• Tidak ada hasil yang ditemukan

SikapB( Attitude )B 1. PengertianBSikapB

BABBIIB LANDASANBTEORIB

C. SikapB( Attitude )B 1. PengertianBSikapB

Ostrom (dalam Roeckelein, 1998) mengatakan ada lebih dari 30 perumusan teoritis yang berbeda yang dijelaskan dalam buku-buku teks mengenai teori sikap. Secara sederhana, sikap adalah kecenderungan untuk menyukai atau tidak menyukai sesuatu (Hewstone, Fincham, & Foster. 2005). Lebih lanjut lagi, Rokeach (dalam Gross, 2005) mendefinisikan sikap sebagai orientasi atau kecenderungan yang dipelajari, terhadap suatu objek atau situasi, yang menyediakan sebuah kecenderungan untuk merespon objek atau situasi tersebut secara positif (favourably) atau negatif (unfavourably).

Definisi lainnya menyebutkan sikap sebagai sebuah kecenderungan yang dipelajari untuk merespon objek tertentu secara kognitif, afektif dan perilaku (Huffman, Vernoy, & Vernoy, 2000). Wolman (dalam Roeckelein, 1998) mendefinisikan sikap sebagai sebuah kecenderungan yang dipelajari untuk mengevaluasi atau bereaksi secara konsisten dengan cara tertentu, baik secara positif ataupun negatif, terhadap orang, tempat, konsep, atau benda tertentu.

Objek dari kecenderungan-kecenderungan ini sering disebut objek sikap (attitude object). Sikap secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi perilaku dalam hampir tiap interaksi sosial (Hewstone, Fincham, & Foster. 2005).

2. KomponenBSikapB

Para psikolog sosial secara umum sepakat, ada tiga komponen sikap (Huffman, Vernoy, & Vernoy, 2000), yaitu:

a. Komponen Kognitif

Komponen kognitif terdiri dari pikiran-pikiran dan kepercayaan-kepercayaan individu mengenai objek sikap.

b. Komponen Afektif

Komponen afektif meliputi perasaan dan emosi yang dirasakan individu mengenai objek sikap.

c. Komponen Perilaku (Behavioural)

Komponen perilaku terdiri dari kecenderungan untuk bertindak dengan cara-cara tertentu terhadap sebuah objek sikap.

3. PembentukanBSikapB

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap menurut Azwar (2011) adalah sebagai berikut:

a. Pengalaman pribadi

Apa yang dialami individu akan membentuk dan mempengaruhi penghayatan individu terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk memiliki tanggapan dan penghayatan, seseorang harus memiliki pengalaman yang berkaitan dengan objek psikologis. Apabila seorang individu tidak memiliki pengalaman sama sekali terkait suatu objek

psikologis, individu tersebut akan cenderung membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut (Middlebrook dalam Azwar, 2011).

b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Orang lain di sekitar individu merupakan salah satu diantara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap individu. Seseorang yang dianggap penting, seseorang yang diharapkan persetujuannya, seseorang yang tidak ingin dikecewakan, atau seseorang yang berarti khusus bagi individu; akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap individu terhadap sesuatu.

c. Pengaruh budaya

Budaya dimana individu hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap. Tanpa disadari budaya telah menanamkan garis pengaruh sikap individu terhadap berbagai masalah. Budaya telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya karena budayalah yang memberi corak pengalaman individu-individu yang menjadi anggota kelompok masyarakat.

d. Media massa

Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa memiliki pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan seseorang. Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pesan-pesan berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai suatu hal memberikan landasan kognitif baru dalam pembentukan sikap

terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu. e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama

Lembaga pendidikan dan lembaga agama sebagai suatu sistem memiliki pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. f. Pengaruh faktor emosional

Terkadang suatu bentuk sikap adalah pernyataan yang didasari oleh emosi, yang berfungsi sebagai semacam penyalur frustasi atau pengalihan untuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian dapat merupakan sikap sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang.

4. FungsiBSikapB

Hogg & Vaughan (dalam Gross, 2005) mengatakan bahwa tanpa konsep sikap, individu akan mengalami kesulitan dalam menjelaskan dan bereaksi terhadap kejadian-kejadian tertentu, membuat keputusan, dan melakukan interaksi sosial. Gross (2005) menyimpulkan bahwa sikap menyediakan reaksi siap-pakai, dan interpretasi dari kejadian-kejadian bagi individu, seperti halnya aspek-aspek kognitif lainnya dalam diri individu.

Smith et al (dalam Haddock & Maio, 2004) menyatakan bahwa sikap dapat berfungsi sebagai penilai-objek (object-appraisal), penyesuaian sosial (social-adjustment), dan/atau eksternalisasi (externalization). Fungsi sebagai penilai objek meliputi kemampuan sikap untuk menyimpulkan katakter positif dan negatif dari objek-objek yang ada di lingkungan individu. Fungsi penyesuaian sosial adalah fungsi sikap yang membantu individu untuk mengenali individu lain yang dinilai baik dan menjauhkan diri dari individu lain yang tidak disukai. Fungsi eksternalisasi adalah fungsi sikap yang melindungi diri individu dari konflik internal.

Katz (dalam Gross, 2005) membagi fungsi sikap dalam empat kategori utama:

a. Fungsi Pengetahuan (Knowledge Fuction)

Sikap memberikan makna dan arahan pada pengalaman, menyediakan kerangka referensi untuk menilai kejadian, objek, dan orang.

b. Fungsi Penyesuaian (Adjustive Function)

Individu menerima respon positif dari individu lain dengan menunjukkan sikap yang diterima secara sosial, sehingga individu tersebut mendapatkan ganjaran (reward) penting, misalnya penerimaan dan persetujuan dari individu lain.

c. Fungsi Menyatakan-nilai (Value-expressive Function)

Ganjaran (reward) yang diterima individu mungkin bukan berupa persetujuan sosial, tetapi konfirmasi terhadap aspek positif dari konsep diri individu, terutama integritas personalnya.

d. Fungsi Pertahanan-ego (Ego-defensive Function)

Sikap membantu melindungi individu dari mengakui kekurangan personalnya. Pertahanan-ego sering berarti penghindaran dan penyangkalan pengetahuan diri (self-knowledge).

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sikap adalah sebuah kecenderungan yang dipelajari, terbentuk dari gabungan antara pengalaman pribadi, pengaruh orang lain dan budaya, media massa, lembaga pendidikan dan lembaga agama, serta faktor emosional. Sikap terdiri dari 3 komponen, yaitu komponen kognitif, afektif, dan prilaku. Sikap digunakan untuk mengevaluasi atau bereaksi secara konsisten dengan cara tertentu terhadap objek sikap, baik secara positif ataupun negatif.

D. SikapBWanitaBKarierBdiBIndonesiaBterhadapBEmansipasiBWanitaB

Setelah melalui perjuangan panjang, wanita akhirnya mendapatkan persamaan hak dengan kaum pria dalam hampir segala bidang. Perkembangan yang paling menonjol akhir-akhir ini adalah meningkatnya jumlah wanita yang meniti karir. Kesetaraan yang dinikmati oleh kaum wanita saat ini merupakan hasil dari sebuah perjuangan yang berawal dengan nama emansipasi wanita (Hollows, 2000).

Wanita pada masa kini lebih bebas untuk bekerja, akan tetapi mereka tetap bersalah bila “meninggalkan” keluarga dan rumah tangganya. Hal ini dikarenakan masih kuatnya pengaruh peran budaya mengenai peran tradisional wanita, dimana secara tradisional wanita selalu dikaitkan dengan rumah, dapur, dan anak (Hardanti, 2002). Pada kenyataannya, masih banyak wanita Indonesia yang mengalami kesulitan untuk melepaskan diri dari perspektif tradisional ini.

Wanita karier adalah wanita yang bekerja dengan pemahaman dan harapan bahwa pekerjaannya itu merupakan jalan untuk mengembangkan kemampuan dirinya (Masdani, 1981 dalam Aminatun, 2008). Mereka tentu memiliki sikap tertentu terhadap emansipasi wanita. Istilah emansipasi wanita sendiri saat ini telah berubah menjadi kesetaraan gender (Daulay, 2007). Indikator dari kesetaraan gender adalah partisipasi dan akses, kontrol, dan manfaat.

Sikap (attitude) adalah sebuah kecenderungan yang dipelajari untuk mengevaluasi atau bereaksi secara konsisten dengan cara tertentu, baik secara positif ataupun negatif, terhadap orang, tempat, konsep, atau benda tertentu (Wolman, 1973 dalam Roeckelein, 1998). Secara umum telah disepakati bahwa sikap memiliki komponen kognitif, afektif dan perilaku (Huffman, Vernoy, & Vernoy, 2000). Ketiga komponen ini mempengaruhi bagaimana sikap seseorang terhadap sesuatu. Komponen kognitif terdiri dari pikiran dan kepercayaan individu mengenai objek sikap. Komponen afektif meliputi perasaan dan emosi yang dirasakan individu mengenai objek sikap.

Komponen perilaku terdiri dari kecenderungan individu untuk bertindak terhadap objek sikap. Pembentukan sikap dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, pengaruh orang lain dan budaya, media massa, lembaga pendidikan dan lembaga agama, serta faktor emosional.

Sikap wanita karier terhadap emansipasi wanita adalah bentuk evaluasi atau reaksi perasaan positif atau negatif wanita karier terhadap emansipasi wanita. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan indikator sikap wanita karier terhadap emansipasi wanita (kesetaraan gender) adalah:

1. Komponen Kognitif

a. Meyakini bahwa pria dan wanita memiliki hak dan kewajiban yang setara untuk terlibat/ berpartisipasi dalam melaksanakan hak dan kewajiban mereka.

b. Adanya keyakinan bahwa pria ataupun wanita memiliki relasi kekuasaan yang setara.

c. Memiliki keyakinan bahwa baik pria maupun wanita harus memperoleh manfaat yang sama dari segala aspek kehidupan.

2. Komponen Afektif

a. Sebagai wanita, merasa bahwa dirinya memiliki hak dan kewajiban yang setara dengan pria, untuk berpartisipasi melaksanakan hak dan kewajibannya.

b. Sebagai wanita, tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah kekuasaan pria, ataupun lebih berkuasa daripada pria.

c. Merasa bahwa adanya manfaat yang setara bagi pria dan wanita dalam setiap aspek kehidupan adalah hal yang wajar.

3. Komponen perilaku (behavioural)

a. Baik pria maupun wanita melaksanakan hak dan kewajibannya tanpa ada halangan dari salah satu pihak.

b. Tidak bertindak semena-mena terhadap lawan jenis dan tidak merendahkan diri di hadapan lawan jenis.

SkemaBII.B1B

Skema Sikap Wanita Karier di Indonesia terhadap Emansipasi Wanita

Sikap wanita karier terhadap emansipasi wanita  Pengalaman pribadi

 Pengaruh orang lain yang dianggap penting

 Pengaruh budaya  Media massa

 Lembaga pendidikan dan lembaga agama  Pengaruh faktor emosional Wanita Karier Emansipasi Wanita  Partisipasi dan Akses  Kontrol  Manfaat

28

BABBIIIB

METODEBPENELITIANB

Dokumen terkait