• Tidak ada hasil yang ditemukan

BATIK AND SOCIO-CULTURAL LEGITIMACY STUDY ANALYSIS IN JEMBER, LUMAJANG, AND BONDOWOSO

B. Simbolisasi Batik Lumajang

Secara historis, Lumajang merupakan wilayah pecahan dari Majapahit yang konon pakaian batik pun digunakan para keluarga raja untuk mem-bedakan strata rakyat biasa dan elitis. Lumajang dulu nya bernama “Lamadjang” yang disebut Lamadjang Tigang Juruh pimpinan Menak Koncar, seorang yang sebenarnya memiliki peran besar meluaskan kerajaan selain Hayam Wuruk dan Gadjah Mada. Posisi Lumajang secara politis di era kekinian sebenarnya tidak jauh berbeda dengan wilayah-wilayah sekitarnya, yakni tengah menggalakkan cinta produk lokal, dari budaya-budaya tradisionalitas hingga modern. Ikon Lumajang sempat menjadi perdebatan antara elitis diantaranya: LSM Masyarakat Peduli Peninggalan Masyarakat Majapahit (MPPMT) dengan Bupati As’at Malik. LSM MPPMT mempertanyakan ikon Jaran Kencak yang menggantikan ikon pisang selama ini, disinyalir hanya proyek yang dijalankan bupati. Ikon Jaran Kencak yang terpajang di sudut persimpangan Jalan Lumajang dianggap tidak 18 Iriane, pemilik usaha Batik “Rolla Jember”, wawancara tanggal 15 Oktober dan 10-27 November 2016.

dimufakatkan dengan rakyat.20 Kontras dengan yang disampaikan LSM MPPMT, bupati As’at Malik menegaskan bahwa patung Jaran Kencak adalah simbol budaya sekaligus usaha untuk mengklaim budaya Jaran Kencak sebagai wujud keseriusan Lumajang untuk mengembangkan budaya Jaran Kencak. 21

Selain Jaran Kencak, Lumajang dikenal dengan sebutan “Kota Pisang” karena daerah ini merupakan daerah agrobisnis yang surplus, dan penghasil buah pisang yang sangat berlimpah. Pada perkembangannya, berdasarkan S.K. Menteri, Pisang adalah Kabupaten Lumajang. Potensi hortikultura Lumajang tidak hanya memenuhi pasar Jawa Timur saja, tetapi sudah memenuhi target pasar nasional dan bahkan regional di negara-negara ASEAN. Perdagangan serta industri yang mengikuti trend masyarakat juga semakin mengikat. Baru-baru ini trend positif perdagangan batik tulis Lumajang terus meningkat. Asal mula adanya sentra pembuatan batik ini bermula dari bapak Munir, seorang guru di Kecamatan Kunir, Lumajang. Pengalaman membatik yang dimiliki sejak beliau di daerah asalnya Sidoarjo dikenalkan di tempatnya yang baru di Dusun Bentengrejo, Desa Kunir Kidul, setelah pindah pada tahun 1992. Munir kemudian membentuk kelompok batik yang diberi nama “Makarti Jaya”. Dari tahun 1992 sampai 2007 motif masih didominasi corak Sidoarjo, seperti Rawanan, Bayeman, Uker, Satrian dan juga beberapa corak pengaruh Jogja22. Seiring perjalanan waktu, dengan adanya masukan dari pemerintah kabupaten, adanya pelatihan dan event pameran, Munir dan bebe rapa pengrajin memasukkan corak dan motif yang dianggap mewakili batik khas Lumajang.

Gambar 2.Batik Pisang Lumajang

Corak yang menonjol adalah warna turquoise

(sejenis biru bersinar), sementara motif diambil pisang, burung punglor, gelombang dan sulur - suluran. Pengrajin batik Lumajang kini telah tersebar pada beberapa kecamatan, seperti Kecamatan Tempeh, Kecamatan Kunir, dan Kecamatan Yosowilangun, yang mana batik pisang tidak hanya bersaing di pasar lokal saja, akan tetapi telah memenuhi pasar nasional dan internasional. Dengan kekreatifan seni Batik Lumajang yang khas dan unik, tentunya motif pisang agung batik Kabupaten Lumajang dapat memberi warna budaya untuk Indonesia. itu hanya salah satu Batik Lumajang yang terkenal, sedangkan pola yang terdapat didalam batik pisang tersebut kemudian dikembangkan masya rakat secara kontinyu. Dukungan elitis beserta lembaga swadaya masyarakat di wilayah ini sesuai dengan teori pengakuan Taylor.23

Pengakuan adalah kebutuhan agar dikenal dan membantu peningkatan kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat di suatu tempat. Selain motif di atas, juga terdapat motif lain sebagai motif

20 Wawancara Sejarawan Lumajang, 20 Mei 2016.

21 Wawancara Bupati Kabupaten Lumajang As’at Malik November 2016

22 Wawancara Adi, perajin Batik di Yosowilangon pada 21 Mei 2016 dan Studi kepustakaan pada artikel Yeni Arista Dewi, Sri Handayani, dan Sumarno, “Dinamika Usaha Kerajinan Batik di Kabupaten Lumajang tahun 1992-2014,” (Jember: Prodi Pendidikan Sejarah Jurusan Pendidikan IPS, FKIP, Universitas Jember, 2015), hlm. 1-6.

pendukung. Menurut Vogel dalam pohon hayat adalah salah satu motif utama pada kain batik yang terdapat hampir di seluruh daerah di Indonesia. Catatan tentang pengertian “pohon” ditemukan pada masa pemerintahan Mulawarman pada tahun 400 Masehi, yakni 7 buah prasasti berbentuk yupa,

tertera sebagai kalpavrksa, yaitu pohon dengan ciri khusus. Secara simbolis pohon tersebut dianggap pohon surga dan terdapat pada panil- panil candi.24

Pohon tersebut dianggap sebagai gambaran pengharapan manusia dalam kehidupannya untuk mencapai kesempurnaan. Penggambarannya meru-pakan perpaduan antara kuncup bunga, dahan dan akar, kadang dipadukan dengan motif utama lain berupa, akar dan daun tumbuh-tumbuhan. Terdapat pula motif gunung yang melambangkan bentuk puncak gunung dari penampakan samping. Gunung ini diibaratkan sebagai tempat bersemayamnya dewa-dewa. Motif ini menyimbolkan unsur tanah atau bumi yang di dalamnya terdapat berbagai macam kehidupan dan pertumbuhan.25 Baik itu kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan. Bentuk bentuk motif meru adalah geometris ber-bentuk segitiga. Penggunaan ber-bentuk motif meru

sebagai dasar motif gelombang seolah untuk meng-gambarkan kehidupan manusia yang sering kali naik turun seperti gelombang.

Terdapat pula ornamen lidah api merupakan ornamen yang sering disebut sebagai cemukiran atau modang. Makna ini sering dikaitkan dengan kesaktian dan ambisi untuk mendapatkan apa yang diinginkan karena dalam pemakaiannya digambarkan dengan deretan api. Motif batik ini terdapat pada motif batik klasik yang digunakan pada kain kemben, dodot maupun ikat kepala. Motif lidah api yang digambarkan secara sederhana terdapat pada motif batik Merak Ngrigel maupun Ngreni. Selain itu, motif lidah api juga dapat dijumpai pada motif Semen Rama, Semen Candra maupun pada motif Cuwiri.

Suzanne K. Lenger (1967)26 mengungkap budaya simbol merupakan gejala superorganik yang divisualisasikan dari naluri fundamental serta fakta intim dari kodrat manusia. Kenyataan batik hidup dalam kultural masyarakat memiliki arti simbolisme baik secara nasional maupun kedaerahan. Ragam motif batik yang mencerminkan budaya adiluhung diciptakan pada awalnya berasal dari kehidupan Keraton seperti: Keraton Surakarta, Solo, dan Yogyakarta. Secara kontinyuitas, motif batik mengalami perkembangan dalam bentuk modifikasi-modifikasi berdasar pada kultural masing-masing daerah. Ragam hias yang biasa diguna kan sebagai pengisi ruang di antara ornamen atau ragam hias utama disebut isen-isen. Ragam hias isen-isen ada berbagai macam, dan biasanya akan merupakan ciri bagi batik klasik atau batik dengan pengaruh klasik. Umumnya hias isen

-isen berbentuk kecil-kecil, berupa titik-titik, garis lengkung, garis lurus, lingkaran-lingkaran, hingga ke bentuk-bentuk bunga kecil. Isen-isen, sebagai salah satu pola hias batik Jawa digambarkan berbentuk pohon, api, gunung, dan lain sebagainya. Di Lumajang, isen-isen dirupakan dalam bentuk motif pisang yang tidak berbeda dengan gambar 2. Batik Pisang Lumajang, dengan desain sebagai berikut:

Gambar 3. Desain Batik Pisang Lumajang

24 Adi Kusrianto, Batik, Filosofi, Motif dan Kegunaan (Yogyakarta: Andi Offset, 2013), hlm. 6. 25 Ibid

Dari desain diatas, dapat diartikan bahwa alam memiliki empat elemen kesimbangan yaitu elemen tanah, api, air, udara, dimana masing-masing elemen tersebut memiliki peran yang sangat besar pada alam. Keempat elemen tersebut terdapat pada simbol motif utama yaitu elemen tanah (pasir) di visualkan pada isen-isen atau titik-titik putih dibawah pisang agung, tanah atau pasir simbol dari ketenangan dan kesabaran, rendah hati serta ketegasan. Elemen api tergambar pada bentuk gunung semeru yang memiliki unsur panas didalamnya yang sewaktu-waktu mengeluarkan lava pijar, mempunyai simbol luapan emosi atau murka ketika hilang keseimbangan alam dan dapat di artikan semangat yang membara. Elemen air tergambar pada liukan di tengah atau di sela-sela pasir. Air merupakan lawan dari api / nafsu dengan menggunakan akal untuk berfikir benar dan salah. Dengan berfikir jernih niscaya hati dan pikiran akan menjadi tenang ketika nafsu/emosi/amarah sedang bergejolak dalam jiwa raga kita. Elemen udara tergambar pada bentuk lekukan awan, udara memiliki energi menghidupkan. Sekaligus juga memiliki kekuatan menghancurkan, ketika kita sudah menemukan kebenaran dan kita harus melaksanakanya, di tengah perjalanan kita tidak konsisten dan lalai dari tujuan awal. Layaknya udara (angin), ketika berhembus kencang maka ia akan hembuskan tekanan yang tinggi, namun ketika udara (angin) itu semilir, tekanan itu akan rendah. Puncak Mahameru simbol keagungan atau kemuliaan, mem punyai bentuk mengerucut keatas menunjuk Dzat yang mahabesar pencipta alam semesta beserta isinya. Gunung Semeru sebagai refleksi keagungan Tuhan yang maha besar. Visual Pisang Agung menggambarkan hasil perkebunan yang merupakan hasil olahan alam, dimana munculnya dari alam. Pisang Agung di gambarkan dengan bentuk nya yang besar mencerminkan nama nya (agung). Pisang Agung digambarkan mempunyai jumlah empat, yang berarti empat penjuru mata angin (timur, selatan, barat dan utara) dalam istilah Jawa nya adalah sedulur kiblat. Maksud sedulur

kiblat disini adalah sedulur lahir bersama kita, entah bagian timur, barat, selatan, utara, jauh dekat dengan kita tetap itu namanya sedulur dan bisa membantu kehidupan kita, karena manusia tidak dapat hidup sendiri perlu bantuan dari sedulur atau sahabat dan pertolongan Tuhan.

Filosofi Batik Pisang ini tercermin pada masya-rakat Kabupaten Lumajang yang guyub dan saling membantu serta bahu membahu untuk mem bangun perekonomian daerah melalui budi daya pisang agung yang memenuhi pasar nasional maupun pasar internasional khususnya di negara-negara ASEAN. Sekiranya, inilah yang menjadi sebab dikembangkannya ciri khas Batik Pisang di daerah Lumajang sebagai identitas kultural dan pengakuan masyarakat yang diresmikan oleh Pemerintah Kabupaten Lumajang dengan bupatinya As’at Malik. Batik Pisang Lumajang sebagai hak milik dari simbolisasi budaya secara politis, yang dipopulerkan oleh masyarakat Kabupaten Lumajang.