

Lakukan diskusi kelompok atau berbagi dengan teman sebangku mengenai: 1. Di atas dikatakan bahwa pembaharuan yang terjadi di dalam gereja

adalah hasil pekerjaan Roh Kudus. Pembaharuan apakah yang pernah terjadi di dalam gereja kamu? Kalau tidak ada, apa sebabnya? Lakukan diskusi kelompok atau berbagi dengan teman sebangku kamu.

2. Menurut kamu, apakah di masa kini masih ada orang-orang yang ditolak masuk ke dalam gereja, atau ditolak bergabung menjadi anggota gereja? Apakah mereka ini orang-orang yang berlatar belakang suku yang lain, kelas ekonomi yang lebih rendah, atau mereka yang dianggap mengalami “kelainan”, seperti misalnya seorang waria – yang tubuhnya laki-laki tetapi di dalam jiwanya ia merasa perempuan sehingga mereka sering dilecehkan dan dicemoohkan masyarakat? Coba diskusikan dengan temanmu sebangku!

… … … . … … … … … … … … … … … … … … … . … … … … … … … …

I. Gereja yang Terus-menerus Diperbaharui

Para reformator di Abad Pertengahan mempunyai semboyan, Ecclesia reformata, ecclesia semper reformanda. Artinya, gereja yang telah diperbaharui harus terus menerus memperbaharui dirinya. Dengan kata lain, tidak cukup pembaharuan yang terjadi sekali di masa Peter Waldo, Jan Hus, Martin Luther, atau Yohanes Calvin. Pembaharuan harus terus-menerus terjadi, karena gereja harus terus bertumbuh, berubah menjadi lebih baik, dan berusaha menjawab tantangan-tantangan baru di dalam masyarakatnya.

Sayang sekali, kadang-kadang gereja terpaku pada masa lampau, bahkan pada ajaran-ajaran yang sudah tidak relevan, sehingga gagal untuk memahami tugas pembaharuan dirinya.

diunduh

dari

Mahatma Gandhi, seorang tokoh kemerdekaan India, di masa mudanya pernah berniat pergi ke gereja untuk ikut beribadah. Gandhi telah banyak membaca Alkitab, khususnya kitab Injil Matius. Dia ingin sekali berkenalan dengan Yesus yang diakui sebagai Tuhan oleh orang Kristen. Gandhi sangat terkesan oleh ajaran-ajaran Yesus yang dirasakannya begitu luhur dan agung. Malangnya, saat itu ia hidup dan bekerja di Afrika Selatan dan pemerintah negara itu mempraktikkan politik apartheid, yaitu politik diskriminasi rasial. Orang kulit berwarna dilarang bergaul dengan orang kulit putih. Mereka dilarang memasuki gedung-gedung atau tempat-tempat yang khusus disediakan untuk orang-orang kulit putih. Mereka pun dilarang menikah dengan orang kulit putih. Orang yang berani melanggar aturan-aturan ini akan dihukum dan dijebloskan ke dalam penjara.

Ketika Gandhi berkunjung ke gereja orang kulit putih di Afrika Selatan, ia ditolak karena warna kulitnya. Gandhi kecewa. Dr. E. Stanley Jones, seorang misionaris di India, pernah bertanya kepada Gandhi, “Tn. Gandhi , meskipun Tuan banyak kali mengutip kata-kata Kristus, mengapa tampaknya Tuan menentang keras untuk menjadi pengikut-Nya?” Gandhi menjawab, “Oh, I don’t reject your Christ. I love your Christ. It’s just that so many of you Christians are so unlike your Christ.” Artinya, “Oh, aku tidak menolak Kristusmu. Aku mengasihi Kristusmu. Tapi begitu banyak dari kalian orang Kristen yang sangat berbeda dengan Kristusmu.”

Apa yang dikatakan oleh Gandhi sungguh sebuah kritik yang tajam bagi kita orang Kristen, karena kita seringkali gagal mencerminkan siapa Yesus Kristus yang sesungguhnya yang kita kenal dan sembah itu.