BAB V HASIL OBSERVASI DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Observasi
2. Siklus Pertama
Siklus pertama ini dilaksanakan pada hari Kamis, 01 Oktober 2009 pada jam kelima sampai dengan jam keenam. Waktu yang digunakan untuk pembelajaran ini 2 x 40 menit (pukul 09.15 – 10.35). Standar kompetensi yaitu Memahami usaha manusia memenuhi kebutuhan. Kompetensi Dasar yaitu Mendeskripsikan manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral dalam memenuhi kebutuhan. Sub pokok bahasan yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan manusia yang dibawakan oleh guru mitra yaitu Ibu Winarni, S.Pd. Peserta pembelajaran adalah siswa kelas VII E sebanyak 36 siswa. Keseluruhan siswa hadir pada siklus pertama ini. Adapun metode pembelajaran kooperatif yang diterapkan adalah tipe Jigsaw. Berikut ini dideskripsikan penerapan metode pada siklus pertama:
a. Perencanaan
Pada tahap ini dilakukan penyusunan rencana tindakan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Langkah-langkah perencanaan yang diterapkan pada siklus pertama adalah sebagai berikut:
1) Peneliti dan guru mitra bersama-sama mempersiapkan perangkat pembelajaran yang akan digunakan. Perangkat pembelajaran mencakup rencana pelaksanaan pengajaran (RPP), materi, lembar kerja siswa, soal turnamen.
a). Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP)
RPP dibuat untuk satu kali pertemuan. RPP memuat standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi, metode pembelajaran, langkah pembelajaran, sumber dan media pembelajaran, serta evaluasi. Semua dibuat secara rinci dan sistematis.(lampiran 1a)
b). Materi
Materi ajar pada siklus pertama adalah kebutuhan manusia. Peneliti dan guru mitra membuat handout. Handout berisi tentang materi kebutuhan manusia dan beberapa pertanyaan yang ditujukan kepada siswa untuk dijawab dan dibahas dalam diskusi.Handoutini selanjutnya diberikan kepada siswa setelah pembagian kelompok selesai. (lampiran 2a)
c). Lembar Kerja Siswa (LKS)
Peneliti bekerja sama dengan guru mitra membuat LKS yang meliputi daftar pertanyaan yang harus didiskusikan siswa di dalam kelompok ahli kemudian dijelaskan di dalam kelompok asal, dan selanjutnya dipresentasikan di kelas. (lampiran 3a) 2) Peneliti dan guru mitra membentuk kelompok kooperatif dimana
terdiri dari kelompok asal dan kelompok ahli. Langkah awal yang dilakukan yaitu menggali data awal tentang karakteristik siswa untuk memetakan para siswa berdasarkan kemampuan akademiknya. Pemetaan tersebut selanjutnya menjadi dasar untuk membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok yang bersifat
heterogen. Siswa dengan prestasi atau nilai akademik tinggi akan ditempatkan pada ranking tinggi, siswa dengan prestasi sedang akan ditempatkan pada ranking sedang, dan siswa dengan prestasi rendah ditempatkan pada ranking bawah. Pada tahap ini peneliti bekerja sama dengan guru mitra mengklasifikasikan siswa ke dalam 6 kelompok asal dan 6 kelompok ahli. Untuk kelompok asal diberi nama kelompok A, B, C, D, E dan F. Kelompok asal dibentuk dengan cara menempatkan enam siswa dengan ranking teratas ke dalam masing-masing kelompok (kelompok A 1 orang, kelompok B 1 orang, dan seterusnya), selanjutnya dipilih 6 orang siswa dengan ranking terbawah dan ditempatkan kembali pada masing-masing kelompok (kelompok A 1 orang, kelompok B 1 orang, dan seterusnya), selanjutnya dipilih kembali 6 siswa dari atas di samping kelima siswa yang telah dipilih sebelumnya dan ditempatkan pada masing-masing kelompok, begitu seterusnya hingga semua siswa masuk ke dalam kelompok asal. Kemudian dalam pembentukan kelompok ahli, peneliti mengambil data dari kelompok asal. Selanjutnya setiap anggota kelompok asal masing-masing diberi nomor urut dari atas ke bawah, untuk kelompok selanjutnya diberi nomor urut dari bawah ke atas, begitu seterusnya. Dengan demikian siswa yang mendapatkan nomor 1 maka akan menjadi anggota kelompok ahli 1, siswa yang mendapatkan nomor 2 akan menjadi anggota kelompok ahli 2, begitu seterusnya sehingga diperoleh 6 kelompok ahli (kelompok ahli 1, 2, 3, 4, 5 dan 6).
3) Peneliti menyiapkan dan menyusun instrumen pengumpulan data. Instrumen pengumpulan data meliputi:
a) lembar observasi kegiatan guru dalam proses pembelajaran. Cakupan isi lembar observasi kegiatan guru antara lain: keterampilan guru dalam menjelaskan dan mengorganisasikan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, keterampilan guru dalam mendampingi siswa belajar kelompok, dan keterampilan guru memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam belajar kelompok dan belajar mandiri.
b) lembar observasi pengamatan siswa. Cakupan isi lembar pengamatan siswa adalah catatan anekdotal (lampiran 6b) dan motivasi siswa (lampiran 7b).
c) lembar observasi pengamatan kelas. Cakupan isi lembar pengamatan kelas antara lain: interaksi antar siswa, sumber belajar, dan kedisiplinan.(lampiran 5b)
b. Tindakan
Pada tahap tindakan, guru mitra dan peneliti mengimplementasikan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw sesuai dengan rencana tindakan. Langkah-langkah pada tahap ini sebagai berikut:
1) Penyampaian prosedur pelaksanaan
Pada awal pembelajaran, guru terlebih dahulu menyampaikan prosedur pelaksanaan pembelajaran. Namun, guru tidak secara terbuka menyampaikan prosedur pelaksanaan pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw. Guru membagi siswa dalam kelas ke dalam sejumlah kelompok (kelompok asal), dan di dalam kelompok asal masing-masing siswa akan mendapatkan lembar pertanyaan yang berbeda-beda dimana di dalam lembar pertanyaan tersebut telah diberi kode yang nantinya akan digunakan dalam penentuan kelompok ahli. Setelah bergabung di dalam kelompok asal, selanjutnya siswa diminta bergabung dengan siswa yang lain yang memiliki pertanyaan dan nomor yang sama yang selanjutnya disebut sebagai kelompok ahli. Kemudian di dalam kelompok ahli siswa diminta untuk berdiskusi membahas masalah yang diberikan. Selanjutnya siswa akan kembali ke dalam kelompok asal dan menjelaskan hasil diskusi tadi kepada siswa yang lain di dalam kelompoknya. Selama guru menyampaikan prosedur pelaksanaan, suasana kelas sedikit kurang kondusif, hal ini disebabkan siswa masih bingung dan kurang jelas dengan prosedur pelaksanaannya. 2) Membagi siswa ke dalam kelompok
Dalam pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat dua macam kelompok yaitu kelompok asal dan kelompok ahli. Pembentukan kelompok asal sudah dilakukan guru bersama peneliti pada tahap awal perencanaan pembelajaran. Jumlah kelompok yang dibentuk adalah enam kelompok siswa dengan anggota 6 orang. Pada tahap ini guru menyebutkan kembali nama-nama kelompok berikut anggota-anggotanya. Selama pembentukan kelompok asal suasana
sedikit kurang kondusif, ada beberapa siswa yang membuat gaduh mungkin dikarenakan merasa kurang puas dengan anggota kelompoknya atau bahkan sebaliknya. Setelah berkumpul dalam kelompok asal kemudian guru mempersilahkan masing-masing siswa untuk berkumpul dengan kelompok ahli, suasana semakin kurang kondusif dikarenakan siswa masih bingung mencari kelompok ahlinya.
3) Diskusi
Setelah siswa berkumpul di dalam kelompok ahli, selanjutnya guru meminta siswa untuk mendiskusikan masalah yang telah didapatkannya. Di sini masing-masing kelompok mendapatkan pertanyaan yang berbeda-beda. Untuk kelompok ahli 1 mendapatkan pertanyaan tentang definisi kebutuhan, kelompok ahli 2 mendapatkan pertanyaan perbedaan dari kebutuhan dan keinginan, kelompok ahli 3 mendapatkan tugas untuk menjelaskan mengapa kebutuhan manusia itu tak terbatas, kelompok ahli 4 mendapatkan tugas untuk menyebutkan dan menjelaskan macam-macam kebutuhan, kelompok ahli 5 mendapatkan tugas memberikan contoh macam-macam kebutuhan, dan kelompok ahli 6 mendapatkan tugas menjelaskan bagaimana cara memanfaatkan sumber daya alam dan manusia. Selama berdiskusi di dalam kelompok ahli suasana kelas terkendali, hanya saja suasana sedikit ramai hal ini dikarenakan setiap siswa di dalam diskusi kelompok
saling bertukar pendapat. Sesekali ada juga beberapa siswa yang membuat kegaduhan kecil dan berbicara di luar materi diskusi. Selama diskusi, aktivitas guru adalah mendampingi, memotivasi, dan memantau siswa. Jika ada yang mengalami kesulitan, guru membantu siswa guna memecahkan kesulitan tersebut. Setelah berdiskusi di dalam kelompok ahli, selanjutnya siswa kembali ke kelompok asal dan mengutarakan hasil diskusinya bersama kelompok ahli kepada anggota kelompok asal. Dengan demikian masing-masing siswa akan menerima dan memberikan informasi siswa yang lain.
4) Pembahasan
Setelah siswa selesai berdiskusi, selanjutnya guru bersama dengan siswa membahas semua masalah yang telah didiskusikan oleh siswa di dalam kelompok ahli. Kemudian guru menunjuk salah satu kelompok ahli untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Setiap kelompok diberi kesempatan untuk mempresentasikan jawabannya, kemudian guru juga memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk menanggapi atau memberikan pendapat yang berbeda. Reaksi tiap-tiap kelompok ketika ditunjuk untuk mempresentasikan hasil diskusinya sangat beragam, ada yang dengan antusias mempresentasikan jawaban, ada yang presentasi sambil diselingi dengan gurauan, ada juga yang kaku dalam mempresentasikan jawaban. Namun secara keseluruhan dalam siklus I ini presentasi berjalan lancar terkendali.
5) Penyimpulan
Setelah seluruh kelompok selesai mempresentasikan jawaban mereka, selanjutnya guru bersama siswa mencoba untuk menarik kesimpulan dari seluruh rangkaian pembelajaran. Dalam penyimpulan ini, guru mengutarakan inti–inti dari materi yang telah dibahas dalam diskusi. Guru juga mengutarakan pertanyaan-pertanyaan singkat kepada siswa untuk menguji pemahaman mereka. Dalam siklus I ini secara umum telah dapat ditarik kesimpulan mengenai materi yang telah dipelajari, namun dikarenakan terkendala waktu yang tidak memungkinkan lagi sehinnga penarikan kesimpulan dirasakan kurang optimal.
c. Observasi
Hasil pengamatan (observasi) dalam penelitian tindakan kelas ini dapat dipaparkan sebagai berikut :
1) Pengamatan terhadap guru
Pengamatan terhadap guru ini dilakukan bersamaan dengan dilaksanakannya tindakan pada siklus pertama. Aktivitas guru selama proses pembelajaran pada siklus pertama disajikan dalam tabel berikut ini : (lampiran 4b)
Tabel 5.4
Aktivitas Guru Pada Siklus I
No Deskriptor Siklus I
1 Guru menjelaskan metode pembelajaran kooperatif dengan tipejigsaw
Ya 2 Guru mengorganisasikan bahasan yang bersifat umum
menjadi sub pokok bahasan yang lebih sempit
Ya 3 Guru membantu siswa dalam pembentukan kelompok
jigsaw
Ya 4 Guru memotivasi siswa agar terlibat dalam kegiatan
diskusi kelompok
Ya 5 Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bekerjasama dalam kelompok
Ya 6 Guru mendorong siswa untuk bekerja dengan siswa
lainnya dalam suasana persaahabatan, untuk meningkatkan hasil kerja salah satu kelompok
Ya 7 Guru mendorong siswa untuk bekerja sama di antara
mereka agar lebih baik dengan kelompok lainnya
Ya 8 Guru mengobservasi kegiatan kelompok, memberikan
motivasi untuk merangsang pemikiran kelompok dan mendorong semua kelompok bekerja dengan baik
Ya 9 Guru berinteraksi dengan setiap siswa, menumbuhkan
semangat kerja, keterlibatan dalam kelompok untuk mencapai tujuan, dan menjawab pertanyaan yang diajukan siswa secara perorangan
Ya
10 Guru berinteraksi dengan sebagian siswa saja untuk memperjelas cara kerja kelompok, tugas yang harus dikerjakan, kebersamaan, dan tujuan dari pembelajaran kelas yang sedang dilakukan
Tidak
11 Guru tidak berinteraksi dengan satu siswa pun. Guru hanya bekerja di belakang mejanya, keluar dari ruangan kelas dan mengawasi siswa dari luar kelas
Tidak 12 Guru berinteraksi dengan siswa dengan cara berdiri di
muka kelas untuk memberikan penjelasan atau jawaban kepada siswa secara perorangan
Tidak 13 Guru membiarkan siswa untuk berkeliling dari satu
kelompok ke kelompok lainnya sehingga kerja sama kelompok menjadi kacau
Tidak 14 Guru dan siswa terlibat percakapan serius sehingga
kelas menjadi gaduh dan mengganggu siswa lain
Tidak 15 Guru dan siswa sama-sama asyik dengan pekerjaan
masing-masing sehingga suasana menjadi kaku
Tabel 5.4 menunjukkan aktivitas guru selama proses pembelajaran kooperatif tipe jigsaw berlangsung pada siklus I. Guru telah menjelaskan metode pembelajaran tipe jigsaw secara teknis, guru mengorganisasikan pokok bahasan faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan manusia yang bersifat umum menjadi pokok bahasan yang lebih sempit sehingga lebih memudahkan siswa dalam memahami materi, guru juga ikut berperan dalam pembentukan kelompok kooperatif mulai dari pengklasifikasian data awal, pembentukan kelompok asal hingga akhirnya terbentuk kelompok ahli. Selain itu guru juga mendorong/memotivasi siswa agar dapat terlibat dalam diskusi kelompok, selain dorongan guru juga memberikan kesempatan siswa berdiskusi untuk memaparkan pendapat dan pemikirannya serta mendorong agar siswa mampu bekerja sama di dalam kelompok diskusinya. Kemudian untuk memantau jalannya diskusi kelompok guru juga mengamati jalannya diskusi sehingga jika ada kesulitan yang dihadapi oleh siswa maka guru dapat membantu memberikan solusi. Guru mengamati diskusi kelompok tidak hanya pada beberapa kelompok saja melainkan pada seluruh kelompok, tidak hanya jika ada kelompok yang mengalami kesulitan saja, dari sini maka terjalin sebuah interaksi antara guru dengan siswa atau kelompok. Selama berinteraksi dengan siswa aatu kelompok, guru juga menumbuhkan semangat kerja para siswa untuk bekerja sama memecahkan masalah dan mencapai tujuan dari pembelajaran. Dalam siklus I ini masih banyak siswa yang masih bingung dengan prosedur pelaksanaannya sehingga guru harus menjelaskan lagi prosedurnya di dalam kelompok. Di sini waktu yang dimiliki oleh guru
cukup longgar dikarenakan seluruh media telah dibagikan kepada siswa sehingga konsentrasi guru tertuju dalam mengamati jalannya diskusi kelompok, namun guru kurang dapat mengorganisasikan waktu dengan sebaik-baiknya sehingga waktu untuk berdiskusi di dalam kelompok ahli dirasa terlalu lama sehingga waktu untuk pemaparan di kelompok asal, presentasi kelompok, dan penarikan kesimpulan kurang maksimal.
2) Pengamatan terhadap siswa
Pengamatan terhadap siswa dilakukan peneliti dimulai dari awal sampai dengan akhir pembelajaran, yaitu dengan catatan anekdotal (lampiran 6b).
Motivasi siswa dalam megikuti proses pembelajaran ini tampak dalam tabel sebagai berikut: (lampiran 7b).
Tabel.5.5
Motivasi Siswa dalam Proses Pembelajaran pada Siklus I
No. Deskripsi Target Nilai
Relatif Catatan
1 Keinginan/kemauan belajar
3,5 3,8 Sangat baik, siswa sadar, senang dan tertarik mempelajari ekonomi, siswa juga belajar ketika akan ada ujian 2 Hasrat berprestasi 3,0 3,5 Baik, siswa belajar
giat untuk
meningkatkan prestasi dan malu jika mendapatkan nilai jelek
3 Hasrat mengerjakan tugas
3,0 3,4 Baik, siswa
mendiskusikan tugas yang sukar dengan guru dan teman, siswa juga mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh
4 Ganjaran sebagai akibat akhir belajar
3,0 3,2 Baik, siswa tidak merasa tersaingi
bila teman
mendapatkan nilai yang lebih baik dan menyadari bahwa hadiah bukan sebuah motivasi utama dalam belajar 5 Hasrat mengikuti
pelajaran
3,5 3,7 Sangat baik, siswa selalu mengikuti pelajaran,
mempersiapkan sesuatu yang mendukung
pelajaran dan tidak membolos 6 Hasrat mendapat simpati 3,0 3,2 Baik, siswa mempunyai keinginan untuk mendapatkan
simpati dari orang tua, guru dan teman yang lain
7 Hasrat untuk menang 3,5 4,3 Sangat baik, siswa mendapatkan rasa aman bila mengikuti dan menguasai materi pelajaran Keterangan:
Nilai Relatif Nilai Mutu
› 3,54 Sangat Baik 3,17 – 3,54 Baik 2,79 – 3,16 Cukup Baik 2,41 – 2,78 Buruk
Tabel 5.5 menunjukkan motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran pada siklus I. Di sini tampak bahwa Hasrat dan keinginan belajar nilai relatifnya 3,8 termasuk kategori sangat baik, karena siswa sadar, tertarik dan senang mempelajari materi ekonomi. Hasrat berprestasi nilai relatifnya 3,5 termasuk kategori baik, karena beberapa siswa termotivasi belajar untuk meningkatkan prestasi belajarnya dan mereka malu jika mendapatkan nilai yang jelek. Hasrat mengerjakan tugas nilai relatifnya 3,4 termasuk kategori baik, karena siswa mendiskusikan tugas yang sukar dengan guru dan teman dan siswa juga mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh. Ganjaran sebagai akibat akhir belajar nilai relatifnya 3,2 termasuk kategori baik, karena siswa tidak merasa tersaingi bila teman mendaptkan nilai yang lebih baik dan menyadari bahwa hadiah bukan sebuah motivasi utama dalam belajar Hasrat mengikuti pelajaran nilai relatifnya 3,7 termasuk kategori sangat baik, karena siswa selalu mangikuti pelajaran, mempersiapkan sesuatu yang mendukung pelajaran dan tidak ada yang ,membolos, siswa sudah tidak keluar masuk kelas lagi. Hasrat mendapat simpati nilai relatifnya 3,2 termasuk kategori baik, karena banyak siswa yang mempunyai keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru bahkan temannya sendiri. Hasrat untuk menang nilai relatifnya 4,3 termasuk kategori sangat baik, karena banyak siswa yang merasa aman jika mengikuti pelajaran dan menguasai materi pelajaran.
d. Refleksi
Pada tahap ini dilaksanakan analisis, evaluasi, pemaknaan, dan penyimpulan hasil observasi terhadap tingkat pemahaman siswa. Refleksi yang dilakukan merupakan refleksi segera setelah pertemuan berakhir sekaligus sebagai refleksi pada akhir siklus pertama. Berikut ini dipaparkan hasil refleksi siklus pertama:
1) Kesan guru terhadap perangkat pembelajaran dan model pembelajaran kooperatif tipejigsaw.
Tabel 5.6
Kesan Guru Mitra Terhadap Perangkat Pembelajaran dan Model Pembelajaran Kooperatif TipeJigsawSiklus I
No Uraian Komentar
1 Kesan guru terhadap komponen pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran dengan metodejigsaw.
Sudah baik tetapi terlalu sedikit untuk ukuran waktu 2 JP 2 Kesan guru terhadap aktivitas siswa
selama kerja kelompok.
Cukup aktif, sulit berpendapat
3 Kesan guru terhadap minat siswa selama pembelajaran dengan menerapkan metodejigsaw.
Siswa ada yang berminat dengan diskusi dan ada yang tidak
4 Hambatan yang ditemui, jika nanti guru akan merencanakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
jigsawseperti yang telah dilakukan
Dalam pembagian kelompok karena tempat duduk siswa
masih belum
dikelompok-kelompokkan
sehingga memakan waktu yang tidak sedikit
5 Hal-hal yang mendukung jika nanti guru merencanakan pembelajaran dengan menggunakan metodejigsaw
6 Manfaat yang diperoleh dalam merencanakan dan menerapakan rencana pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang berorientasi model pembelajaran kooperatif tipejigsaw
Siswa mempunyai motivasi dan konsentrasi dalam mengikuti pelajaran. 7 Hal-hal apa saja yang masih perlu
diperbaiki kembali dari pembelajaran dengan menggunakan metode jigsaw
seperti yang telah dilakukan
Manajemen waktu
Catatan : lihat lampiran 8a
Tabel 5.6 memperlihatkan kesan guru mitra terhadap perangkat pembelajaran dan model pembelajaran kooperatif tipe
jigsaw setelah melakukan serangkaian proses belajar mengajar dengan perangkat pembelajaran yang dikembangkan. Kesan guru dalam hal komponen, materi dan pelaksanaan pembelajaran yang digunakan yaitu sudah baik tetapi masih ada kendala dalam alokasi waktu. Hal ini dikarenakan dalam pelaksanaan materi yang diberikan memang cukup sedikit, namun ketika jalannya diskusi alokasi waktu yang tersedia tidak dapat dimanfaatkan dengan maksimal sehingga terjadi ketimpangan dimana materi yang diberikan sedikit dan waktu yang tersedia cukup longgar namun dalam pelaksanaannya yang seharusnya waktu yang tersedia cukup untuk membahas materi menjadi kurang dikarenakan alokasinya yang belum maksimal. Hal ini mungkin antara guru dan siswa masing-masing masih beradaptasi dengan metode kooperatif tipe
jigsaw yang baru pertama kali dilaksanakan. Kemudian dalam kaitannya dengan siswa, dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw cukup dapat meningkatkan motivasi dan
konsentrasi belajar siswa dimana bisaanya hanya guru yang menjadi pusat pembelajaran di sini siswa belajar untuk menjadi pusat atau pelaksana pembelajaran dan guru hanya menjadi motivator. Keuntungan dari metode ini siswa menjadi tidak bosan mendengarkan ceramah dari guru dan termotivasia untuk belajar menemukan sesuatu dengan kemampuan mereka sendiri.
2) Kesan siswa terhadap perangkat pembelajaran dan model pembelajaran kooperatif tipejigsaw
Kesan siswa terhadap perangkat pembelajaran dan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat dilihat pada refleksi siswa terhadap perangkat dan model pembelajaran kooperatif tipe
jigsaw.( lampiran 9a)
Tabel 5.7
Refleksi Siswa Terhadap Perangkat dan Model Pembelajaran Kooperatif TipeJigsawSiklus I
Skala penilaian % No Aspek yang diamati
Sangat Senang Senang Tidak Senang Sangat Tidak Senang 1. Bagaimanakah mengenai komponen kegiatan mengajar ini:
a. Topik ekonomi yang dipelajari b. Materi Ajar c. Lembar Kerja Siswa d. Suasana Kelas e. Penampilan Guru f. Keterampilan kooperatif yang dilatihkan 16,67 19,44 19,44 13,89 16,67 16,67 75 80,56 58,33 63,89 75 75 8,33 -22,22 19,44 5,56 8,33 -2,78 2,78 -Berminat Tidak Berminat
2. Apakah anda berminat untuk Kegiatan
Belajar Mengajar (KBM) berikutnya seperti yang telah Anda ikuti? 80,56 19,44 Ya Tidak 3. Selama kerja kelompok saya: a. Mendengarkan orang lain b. Mengajukan pertanyaan c. Mengorganisasika n ide-ide saya d. Mengorganisasika n kelompok e. Mengacaukan kegiatan f. Melamun 61,11 63,89 77,78 77,78 27,78 22,22 38,89 36,11 22,22 22,22 72,22 77,78 Komentar
4. Keuntungan yang saya peroleh dalam
pembelajaran dengan menggunakan
perangkat model pembelajaran
kooperatif tipeJigsaw
Sebanyak 54,28 % siswa merasa cepat mengerti dan senang. Selebihnya siswa belajar berpikir kritis, membangun kerja sama, tidak tegang, dan belajar berbagi.
Komentar 5. Hambatan yang saya
temui, selama mengikuti
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipeJigsaw
seperti yang telah dilakukan.
Sebanyak 28,57 % siswa menyatakan tidak ada hambatan, 57,14 % siswa kurang konsentrasi, serta 14,29% suasana kelas yang ramai.
Tabel 5.7 Dari data tersebut tampak bahwa kesan mereka terhadap komponen kegiatan belajar (topik yang dipelajari, suasana kelas, penampilan guru, dan sebagainya) sebagian besar siswa
merasa tertarik dan menikmati karena adanya sesuatu hal yang berbeda. Kegiatan yang dilakukan oleh sebagian besar siswa yaitu berdiskusi, berpendapat, dan bertanya. Kemudian tanggapan siswa terhadap minat mereka untuk mengikuti KBM berikutnya dengan metode yang sama sebagian besar dari siswa berminat untuk mengikuti dengan alasan karena pelajarannya tidak membosankan, menyenangkan, bisa bersosialisasi. Hal ini menunjukkan adanya indikator bahwa selama ini siswa merasa bosan dengan metode yang digunakan selama ini, ada yang takut terhadap guru sehingga suasana kelas menjadi tegang. Sementara beberapa hambatan dari siswa terkait penerapan metode kooperatif tipe jigsaw yaitu ketika ada anggota kelompok yang tidak ikut ambil bagian, ketika ada perbedaan pendapat dan masing-masing berdiri pada pendiriannya masing-masing sehingga sulit dalam mengambil keputusan, jika ada anggota kelompok yang tidak memahami materi sehingga ketika menjelaskan kepada kelompok asal anggota kelompok belum dapat memahami materi yang disampaikannya.
Berdasarkan refleksi yang dilakukan peneliti, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki pada siklus pertama yaitu alokasi waktu yang tidak sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dirancang, pemilihan materi yang terlalu sedikit untuk ukuran 2 JP, diskusi kelompok yang terlalu lama sehingga waktu untuk presentasi dan pembahasan/ penarikan kesimpulan menjadi terbatas dan
terburu-buru. Berdasarkan hasil diskusi peneliti dengan guru mitra, maka pada siklus selanjutnya (siklus II) guru bersepakat untuk lebih