• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3 Simpanan Karbon

5.3.1 Simpanan Karbon Pohon

Pendugaan cadangan karbon vegetasi diatas permukaan tanah pada penelitian ini menggunakan pendekatan non-destructive dengan mengasumsikan 50% dari biomassa hutan tersusun atas karbon (Brown 1997). Sehingga cadangan karbon berkorelasi positif dengan besarnya biomassa, yaitu dengan semakin besar

potensi cadangan biomassa di atas permukaan tanah, maka cadangan karbon akan semakin tinggi.

Hasil penelitian pendugaan simpanan karbon pada vegetasi tingkat pohon, meliputi simpanan karbon pada tingkat pohon inti, pohon lindung, pohon layak tebang. Pendugaan simpanan karbon pada masing-masing tingkat pertumbuhan berbeda-beda. Hasil pendugaaan simpanan karbon pada masing-masing tingkat pohon dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 21.

Tabel 21 Hasil pendugaan simpanan karbon petak Q37 blok tebangan RKT 2011 PT. Ratah Timber No Kategori Volume (m3/ha) Lbds (m2/ha) Biomassa (ton/ha) Karbon (ton C/ha) Persentase Karbon (%) 1 Pohon inti 13,43 1,07 11,22 5,61 23 2 Pohon lindung 5,46 0,35 5,00 2,50 10

3 Pohon layak tebang 33,92 2,11 32,16 16,08 67

Jumlah 52,82 3,52 48,38 24,19 100

Biomassa pada tingkat pohon inti sebesar 11,22 ton/ha, pohon lindung sebesar 5,00 ton/ha, pohon layak tebang sebesar 32,16 ton/ha, Sedangkan pendugaan karbon yang didapat dengan mengkonversi 50% dari biomassa, maka diperoleh karbon pada tingkat pohon inti 5,61 ton/ha, pohon lindung 2,50 ton/ha, pohon layak tebang 16,08 ton/ha, sehingga total karbon pohon yang terdapat pada petak penelitian sebesar 24,19 ton/ha.

Dari Gambar 11 di atas menunjukkan bahwa pohon layak tebang memiliki potensi cadangan biomassa dan karbon paling tinggi dibandingkan kelompok pohon inti dan kelompok pohon lindung, yaitu sebesar 32,16 ton/ha dan 16,08 ton

C/ha. Besarnya potensi simpanan karbon dipengaruhi oleh kerapatan pohon dan ukuran diameter pohon yang terdapat pada plot penelitian, semakin tinggi kerapatan dan semakin besar ukuran diameter pohon maka akan semakin besar pula potensi simpanan karbonnya.

Berdasarkan persentase simpanan karbon pada Gambar 12, pohon layak tebang mempunyai persentase simpanan karbon terbesar sebanyak 67% ton C/ha dan pohon lindung mempunyai simpanan karbon terkecil sebesar 10% ton C/ha. Perbedaan simpanan karbon pada masing-masing tingkat pertumbuhan

0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00

Pohon Inti Pohon Lindung Pohon Layak Tebang

Biomassa (ton/ha) Karbon (ton C/ha)

23%

10% 67%

Pohon Inti Pohon Lindung Pohon Layak Tebang Gambar 11 Histogram dugaan simpanan biomassa dan karbon petak Q37 blok

tebangan RKT 2011 PT. Ratah Timber.

Gambar 12 Persentase sebaran karbon petak Q37 blok tebangan RKT 2011 PT. Ratah Timber.

disebabkan oleh perbedaan jumlah individu dan ukuran diameter, dimana diameter pada pohon layak tebang lebih besar dibandingkan dengan diameter pohon inti maupun pohon lindung.

Potensi cadangan karbon pada Petak Ukur Permanen pada pengukuran tahun 2007 dan 2010 areal bekas tebangan RKT 2003 PT. Ratah Timber yang dijadikan sebagai pembanding dalam pendugaan biomassa dan karbon diperoleh hasil yang disajikan pada Tabel 22 dan Tabel 23.

Tabel 22 Simpanan karbon PUP areal bekas tebangan blok RKT 2003 PT. Ratah Timber

No

PUP areal bekas tebangan blok RKT 2003 pengukuran tahun 2007 (Et+4)

Kategori Lbds (m²/ha) Volume (m³/ha) Biomassa (ton/ha) Karbon (ton/ha) Persentase karbon (%) 1 Tiang 1,88 11,31 12,84 6,42 3,3 2 Pohon (Ø ≥ 20 cm) 27,19 291,33 375,70 187,85 96,7 Jumlah 29,07 302,64 388,54 194,27 100,0

Tabel 23 Simpanan karbon PUP areal bekas tebangan blok RKT 2003 PT. Ratah Timber

No

PUP areal bekas tebangan blok RKT 2003 pengukuran tahun 2010 (Et+7)

Kategori Lbds (m²/ha) Volume (m³/ha) Biomassa (ton/ha) Karbon (ton/ha) Persentase karbon (%) 1 Tiang 1,36 9,19 9,36 4,68 2,6 2 Pohon (Ø ≥ 20 cm) 25,83 292,65 354,86 177,43 97,4 Jumlah 27,19 301,84 364,23 182,11 100,0

Tabel 22 dan Tabel 23 menjelaskan bahwa potensi cadangan karbon vegetasi tingkat pohon dan tiang berkisar antara 4,68 ton/ha sampai 187,85 ton/ha. Vegetasi tingkat pohon merupakan komponen utama penyusun cadangan karbon di atas permukaan tanah. Pada areal bekas tebangan Et+4 potensi cadangan karbon tingkat tiang dan pohon lebih besar dibandingkan dengan areal bekas tebangan Et+7, hal ini dikarenakan ada beberapa pohon yang mati pada saat pengukuran di tahun 2010 sehingga menyebabkan kerapatan individu per hektar semakin sedikit dan biomassa yang tersimpan berkurang.

Areal IUPHHK PT. Ratah Timber sudah memasuki siklus tebang/rotasi tebang ke dua setelah memperoleh hak pengusahaan hutan (HPH) pada tahun 1970, artinya areal lokasi/petak penelitian Q37 blok tebangan RKT 2011 sudah pernah dilakukan penebangan sebelumnya. Hasil dugaan simpanan karbon pohon

yang terdapat di petak penelitian jika di bandingkan dengan dugaan simpanan karbon yang terdapat di petak ukur permanen yang juga merupakan areal bekas tebangan blok RKT 2003 diperoleh hasil bahwa dugaan simpanan karbon pohon pada petak penelitian lebih rendah dibandingkan dengan dugaan simpanan karbon pohon pada petak ukur permanen. Hasil yang diperoleh dari pendugaan simpanan karbon pohon pada petak ukur permanen Et+4 sebesar 194,27 ton/ha dan Et+7 sebesar 182,11 ton/ha, sedangkan hasil dugaan simpanan karbon pohon yang terdapat pada petak penelitian sebesar 24,19 ton/ha. Perbedaan simpanan karbon pohon ini dikarenakan sedikitnya vegetasi tingkat pohon yang terdapat di areal penelitian, ini di buktikan dengan nilai kerapatan vegetasi tingkat pohon per hektar yang rendah 17 pohon/ha.

Sebagai perbandingan berikut disajikan hasil penelitian potensi cadangan karbon hutan primer dan areal bekas tebangan TPTJ di PT. Sari Bumi Kusuma, Kalimantan Tengah disajikan pada Tabel 24 dan Tabel 25.

Tabel 24 Potensi cadangan karbon vegetasi tingkat pohon di hutan primer dan areal bekas tebangan TPTJ

Lokasi

Karbon (ton/ha) Jenis komersial

Jenis non komersial Total Dipetrocarpaceae Non Dipterocarpaceae Total

HP 102,11 21,84 123,95 64,55 188,50 (54,17%) (11,59%) (65,76%) (34,24%) ABT0 7,79 1,93 9,72 31,75 41,47 (18,79%) (4,65%) (23,44%) (76,56%) ABT2 10,10 6,94 17,04 38,94 55,98 (18,04%) (12,40%) (30,44%) (69,56%) ABT3 7,30 0,56 7,86 77,86 85,72 (8,52%) (0,65%) (9,17%) (90,83%) ABT4 21,08 13,85 34,93 56,34 91,27 (23,10%) (15,17%) (38,27%) (61,73%) Sumber: Junaedi (2007) Keterangan:

HP = Hutan primer ABT = Areal bekas tebangan 3 tahun ABT = Areal bekas tebangan 0 tahun ABT = Areal bekas tebangan 4 tahun ABT = Areal bekas tebangan 2 tahun Angka dalam kurung menunjukkan persentase

Vegetasi tingkat pohon merupakan komponen utama penyusun cadangan karbon di atas permukaan tanah, baik di hutan primer maupun di areal bekas tebangan TPTJ. Pada Tabel 24 terlihat bahwa vegetasi tingkat pohon di hutan primer memberikan kontribusi sekitar 82,20% karbon dari total karbon di hutan

primer, sedangkan di areal bekas tebangan TPTJ masing-masing sebesar 71,89% (ABT 0), 73,34% (ABT 2), 81,31% (ABT 3), dan 84,74% (ABT 4) dari karbon total masing-masing lokasi.

Potensi cadangan karbon berdasarkan pengelompokan jenis menunjukkan bahwa potensi cadangan karbon tingkat pohon jenis komersial dari kelompok Dipterocarpaceae di hutan primer, rata-rata lebih tinggi sebesar 102,11 ton C/ha (54,17%) dibandingkan kelompok non Dipterocarpaceae dan jenis non komersial yang masing-masing sebesar 21,84 ton C/ha (11,59%) dan 64,55 ton C/ha (34,24%). Sedangkan pada areal bekas tebangan TPTJ rata-rata potensi cadangan karbon jenis non komersial (51,22 ton C/ha) lebih tinggi dibandingkan dengan jenis komersial (17,39 ton C/ha).

Tabel 25 Potensi cadangan karbon vegetasi tingkat tiang di hutan primer dan areal bekas tebangan TPTJ

Lokasi

Karbon (ton/ha) Jenis komersial

Jenis non komersial Total Dipetrocarpaceae Non Dipterocarpaceae Total

HP 5,50 4,20 9,70 16,08 25,78 (21,34%) (16,29%) (27,63%) (62,37%) ABT0 1,41 2,40 3,81 7,67 11,48 (12,28%) (20,19%) (33,19%) (66,81%) ABT2 3,22 1,42 4,64 8,97 13,61 (23,65%) (10,43%) (34,09%) (65,91%) ABT3 0,81 0,79 1,60 11,40 13,00 (6,23%) (6,08%) (12,31%) (87,69%) ABT4 1,67 0,43 2,10 6,84 8,94 (18,68%) (4,81%) (23,49%) (76,51%) Sumber: Junaedi (2007) Keterangan:

HP = Hutan Primer ABT = Areal bekas tebangan 3 tahun ABT = Areal bekas tebangan 0 tahun ABT = Areal bekas tebangan 4 tahun ABT = Areal bekas tebangan 2 tahun Angka dalam kurung menunjukkan persentase

Dari Tabel 25 potensi cadangan karbon vegetasi tingkat tiang di hutan primer rata-rata lebih tinggi (25,78 ton/ha) dibandingkan dengan areal bekas tebangan TPTJ (11,76 ton/ha) dengan kontribusi sebesar 11,24% dari cadangan total karbon di hutan primer. Sedangkan di areal bekas tebangan TPTJ kontribusi cadangan karbon dari masing-masing cadangan karbon totalnya, yaitu: 19,19% (ABT 0), 17,83% (ABT 2), 12,33% (ABT 3), 8,30% (ABT 4). Secara umum

kontribusi cadangan karbon vegetasi tingkat tiang di semua lokasi rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan vegetasi tingkat pohon.

Mudiyarso et al. (1995), diacu dalam Rahayu et al. (2005) menyatakan bahwa hutan di Indonesia mempunyai potensi cadangan karbon berkisar antara 161 – 300 ton/ha. Lebih lanjut menurut Rahayu et al. (2005) mengemukakan bahwa hutan primer di Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur memiliki potensi cadangan karbon sebesar 230 ton/ha. Lasco (2002) mereview berbagai studi mengenai cadangan karbon vegetasi di atas permukaan tanah sebelum dan sesudah penebangn di Asia dan Indonesia yang disajikan pada Tabel 26.

Tabel 26 Cadangan karbon di atas permukaan tanah sebelum dan setelah kegiatan pemanenan hutan di Asia dan Indonesia

Tipe hutan dan wilayah /Negara

Potensi cadangan karbon (ton/ha)

Cadangan karbon tegakan tinggal (%) Hutan tidak

terganggu

Bekas tebangan

Hutan daun lebar/Asia 96,2* 46,6* 47

Hutan daun jarum/Asia 72,5* 56,3* 78

Hutan terbuka/Asia 39,5* 13,2* 33

Indonesia 390 148,2 38

Indonesia 254 150 59

Indonesia 325 245 75

Sumber: Lasco (2002)

*= Asumsi 50% dari biomassa adalah karbon

Kusuma (2009) di Kalimantan Barat menyebutkan bahwa potensi karbon pada hutan primer sebesar 123,16 ton/ha, sedangkan pada areal bekas tebangan (LOA) tahun 1983 sebesar 93,44 ton/ha. Hasil penelitian Onrizal (2004) di Taman Nasional Danau Sentarum, Kalimantan Barat diperoleh total karbon pohon di atas permukaan tanah sebesar 169 ton/ha.

Hasil penelitian lain menyebutkan bahwa potensi cadangan karbon vegetasi tingkat pohon di hutan primer, hutan bekas tebangan dan agroforestri umur 11 – 30 tahun menyumbangkan sekitar 90% dari total karbon vegetasi di atas permukaan tanah (Rahayu et al. 2005). Kontribusi cadangan karbon vegetasi tingkat pohon yang sangat besar ini dikarenakan adanya hubungan yang positif dengan ukuran diameter pohon, jadi semakin besar ukuran diameter pohon menyebabkan cadangan karbon akan semakin tinggi. Rusolono (2006) menyatakan bahwa pendugaan cadangan karbon dengan pendekatan struktur

tegakan horizontal (distribusi pohon berdasarkan kelas diameter) cukup terandalkan untuk menjelaskan persediaan karbon (R² = 80%) untuk tegakan agroforestri murni.

Dokumen terkait