Rekomendasi Strategi Pengembangan
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Pertumbuhan dan Pembangunan kota Malang yang tidak didasarkan pada kapasitas ekosistem berkontribusi pada peningkatan emisi karbon sehingga berdampak pada penurunan kualitas lingkungan kota. Rendahnya persentase kanopi pepohonan berdampak pada kapasitas penyerapan polutan dan karbon
yang rendah. Manfaat terbesar yang diperoleh adalah kapasitas stormwater
control (94%) dan berdampak kurang signifikan dalam menyerap polutan dan menyimpan karbon (6%).
Valuasi manfaat ekologis dapat dilakukan melalui pengukuran layanan ekosistem yang dapat diukur menggunakan teknik GIS. Ketersediaan data ditail terkait nilai valuasi pencemaran udara merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi validitas pengukuran. Ketidaktersediaan data di Indonesia berpengaruh pada besaran valuasi yang terhitung dan sinkronisasi model perhitungan valuasinya.
Peningkatan luasankanopi pepohonan sebesar 10%-30% memberikan hasil yang sangat signifikan berupa manfaat ekonomi hingga mencapai 300 % dari nilai sekarang, serta manfaat ekologis terkait potensi perdagangan karbon sebesar Rp.139.000.000,00.Peningkatan luasan kanopi pepohonan berpeluang dikembangkan sebagai imbal jasa lingkungan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan.
Saran
1. Diperlukan penyesuaian teknis dengan kondisi aktual di Indonesia sehingga dapat memberikan pendugaan yang lebih akurat.
2. Diperlukan studi tentang content analysis terkait permasalahan dan kebijakan pembangunan di Kota Malang.
3. Diperlukan pengembangan kebijakan terkait dengan ketersedian ruang
terbuka hijau privat dan pendirian bangunan sebagai kompensasi terhadap lingkungan untuk meningkatkan serta mewujudkan ruang terbuka hijau 30%.
American Forests. 2003. CITYgreen: Calculating the Value of Nature, Version 5.0 User’s Manual, American Forests, Washington, D.C.
Bappeko. 2007. Titik Uji Kualitas Udara dan Pencemaran Kota Malang. Badan Perencana Pembangunan Kota Malang. Malang.
_______. 2008. Evaluasi Rencana Umum Tata Ruang Kota Malang Tahun 2008-2028. Badan Perencana Pembangunan Kota Malang. Malang.
Bennett, E.M., G.D. Peterson, and E.A. Levitt. 2005. Looking to the future of ecosystem services. Ecosystems 8:125-132.
BPS. 2007. Malang dalam Angka. Biro Pusat Statistika Kota Malang. Malang.
Cardelino, C.A. and Chameides, W.L. 1990. Natural Hydrocarbons,
Urbanization, And Urban Ozone. Journal of Geophys.Res. 95(D9):13,971-13,979
Carpenter,P.L. 1975.Plant in The Landscape. San Fransisco. W.H. Freeman Coder, K.D. 1996. “Identified Benefits of Community Trees and Forests",
University of Georgia.USA.
Februari 2011.
Cosgrove dan Rijsberman. 2000. World Water Vision: Making Water Everybody’s
Business. Earthscan Publications Ltd. London.
David, F.R. 2004. Manajemen Strategis, Terjemahan: PT. Indeks Kelompok Gramedia. P.T. Gramedia. Jakarta.
Departemen Pekerjaan Umum. 2008. Pedoman Penyedian dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kawasan Perkotaan. (materi seminar IALI tentang UU No. 26 tahun 2007 dan Permendagri No. 1 tahun 2007). Bandung.
Galveston-Houston Association for Smog Prevention (GHASP). 1999. Trees And
Our Air : The Role Of Trees And Other Vegetation In Houston Area Of Air Pollution. GHASP. Houston, Texas. USA.
Hamburg, S.P., Harris, N., Jaeger, J.,. Karl, T.R., McFarland,M., Mitchell, J.F.B., Oppenheimer, M., Santer, S., Schneider, S., Trenberth, K.E., and Wigley,
T.M.L. 1997. Common Questions About Climate Change. United
NationEnvironment Programme, World MeteorologicalOrganization, Geneva, Switzerland. 24 pp.
Heisler, G.M., Grant, R.H.,Grimmond,S.,and Souch,C. 1995. Urban forests--cooling our communities? In:Inside Urban Ecosystems, Proc. 7th
Kurniatun, H., Murdiyarso,D. 2007. Alih Guna Lahan Dan Neraca Karbon Terestrial. Bahan ajar ASB. World Agroforestry Center (ICRAF) Southeast Asia. Bogor.
Nat. Urban Forest Conf., American Forests, Washington, DC. pp. 31-34.
Kusminingrum, N., Gunawan, G. 2008. Polusi Udara Akibat Aktivitas Kendaraan Bermotor Di Jalan Perkotaan Pulau Jawa dan
Bali.
Landell-Mills, N., Porras, I.T. 2002. Silver Bullet or Fools’ Gold?. A Global Review of Markets for Forest Environmental Services and Their Impact on the Poor. The International Institute for Envirinment and Development (IIED). London.
Luley, C. J. 1998. The Greening of Urban Air. Forum Appl. Res. Public Pol. Summer:33-36.
McAliney, M. 1993. Arguments for Land Conservation. Documentation and
Information Sources for Land Resources Protection, Trust for Public Land, Sacramento, CA, December, 1993.
McPherson,E.G.2001.Sacramento’sparking lot shading ordinance :
environmental and economic costs of compliance.LandscapeUrbanPlann57(2),105–123.
McPherson,E.G.,Nowak,D.J.,Rowntree, R.A.1994.Chicago’s Urban Forest
Ecosystem: Results of the Chicago Urban Forest Climate Project.USDA,ForestService,Northeastern,
ForestExperimentStation,Radnor,PA.
Moll,G.2005.Calculating The Value of Nature With CITYgreen. Proceedings of
Managing Wathershed for Human and Natural Impact.ASCE.
Moulton, R.J., and Richards, K.R. 1990. Costs of Sequestering Carbon Through Tree Planting and Forest Management in the United States. Gen. Tech. Rep. WO-58. USDA ForestService, Washington, DC. 46 pp.
Nowak,DJ.1994. Atmospheric Carbon Dioxide Reduction. Chicago Urban Forest
Ecosystem. Result of The Chicago Urban Forest Climate Project, Pensylvania,USDA,Forest Service 83-94.
Nurmasari, I.A. 2010. Studi Peran & Efektifitas RTH Publik di Kota Karanganyar digilib.uns.ac.id/upload/dokumen/172151512201011196.pdf.
________.1995. Trees pollute? A “TREE” explains it all, in: Proc. 7th Natl. Urban For. Conf., (C. Kollin andM. Barratt, eds.), American Forests, Washington, DC, pp. 28-30.
________.2000. The Effect of Urban Trees on Air Quality. USDA Forest Service. New York-USA.
Nowak, D.J., McHale P.J., Ibarra, M., Crane, D., Stevens, J., and Luley, C.
1998.Modeling the effects of urbanvegetation on air pollution, In: Air
Pollution Modeling and Its Application XII. Plenum Press, New York, pp. 399-407.
Nowak, D.J., and Crane,D.E. 2001. Carbon Storage And Sequestration By Urban
Trees In The USA. Environ. Pollut.116(3):381–389.
Nowak,D.J., Stevens,J.C., Sisinni, S.M., dan Luley, C.J. 2002. Effect of Urban Tree Management and Species Selection on Atmospheric Carbon Dioxide. Journal of Arboriculture 28(3): May 2002.
Nowak, D.J., Dwyer,J.F. 2007.Understanding the Benefits and Costs of Urban Forest Ecosystems,2nded.Springer,NewYork.
Nolasari,I.P, Syafei,A.D. 2009. Prediksi Jumlah Karbon Yang Tidak Terserap Oleh Pepohonan Akibat Penebangan Hutan Dan Emisi Kendaraan Pada Rencana Ruas Jalan Timika-Enarotali. SKRIPSI. Jurusan Teknik Lingkungan, FTSP-ITS. Surabaya. http : // digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-10094-Paper.pdf. Diakses pada tanggal 22 Maret 2011.
Nugroho, M.I. 2006. Perencanaan Streetscape Kawasan Jalan Borobudur Kota
Malang sebagai Pereduksi Polutan Udara. Hibah Penelitian Dosen Muda. DIKTI.
Rahayu, S, Lusiana, B, van Noordwijk, M. 2007. Pendugaan Cadangan Karbon di Atas Permukaan Tanah pada Berbagai Sistem Penggunaan Lahan di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur. World Agroforestry Centre.Bogor.
Rohman, A.S. 2009. Menanam Penyerap Zat Pencemar. Pikiran Rakyat. 15 Desember 2009.
Scott, K.I., Simpson, J.R., and McPherson, E.G. 1999. Effects Of Tree Cover On Parking Lot Microclimate and Vehicle Emissions.J. Arboric. 25(3):129-142. Simpson, J.R. 1998. Urban forest impacts on regional cooling and heating energy
use: Sacramento County casestudy. J. Arboric. 24(4):201-214.
Souch, C.A. and Souch, C. 1993.The effect of trees on summertime below canopy urban climates: a case study,Bloomington, Indiana. Journal Arboric. 19(5):303-312
Technical Release 55. 1986. Urban Hydrology for Small Watersheds. Washington DC : USDA Soil Conservation Service.
Wibowo, A.A. 2007. Aplikasi Model Penyebaran Polutan Udara (CO dan SOx) di Jalan Brigjen Katamso Sidoarjo. Laporan Tugas Akhir. Jurusan Teknik Lingkungan, FTSP-ITS. Surabaya.
Wulandari, C. 2005. Peningkatan Kapasitas Untuk Penguatan Para Pemangku Peran (Stakeholders) Pengelola Jasa Lingkungan. Lokakarya Nasional “Pembayaran dan Imbal Jasa Lingkungan” 14-15 Februari
World Agroforestry Centre. 2005. Prosiding Lokakarya Nasional “Pembayaran dan Imbal Jasa Lingkungan” 14-15 Februari 2005.World Agroforestry
Centre. Bogor
2011.
Qomariyah, Y., Kirman, E., Wicaksono, A.D. 2010. Kearifan Lokal Pada Perancangan Kota Tua Tobelo. Jurnal Local Wisdom, Volume: II, Nomor: 1, Halaman: 8 – 17. Januari 2010
Zhongan, S., Spaargaren.,Yuanhang. 2005. Traffic and Urban Air Pollution, the Case of Xiían City, P.R.China.
Lampiran 10. Laporan Hasil Analisis Sampel Ruang Terbuka Lapangan Rampal Kota Malang
Lampiran 15. Data Kapasitas dan Volume Jalan di Kota Malang
No Nama Jalan
Panjang Ruas (km)
Volume (smp/jam) Kapasitas V/C Ratio V/C Ratio 1 4 5 6 7 8 8 1 Jl. Ahmad Yani 2,37 1977 5440,34 0,36 B 2 Jl. A. Rahman Hakim 0,32 1230 2355,77 0,52 C
3 Jl. Ade Irma Suryani 0,54 729 3729,97 0,20 A
4 Jl. Arief Margono 0,48 1440 3401,63 0,42 B 5 Jl. Aries Munandar 1 0,25 666 2050,39 0,33 B 6 Jl. Aries Munandar 2 0,37 299 2050,39 0,15 A 7 Jl. Arjuno 0,44 512 2489,21 0,21 B 8 Jl. Bale Arjosari 0,23 2054 4619,16 0,44 B 9 Jl. Bendungan Sutami 0,82 1802 2704,94 0,67 C 10 Jl. Besar Ijen 1,88 689 5470,80 0,13 A 11 Jl. Borobudur 1,34 1446 4670,48 0,31 B
12 Jl. Brigjen Slamet Riyadi 1,50 1238 2969,46 0,42 B
13 Jl. Brigjend Katamso 0,94 705 2155,61 0,33 B 14 Jl. Cokroaminoto 0,14 654 3166,01 0,21 B 15 Jl. Dr. Cipto 0,88 1181 2489,21 0,47 C 16 Jl. Gajayana 0,96 1610 2538,00 0,63 C 17 Jl. Galunggung 4,27 1634 2827,90 0,58 C 18 Jl. H. Agus Salim 0,30 436 3926,29 0,11 A 19 Jl. Ijen 0,69 1435 4250,30 0,34 B
20 Jl. Jaksa Agung Suprapto 1,36 2079 5183,72 0,40 B
21 Jl. Jend. Basuki Rahmad 0,62 2170 4388,20 0,49 C
22 Jl. Jend. Gatot Subroto 0,26 1166 3459,29 0,34 B
23 Jl. K Hasyim ashari 0,38 1380 4978,43 0,28 B 24 Jl. K.H. Ahmad Dahlan 0,27 416 1963,14 0,21 B 25 Jl. Kahuripan 0,45 924 2981,59 0,31 B 26 Jl. Kapten Tendean 0,22 1239 2157,30 0,57 C 27 Jl. Kawi 0,96 1793 3618,34 0,50 C 28 Jl. Kawi Atas 1271 3618,34 0,35 B 29 Jl. Kebalen Wetan 0,66 639 2155,61 0,30 B 30 Jl. Kol. Sugiono 1 1,99 1381 3313,50 0,42 B 31 Jl. Kol. Sugiono 2 1,99 1321 3313,50 0,40 B
32 Jl. Kyai Ageng Gribig 4,04 806 2820,00 0,29 B
33 Jl. Kyai Tamin 0,53 909 2073,41 0,44 B
34 Jl. Laksamana Martadinata 0,88 1159 3765,50 0,31 B
35 Jl. Laksda Adi Sucipto 1 0,93 1143 2318,46 0,49 C
36 Jl. Laksda Adi Sucipto 2 1,72 695 2318,46 0,30 B
37 Jl. Letjen S. Parman 1,34 1560 6091,20 0,26 B
38 Jl. Letjen Sutoyo 0,08 1987 5358,00 0,37 B
39 Jl. Letjend. S. Priyo Sudarmo 2,78 1192 3736,50 0,32 B
40 Jl. Mayjend Haryono 1 1,13 1000 3781,00 0,26 B
41 Jl. Mayjend Haryono 2 1,13 2705 3781,00 0,72 D
42 Jl. Mayjend Panjaitan 1 1,11 1138 2720,31 0,42 B
43 Jl. Mayjend Panjaitan 2 0,74 1588 2874,00 0,55 C
45 Jl. Merdeka Selatan 0,16 335 2181,27 0,15 A 46 Jl. Merdeka Timur 0,28 2004 3969,91 0,50 C 47 Jl. Merdeka Utara 0,15 2748 3969,91 0,69 C 48 Jl. MGR. Sugito P 0,20 1192 2115,83 0,56 C 49 Jl. Mojopahit 0,47 1046 2489,21 0,42 B 50 Jl. Muharto 0,39 540 3031,50 0,18 A 51 Jl. Pahlawan 0,43 508 3348,75 0,15 A 52 Jl. Panglima Sudirman 1 1,61 1504 3666,00 0,41 B 53 Jl. Panglima Sudirman 2 2,41 757 3666,00 0,21 B 54 Jl. Pasar Besar 0,57 463 2546,81 0,18 A 55 Jl. Pattimura 0,93 1657 2766,42 0,60 C 56 Jl. R. Panji Suroso 1,54 1442 4693,04 0,31 B 57 Jl. Raden Intan 3,45 1294 6373,20 0,20 B 58 Jl. Raya Dieng 2,04 798 4824,46 0,17 A 59 Jl. Raya Tlogomas 0,88 846 3070,98 0,28 B 60 Jl. Sartono 1,11 776 1670,00 0,46 C 61 Jl. Satsui Tubun 0,99 1521 3578,58 0,43 B 62 Jl. Semeru 1 0,34 746 3777,39 0,20 A 63 Jl. Semeru 2 0,80 590 3210,78 0,18 A 64 Jl. Sersan harun 0,28 1833 2220,82 0,83 D 65 Jl. Soekarno Hatta 1 1,15 1469 7435,49 0,20 A 66 Jl. Soekarno Hatta 2 0,92 1051 7634,30 0,14 A 67 Jl. Soekarno Hatta 3 0,92 1237 7634,30 0,16 A 68 Jl. Soekarno Hatta 4 1,61 1217 7634,30 0,16 A 69 Jl. Sudanco Supriadi 1 2,54 1672 3340,01 0,50 C 70 Jl. Sudanco Supriadi 2 2,08 1598 3340,01 0,48 C 71 Jl. Sulfat 1,36 806 2876,40 0,28 B 72 Jl. Sumber sari 0,73 1286 2171,40 0,59 C 73 Jl. Surabaya 1,54 558 3736,50 0,15 A 74 Jl. Trunojoyo 0,86 617 3348,75 0,18 A 75 Jl. Tumenggung Suryo 1,77 1471 3983,25 0,37 B 76 Jl. Urip Sumoharjo 0,71 1000 3411,92 0,29 B 77 Jl. Veteran 2,26 981 4342,80 0,23 B 78 Jl. W.R. Supratman 0,32 787 2437,89 0,32 B 79 Jl. Yulius Usman 0,46 580 2538,00 0,23 B
Lampiran 16. Fktor emisi (miligram/meter/kendaraan) untuk masing-masing jenis kendaraan bermotor
TreesCanopy and Greenery Open Space of Malang City Using GIS Techniques. Under supervision of BAMBANG SULISTYANTARA andARIS MUNANDAR
Amenity and quality of urban environment influenced by the availability and existence of the urban tree canopy of the city. This study aims to identify, analyze, predictand valuatethe ecological benefits of tree’s canopyof Malang City, andprovide possible recommendations in order to increase the capacity of its urban ecosystem.This research uses descriptive quantitative method, include valuation ofecological benefits analysis of tree canopy and recommendation development analysis. Valuation is done by spatial analysis used GIS techniques by analyze trees canopy and non trees canopy cover to predict the ecosystem capacity. CITYgreen 5.4 extention is used to calculate and predict its benefit base
on the extend of trees canopy cover.SWOT and QSPM (Quantitative Stratetig
Planning Matrix) approach is usedto analyze and develop a possible
recomendation for increasing ecosystem capacity of Malang City.
Recommendations have been prepared based on results from both types of analysis. Research result shows, the greatest benefit is the capacity of stormwater control,and concluded that pollutants removal (31.8 tons/year, with the economic value of Rp. 1,552,356,000.00) and carbon absorbance (Carbon storage capacity of 435 tons and carbon sequestration capacity is 2460 pounds/year) are less significant impact in environmental capacity. Both of these capacities failed to give significant benefits due to the lack of quantity of trees canopy cover in the city of Malang (only 4% of total city). Value of ecological benefits of Malang city ecosystem currently provides Rp.26.330.985.000or 30.25% of total received of city revenue (Rp. 87,115,734,710). Basedon the results of the SWOT and QSPM analysis known that strategic priorities of capacity development is the restructuring of poor urban ecosystems and change the orientation of development policies into ecosystem-based and community based to fulfill national standard of greenery open space requirement for Indonesian city.
Keywords: trees canopy, trees benefit, urban ecosystems valuation, greenery open space
Latar Belakang
Pembangunan fisik di perkotaan telah menimbulkan berbagai masalah lingkungan antara lain berubahnya kualitas lingkungan termal (pemanasan lingkungan),pencemaran udara akibat aktivitas perkotaan, penurunan kapasitas resapan air hujan dan permasalahan lingkungan lainya (Nowak, 2000). Pertumbuhan penduduk dan ekonomi memberikan tekanan yang berarti pada ketersediaan dan keberadaan pepohonan serta ruang terbuka hijau di perkotaan.
Keberadaan pepohonan dan ruang terbuka hijau kota sebagai salah satu unsur yang dapat mengendalikan kualitas lingkungan. Pengelolaan pepohonan dan ruang terbuka hijau kota sebagai mekanisme yang memungkinkan untuk meningkatkan kualitas udara dan lingkungan belum sepenuhnya diteliti dan diselidiki secara terpadu sebagai faktor penting pertumbuhan ekonomi kota. Keseimbangan lingkungan perkotaan secara ekologi memiliki peranan yang sama penting dengan perkembangan nilai ekonomi kawasan perkotaan.
Pohon dan ruang terbuka hijau kota memiliki fungsi ekologis berdasarkan fungsi intrisik pohon yang dapat memperbaiki kualitas lingkungan, antara lain penyerapan polutan udara, penyerapan karbon, penyerap dan penjerap air limpasan hujan untuk mereduksi potensi banjir perkotaan, pendinginan kota (cooling effect) serta penyerapan radiasi sinar matahari untuk mereduksi penggunaan energi di lingkungan perkotaan (Nowak,McHale, Ibarra, Crane, Stevens, dan Luley, 1998).Berdasarkan beberapa studi sebelumnya, diketahui bahwa pepohonan memiliki fungsi ekonomi yang dapat dihitung dan diukur berdasarkan layanan ekosistem kota (American Forest,2002).
Kota Malang tumbuh dan berkembang sebagai kota pendidikan, industri dan pariwisata. Berdasarkan data Pemerintah Kota Malang (Bappeko, 2007) diketahui bahwa persentase ruang terbuka hijauseluas 2,9 %. Ruang terbuka hijau publik di Kota Malang meliputi, hutan kota (71,6 ha); taman yang dikelola masyarakat (2,8 ha), dan jalur hijau yang dikelola Dinas Pertamananan(14,1 ha), sedangkan luasan penutupan kanopi pepohonan tidak teridentifikasikan. Rendahnya persentase tersebut diduga disebabkan oleh kebijakan pembangunan
yang tidak berpihak kepada lingkungan serta lemahnya pengendalian terhadap konversi lahan ruang terbuka hijau yang beralih fungsi sebagai ruang ekonomi. Berdasarkan evaluasi rencana umum tata ruang kota (RUTRK) tahun 2010, diketahui bahwa tingkat deviasi pembangunan cukup tinggi. Persentase deviasi pertumbuhan penduduk Kota Malang 15% dari yang direncanakan, sedangkan secara kualitatif terjadi deviasi implementasi pembangunan dari perencanaan. Deviasi tersebut terutama terjadi pada lahan – lahan konservasi dan ruang terbuka hijau kota yang berubah dan beralih fungsi menjadi ruang ekonomi dan perumahan.
Lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan adalah kota yang memiliki keseimbangan antara pembangunan lingkungan, manusia dan pembangunan ekonomi. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan penataan ruang kota yang disesuaikan dengan kondisi bio-geografi lingkungan alami guna meminimalisir bencana dan penurunan kualitas lingkungan hidup. Kebijakan penataan ruang harus menerapkan keseimbangan antara ruang binaan dan ruang alam untuk mewujudkan keberlanjutan lingkungan.
Oleh karena itu, perlu adanya suatu kajian lebih lanjut terkait dengan valuasi dari ketersediaan pepohonan dan ruang terbuka hijau di kota Malang. Kajian tersebut dikembangkan melalui pendugaan layanan terukur dari ekosistem kota terkait struktur perkotaan menggunakan teknik GIS (Geographic Information System). Alat dan piranti khusus yang digunakan pada kajian ini adalah CITYgren 5.4 untuk menghitung dan menganalisis nilai manfaat ekologis dan ekonomis tahunan yang disediakan oleh ekosistem kota. Hasil dari kajian tersebut digunakan sebagai dasar untuk menyusun suatu kebijakan dan model skenario perbaikan ekosistem kota gunamenunjang pembangunan lingkungan perkotaan berbasis lingkungan.
Rumusan Penelitian
1. Bagaimana kondisi dan komposisi penutupan lahan di Kota Malang?
2. Bagaimana kapasitas ekosistem perkotaan berkaitan dengan keberadaan
kanopi pohon perkotaan dan ruang terbuka hijau terhadap kualitas lingkungan Kota Malang?
3. Apakah manfaat dan value dari keberadaan kanopi pohon perkotaan dan
ruang terbuka hijau terhadap lingkungan Kota Malang?
4. Bagaimana mengukur dan menduga kapasitas ekosistem kanopi pohon dan
ruang terbuka hijau kota Malang?
5. Bagaimana kondisi ideal penutupan lahan pada ruang perkotaan terhadap
kenyamanan dan peningkatan kualitas hidup di Kota Malang?
Tujuan Penelitian
1.
2.
Menganalisis dan menduga kapasitas ekosistem perkotaan sehubungan dengan keberadaan kanopi pohon perkotaan dan ruang terbuka hijau (RTH) terkait dengan kualitas lingkungan di Kota Malang.
Manfaat Penelitian
Memberikan rekomendasi yang mungkin terkait dengan pengembangan dan perbaikan kualitas lingkungan kota berbasis ekosistem
Manfaat dan kegunaan yang ingin diperoleh dari kegiatan penelitian ini, antara lain :
1. Acuan arahan pemgembangan kawasan perkotaan / wilayah
2. Dasar penentuan kebijakan penataan ruang perkotaan
3. Sebagai model pengelolaan dan perencanaan berkelanjutan berbasis
valuasi dan jasa lingkungan
Kerangka Pemikiran
Penelitian ini dilakukan sebagai suatu respon terhadap fakta dugaan penurunan kualitas dan kenyamanan lingkungan perkotaan sebagai akibat terjadinya pembangunan lingkungan perkotaan yang berdampak pada terjadinya konversi lahan peruntukan pepohonan dan ruang terbuka hijau diKota
Malang.Kegiatan penelitian ini diarahkan untuk mengidentifikasikan kapasitas lingkungan KotaMalang saat ini melalui identifikasi struktur ruang perkotaan. Identifikasi ini bertujuan untuk mengetahui elemen pembentuk struktur perkotaan di Kota Malang. Identifikasi tersebut merupakan dasar pendugaan kualitas lingkungan hidup Kota Malang saat ini yang terbentuk oleh keberadaan pepohanan dan ruang terbuka hijau serta dampak pembangunan kota.
Identifikasi ini menggunakan citra Landsat TM+7 untuk mendiskripsikan penutupan lahan perkotaan. Identifikasi penutupan lahan (land cover) merupakan dasar analisis untuk menduga (assessment) kapasitas ekosistem Kota Malang saat ini, sehingga dapat disimpulkan bagaimana manfaat dari keberadaan kanopi pohon perkotaan dan RTH terhadap kualitas kehidupan dan lingkungan. Kerangka pikir sederhana dari kegiatan penelitian ini tersaji pada Gambar 1.
Gambar 1.Skema Kerangka Penelitian
Ruang Perkotaan Kota Malang Citra Satelit
Kondisi saat ini Kualitas Lingkungan Kota Malang
Metode GIS ( Erdas Image Analysis, ArcView 3.2, dan ekstensi CITYgreen 5.4) Kualitas Udara, Runoff water, dan serapan
serta jerapan karbon
Layanan ekosistem terukur dari struktur kanopi dan non kanopi perkotaan
Rekomendasi Pengembangan Struktur Kanopi dan RTHK Kota Malang